Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 8


__ADS_3

(Malam hari)


Eli sudah menyiapkan dirinya untuk perburuan kali ini, ia berjalan melewati koridor asrama yang sudah sangat sepi.


Untung saja para pengawal sedang ditugaskan untuk menjaga arena pertarungan yang letaknya agak jauh dari akademi.


Eli yang melihat keadaan semakin sepi hanya tersenyum.


'Sepertinya akan mudah sekali'


Ia meneruskan langkahnya hingga keluar ke halaman sekolah, tidak lupa ia juga melihat keadaan sekitar jika ada yang membuntuti nya dari belakang.


Jika ada yang ia takuti itu adalah mantan tunangannya, pangeran Alex. Ia tidak mau jika pria itu mengetahui tentang kekuatan yang ia miliki saat ini.


Eli menggelengkan kepalanya, menghindari pikiran buruk masuk ke dalam kepalanya.


Tidak beberapa lama kemudian ia sampai di gereja akademi.


"Sudah lama sekali aku tidak berdoa ditempat ini."


Setelah Eli masuk, hal pertama yang ia lihat adalah sebuah patung seorang wanita dengan sepasang sayap dibelakang punggungnya.


'Lama tidak berjumpa, Dewi Miriam.'


Dewi Miriam dipercaya oleh masyarakat luas sebagai Dewi pencipta alam semesta, itu pun yang Eli dengar dari kepercayaan Sumeira.


Sebenarnya ada beberapa dewa dan dewi dalam kepercayaan itu, dan jumlah mereka ada lima.


Yaitu Miriam, Lotia, Bivlo, Kynera, dan Qhueresha.


Jika Uroboros mengatakan bahwa dia adalah dewa, bukankah jumlah mereka menjadi enam?


Kebenaran itu hanya bisa ia temukan di dalam kitab 'Promises of The Immortality'. Sebuah kitab yang sudah lama menghilang dan dijadikan sebagai sebuah mitos oleh para kaum bangsawan atau pun rakyat biasa.


Eli pernah mendengar bahwa kitab itu menyimpan banyak sekali sihir terkuat yang pernah ada, dan obat kuno yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit.


Jika kitab itu ditemukan, pastinya akan menjadi barang paling sakral di kerajaan ini.


Eli pun mengeluarkan kunci dari dalam penyimpanan di sistem miliknya.


[Item: Key of Eqaba]


Dengan cepat kunci itu menghilang dan secara instan membuat portal kecil didepan Eli.


[Kau sudah memasuki dungeon]


Portal itu pun seketika menghilang.


Eli merasa kebingungan, dan sedikit khawatir memikirkan bagaimana cara ia akan kembali lagi ke dunia nya.


Sekarang ia berada disebuah goa dengan pencahayaan yang sangat minim. Eli juga merasakan dengan sangat jelas bahwa terdapat beast dan monster disekitarnya, sedang menunggunya untuk keluar.


"Ku pikir aku tidak akan bisa tidur sampai esok hari, jadi keluar lah kalian semua."


Bam! Bam! Bam!


Tanah berguncang disaat sesosok laba-laba raksasa keluar dari sarangnya.


Eli bergidik disaat melihat nama yang mengambang di atas monster itu.


[Sang laba-laba beracun, Tarantula]


'Tidak salah lagi, laba-laba ini setara dengan kedua monster yang aku lawan kemarin.'


Dengan empat pasang kaki yang panjangnya bisa mencapai empat meter, pastinya akan sulit untuk mencapai titik kelemahannya. Eli tahu kelemahan setiap monster tipe laba-laba ada pada bagian matanya, bahkan dengan kemampuan 'Clawing Nail' nya saat ini, ia pasti tidak mampu menembus kulit laba-laba yang sekeras baja itu.


[Kemampuan 'sprint' telah diaktifkan]


Eli dengan cepat bergerak, ia melompat ke atas laba-laba raksasa itu


"Kiiiiiiik!"


Monster itu dengan cepat menghindar dari serangan Eli, ia dengan cepat mengayunkan kaki-kaki panjangnya.


Duarrrr!


Setiap kaki laba-laba itu mampu membuat lubang sedalam dua meter, dan itu merupakan kabar buruk bagi Eli.


Woooshhhh!


Eli menggunakan kemampuan berlarinya lagi dan mencoba menyerangnya lagi.


'Clawing Nail'


Crackkk! Crackkk!


Eli mendecih geram disaat kuku tajamnya tidak dapat menembus kulit laba-laba itu. Sesuai perkiraannya, ini tidak akan mudah.


'Sial! Kulit ya sekuat baja!'


Ia kemudian berdiri dibelakang laba-laba raksasa itu.

__ADS_1


"Kita akhiri saja sekarang!"


.


.


.


[Kemampuan haus darah diaktifkan]


[Kemampuan berlari diaktifkan]


Eli melompat kembali ke atas Tarantula itu.


"Kiiiiikkkkk!"


Tarantula itu tidak ada waktu untuk menghindar disaat Eli menyerangnya secara tiba-tiba.


Scratch!! Scratch!!


"KHIAKKKKKK!!!"


Kuku tajam Eli tertancap dan tertanam jauh di bawah mata si Tarantula. Ia terus mengayunkan kuku-kukunya hingga membuat si laba-laba ambruk.


[Kau naik level]


[Kau naik level]


Eli tersenyum disaat sistem tidak henti-hentinya berbunyi. Ia mendapat banyak sekali exp dan dapat naik level dua kali lebih cepat.


Sistem kembali berbunyi.


[Quest harian telah tiba]


-Bunuh 10 Raja Tarantula 0/10


[Hadiah]


-Tambahan 200 slot penyimpanan


-Hadiah tersembunyi


-20 point stat


Wajah gadis ini mulai menampakan senyum bengisnya. Eli menatap ke sisi goa, dimana para raja tarantula mulai menampakan diri mereka.


Eli berfikir, jika ada sepuluh bahkan dua puluh pemburu peringkat E, D, bahkan C, pastinya mereka semua akan mati dalam sekejap. Satu monster ini sebanding dengan lima monster peringkat B.


Para tarantula mulai menyerang ke arahnya.


Eli tersenyum sambil mengeluarkan taring tajamnya, ia sekarang akan bermain serius.


"Ayo kita berburu mulai sekarang!!"


Scratch! Scratch!


Para monster itu pun sedikit demi sedikit tumbang.


.


.


.


.


[Kau sudah membunuh 'Tarantula taring biru']


[Kau mendapatkan 3.000 Exp]


[Kau sudah membunuh 'Tarantula jaring beracun']


[Kau mendapatkan 4.500 Exp]


[Kau sudah membunuh 'Raja Tarantula']


[Kau mendapatkan 8.000 Exp]


Eli tertawa terbahak-bahak dengan sistem yang tidak berhenti berbunyi. Ia terus menerus melayangkan serangan tanpa mempedulikan jika ia hampir berada di batas kemampuannya.


Ia kemudian berdiri di atas mayat para laba-laba yang sudah ia bunuh, dan memanggil layar statusnya.


Nama: Elizabeth Islan


Pekerjaan: Tidak ada


LEVEL 13


HP: 5000


MP: 800

__ADS_1


Kritikal: 20


Kekuatan: 23


Kelincahan: 23


Indra: 23


Daya hidup: 23


Keterampilan


-Haus Darah Lv. 2


-Sprint Lv. 1


-Clawing Nail Lv. 1


-Cannibal Lv. 1


Dalam waktu singkat ia bisa naik dua kali lipat dari biasanya. Diakhir pertarungan melawan raja tarantula, ia sempat kesulitan tapi akhirnya ia dapat membunuh monster itu dan mendapatkan dua level.


Sistem berbunyi lagi, Eli melihat layar yang ada didepannya dan mulai tersenyum bahagia. Tidak lain itu adalah layar yang menunjukan bahwa Eli sudah menyelesaikan quest miliknya.


Sebenarnya tadi pagi ia tidak mengambil quest harian miliknya dikarenakan masih sibuk mengurus masalah yang ada di sekolah.


[Kau menyelesaikan quest harian]


[Hadiah mu akan segera tiba]


Senyumannya bertambah lebar disaat layar hadiah sudah muncul didepannya.


[Kau mendapat 200 slot penyimpanan]


[Kau mendapat 20 poin stat]


Dengan penyimpanan sistem yang mencapai 400 slot, Eli tidak perlu khawatir untuk kehabisan tempat untuk menyimpan barang-barang bawaannya.


Sekarang yang membuat ia bingung adalah hadiah terakhir yang ia dapatkan.


[Pilih salah satu kotak]


[Goddess box] atau [Devil Box]


'Aku hanya bisa memilih salah satu diantara kedua kotak ini.'


Eli sebenarnya tidak peduli apa isi dari kotak-kotak ini, asalkan ia dapat barang bagus yang dapat membuatnya menjadi kuat itupun sudah cukup.


"Devil Box"


Kemudian kotak berwarna hitam dengan garis pita berwarna merah menyala layaknya lahar muncul dan langsung terbuka di atas tangan Eli.


"I-ini"


.


.


.


.


[Item: Pedang Leviathan]


[Item class: A]


Pedang yang dibuat langsung dari sisik monster raksasa dari jaman purba, Leviathan. Kerusakan dan gaya bertarung mu akan bertambah menjadi 30%.


Mata pedangnya berwarna hitam dengan aura merah yang menyelimutinya.


Eli tersenyum, ia mendapatkan jackpot dari hadiahnya kali ini. Ia pikir ia akan mendapatkan zonk dengan memilih kotak yang bernamakan iblis.


Ia bisa merasakan langsung kekuatan pedang itu langsung mengalir kedalam dirinya. Eli bertanya-tanya, apa diluar sana ada pedang yang sama persis seperti miliknya saat ini.


"Pastinya sih tidak akan ada."


Layar status dan sistem pun menghilang, kini Eli berjalan menuju pintu raksasa yang sepertinya ia anggap sebagai jalan keluar


Ia pun membuka pintu raksasa itu.


Kreakkkkk!


Suara gesekan pintu itu bisa saja membuat telinga beberapa pemburu tingkat E menjadi tuli seketika, untung saja Eli sudah menjadiq


pemburu tingkat tinggi. Ia sendiri tidak tahu ada diperingkat berapa dirinya saat ini.


Eli terkejut disaat melihat pemandangan didepannya sekarang.


"A-aku dimana?"


...-TO BE CONTINUED-...

__ADS_1


__ADS_2