Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 1 - Execution


__ADS_3

"Sudah ku bilang lepaskan aku! Aku sama sekali tidak meracuni sang ratu!"


Aku diseret dari ruang penjara menuju tempat dimana diriku akan dieksekusi. Kedua pengawal tidak memberi ampun kepada ku, mereka terus menyeret ku sambil memukuli ku


Plak. Plak. Dengan membabi buta mereka menamparku hingga gigi ku copot dan mengeluarkan darah.


"Diam! dasar penghianat!"


"Tolong jangan bunuh aku!"


Gerbang pun dibuka, aku diseret kembali menuju sebuah altar yang berdiri di tengah lapangan. Suara cancian bahkan hinaan dapat aku dengar dengan jelas.


"Bunuh penghianat itu!!"


"Potong kepalanya!!"


Melihat kesamping aku dapat melihat Ayah dan Ibu ku, mereka berdua hanya diam sambil membuang muka. Ke arah lain aku mendapatkan musuh ku sedang tersenyum kepadaku, dan aku tahu bahwa ialah yang membuat aku dalam keadaan seperti ini.


"Apa kau siap, Elizabeth?"


Aku mengangkat wajahku, dia sudah berdiri disana dengan wajah dinginnya. Alexander kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salah ku?


"Huh, kau berbeda dengan ibu mu. Kau terlalu mudah dimanipulasi, Alexander."


"Bukti sudah ada ditangan ku, dan tidak ada yang perlu diragukan lagi."


"Bukti? Bukti apa? Bukti bahwa kau sudah tidur bersama dengan Ellise tadi malam? Menjijikan!"


Aku menekan kata terakhir ku, ia nampak tidak senang dengan perkataan ku barusan. Alex menjabak rambutku dengan keras hingga kepala ku terangkat.


"Jaga ucapan mu bajingan!"


"Kenapa kau marah? Kau hanya mencintai wanita karna wajah rupawan mereka! Cinta mu itu sangat kotor!"


Buagh! Plak! Alex secara membabi buta terus memukuli dan menampar tubuhku, hingga aku terjatuh dengan mulut yang mengeluarkan banyak darah. Kau pikir aku takut? Dasar Pangeran bodoh! Hahaha...


"Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku!"


"Ya memang aku tidak tahu apapun tentang dirimu! Dan untuk apa pula aku mengetahuinya? Kau juga tidak pernah tulus mencintai ku!"


Wajahnya bertambah merah, pedang ditangannya pun di angkat tinggi-tinggi. Aku sangat bersyukur bisa mati ditangannya, setidaknya ini lebih baik jika aku terus hidup bersama dirinya.


"Matilah KAU!!!"


Jika ada dewa yang dapat mengabulkan doa ku, aku berharap mereka semua yang ada disini akan mendapat nasib buruk. Lebih buruk seperti terpanggang di dalam NERAKA.


Slash. Pandangan ku pun buram seketika diiringi dengan rasa sakit yang hebat, aku dapat merasakan kepala ku sedang berguling di atas tanah. Sebelum mata ku tertutup, aku dapat melihat si bajingan itu, ya orang yang telah membunuh ku.


"Terima kasih dewa..."


...****...


Alexander melempar pedangnya ke tanah, ia dapat melihat kepala mantan tunangannya itu tergeletak di atas tanah dengan genangan darah dibawahnya. Ia beranjak pergi dari sana, orang-orang pun mulai pergi setelah menyaksikan eksekusi itu.


"Alex apa kau baik-baik saja? Kau nampaknya tidak sehat?" Ucap Ellise yang baru saja turun dari bangku penonton.


"Sepertinya aku hanya kelelahan, aku akan pergi untuk istirahat sejenak." Alexander pun meninggalkan Ellise, senyuman licik wanita itu tergambar jelas disaat melihat mayat musuh lamanya sedang dibereskan dari tempat eksekusi.


"Bagus! Akhirnya gak ada lagi yang bisa menghalangi cinta ku pada Alexander, selamat tinggal Elizabeth."


Ellise pun pergi dengan wajah puasnya


Di lain sisi disebuah ranjang besar seorang perempuan tua sedang tergeletak tak sadarkan diri. Oliver Del Piero, ia adalah ratu dari kerajaan Monstrous. Kemarin malam tepatnya disaat pesta ulang tahun pangeran yang ke-20, sang ratu pingsan setelah diracuni oleh seseorang.


"Bagaimana keadaannya dokter?"


Suami tercintanya pun sudah berada disampingnya dengan raut wajah sedih.


"Racun yang ada didalam tubuhnya sudah kami angkat, tinggal menunggu dirinya untuk siuman Yang Mulai."


Sang Raja memegang erat tangan istrinya, walaupun ia telah mengeksekusi pelaku yang telah meracuni istri tercintanya tapi, entah kenapa ada perasaan aneh yang mengganjal di hatinya.


"Kenapa perasaan ku tidak enak?"


Mata istrinya pun terbuka, sontak raja dan dokter disitu pun menghampiri sang ratu yang mulai siuman.


"Sayang apa kau bisa mendengarku?"


"Ukg..."

__ADS_1


Suaranya terlihat serak, tubuh rampingnya kini mulai mencoba untuk bergerak, ia mengulurkan tangannya seakan mengisyaratkan pada seseorang membantunya untuk berdiri.


"Biarkan aku membantu mu." Ucap sang raja sambil membetulkan posisi duduk istrinya.


"Yang Mulia, bagaimana perasaan mu?"


"Uh... hanya sedikit pusing, dimana ini?" Sang Ratu memutar kepalanya melihat keadaan tempat disekitarnya.


"Kau berada di kamar."


Dokter kemudian memeriksa tubuh Sang Ratu, dengan hati-hati agar tidak dimarahi oleh suaminya.


"Sepertinya efek racunnya sudah hilang tapi ia perlu istirahat untuk beberapa hari."


"Baiklah terima kasih atas kerja samanya dok."


"Sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu." Ucapnya seraya membungkuk pada kedua pemimpin kerajaan Monstrous. Suara pintu ditutup pun terdengar.


"Kau istirahat dulu saja, besok kau dapat beraktivitas kembali."


"Baiklah."


Pria itu pun mencium kening istrinya sebelum keluar dari kamar, Oliver masih terhuyung-huyung hingga tubuhnya kembali terhempas diatas kasur. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela pun tidak bisa menghalanginya untuk kembali ke alam mimpi.


Keesokan harinya, Oliver pun memanggil semua penghuni istana termasuk anak sulungnya, Alexander. Mereka semua yang hadir disitu pun berbisik-bisik, apa yang ingin sang ratu katakan.


"*Bukankah ratu baru saja siuman? Kenapa kita semua dipanggil ke ruang tahta?"


"Ku pikir ada sesuatu yang ingin ia katakan*."


Oliver yang mendengar semua bisikan itu hanya diam dengan anggunnya di atas tahta miliknya. Tatapannya sangat dingin seakan sedang menahan amarah.


"Terima kasih kepada kalian yang telah hadir disini, maaf jika aku secara mendadak memanggil kalian kemari. Ada hal yang ingin aku bicarakan."


Ia pun berdiri dan berjalan turun dari kursi tahta miliknya, menuju ke tengah keramaian. Matanya menatap tajam pada seorang gadis yang dengan mesranya memeluk lengan anak sulungnya, Alexander. Ellise yang melihat sang ratu menatap intens dirinya hanya membuang muka.


"Kenapa dia menatap ku begitu?"


"Masuklah!"


Pintu pun dibuka, tatapan semua orang pun penuh dengan kengerian. Seorang pria diseret oleh kedua penjaga istana, dibawa masuk kedalam dalam keadaan babak belur. Ellise berkeringat dingin disaat melihat pria itu dibawa masuk.


Sang Raja, Alexander, Ellise, dan semua orang disitu pun shok.


"Oliver apa yang kau katakan?"


"Sayang, aku harap kau tidak campur sekarang, diamlah dan dengarkan saja!"


Dengan tatapan dinginnya, sukses membuat raja diam seketika tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Dilain sisi, Ellise masih berdiri disamping Alexander dengan wajahnya yang sangat pucat, tubuhnya juga kini mulai bergetar hebat.


"Kau bicaralah!"


Pria itu menengok ke samping, dimana Ellise berdiri.


"Putri Ellise! Tolong lah diriku, bukan kah kau yang sudah menyuruhku untuk meracuni Sang Ratu! Tapi kenapa kau menipuku!"


Semua orang yang ada disitu pun shok.


"Kau bilang kau akan menyelamatkan ku jika aku ditangkap! Tapi sekarang, apa kau akan membiarkan aku masuk kedalam penjara?! Putri Ellise tolong bantulah aku!"


Buagh. Ellise menendang keras wajah pria itu yang sedang menarik gaunnya.


"Tidak! Itu semua bohong! Pria ini gila!"


"Hahaha... Gila?! Kita sudah sepakat dua hari yang lalu wanita licik! Kau memberikan ku sekantung emas, dan menyuruhku untuk untuk meracuni Sang Ratu!"


Kini tidak ada yang bisa berkata apa-apa, terutama raja mereka. Ia terlalu shok dan tidak mengerti apa yang terjadi.


"Ratu! Putri Ellise telah menyuruh ku untuk meracuni mu! Dia dalang dalam kejadian ini!"


"Tidak! Dia-"


"ELLISE!!!"


Ellise diam seketika setelah Oliver meneriaki namanya dengan keras, wajahnya penuh dengan dengki dan amarah. Ia berjalan ke arah gadis itu, tangannya mengepal seakan bersiap-siap ingin menampar gadis yang ia anggap bajingan didepannya.


"Dasar gadis murahan!!"


Plak. Suara tamparan pun terdengar jelas, memenuhi seluruh ruangan. Alexander hanya diam membisu, ia tidak tahu ingin bicara apa pada ibunya.

__ADS_1


"Ratu, aku tidak bersalah! Aku tidak pernah menyimpan benci padamu!"


"Diam bajingan!!"


Sekali lagi ratu menampar keras wajah Ellise hingga ia terkapar jatuh di lantai. Tidak ada yang berani mendekati ratu saat itu pun juga, bahkan suaminya dan anak sulungnya.


"Kau pikir aku tidak tahu? Setiap hari aku selalu mengawasi mu! Aku selalu mengawasi setiap gerak-gerik mu Ellise, tidak ada lagi yang perlu kau ceritakan! Pengawal!"


Tap. Tap. Kedua pengawal yang mengenakan baju zirah pun berdiri disamping tubuh Ellise yang masih terkapar di atas lantai.


"Masukan si bajingan ini ke dalam penjara, pastikan pukuli dia sebelum kalian memenjarakan nya!"


"Siap yang Mulia!"


Ellise pun diseret oleh kedua pengawal itu.


"Ratu tolong maafkan aku! Aku mohon padamu! Aku tidak bersalah!"


Gadis itu pun menghilang dibalik pintu. Oliver kemudian berjalan kembali ke atas tahta miliknya, tidak ada yang berani bicara bahkan setelah ia duduk di atas kursi yang agung itu.


"Lelah sekali.." Oliver menatap suaminya yang masih diam. "Sayang dimana menantu ku."


"Me-menantu mu?"


"Elizabet Islan, dimana dia?"


Bagaikan tersambar petir, raja kini semakin diam dengan wajah mengeluarkan keringat dingin.


"Kenapa kau diam? Cepat katakan dimana Elizabeth!"


"Di-dia... Sudah sudah dieksekusi."


"Hah? Apa yang barusan kau bilang?"


"Elizabeth sudah kami eksekusi mati."


Kini semua orang lebih bergidik ngeri setelah mendengar suara pukulan dari arah kedua pemimpin mereka. Oliver mengepal keras tangannya, bibirnya ia gigit hingga berdarah.


"KENAPA KAU BODOH SEKALI?! KENAPA KAU MEMBUNUH DIRINYA?!!!"


"A-aku...."


"APA KAU TIDAK TAHU! ELIZABETH ADALAH PEWARIS DARI KETURUNAN DEWI HUTAN SUCI! KALAU DIA MATI MAKA DEWI AKAN MURKA!"


Duarrrr. Suara ledakan dari luar istana pun membuyarkan suasana. Oliver langsung berubah pucat dan berlari keluar halaman, disusul oleh anak sulungnya.


"Yang Mulia Raja! Dewi hutan suci murka!"


"Apa?!"


Kericuhan pun mulai terjadi, semua orang yang berada di ruang tahta pun berhamburan keluar. Sang Raja yang terlalu panik jatuh diantara kerumunan orang, tubuhnya terinjak-injak diatas lantai.


"To-tolong! Urkh!"


Tidak ada yang bisa menolongnya bahkan Alexander sekali pun, ia hanya bisa melihat ayah handa nya jatuh dengan puluhan bekas luka di punggungnya.


"Ayah! Bertahan lah!"


"Urk... Nak, kita semua sudah melakukan dosa besar..."


Wajahnya terhempas kesamping, diiringi dengan tangannya yang sudah tidak bisa bergerak lagi. Alexander menangis disamping mayat ayah nya yang sudah meninggal.


Tap. Tap. Tap. Suara hentakan kaki terdengar dari arah pintu utama, dan disana muncul sesosok wanita cantik berpakaian layaknya malaikat dengan tubuhnya yang bersinar terang, ia adalah Dewi Hutan Suci, Luciana.


"Aku berharap banyak pada mu tapi apa yang aku lihat sekarang? Hanya seorang penghianat yang sedang menangisi kepergian ayah nya."


"De-dewi hutan... a-aku-"


Slash. Luciana dengan kuku tajamnya memotong kepala manusia didepannya menjadi dua, darah sudah mengucur deras. Walaupun demikian, ia menyesal tidak bisa melindungi pewaris kekuatan suci yang ia sayangi.


"Maafkan aku karna tidak bisa melindungi mu, anakku. Ibu menyesal!"


Di hari itu pun malapetaka datang, Luciana memerintahkan ribuan elf, beast, dan seluruh pengikutnya untuk menghancurkan kerajaan Monstrous.


"BUNUH MEREKA SEMUA!!"


Luciana tidak menyisakan sedikit pun warga atau bangsawan untuk hidup, mereka semua harus bertanggung jawab atas kematian pewarisnya.


...[TO BE CONTINUED]...

__ADS_1


__ADS_2