Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 24 - A Forgotten Problem


__ADS_3

Berlari melewati keramaian seakan-akan sedang mengejar dan mencari sesuatu, seorang anak kecil memelankan langkahnya. Ia lelah sebab telah berlari beberapa saat untuk mencari seorang gadis yang ia temui tadi di toko roti.


"Tidak ada, aku tidak bisa menemukannya." ucapnya mengelap keringat di dagunya.


Tentu saja, alasan mengapa ia sulit menemukan gadis itu adalah karna ukuran tubuhnya.


Karna ia sangat kecil jadi sangat sulit bagi dirinya untuk melihat ke dalam keramaian. Dalam kondisinya yang seperti itu, ia terjebak dalam keputusasaan.


"Percuma saja jika aku mencarinya. Pasti ia telah jalan begitu jauh." keluh kesahnya tentang kondisinya saat ini.


Tubuhnya yang lemah membuatnya sulit untuk melanjutkan perjalanan, bahkan untuk berjalan sedikit pun sulit. Akhirnya ia melihat sebuah kursi di pinggir jalan, berfikir untuk mengistirahatkan tubuhnya sesaat di situ.


Ia pun duduk di bangku itu.


"Aku lapar." ucapnya, menyentuh perutnya yang keroncongan.


Lalu anak itu sadar bahwa ia memiliki sekeranjang roti yang sedari tadi ia bawa dari sebuah toko. Ia mengambil sebuah roti dari keranjangnya.


Roti itu kini berada di tangannya. Aroma khas roti yang baru dipanggang merebak begitu cepat, masuk ke dalam hidungnya. Itu membuat perutnya berbunyi sangat keras dan membuat air liurnya mengalir layaknya air terjun.


Ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi, memakan roti itu dengan lahap.


"Mnhnnn~"


Madu yang berada di dalamnya meleleh seketika saat masuk ke dalam mulut, rasa manisnya begitu alami dan sangat enak.


"Uwahhhhhh ~ Roti ini begitu enak!" ucapnya mengambil gigitan kedua dan menggigitnya lagi, lagi dan lagi.


Namun saat sedang asik menikmati suasana ibu kota dengan sekeranjang penuh roti di sampingnya, ia masih memikirkan sesuatu. "Sekarang aku berfikir..." ucapnya.


Anak itu menurunkan tangannya dari memakan roti itu, ia berfikir sejenak.


'...Jika saja kakak cantik itu tidak datang, pasti aku tidak akan bisa mendapatkan roti-roti ini. Uang yang ku bawa tadi saja masih kurang dan ia datang membayar makanan ku.... Apakah dia malaikat yang datang dari surga?'


Kini ia merasa tidak enak sebab roti-roti ini adalah hasil pemberiannya. Ia belum mengucapkan terima kasih kepada malaikat itu dan sekarang ia bermalas-malasan sambil memakan semua roti ini.


"Yang dikatakan bibi penjual roti memang benar."


Orang-orang selalu mengabaikan keberadaannya dan hanya gadis itu yang menaruh perhatian kepadanya, walaupun hanya sesaat. Jika orang lain yang berada di posisi gadis itu pasti ia telah dimarahi bahkan ditendang keluar toko karna pakaiannya yang lusuh. Perkataan si bibi masih terngiang-ngiang di kepalanya.


Ia melompat dari kursi dan bersorak, "Itu benar! Aku tidak boleh jadi anak yang nakal, aku harus menemui kakak cantik itu dan berterima kasih padanya." ucapnya, mengambil keranjangnya dan kembali berlari.


Apakah berterima kasih saja cukup? Tentu saja tidak.


Namun, ia tidak memiliki satu koin pun berniat untuk memberikan apapun sebagai balas budi sang gadis yang telah membantunya.


"Huh....huh....""


Setelah sekian lama berlari dengan wajahnya yang telah berkeringat, ia berhenti sejenak. Sesekali ia menengok ke sekeliling jika ia menemukan sesuatu dan di dalam keramaian ia melihat sesuatu. "Itu..." ucapnya seraya menatap sosok itu.


Sosok gadis tinggi yang sedang duduk di emperan air mancur kota, ditambah dengan wajahnya yang begitu familiar.


"Aku menemukannya!"

__ADS_1


Ia langsung berlari, menenteng kantung rotinya di depan dada. Karna ia begitu terburu-buru, ia tersandung dan sebelum tubuhnya jatuh ke jalan semua makanan di keranjang tumpah ke jalanan.


Ia menjerit. "Roti ku!" Ingin mencoba mengambilnya, ia berusaha berdiri namun gagal.


"Aduh... Kenapa kaki ku terasa sangat sakit."


Sontak ia berbalik menatap kakinya dan ia terkejut mendapati jika kakinya terluka cukup parah. Mau dipaksa berjalan pun tetap tidak bisa, ia bisa bergerak. Sedangkan itu, tidak ada satu orang pun yang datang dan membantunya, semuanya tidak peduli dengan anak itu.


"Hiks... Sakit..." rintihnya, mencoba sekuat tenaga untuk bisa bangkit kembali.


Diantara hidup dan keputusasaannya, sebuah bayangan menutupi tubuhnya. Ia menatap siapa yang datang dan rupanya gadis yang ia cari telah berada di depannya, berlutut ke arahnya.


"Dia."


...***********...


"Apa kau baik-baik saja?" ucapnya dengan raut wajah datar, namun tersirat kekhawatiran di dalamnya.


"Tolong... Aku terluka dan tidak dapat bergerak."


"Bertahan lah." Gadis itu mengangkat tubuh anak itu dan membawanya duduk di emperan air mancur.


Melihat roti-roti yang berceceran di depan matanya pun ia langsung berinisiatif memungutnya kembali dan memasukkan ke dalam keranjang. Dan ia kembali ke anak kecil itu.


"Ini, masih baru dan dapat di makan."


"Ah! Terima kasih banyak, kakak!" ucapnya dengan bahagia.


"Bukankah kau anak kecil yang tadi bersenggolan dengan ku saat aku berada di toko roti itu?"


"Apakah aku menyuruh mu untuk berterima kasih kepadaku? Bahkan kau sampai rela untuk mencari ku sampai ke sini. Anak yang aneh."


"Tapi kata ibu ku, jika seseorang memberikan sesuatu kepada kita dengan percuma maka kita harus berterima kasih kepada orang itu."


"Memang benar."


Gadis itu bisa menilai jika anak di sampingnya tumbuh dengan sangat baik, namun berada di lingkungan yang tidak baik sepertinya.


Dilihat dari pakaiannya sepertinya ia berasal dari daerah kumuh, yaitu daerah yang pembangunannya masih belum stabil dan ditempati oleh para pengemis atau pun kriminal.


"Aku belum memperkenalkan diri, namaku Rudy."


"Namaku Elizabeth."


Elizabeth mengambil tempat di samping Rudy.


Ia begitu bangga dengan anak sekecil nya, dari caranya berbicara dan tata krama nya bisa dibilang Rudy dididik dengan sangat baik oleh orang tuanya.


"Kakak, apakah kau seorang bangsawan?"


"Menurut mu?" tanya balik Eliza sambil menaikkan sebelah alisnya.


Mata Rudy bergerak ke atas dan ke bawah, melirik setiap inci tubuh dari gadis di depannya. Pakaian bagus, kalung di leher dan rupa yang begitu cantik.

__ADS_1


"Kau seorang bangsawan."


Ucapnya dengan mata berbinar-binar. Eliza yang hanya menunjukkan senyuman terbaiknya dan berkata. "Anak pintar."


Rudy berkata, "Apakah rakyat jelata seperti ku dapat berbicara dengan mu seperti ini? Entah mengapa aku merasa tidak enak." Ekspresi nya memudar selagi ia membuang muka.


"Kau tidak perlu bicara dengan bahasa formal kepada ku. Lagipula, kau dan aku adalah manusia bukan?"


"Benar."


"Lalu bukankah kita semua sama? Kita makan, tidur, hidup, dan mati. Tidak ada perbedaan diantara kita."


Percakapan ini seketika menjadi sebuah pelajaran bagi Rudy. Eliza sendiri berbicara seperti ini karna ia membaca sebuah buku kuno bernama 'Life is Fair, Human isn't Fair' yang ditulis oleh seorang sejarawan di zaman dulu.


Manusia tidak memiliki kedudukan, tetapi mereka yang membuatnya.


"Kakak sangatlah pandai!"


"Rudy juga bisa menjadi sepertiku suatu saat nanti, makanya rajin belajar ya."


"Iya!" ucapnya begitu semangat, mengambil roti di keranjang nya dan memakannya dengan lahap.


Eliza melakukan hal yang sama, ia telah membeli beberapa roti dan telah memakan setengahnya, sudah saatnya ia menghabiskannya.


Eliza berkata, menghabiskan roti di tangannya. "Ngomong-ngomong, dimana orang tua mu?" menatap ke arah Rudy.


Rudy menghentikan kegiatan makanya, ekspresi nya kini berubah dengan sangat cepat. Nampaknya mood-nya seketika menghilang, mendengar pertanyaan itu. Selain itu, Eliza hanya duduk sambil menatap wajah Rudy tanpa melihat sedikit pun jika ekspresi dari anak itu telah benar-benar berubah.


'Kenapa dia diam saja? Apakah aku mengatakan hal yang salah?'


Tentu saja, ada hal yang tidak Eliza ketahui tentang Rudy.


"Orang tua ku..." ucap Rudy, menatap kosong ke tengah jalan, "Ayah ku pergi meninggalkan aku dan ibuku, kami hidup berdua di sebuah rumah sederhana yang berada tak jauh di luar kota Weldemort. Ibuku sedang jatuh sakit, maka dari itu..."


Saat ingin meneruskan kata-katanya, air mata keluar dari kedua belah matanya. Rudy perlahan menangis hingga roti yang berada di tangannya jatuh ke tanah.


"...Aku pergi sendiri... Ke sini hanya untuk... Mengemis agar dapat membeli obat untuk ibuku."


'Ya Dewa."


Entah apa yang telah terjadi dengan anak seperti Rudy. Tidak heran jika ia bebas berkeliaran masuk keluar kota dengan mudah, ibunya sakit dan ia perlu mencarikan obat untuknya.


"Sakit apa ibu mu?"


Rudy menjawab, "Awalnya ia hanya demam biasa dan keesokan harinya demamnya sudah turun. Tapi, beberapa hari kemudian demamnya naik lagi hingga membuat ibuku sulit berdiri bahkan untuk duduk di tempat tidur pun sulit. Dibelakang punggungnya pun terdapat bercak hitam yang aneh."


Terdengar familiar di telinganya. Ini adalah penyakit yang berbahaya yang telah muncul dan menginfeksi banyak orang di kehidupan pertamanya. Eliza mengerutkan dahi, berfikir jika ia harus mengulang nama penyakit itu sekarang.


'Basilisk Fever.'


Penyakit yang akan menjadi wabah dan menjadi mimpi buruk bagi banyak orang.


Mengapa ia lupa tentang kejadian ini?

__ADS_1


...[TO BE CONTINUED]...


__ADS_2