Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Sesuatu tentang kucing itu (1)


__ADS_3

Akhirnya, setelah berputar-putar mengelilingi hutan itu bersama Prince, Savilla menemukan pemukiman warga. Meskipun karena hari sudah malam orang yang keluar juga sudah sedikit.


Akhirnya setelah bertanya-tanya, Savilla dapat menemukan jalan yang dia ketahui. Dia mencoba mengecek ponselnya, tapi tidak ada baterai.


'Bibi pasti akan memarahiku.'


Savilla menatap kendaraan yang berlalu lalang dengan murung. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke Prince yang sejak tadi digendongnya dan tidak mau turun. 'Enak ya, jadi kucing?'


Tiba-tiba dia teringat kata-kata nenek tadi. Sekarang, setelah seseorang memberitahunya mengenai keanehan kucingnya, dia baru sungguh-sungguh memikirkannya. Bukannya dia tidak suka kalau Prince hidup lama, tapi sejujurnya Savilla merasa aneh, sih.


'Dan apa maksudnya jika Prince tidak mati dalam 3 atau 4 tahun kedepan mungkin aku yang akan mati duluan?' Savilla menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan kata-kata itu.


Tapi pikiran negatif sudah terlanjur memenuhi pikirannya. Bagaimana kalau Prince adalah siluman kucing yang suka memangsa manusia, atau bagaimana kalau Prince adalah jelmaan penyihir jahat yang ingin menyakitinya. Kucing sangat berhubungan erat dengan penyihir, kan?


Savilla berusaha meyakinkan dirinya, 'Tidak. Jika Prince ingin menyakitiku, dia sudah melakukan itu sejak dari dulu.'


Savilla melihat ke arah Prince. Kucing itu terlihat tenang-tenang saja. Mungkin dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi?

__ADS_1


Karena sering berkomunikasi dengan Savilla, Prince seolah mengerti bahasa manusia. Tapi Savilla tidak yakin dan tidak percaya sepenuhnya bahwa Prince mengerti bahasa manusia. Mungkin kucing ini memahami situasi dari melihat ekspresi dari pembicara?


Tanpa Savilla sadari, dia sudah berada di depan rumahnya. Dia melamun terus sejaktadi, untungnya kakinya seolah memiliki memori sendiri yang hapal kemana harus bergerak.


Savilla menurunkan Prince agar dia bisa mengetuk pintu.


Tok tok tok


Terdengar suara langkah kaki, lalu suara kunci yang dibuka dan suara pintu dibuka. Lalu muka bibin dan pamanya terpampang jelas dihadapan Savilla.


"Aku capek, mau tidur." Savilla dengan lemas berusaha menerobos kemarahan bibinya dan masuk ke rumah. Tidak ada gunanya melawan.Tapi tidak ada gunanya juga mendengarkan. Cara terbaik adalah mengabaikan. Toh, setiap Savilla mengajukan pendapat, mereka juga tidak mendengarkan.


"Mau kemana kamu?" Pamannya menghadang jalan Savilla. Padahal, pamannya biasanya tidak mencampuri pertengkaran antara Savilla dan bibinya.


Savilla tersenyum dalam hati, 'Sepertinya kali ini aku sudah keterlaluan, ya?'


"Bibimu menanyaimu. Kamu seharusnya menjawab. Lagian, memangnya kamu darimana saja malam-malam begini baru pulang?! Apa yang habis kamu lakukan?!"

__ADS_1


"Aku enggak mau menjawab." Savilla sekali lagi berusaha menghindari pamannya.


Tapi tiba-tiba pamannya mencekal tangan Savilla. "Apa itu yang berada di lehermu?!"


"Apaan sih? lepasin!" Savilla berusaha memberontak.


"Wah, benar-benar keterlaluan ya anak ini! Kamu balik kerumah malam-malam tanpa diketahui habis darimana. Dan sebagai oleh-oleh, Kamu memasang tato aneh dilehermu!"


"tato?" Bibi yang sejak tadi hanya memperhatikan, berjalan ke arah Savilla dan melihat lehernya. Dia segera menjerit ketakutan melihat pentagram di leher Savilla. "Anak Sialan! Kamu hanya bisa membawa bala di rumah ini!"


"Meong." Tangan bibinya sudah terangkat bersiap untuk menampar Savilla. Tapi suara Prince yang tiba-tiba mengeong membuat tangannya terhenti. Prince dengan santai melewati tiga orang itu dan berjalan ke kamarnya Savilla.


"Eh, kamu apa kamu bersamanya?"


Savilla menatap bingung pada bibinya yang tiba-tiba aneh itu. Bersamanya?


Savilla menggendikan bahu. Dia melepas tangannya dari sang paman, dan berjalan kekamarnya.

__ADS_1


__ADS_2