Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 20


__ADS_3

Tidak ada seorang pun yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, tidak seorangpun. Kehidupan berjalan layaknya roda keberuntungan dan kebahagian hanyalah sebatas bonus.


Setelah percakapan panjang itu kami bertiga kembali ke dalam desa. Kami bertiga mendapat sambutan hangat dari para elf yang lain.


Mereka sudah berkumpul di rumah pak tua Erendriel sejak tadi.


Tentu saja, aku mengatakan kepada Erendriel dan Visati bahwa aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus pulang.


Namun, sialnya aku berkata terlalu keras.


"EHHH!"


"Kau mau pulang?"


Amon dan yang lainnya menatap ku sedih begitu pula dengan para elf yang lain. Aku tahu bahwa kedatangan ku disini sangatlah penting, diriku bagaikan mimpi yang telah lama mereka tunggu dan akhirnya terwujud juga.


Namun harus ada hal yang perlu ku selesaikan.


"Itu benar, maafkan aku. Untuk beberapa hari ke depan aku tidak bisa mengunjungi kalian sebab ada hal yang perlu ku selesaikan."


"T-tapi...bukankah akan lebih baik jika kau tinggal disini?"


"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa."


"Ayolah~"


Para elf kecil memohon kepada ku dengan nada memelas. Menolah permintaan mereka pastinya akan membuat hati mereka hancur, namun apa bedanya dengan diriku?


Dikelilingi dengan orang-orang yang kalian cintai, sedangkan aku sendiri....hanyalah orang asing.


Pembicaraan yang telah ku lewati masih terngiang-ngiang di kepala membuat otak ku berdenyut-denyut sebab terlalu sering memikirkannya.


Ini tidak lebih seperti penyiksaan bagiku.


"Anak-anak sudah hentikan!" ucap Visati kepada mereka.


"Kalian tidak perlu khawatir, Elizabeth akan datang kembali dia hanya perlu menyelesaikan urusannya di dunianya, bukan?"


Aku mengangguk menanggapi pernyataan Visati.


"Itu benar, aku akan kembali lagi."


"Apakah kau akan kembali lagi dengan cepat?"


"Sejujurnya....aku tidak tahu. Namun aku akan mencoba yang terbaik agar semua tugas ku cepat terselesaikan."


Aku berjongkok dan menyetarakan tubuhku dengan Amon, memberikan pelukan hangat padanya.


"Aku janji akan kembali."


Aku dapat merasakan jika kedua tangannya menyentuh punggung ku dan ia membenamkan wajahnya. Kami berdua berpelukan untuk waktu yang cukup lama.


Nampaknya kejadian itu membuat sebagian dari elf yang lain cemburu.


Para elf kecil dengan sigap memeluk tubuh kami yang masih bersatu, semuanya berpelukan satu sama lain.


Hangat sekali.


Tangan mereka yang saling merangkul dan tubuh mereka yang saling menempel membuat kehangatan diantara kami semakin terasa. Namun pada akhirnya, aku melepas pelukan ku dari tubuh Amon.


"Sebelum kau pergi bagaimana kalau kau mencicipi sedikit masakan kami?"


"M-maaf tapi aku-"


"Ahhhh! Tidak perlu malu-malu, sudah ikut makan bersama kami saja. Semuanya pergi ke dapur kalian masing-masing dan masak masakan yang paling enak ya! Kita makan bersama-sama!"


"HOREEEEEEE!!"


Semua elf pun berhamburan pergi dan masuk ke rumah mereka masing-masing.


Saat itu, asap putih mengembung keluar dari corong corong rumah warga. Mereka mulai memasak.


Aku hanya tersenyum dan tertawa menatap wanita yang merangkul bahuku. Dia berkulit putih dan berambut coklat panjang, parasnya yang cantik jelita membuat diriku tersipu malu.


"Baiklah kalau kalian memaksa."


"Hehehehe...kau duduk lah disini, ya! Jangan pergi kemanapun."


"Aku tidak akan."


"Jangan berbohong. Aku tahu hanya dengan melihat mata mu, kau ingin pulang kan? Sudah duduk dulu."


Aku menghela nafas, aku menyerah dan duduk di sana bersama dengan Amon dan anak-anak lainnya. Erendriel kembali ke dalam kamar dan Visati masih berada di sana, ia mengobrol dengan beberapa elf wanita di pojok ruangan.


Mereka begitu ceria.


Pada akhirnya, aku dan para elf memakan hidangan bersama-sama. Mereka tertawa riang dan tersenyum tanpa tahu apa yang mereka bicarakan, tangan mereka penuh dengan minuman dan makanan, hal itu menggelitik perutku.


"Bagaimana bisa mereka memakan makanan sebanyak itu?"


Amon dan teman-teman berlarian ke sana dan ke sini. Layaknya anak kecil, mereka bermain kejar-kejaran.


"Bagaimana, nak? Apakah masih kurang?"


"Sebetulnya aku sudah kenyang."


Semua hidangan ini membuat ku kekenyangan. Alasan aku masih belum bisa menghentikan kegiatan makan ku adalah karna Amon dan teman-teman terus menerus menyodorkan makanan ke dalam mulutku.


"Kakak ayo makan ini!"


"Ini juga, kakak! Daging ini sangat enak!"


"Ayo makan lagi, kakak!"


Melihat diriku, Erendriel seketika berkata. "Anak-anak hentikan! Lebih baik kalian makan bersama ibu-ibu kalian! Amon duduk!" Seketika mereka pun berhamburan, masing-masing pergi ke orang tua mereka.

__ADS_1


"Nampaknya aku perlu mengajari sopan santun lagi kepada anak-anak yang bandel itu."


"Tidak perlu sebegitu nya, mereka hanyalah anak kecil."


"Walaupun begitu mereka perlu di nasihati."


"Aku tahu." ucap ku menghirup teh di tanganku dan meminumnya.


Ahhh....ku harap hari ini tidak akan berakhir.


...********...


Di depan gerbang desa aku berpamitan dengan para elf. Amon dan yang lainnya pun berada di sana, mereka menangis tersedu-sedu.


"Kakak....jangan pergi..."


"Iya kakak....tinggal lah...disini..hiks.."


"Berhentilah menangis, aku berjanji jika aku akan datang lagi."


"Janji ya." ucap Amon seraya mengulurkan jari kelingkingnya.


Nampaknya Amon ingin aku berjanji kepadanya dengan serius. Aku pun mengaitkan jari kelingking ku dengan miliknya.


"Janji."


Aku berdiri dan berbalik menatap yang lain, Erendriel dan Visati menatap ku dengan tatapan hangat mereka. Mereka berjalan melewati para elf yang menghalangi jalan dan berhenti di depan ku.


"Hati-hati di jalan, nak."


"Kau dapat datang kapanpun yang kau mau. Dunia ini terbuka untuk mu."


"Ingatlah kata-kata kami, Elizabeth."


Aku tersenyum kepada mereka, dalam hatiku aku tidak berniat untuk berbicara kembali dengan mereka. Jadi, aku hanya mengangguk dan mengambil beberapa langkah kebelakang, aku melambaikan tanganku dan mengucapkan salam perpisahan.


"Aku pergi dulu!"


"Sampai jumpa, kakak!"


"Nak, sampai bertemu lagi!"


"Hati-hati di jalan!"


Aku berlari menjauh dari mereka. Walaupun aku sudah berlari cukup jauh mereka nampaknya masih belum lelah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada ku.


Aku akan kembali...ini janji ku.


Semua pengalaman hari ini tidak dapat ku lupakan namun, aku tidak berniat untuk memikirkan kembali perkataan Erendriel dan Visati untuk saat ini.


Semuanya sudah jelas dan jalan ku kini sudah terbentang di depan ku.


Saat aku hampir berlari dengan wajah melamun, sebuah portal tiba-tiba muncul di depan ku. Samping kanan dan kiri hanyalah hutan belantara yang sangat lebat dan jalan yang ku injak ini menuju langsung ke arah bukit, dimana goa yang ku lewati berada.


"Itu!"


Nampaknya ini adalah portal agar diriku dapat kembali ke rumah.


Baiklah...aku pulang!


Aku membawa kaki dan tubuhku masuk ke dalam portal, seketika pandanganku menjadi gelap. Mungkin karna cara masuk dan keluar ku berbeda, aku merasa begitu aneh.


Beberapa saat kemudian pandangan ku pun menjadi jelas. Aku membuka mata dan menatap ke sekeliling.


"Tempat ini.."


Masuk atau keluar nampaknya aku akan tetap kembali ke tempat yang sama.


Hah....rasanya seperti kembali ke rumah. Aku telah pergi untuk waktu yang lama jadi, aku penasaran sudah berapa lama aku pergi.


"Kenapa suasananya sepi sekali? Apakah ini masih malam hari?"


Suara serangga di sekitar gereja membuat ku yakin bahwa ini masih malam hari.


Baguslah, dengan ini pastinya murid-murid masih berada di asrama mereka.


Aku tidak ingin membuang waktu lagi, aku ingin beristirahat. Pintu gereja itu kubuka dan rupanya sedang turun hujan.


"Ah iya, hari ini adalah musim hujan jadi tidak heran jika malam hari ini hujan turun dengan lebat."


Aku berjalan dan menerobos derasnya air hujan, aku tidak punya pilihan lain. Namun, saat aku berniat keluar dari sana tiba-tiba terdengar suara yang begitu keras dari kanan.


"!!"


Suara itu terdengar seperti sebuah ledakan namun aku berfikir. Tidak mungkin ada murid yang keluyuran malam hari begini, semua orang pasti sudah tertidur.


Aku pun seketika mengingat bahwa ada segelintir orang yang kemungkinan masih terbangun. Mereka sepertinya sedang berpatroli disekitar sini namun, ledakan itu tetap membuatku penasaran.


Apa itu?


Aku langsung pergi ke sumber suara itu, semakin dekat semakin terdengar jelas suara ledakan itu. Kali ini bukan sekali atau duka kali melainkan berulangkali.


"Hyatttt!!"


Aku menyiapkan diri saat mendengar teriakan itu.


Ada yang tidak beres.


Aku terus berjalan ke depan dan seketika aku menarik nafas ku dalam-dalam.


"!!"


Tepat di depan ku seorang gadis sedang berkelahi dengan sekelompok goblin.


...****************...

__ADS_1


Helena harus banyak menghela nafas, mana miliknya hampir terkuras habis karna ia telah menggunakan mantra di setiap pertarungan. Namun, dirinya tetap yakin jika ia akan menang.


Aku tidak boleh kalah di sini! Mereka hanyalah sekelompok goblin.


"Tombak Api!!"


Ia menggunakan mantra apinya lagi, kali ini ia mengeluarkan mantra tingkat 2. Tombak Api miliknya keluar dan meluncur ke arah para goblin.


"KHUAKKKKK!!"


"KHIAKKKKKKK!!"


Para goblin meraung dan berteriak kesakitan namun, sesaat setelah tombak api mengenai tubuh mereka, mereka mati hangus terbakar dan tubuh mereka berjatuhan ke tanah.


Pemimpin goblin nampaknya tidak begitu senang dengan kematian teman-temannya.


"Hiiiiiiii!"


Helena sadar bahwa hanya goblin itu yang tertinggal sendiri.


Ia bisa melihat makhluk itu melompat-lompat dengan ekspresi marah. Sepertinya ia telah memancing kemarahan darinya.


Inilah saatnya.


"Fire Ball!!"


Helena mengeluarkan bola-bola apinya, berencana untuk mengakhiri pertarungannya dan membunuh goblin itu.


Swirls! Whoosh!! Slash!!


Matanya tercengang, Helena yakin bahwa bola apinya mengenai makhluk itu. Namun diluar dugaan, goblin itu menebas semua bola apinya.


Sekarang wajah Helena mengeras, matanya bergetar dengan rasa takut.


"T-tidak mungkin....d-dia menghancurkan... mantra api ku!?"


Dash!


Goblin itu berlari dan menghunuskan belati yang ia pegang.


"Ah!"


Helena terjatuh namun ia berhasil menghindari serangan makhluk itu. Ia mencoba bangun namun tubuhnya yang telah kehabisan mana membuatnya sulit untuk berdiri.


Goblin menatap dirinya dengan tatapan haus darah, ia benar-benar menginginkan gadis di depannya mati.


"Lou! Tolong aku!"


"KHIAKKKKK!!"


Makhluk itu berlari dan berusaha menyerang Helena.


"Lou!!!"


CLANG!!


Sebuah sosok tubuh menghalangi serangan goblin itu. Helena yang membuka matanya perlahan dan seseorang berdiri di depannya dan mencegah goblin itu dari membunuhnya.


Butuh beberapa detik baginya menyadari bahwa sosok itu adalah seorang gadis.


"A-apa?"


Mata pisau yang beradu dengan belati dari goblin itu seketika membuatnya tercengang. Fakta bahwa pedang yang mencegah serangannya jauh lebih besar dari miliknya, membuatnya penasaran sekaligus marah dengan siapa dia yang telah berani ikut campur dalam pertarungannya.


"Bagus sekali. Aku tidak sabar pertarungan seperti apa yang akan kau berikan kepadaku."


Ia menyingkirkan pedangnya agar goblin itu dapat menatap matanya.


Kedua mata mereka bertemu.


Seketika tubuh goblin itu bergetar seakan-akan ia ketakutan menatap musuh di depannya.


"Khikkk.."


"Kenapa? Apa kau takut sekarang?"


Woosh! Clang!


Goblin itu membuat jarak dengan gadis itu, merasakan aura darinya yang begitu kuat membuat dirinya yakin bahwa gadis di depannya bukanlah tandingannya.


Helena masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


A-apa? Kenapa goblin itu mundur dan...wajahnya terlihat ketakutan.


"Siapa kau?"


Helena bertanya kepada gadis di depannya.


Gadis itu memalingkan sedikit wajahnya dan menunjukkan pandangan matanya yang tajam. Helena pun bergetar, gadis itu tidak menatap dirinya sepenuhnya dan hanya menunjukkan matanya saja namun, dirinya sudah dibuat ketakutan dengan aura yang menyelimuti gadis itu.


"Pergilah. Ini bukan pertarungan mu dan biarkan aku yang mengurus makhluk itu."


Disaat gadis itu menunjukkan pedangnya ke goblin di depannya, makhluk itu melarikan diri ke dalam hutan.


Sontak gadis itu pun berlari mengejarnya.


"T-tunggu!"


Tinggal Helena sendiri di sana, ia dengan cepat berdiri walaupun tubuhnya sudah tidak kuat bahkan untuk berdiri sekalipun.


"Gawat! Goblin itu membawanya ke dalam hutan! Aku harus memberitahu yang lain!"


Ia tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian melawan goblin itu di tengah hutan, faktanya di dalam sana banyak sekali monster yang mengerikan yang keluar di malam hari.


Ia berlari untuk memberitahu yang lain, walaupun tanpa ia sadari itu semua sia-sia.

__ADS_1


...[TO BE CONTINUED]...


__ADS_2