Putri Sang Raja Iblis

Putri Sang Raja Iblis
Bantuan


__ADS_3

Drian mengangkat tangannya, "Ya mau bagaimana lagi, kan? Kita juga awalnya tidak mau membunuhmu kok."


"Apa? Jadi drama kita hanya sampai disini saja?" Zagan menutup mulutnya dengan tangan sambil berekspresi kecewa.


"Kalian.., menyetujuinya?" Savilla menatap 7 orang didepannya tidak percaya.


"Meong!" Si kucing putih melompat ke arah Savilla. Savilla dengan sigap menangkapnya dan menggendongnya.


"…." Veera tidak memberikan komentar apapun. Padahal tadi dia yang bersikeras memojokan Savilla.


"Baiklah kalau begitu." Chanx menghela napasnya.


Kucing itu mencakar lengan Savilla yang tertutupi kain wol dari lengan bajunya.


"Um?" Savilla memandang kucing itu bingung. "Ah! Tunggu!" Dia menatap mereka sekali lagi.


"Ada apa?" Ash bertanya.


"Se-sebenarnya!" Savilla berucap terbata, dia meneguk ludahnya, "Aku sedang mencari portal! Bisakah kalian memberitahuku dimana letaknya?"


"Portal? Kau mau pergi antar-dimensi?" Drian mengelus dagunya.


"Aku.., Aku ditugaskan untuk mengawasi dunia manusia oleh tuan Lucifer!"


"Oh begitu?" Danius terlihat terkejut, "Tumben sekali. Itu artinya kau memang tidak beniat untuk mengawasi kami, ya?"


"Tentu saja, Kita kan anak-anak baik mana mungkin yang mulia Lucifer mencurigai kita!" Sheera tersenyum lebar.

__ADS_1


"Kenapa?" Chanx mendekati Veera dan berbisik padanya.


"Entahlah," Veera berucap datar, matanya tertuju pada Savilla, "Hanya saja ini agak sedikit mencurigakan."


"Gadis itu?"


Veera mengangguk. Dia membulatkan matanya dan mencengram tangan Chanx.


"Ada apa?" Chanx, setengah terkejut setengah bingung, bertanya.


"Yang sedang digendongnya.., Apa itu?"


Chanx tersenyum dan mengusap kepala Veera, "Itu hanya kucing. Kau pasti terkejut karena tidak pernah berkunjung ke dunia manusia, kan? Ya, memang aneh sih seorang iblis membawa mahluk dunia sana kemari."


"Tidak bukan itu maksudku auranya---" Veera menghela napas dan menggelengkan kepalanya, "--Sudahlah. Mungkin ini hanya perasaanku saja."


"Kau sedang tidak beruntung," Ash dengan kedua tangan di dada menghampiri Savilla, "Portal di perbatasan ini sedang rusak."


'Tapi lelaki yang membawanya kesini juga memakai portal, kan?'


"Kau mungkin bisa memakai portal di perbatasan lainnya. Tapi itu jauh dari sini. Kau harus melewati kerajaan Beelzebub dan Belphegor yang sangat sinting besarnya!" Drian membuat sebuah lingkaran dengan kedua lenganya seperti seorang anak kecil.


"Terakhir kali kulihat kerajaan ku lebih besar daripada Balphegor dan Beelzebub," Sheera mengeluh.


"Tapi kita bisa menggunakan teleportasi, kan?" Zagan bertanya penuh harap.


"Memangnya kita tidak bisa membawanya bersama kita?" Drian menelengkan kepala.

__ADS_1


"Tidak bisa. Kita tidak bisa membawa sesuatu yang bisa bergerak dengan keinginannya sendiri berteleportasi bersama kita," Danius menjawab, "Drian, kau tumben pintar?"


"Tentu saja hehe!" Drian meletakan tangannya dipinggang.


"Jadi bagaimana?" Savilla bertanya khawatir sambil mengelusi bulu kucingnya.


"Apa? Kenapa kau bertanya? Itu kan masalahmu bukan kami!" Ash mengangkat dahunya, "Kenapa tidak minta bantuan pada majikanmu itu. Kau terlihat sangat manja padanya, bukan? Dasar membuat iri saja."


Savilla berkeringat dingin.


'Ah, gawat! Mereka benar-benar iblis!'


"Hey ayolah, ayolah, Masa kita meninggalkannya disini?" Sheera menatap kasihan.


"Tidak peduli." Drian menggedikan bahu.


"Biarkan saja," Ketus Veera.


"Tapi sesama iblis kan kita harus membantu," Sheera menurunkan bahu seolah merasa bersalah.


"Kau hanya mencari alasan agar bisa keluar dari istana dalam waktu lama, kan?" Chanx menatap prihatin.


Sheera menjulurkan lidah, "terus?"


"Baiklah untuk sementara kami akan menjadi pemandumu dulu." Danius mengambil keputusan.


Veera memandang Savilla tajam, "Tapi ini tidak gratis, oke? Kau akan membayarnya suatu saat."

__ADS_1


"Te-terimakasih?"


Haruskah dia merasa bersyukur karena dibantu oleh mereka?


__ADS_2