Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 5


__ADS_3

"GROAHHHHH!"


Duarr. Dengan sekali ayunan palu dari orge raksasa itu, pepohonan yang ada dibelakang aku pun langsung tumbang seketika, tapi dengan cepat aku dapat menghindari serangan itu.


"Bagaimana aku bisa melawan dua bos dalam satu waktu? Pikir! Pikir! Ahh!"


Scratch. Aku yang melamun tidak sempat menghindar dari taring tajam serigala itu, bahu ku terluka sangat parah dan hp ku berkurang drastis menjadi lima ratus.


"Fokus Elizabeth! Tidak peduli kalian berdua monster kelas S atau apapun itu, yang terpenting aku akan mengalahkan kalian!"


Dash. Wooosh. Dengan skill berlari ku aku langsung menyerang serigala itu, orge memang lebih kuat dari serigala raksasa ini, tapi dia terlalu lambat jadi aku dapat mengulur waktu. Kuku-kuku tajam ku pun melayang di atas kulit berbulu serigala itu.


Scratch 5×


"KHIAKKKKKK!"


Serigala itu pun tumbang seketika, tapi ia tidak mati. Orge yang berada dibelakang ku pun mengayunkan palu raksasanya ke arah ku.


Woosh Duarrrr!


Aku dapat menghindari serangannya lagi, orge itu memang sangat lambat tetapi sangat kuat.


"Tunggu! Aku tahu bagaimana cara mengalahkan mereka berdua! Aku harus menggunakan taring tajam serigala itu dan mengarahkannya pada orge, jika berhasil pastinya aku bisa mengalahkan mereka berdua dalam waktu yang bersamaan!"


Dengan cepat aku berlari lagi dan menghindari serangan dari orge itu, sepertinya ia terlihat kesal.


"GROAHHHHHH!"


[ALARM]


[Douma menggunakan skill 'wrath'. Kecepatan serangannya akan bertambah 20%]


Wooshhh Booomm Duarrrr!


Aku menghindarinya lagi.


"Rupanya kau menyimpan skill terbaik mu ya? Baiklah aku juga tidak akan tinggal diam lagi!"


[Kemampuan "Haus Darah" diaktifkan]


[Ogre sudah terkena skill milikmu, tubuhnya tidak akan bisa bergerak selama 5 menit.]


Scratch!!


Aku melayangkan kuku-kuku tajam ku pada tubuh orge itu. "Rasakan ini!" Suara cabikan dari kuku ku terdengar jelas oleh telinga ku, seperti suara harmoni yang indah. Sesuai dengan prediksi ku, serigala putih yang sempat tumbang langsung menyerang ke arah ku.


"GROAHHHHH!!"


Buaghh. Orge raksasa itu terkena serangan dari temannya sendiri, tubuhnya tergeletak tak sadarkan diri. Aku pun langsung naik ke atas serigala putih itu dan melayangkan beberapa serangan dengan cepat


"Mati kau!!"


Scratch 5×


"GROAHHHHHHHH!"


[Kau sudah membunuh "Douma" Sang Orge]


[Kau telah membunuh "Xavier" Sang Serigala Putih]


[Kau naik tingkat]


[Kau naik tingkat]


[Kau naik tingkat]


[Kau naik tingkat]

__ADS_1


[Kau naik tingkat]


[Kau naik tingkat]


"Hah.... Hah.... Mereka berdua.. benar-benar... kuat."


Tubuh ku ambruk di samping kedua mayat monster itu, walaupun bau darah menyengat sangat kuat tapi bukan masalah bagiku.


"Sepertinya aku akan istirahat dulu disini, atau tidak."


[Kau mendapat kemampuan baru "CANNIBAL"]


"Aku mendapat skill baru?"


[Skill: Cannibal Lv1]


[Kemampuan pasif]


Saat menggunakan kemampuan ini, mulut dan rahang mu bisa terbuka sangat lebar dan memakan segala macam monster. Kemampuan bertarung mu akan bertambah menjadi 30%


"Hah sudah kuduga, jika kesulitan quest semakin tinggi pastinya reward yang akan ku peroleh akan lebih bagus."


"Apa hanya ini reward yang ku dapatkan?"


[Kau mendapatkan 50 poin stat]


[Item: Key of Wonderland]


[Item class: ???]


[Tipe: Kunci]


Kunci yang dapat membawa mu ke dunia penuh elf, bantulah mereka untuk mendapatkan quest dan reward yang lebih banyak. Dapat digunakan di gereja akademi.


[Item: Health dan Mana Potion]


[Item class: B]


[Item: Oracle's stone]


[Item class: Consumable]


Gleuk Gleuk


Aku pun langsung meminum kedua potion yang aku dapat, dan benar saja darah dan mana ku pun kembali seperti semula dan bertambah lumayan banyak.


"Kalau untuk batu oracle sih aku paham cara menggunakannya, tapi kenapa aku mendapat kunci lagi?"


"Kunci menuju dunia elf. Keberadaan elf memang ada, tapi mereka sangat jarang menampakan diri nya pada manusia. Kenapa system menyuruhku untuk membantu mereka, yang ku tahu hubungan antara elf dan manusia tidak terjalin cukup baik."


Aku memasukan seluruh barang bawaan ku kedalam inventory ku, tubuh ku sudah terasa segar kembali. Hanya saja seragam ku yang sudah robek dan kotor.


"Hah... bodo amat lah!"


[Hutan akan berubah menjadi normal kembali]


Pemandangan disekitar ku pun berubah menjadi normal kembali, dan mayat kedua monster itu juga langsung menghilang. Aku berjalan kembali menuju sekolah, tidak ada siapa-siapa pun di halaman belakang sekolah.


"Hari sudah sore, pastinya aku akan dihukum sangat berat."


Aku pun melihat seorang penjaga sedang melakukan patroli, dengan perlahan aku mendekati penjaga yang merupakan seorang ksatria itu.


"Um permisi."


Penjaga itu menatap ke arah ku. "Putri Elizabeth! Kau kemana saja? Kami sudah mencari mu sedari tadi!"


"Aku pergi ke belakang sekolah untuk beristirahat tadi siang, tapi ada segerombolan goblin yang langsung datang menyerang ku jadi aku pergi untuk melawan mereka semua."

__ADS_1


"Pu-putri melawan mereka semua?"


"Yup!"


Wajah ksatria itu menjadi lebih khawatir setelah melihat baju ku yang robek bersimbah darah. "Apa putri baik-baik saja?! Apa ada yang luka?! Aku akan mengantar mu ke ruang pengobatan!"


"Ah terima kasih tapi aku baik-baik saja kok, aku akan langsung pergi ke kamar ku. Bye!"


"T-tunggu putri! Gawat aku harus melapor kepada kepala sekolah!"


Aku langsung berlari memasuki koridor, dan tidak melihat ada murid-murid yang lalu lalang disana.


"Pastinya mereka semua sudah berada di kamar masing-masing."


Setelah sampai di depan pintu aku pun langsung membukanya dan menutupnya kembali. Bajuku yang sudah robek dan bersimbah darah pun ku buang ke tempat sampah.


"Untung saja aku masih punya seragam pengganti."


Tubuhku yang sudah tidak berbalut apapun langsung bergegas pergi ke kamar mandi, bak mandi yang sudah terisi air hangat pun langsung aku gunakan. Lelah sehabis pertarungan tadi pun hilang seketika, dengan lembut aku mengusap tangan ku dengan sabun.


"Ah segarnya~" Ucap ku sambil menyandarkan kepala ku di samping bak mandi.


"Ngomong-ngomong, sekarang Sarah sudah pulang belum ya? Ibu dan Ayah pasti akan menanyakannya."


Aku iseng-iseng mengecek keadaan system ku.


"Aku bisa membeli senjata disini, tapi level ku belum cukup untuk bisa menggunakannya. Sepertinya aku harus berlatih lebih giat."


Aku pun berdiri dan mengelap tubuhku dengan handuk. Aku keluar dari kamar mandi dan langsung memakai baju yang telah ku persiapkan.


Tok Tok Tok. Suara ketukan pintu pun menarik perhatian ku, aku membukanya dan...


"Loh kepala sekolah kenapa anda datang kemari?"


"Ada hal yang ingin kami bicarakan dengan mu, Elizabeth."


"Sudah ku duga akan jadi seperti ini."


Aku menyuruh ketiga orang itu untuk masuk ke kamar ku. Mereka bertiga adalah orang paling penting di akademi ini yaitu Kepala Sekolah, Kepala pengajar dari Pendidikan Ilmu Seni Pedang, dan yang terakhir Ibu Celine dari Pendidikan Kedokteran.


Kepala sekolah kini menatap ku dengan tatapan khawatir, sama seperti penjaga yang sempat ku temui tadi. "Elizabeth, ku dengar kau diserang oleh segerombolan goblin tadi siang?"


"Ya itu benar."


"Tapi kenapa kau tidak langsung memanggil kami, dan melakukan hal konyol dengan melawan mereka." Ucap Kepala pengajar dengan raut wajah seakan mencurigai ku.


"Kepala pengajar pasti tidak akan mempercayai apa yang baru saja ku perbuat."


Aku menggebrak meja. "Hal konyol? Pak dengar ya, jika goblin-goblin tadi masuk ke halaman akademi pastinya nyawa para siswa-siswi akan terancam." Ucap ku dengan sedikit amarah.


Ibu Celine berdiri dan memegang pundak ku. "Kami tahu Elizabeth, tapi bukan kah berbahaya jika kau melawan mereka sendirian?"


"Jadi aku harus bagaimana? Membiarkan mereka masuk ke dalam akademi dan menyerang teman-teman ku begitu?"


"Elizabeth, tenang, kami tahu apa yang kau pikirkan. Tapi, melawan para goblin-goblin sendirian bukan kah itu terlalu berbahaya?"


"Tapi aku tidak ada pilihan lain Kepala Sekolah."


Aku terduduk kembali. Tapi setelah itu kepala sekolah langsung menyuruh Ibu Celine dan Kepala Pengajar untuk pergi meninggalkan ku.


Ia berdiri.


"Kalau begitu kami pergi dulu, jaga kesehatan mu, Elizabeth."


"Baiklah."


Pintu pun ditutup.

__ADS_1


"Hah capek sekali."


...-TO BE CONTINUED-...


__ADS_2