
"Aku tidak percaya bahwa aku mentraktir kalian!" Sheera berteriak frustasi, "Dengan uang yang baru saja kudapat!"
Veera menatapnya datar, "Kau yang mengajak kami kesini, jadi kau harus bertanggung jawab."
"Savilla kenapa kau sampai tidak membawa uangmu?!" Sheera berteriak marah pada Savilla.
Savilla segera mencari alasan, "Seperti yang kubilang… aku masih muda dan… aku bekerja di istana. Aku..., lahir dari pasangan yang juga bekerja di istana dan dilahirkan disana, jadi.., aku sebenarnya tidak pernah meninggalkan istana sejak lahir, jadi… aku tidak tahu kalau kita membutuhkan uang untuk mendapatkan sesuatu. Kebutuhanku selalu dipenuhi oleh ayah ibuku, jadi… begitulah."
"Manisnya…" Sheera berkomentar lalu menghela napas, "Sejak aku kecil aku sudah diajari cara merampok iblis lain oleh pengasuhku karena katanya ayah dan ibuku tidak memberikan sepeser uangpun untukku. Ternyata, mereka memberiku uang yang selalu dicuri oleh para pengasuh dan penjagaku." Ucap Sheera geram.
"Aku tidak pernah mendengar soal itu, apa mereka dihukum mati?" Veera menenggelamkan setengah kepalanya di air yang berwarna merah darah itu.
"Oh, tidak. Kerajaan kami risak sekejam itu. ayah hanya menyuruh mereka untuk memberikan seluruh harta benda yang mereka punya. dan menyuruh mereka untuk kembali bekerja tanpa gaji. Tapi mereka akhirnya mati bunuh diri, sih, haha." Savilla merinding mendengar tawa rian Sheera "Omong-omong Veera, aku bisa mengerti dengan alasan Savilla tapi kenapa kau ikut-ikutan meminjam uangku?"
"Begitulah…"
"Begitulah? Begitulah apanya?" Sherra menunjukan kekecewaan diwajahnya.
Savilla menunduk, dia teringat kata-kata Nathan untuk tidak mempercayai kebaikan mereka, tapi…
"Terimakasih," Savilla mengucapkannya dengan enteng.
Sheera dan Veera yang sedang berdebat, menengok ke Savilla.
Sheera tersenyum lebar dan memegang bahu Savilla, "Kau tidak perlu berterimakasih! Hanya bayar saja aku 3 kali lipat atau lebih jika kau sudah punya uang."
"Umm, tidak…, aku tidak yakin aku bisa membayarmu balik…" Savilla tersenyum malu-malu, "Omong-omong apa airnya aman?" Savilla menengok ke bawah. Entah kenapa warna merahnya semakin pekat. Dan terasa lebih panas. Savilla ingat Sheera mengatakan sesuatu tentang meleleh. Dia tidak akan benar-benar meleleh, kan?
"Itu aman…," Veera menjawab dengan wajah datar, " Iblis sudah biasa berendam diri dengan suhu serendah ini."
"I-iblis?" Savilla tergagap.
'Apa hanya aman untuk iblis?'
"Tentunya jika manusia atau mahluk lainnya yang belum terbiasa, mereka akan meledak jika berada di suhu segini!" Sheera menjelaskan dengan wajah ceria
"Me-meledak?!" Savilla melotot kaget.
"Ada apa, mukamu terlihat mengerikan," Sheera berucap khawatir.
"Mukanya memang mengerikan dari awal kau hanya baru menyadarinya saja," Veera berucap sarkastik.
"H-hey!"
***
__ADS_1
Sememtara itu...
Chanx dengan gembira mengulusi bulu kucing putih milik Savilla. selagi dia dan yang lainnya berendam di dalam kolam Chanx membiarkan kucing itu berbaring di pinggiran.
"Kalian.., Kalian semua punya roti sobek?!" Ucap Ash panik. Dia baru saja melepas pakaian dan baru akan ikut masuk kolam. Tapi pemandangan didepannya membuat trauma masa lalunya muncul lagi, dia memandang ke arah tubuhnya yang kerempeng dan datar, "Itu sangat tidak adil... aku tidak mau mandi bersama kalian!" Ash segera meninggalkan mereka dan mencari kolam lainnya.
"Roti sobek? apa itu sejenis makanan?" Tanya Drian polos. "Aku juga mau!"
Ash kembali lagi, "Dunia ini tidak adil! kenapa para iblis-iblis itu mempunyai tubuh bagus semua!" Ucapnya cemberut. dia segera memasukan kolam yang sudah terisi Chanx, Drian, Danius, Zagan, dan Darius. "Drian bahkan kau yang suka makan pun punya tubuh bagus! kau seharusnya punya berut bundar bukan kotak!"
"Eh? aku rajin olahraga tidak sepertimu." Drian menyindir dengan suara polos.
"Omong-omong tentang tubuh bagus..., aku jadi ingin sesuatu!" Ucap Zagan dan seketika itu dirinya mulai berubah menjadi seorang perempuan dengan rambut merah dengan wajah bak malaikat yang polos murni. berbeda dengan sifat aslinya, dia tersenyum menggoda membuat wajahnya yang cantik jadi makin mempesona, "Mau main denganku?"
"Ah! Mataku... mataku! Jangan berubah sembarangan. aku masih polos, dasar homo!" Teriak Drian marah.
Ash menatap iri pada Zagan, "Sialan! berhenti mebuatku iri! Kenapa kau punya 2 kelamin sedangkan kami semua hanya punya satu!"
Chanx menghela napas lelah melihat teman-temannya. Dia bahkan tidak bisa menikmati wktu bersama kucingnya Savilla. Sungguh beruntung Danius dan Darius yang asyik tertidur di saat seperti ini.
"Aku pergi dulu. aku harus mengambil sesuatu." Chanx naik dari kolam.
"Kalau 'anu'-mu tiba-tiba bangun biarkan aku saja yang bertanggung jawab!" Teriak Zagan yang kepalanya langsubg ditendang oleh Chanx yang sudah ada di daratan.
"Jangan begitu, kau tahu, kan dia itu tidak suka wanita." Bisik Ash khawatir setelah Chanx meninggalkan ruangan.
"Kau ingin menikahi semua orang yang kau kenal? Apa bedanya?" Ash menatap Zagan datar.
Zagan hanya mendelik tajam padanya dan memalingkan muka dengan santai, "Enggak tuh. aku tidak oernah sekalipun ingin menikah denganmu. kau payah."
Jleebbb
Kata-kata itu sukses menohok hati Ash. meskipun dia tidak punya perasaan spesial pada Zagan tetap saja itu terasa menyakitkan.
"Aku tahu," Ucap Ash selagi berenang menjauh dari mereka ke arah pojokan, "Aku memang payah."
Danius terbangun dari tidurnya. entah bagaimana iblis satu ini bisa tidur saat berada di kolam.
Dia mengedipkan matanya yang masih terasa berat. dia menguletm merentangkan tangannya lebar. tanpa sengaja mengenai Nathan yang juga sednag tertidur di pinggiran kolam. karena tenaga iblis yang kuat, dia mendorong kucing itu sampai terjatuh ke kolam saat menggerakan tangannya kembali. Lalu kembali tidur dengan nyenyak.
Sedangkan Zagan dan Drian langsubg panik.
"Eh? Eh? Kucingnya Savilla jatuh, tuh!" Drian menatap kucing yang tenggelam di dalam kolam itu, "Savilla bisa memasak kita lalu menjadikan kita makanannya kalau sampai kucing itu kenapa-kenapa!" Drian panik. Mengingat pengalam pribadi saat dia hampir dimasak oleh ibunya untuk jamuan tamu kerajaan karena dia yang tidak tahu apa-apa memakan habis semua makanan yang sudah disiapkan.
"Biaran aja, deh. Nanti juga kucingnya berenang naik." Ucap Zagan santai. Dikiranya kucing itu sama dengan kucing di dunia iblis yang berbentuk setengah manusia dan bisa berenang jika sudah terlatih.
__ADS_1
"Tapi air ini sangat panas. mahluk yang tidak terbiasa bisa meledak jika terkena air ini terlalu lama!" Drian yang masih agak pintar dibandingkan Zagan tidak bisa menghilangkan paniknya, "Danius bangun dan tanggung jawablah!" Tentunya, itu percuma.
Zagan pun jadi ikut merasa panik, "Ash, tolong kami!"
Ash yang memunggungi mereka diam-diam mengerucutkan bibir, "Lunya badan besar kok gak bis berenang..."
"Ash, bantu kami! Chanx bisa memotong punyaku jika binatang kesayangannya mati terbunub oleh Danius." Zagan membujuk lagi.
"Tinggal jadi wanita aja selamanya..."
"Ash, pangeranku yang tampan dan gagah berani. tolonglah kucing malang itu..." Kali ini suara wanita yang lemah lembut yang memanngilnya. Ini pasti wujud Wanita Zagan.
"Cih..." Ash berdecih sebelum akhirnya membalikan badan. "Susah-susah amat sih! Tinggal ambil aja, Kolam ini kan enggak dalam!"
Ash merunduk membuat bagian kepalanya terendam dalam air. Dia mencari-cari kucing yang sudah ada di dasar kolam itu dna segera mengangkatnya ke atas.
"Ah! Ah! Muakku!" Terikanya kesakitan saat merasakan sensasi panas di wajahnya.
Drian dan Zagan saling bertatapan.
"Ash bodoh, ya..?" Tanya Drian dengan wajah datar.
Zagan membalas dengan wajah bodoh pula, "Kita bertiga sama bodohnya."
"Tapi setidaknya aku masih ingat kalau air ini berbahaya untuk bagian wajah. itu bisa membakar wajahmu. Airnya bis ameresap masuk ke paru-parumu melalui hidung dan menyebabkan napasmu mengeluarkan api. lalu jika terminum bisa membuat kenyang selama 27 hari. aku masih mengingatnya, itu mengerikan!"
"Kau kenyang selama itu karena kau minum semua airnya." Ingatan Zagan melayang pada kejadian 3500 tahun yang lalu. Sungguh sangat disayangkan mereka hampir di banned dari penginapan ini jika saja mereka tidak memiliki koneksi dengan Danius dan Darius. Padahal penginapan ini adalah tempat favorinya untuk melakukan (sensor) saat berada di kerajaan Balphegor.
"Ah, kalian berhenti mengobrol dan seyidaknya tolonglah aku!" Teriak Ash masih kesakitan.
Chanx memasuki ruangan kembali dan menatap kebingungan adegan di depannya. Dia menatap kucing putih itu bingung. Kenapa kucing itu basah?
Nathan menatap segerombolan iblis itu kesal. Sudah dia duga dia tidak akan menyukai mereka. I'm done with this. Ucapnya dalam hati sambil berjalan keluar melewati pintu yang ditahan terbuka oleh Chanx.
"Kau mau kemana?!" Chanx mengejar Kucing itu.
Tapi Nathan ternyata bisa berlari jauh lebih cepat darinya.
***
**Jangan lupa untuk dukung cerita ini ^^
Oh ya, besok saya akan update lagi (seharusnya sih lusa update selanjutnya) + bakalan ada pengumuman. Ditunghu yah.
Sheera: setelah like dan vote terus kalian Share ini nati aku kasih uang loh...............
__ADS_1
Tapi bo'ong 😜**