Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Tanda


__ADS_3

Savilla menatap ke sebuah cermin di toilet, Dia memperhatikan bekas lukanya yang kemarin sudah menghilang tapi sekarang muncul lagi, dengan bentuk yang aneh.


"Ini seperti pentagram," Savilla tahu seperti apa itu bentuk pentagram karena paman dan bibinya selalu memperingatinya untuk tidak memakai apapun itu yang berbentuk pentagram dan melambangkan hal jahat.


"Ini bisa gawat..," Jika paman dan bibinya tahu mereka pasti akan mrngiri Savilla membuat tato seperti itu di lehernya.


Tiga hari ini, sejak Savilla tidak memakai kalungnya, hal-hal aneh terjadi padanya. Mulai dari dia yang merasa terus menurus diawasi, Prince yang seolah lebih agresif dari biasanya, dan sekarang, tanda aneh muncul di lehernya.


Savilla menghela napas, dia menutupi tanda aneh itu dengan Plester yang berbentuk persegi dan segera keluar toilet. Dia sedang tidak mood diajak bicara, jadi dia menetap di taman belakang sekolah lagi.


****


"Ini aneh, seharusnya disini adalah area 11. Tapi tidak ada tanda-tanda iblis atau apapun disini," Celix mengeluh, dia mencoba sekali lagi, mengkonsentrasikan pikirannya, tapi nihil, tak ada apapun. "Apa Vale membohongi kita?"


"Sebenarnya..," Rose ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak yakin.


"Ada apa Rose? Katakan saja."


"Tadi.., dalam perjalanan kesini, aku merasakan ada aura iblis yang melewati kita."


"Bagaimana mungkin? maksudmu tadi kita berpapasan dengan iblis itu, tapi tadi semua orang yang berpapasan dengan kita adalah orang normal, aku juga tidak merasakan apapun." Celix mengerntitkan dahinya, kenapa Rose bisa merasakan aura iblis itu tapi dirinya tidak?

__ADS_1


"Kau tahu, kan, bahwa iblis suka berpenampilan seperti manusia. Dan, memang ada iblis seperti itu, yang hanya bisa di deteksi oleh beberapa exorcist saja."


"Meski begitu, levelku sebagai exorcist jauh lebih tinggi darimu, kan? Tidak mungkin kau merasakannya tapi aku tidak."


"Itukan Hanya pendapat pribadimu saja! Lagian maksudku, bisa tidaknya seorang exorcist mendeteksi iblis tidak ditentukan oleh level kekuatannya!"


"Tapi intinya, kita sudah kehilangan iblis itu, ya?" Celix berucap dengan lemah.


Rose mendecih. dia tahu Celix akan menyalahkannya lagi, "Kita bisa melakukannya besok, kok."


Padahal yang dibutuhkan bukanlah iblisnya. Melainkan orang yang memanggil si iblis atau orang yang dijadikan target oleh iblis itu.


Celix dan Rose segera menengok ke sumber suara. Disana ada pemuda yang tersenyum ke arah mereka. "Apa kalian ingin bantuan?"


"Siapa kau?"


"Apa kau seorang iblis juga?"


Mereka bertanya secara bersamaan. Celix mengeluarkan pistolnya yang sudah dia isi dengan peluru spesial.


Sedangkan si pemuda terus tersenyum. "Aku bukan iblis. Turunkan pistolmu, itu tidak akan mempan kecuali ditembakan pada iblis, kan?"

__ADS_1


Celix malah semakin dalam posisi waspadanya, 'darimana anak ini tahu bahwa pistolku khusus untuk iblis?'


Rose yang bahkan tidak tahu tentang hal ini menatap ke arah Celix, 'Jadi itu sebabnya dia selalu menembak tanpa takut salah sasaran.'


"Kubilang, turunkan pistolnya." Pemuda itu berucap lagi, masih dengan tersenyum.


"Celix, turunkan saja."


Celix mendecih kesal sebelum menuruti perintah Rose.


"Sekarang, kutanya lagi, apa kalian mau bantuanku?"


Rose dan Celix saling bertatapan satu sama lain. Apa mereka bisa mempercayai lelaki ini?


***


Akhirnya, sekolah selesai. Savilla sedang dalam perjalanan pulang. Seperti biasa, dia hanya jalan kaki.


Hanya saja, saat dia sedang asiknya berjalan seorang nenek-nenek menghampirinya. Savilla melihat nenek-nenek itu, penampilannya terlihat mengerikan. Dia memiliki kuku yang panjang. Wajah keriputnya membuat mukanya terlihat seram, dan giginya yang tidak beraturan terlihat jelas saat dia tersenyum ke arah Savilla.


"Nak, aku tersesat. bisakah kau mengantarkanku pulang?"

__ADS_1


__ADS_2