
"Akhirnya kita bertemu!" Seorang pemuda menyembut Savilla di ujung gang gelap itu. Dengan seorang lelaki dan seorang wanita di sisinya.
"Apa kita saling mengenal?" Savilla bertanya dengan hati-hati. Bersiap untuk memngambil langkah mundur dan lari dari gang itu.
'Ini aneh, tidak biasanya gang ini sepi,' Ujar Savilla dalam hati.
"Seharusnya sih kita Saling mengenal. Aku kakak kelas dari sekolahmu." Pemuda ditengah, yang memang terlihat seusiaan dengan Savilla berkata ramah, "Eh, tapi kenapa aku memberitahumu ini, ya? Bukankah sebaiknya kalau kau tidak tahu?"
Rose menghela napas mendengar percakapan Bryan dengan Savilla. Kenapa dia harus melakukan hal aneh dengan 2 orang aneh yang tidak bisa dia percaya 100 persen ini. Jika bersama Celix sudah cukup merepotkan. Menambah satu orang bocah adalah hal yang luar biasa menyusahkan.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya…" Savilla mengernyitkan dahinya, setelah lama mengingat-ngingat diapun menyerah dan mengatakan ketidakmampuannya untuk mengingat satupun dari mereka.
"Aku sakit hati sekali. Ternyata aku setidak terkenal itu." Bryan meletakan tanganya di dada dan mencengkram dadanya erat, "Tapi sudah tidak penting lagi, kan? Yang penting sekarang, bagaimana caranya agar kau menunjukan dirimu yang sebenarnya."
"Huh?"
"Hey, tunggu dulu, aku tidak merasakan apapun dari gadis ini. Apa dia sungguh target kita?" Celix berbicara. Dia kebingungan sejak tadi. Berulang kali memastikan aura dari gadis itu.
"Seharusnya, iblis yang dia kontrak akan mengikutinya, kan? Jikapun dia terasuki iblis aura iblisnya akan terasa." Celix menjelaskan pada dua orang yang sebenarnya sudah mengeeti itu. Hanya Savilla yang menatapnya bingung.
__ADS_1
"Iblis? Kontrak? Terasuki?" Savilla berucap dengan nada lucu lalu dia mengeluarkan tawa yang dipaksakan, "Hahaha, apa aku sedang kena prank dari salah satu yutuber yang tidak terkenal?"
"Tidak?" Bryan menjawab sambil menaikan salah satu alisnya.
"Apa itu prank?" Rose bertanya kebingungan dan menengok ke arah Bryan.
"Sesuatu yang menyenangkan," Tapi malah Celix yang menjawabnya. Dari jawaban itu Rose menyimpulkan bahwa itu adalah sesuatu yang buruk.
"Cukup basa-basinya. Tidakkah kalian ingin segera menyucikannya?" Bryan menyela dengan tidak sabar, padahal dia yang paling banyak berbasa-basi.
"Apa kau yakin itu benar-benar dia?"
"Dia telah membuat perjanjian dengan iblis. Lihat saja tanda di leher yang dia tutupi dengan syal itu…"
Savilla segera membalikan badanya dan berlari keluar dari gang yang entah kenapa sepi sekali itu.
"Kalau kau merasa tidak bersarah kenapa kau lari?!" Rose dan Celix segera mengejar di belakangnya. Sedangkan Bryan hanya memerhatikan mereka bertiga yang saling kejar-kejaran.
"Aku tidak tahu apa yang akan kalian lakukan padaku!" Savilla berusaha membela dirinya sendiri. Dia tidak tahu apa permasalahan mereka. Tapi dia tidak yakin bahwa dirinya tidak bersalah. Jika yang mereka cari adalah tanda aneh dilehernya. Tanda itu baru saja keluar beberapa hari lalu!
__ADS_1
Entah apa yang akan dilakukan mereka jika tahu bahwa si pemuda benar tentang tanda itu.
Savilla berlari sekuat tenaga. Padahal, dia yakin sekali gang ini tidak begitu panjang. Tapi sejak tadi, dia belum mencapai jalan keluar.
'Ada apa ini?'
Tiba-tiba saja, Savilla terjatuh. Sebuah rantai menahan kakinya. Ternyata itu adalah milik Celix.
"Kenapa kau tidak mengeluarkannya sejak tadi!" Rose berucap kesal dengan napas ngos-ngosan.
"Hanya ingin membuat olahraga sedikit, kau terlihat gemuk akhir-akhir ini."
"Sialan kau!"
"Gadis muda," Rose dan Celix menghampiri Savilla. Bryan, entah darimana sudah ada di sekitar mereka.
"Kami tidak tahu apa masalahmu, tapi melakukan kontrak dengan iblis adalah sesuatu yang buruk. Karena itu, biarkan kami membantumu dengan cara menyucikanmu."
Savilla menatap 3 orang itu dengan tajam dan tersenyum miring, "Sebelumnya, apa kalian keberatan jika aku bertanya apa yang kalian maksud?"
__ADS_1
Rose dan Celix saling menatap kebingungan. Bryan yang paking cepat bereaksi dan berdwhem membersihkan tenggorokannya. "Itu…."
***