Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 26


__ADS_3

Jalanan di penuhi dengan orang-orang yang berlalu-lalang begitu pula dengan di pinggir jalannya, banyak sekali pedagang yang membuka toko kecil di sana— mereka menjual berbagai macam dagangan. Sebetulnya terdapat larangan bagi setiap pedagang untuk berjualan di pinggir jalan, setiap orang yang ingin membuka sebuah usaha maka diwajibkan bagi mereka untuk memiliki sebuah toko, baik seorang bangsawan ataupun rakyat jelata.


Namun peraturan itu tidak lagi dipakai saat ini, mereka semua berjualan di atas jalan tanpa ada rasa kekhawatiran di hati mereka. Wajah mereka begitu bersemangat dalam menjajakan dagangan mereka satu persatu.


Dengan mood yang sedang membaik, diriku berjalan dengan tenang diantara ramainya pejalan kaki yang berlalu-lalang di sekitar ku. Dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, nampaknya mereka adalah pendatang dari luar ibu kota. Selain menjadi ibu kota, Weldemort dijadikan oleh sebagian orang sebagai tempat rekreasi diakhir pekan. Ini dikarenakan suhu nya yang terbilang cukup normal dan banyak sekali tempat-tempat indah yang dapat dikunjungi setiap saat.


Ini begitu menyenangkan! Aku melebarkan kedua tanganku saat itu juga. Angin sepoi-sepoi berhembus perlahan menyapu tubuhku dengan sangat lembut, rambut ku bergerak lambat ke kanan dan kiri. Mataku terpejam sesaat merasakan dinginnya angin disaat cuaca yang sedang panas-panasnya.


"Daging segar! Daging segar! Ayo beli daging ku!"


"Datanglah ke toko kami! Kami menjual berbagai macam manisan, murah dan meriah! Belilah sebelum kehabisan!"


Sambil membuka mata dan menurunkan kembali kedua tanganku di posisi semula, pandangan ku melihat-lihat ke seluruh area. Jika saja aku membawa Samuel kemari, pastinya dia akan membeli setiap makanan yang dijual di setiap toko dan mengisi perutnya sampai tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi. Tentu saja aku tidak bisa membayangkan si tukang makan itu.


Namun sebelum aku berjalan lebih jauh lagi, sebuah suara menghentikan langkah ku. "Hei! Nona, kemari lah! Ia, kau yang berada di tengah jalan. Mari datanglah ke toko sejenak!" sebuah tawaran langsung diberikan pria besar itu kepada ku. Tanpa basa-basi aku berjalan mendekatinya.


"Selamat datang..." sebuah salam diberikan kepada ku. Aku hanya mengabaikan salam yang ia berikan dengan melihat barang-barang yang ia jual. Apa yang menarik disini? Melihat dagangan yang ia jual, berbagai macam pernak-pernik dan kerajinan tangan terbaring rapih di depan wajah ku. Itu adalah gelang yang terbuat dari batu yang disatukan, telah dipoles dan mengkilap disaat terkena sinar matahari.


"Apa kau menjual berbagai macam kerajinan tangan?"


"Hohohoho... Tentu saja, gadis cantik. Silahkan melihat-lihat dan carilah barang yang kau suka." suaranya terdengar begitu ramah di mata para pengunjung. Hal ini membuatku sedikit terkesima dengan perilakunya yang begitu ramah. Sungguh pria yang begitu ramah! Siapapun pasti akan menyukainya.


"Kulihat beberapa kalung dan gelang ini dibuat dengan begitu telaten. Darimana kau mendapatkannya?"


"Mata mu lihai sekali dalam melihat barang-barang berkualitas tinggi. Hoho... Baiklah, akan tunjukan satu persatu kepada mu." ia mendekat, tangannya dengan cepat mengambil beberapa kalung dan gelang yang terpasang di etalase tokonya. Itu semua diletakkan di meja dan aku bisa melihat semuanya dengan jelas. Kalung dan gelang itu bersinar disaat mataku mendekat, sejenak kulihat pantulan diriku dari salah satu kalung yang tergantung sebuah permata biru.


"Kalung ini terlihat begitu mencolok dari yang lain. Matu biru yang tergantung terlihat begitu mengkilap disaat terkena sinar matahari, dimana kau mendapatkannya?"


"Ini adalah kalung Sapphire yang kudapat dari seseorang beberapa tahun yang lalu. Orang itu datang kepada ku dan memohon agar aku membeli kalung ini. Dilihat dari wajahnya saat itu, sepertinya ia sedang dalam kesulitan."


"Bagaimana bisa?"


"Entahlah, namun pada akhirnya aku membeli kalung ini darinya seharga 120 koin emas. Cukup mahal bukan?"


"Namun 'ku lihat terdapat beberapa pahatan kecil di batu itu, bagaimana kalung seindah ini dijual dengan harga segitu? Pasti harga sebenarnya jauh lebih mahal."


"Aku mengirimnya kepada temanku yang merupakan seorang Lapidaris. Seseorang yang ahli dalam membentuk batu, mineral, atau batu permata menjadi barang-barang dekoratif seperti permata terukir, dan desain segi.Dia memotong, menggiling, dan memoles batu yang tadinya berbentuk bundar menjadi bentuk seperti ini."


"Wow, pasti temanmu merupakan seorang Lapidaris yang sangat handal."


"Bisa dikatakan seperti itu. Namun... " entah apa yang terjadi, wajah pria itu tiba-tiba saja menjadi suram. Apa yang telah terjadi? Apakah terjadi sesuatu dengan temannya itu? Merasakan atmosfer yang berubah secara signifikan aku bisa merasakan jika badai akan segera datang.


"Apa yang terjadi?"


"...Ia telah tewas setahun yang lalu. Saat diperjalanan menuju kampung halamannya, wagon yang ia kendarai diserang oleh sesosok monster. Berita menyebar begitu cepat hingga akhirnya sampai ke telingaku, diriku shok mendengar hal itu."


"Aku turut prihatin dengan apa yang telah terjadi kepada teman mu itu."


"Terima kasih, jadi bisa dibilang jika kalung ini sangat berharga bagiku."


Jika kau menganggap kalung itu berharga, mengapa kau berniat menjualnya? Benda itu bisa saja terjual oleh setiap saat oleh mata yang tertarik dengan corak warnanya. Mungkin jika aku tidak menanyakan tentang asal usul kalung ini, pasti aku sudah membelinya. Dan aku berikan sebagai hadiah kepada Rudy.


Tunggu, aku hampir lupa tentangnya. Sejenak aku terbangun dari lamunanku dan melihat-lihat gelang yang berada di depan ku. Sama seperti kalung Sapphire itu — gelang-gelang itu terlihat begitu indah dan menawan dengan ornamen di setiap sisinya. Pastinya seseorang harus mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk membelinya.


"Bagaimana dengan gelang ini?" 'ku ambil salah satu gelang, menaruhnya di atas tanganku.


"Oh, Gadis cantik. Aku tidak tahu menahu tentang gelang itu, aku menemukannya beberapa jam yang lalu di jalanan, kuambil dan kubersihkan langsung."


Seketika aku langsung menaruh kembali gelang itu di atas meja dan mencari yang lain. Aku tidak ingin membeli sebuah benda yang notabene nya merupakan benda hilang dan masih kepunyaan orang lain. Jika saja aku membelinya dan ada orang yang mencari gelang itu pasti 'ku akan mendapatkan masalah besar.


"Oh, Ya Dewa." ucapan pria itu seketika mengalihkan perhatianku. Aku yang sedang melihat-lihat menatap langsung pria itu dan seketika mata kami bertemu.


Pria itu kini menghindari tatapan ku beberapa kali dan nampaknya ia melihat ke arah lain. Ku lihat ia menatap ke arah leher ku, dimana sebuah kalung melingkar di sana.


"Apa ada yang salah?"

__ADS_1


"Aku belum pernah melihat kalung secantik itu. Apakah kau dapat mendekat? Kau ingin sekali melihatnya."


"Tentu saja." ucapku membawa kalung ya kupakai dan mendekatkannya tanpa lepas sama sekali.


Wajah pria itu langsung mengamati secara jeli kalung itu. Kenapa? Kenapa dia tiba-tiba begitu tertarik dengan kalung yang kupakai? Kalung yang kupakai terdapat sebuah permata berbentuk lonjong dengan warna pelangi di dalam permata itu. Ayah dan ibu tidak pernah memberitahuku darimana mereka mendapatkan kalung yang cantik ini.


"Ini cantik sekali! Sungguh! Ini begitu mempesona!"


"B-Benarkah?"


"Darimana kau mendapatkannya? Aku belum pernah melihat kalung secantik ini seumur hidup ku."


"Terima kasih, namun, aku tidak tahu dari mana asal kalung ini. Ibu dan ayahku sendiri tidak menceritakan apa-apa tentang benda ini."


"Oh... Apakah kau berniat menjual kalung ini? Akan kubayar dengan harga mahal jika kau menjualnya kepada ku."


Tawaran itu seperti sebuah lampu merah. Tidak! Aku tidak boleh menjual kalung berharga ini. Dipikir lagi, benda ini telah menggelantung di leherku sedari aku kecil, aku sendiri tidak tahu dari mana kalung ini berasal. Aku tidak bisa menjual benda pribadiku kepada orang lain terutama yang telah kumiliki sejak lama.


"Maaf, tidak bisa. Kalung ini telah berada di leher ku bahkan sejak aku masih kecil, jadi benda ini begitu sakral bagiku." Aku menolak tawarannya dengan lembut, menaruh kalung itu di tempat semula.


Wajahnya pria itu terlihat sedih sejenak, namun beberapa saat kemudian muncul senyuman kecil di bibirnya. "Huh... Apa-apaan aku ini. Bagaimana bisa aku bicara seperti itu kepada pelanggan ku? Maafkan sikap 'ku yang tidak sopan ini, gadis muda." ia seraya membungkuk meminta maaf atas percakapannya tadi.


Aku menepuk pundaknya sekilas. "Tidak perlu minta maaf." Pria itu begitu tertarik dengan kalung 'ku beberapa detik yang lalu dan sekarang ia malah meminta maaf seakan-akan telah membuat sebuah kesalahan.


Kemudian, untuk mengalihkan suasana yang dirasa mulai canggung, aku berkata. "Oh iya, apa kau tahu dimana aku bisa mendapatkan ramuan penyembuhan?"


"Ramuan penyembuhan, ya? Hmm... Kalau tidak salah beberapa hari yang lalu aku melihat seorang pedagang yang menjual barang-barang sihir di sepanjang jalan ini, namun aku tidak melihatnya belakang ini. Apakah ada orang yang perlu kau sembuhkan?"


Tentu saja ini bukan untukku diriku. Aku perlu membelinya hanya untuk dijadikan hadiah bagi Rudy, untuk beberapa hari pastinya memberinya 3 botol sudah cukup. Namun yang menjadi masalah adalah, dimana 'ku bisa mendapatkannya?


"Tidak ada. Hanya saja aku sangat memerlukannya."


"Kalau kau mengikuti jalan ini, lihatlah! apakah ada yang menjual peralatan sihir. Biasanya tokonya tidak terlalu mencolok sebab kebanyakan dari mereka selalu berjualan secara sembunyi-sembunyi."


"Tidak perlu berterima kasih, justru aku yang harus mengucapkannya. Tidak biasanya aku berbicara panjang lebar seperti ini, tidak dengan orang lain. Jadi sekali lagi, terima kasih banyak!"


Justru seharusnya aku, karna kau sendiri yang memanggilku untuk datang ke sini makanya aku dapat berbincang dengan mu. Namun tetap saja, percakapan kami telah selesai samapi disini, dan aku pun tidak ada waktu untuk mengeluarkan perkataan lain. Jadi... Aku mengambil beberapa langkah ke belakang, melambaikan tanganku padanya dan berlalu pergi.


Selepas aku pergi dari sana, 'ku berfikir. Bagaimana jika aku memberi Rudy hadiah yang lain? Namun bagaimana dengan ibunya nanti? Aduh! Kenapa begitu banyak pertanyaan di dalam kepala ku! Entah mengapa aku seperti orang gila di tengah jalan, semua kebingungan ini tentunya membuat kepala ku terasa sakit.


Aku menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu jauh dari diriku. Untung saja, sebuah suara memecah suasana dan aku bisa fokus kepada suara yang datang dan mencari ku itu.


"Elizabeth!"


"Eliza!"


Bukankah itu!?


Aku membalik pandanganku dan mendapati kedua sosok yang kukenal, teman baikku, Samuel dan Florence berlari tertatih-tatih ke arah ku.


Aku menyapa mereka disaat mereka sampai dihadapan ku. "Apa yang terjadi dengan kalian?"


"Tentu saja kami berdua mencari mu, bodoh!" ujar Samuel dengan kesal.


Florence menambahkan. "Huh... Kami sudah berkeliling ke segala tempat untuk mencari mu namun hasilnya nihil. Elizabeth, kau kemana saja?"


"Lagipula ini kan salah kalian berdua. Aku meninggalkan kalian berdua karna aku ingin kalian berdua menyadari kesalahan kalian, jadi... Bagaimana? Apa kalian sudah berdamai?"


Aku bisa melihat usaha keras mereka. Samuel berusaha mengatur nafas, begitu pula dengan Florence. Disaat keduanya bangun dan pandangan mereka bertemu, mereka berdua membuang muka satu sama lain. Kenapa mereka masih saja bersikap layaknya sepasang anak kecil yang habis bertengkar hebat?


"Kalau kalian masih bertengkar, maka aku akan meninggalkan kalian lagi." ujarku, perlahan berjalan melewati mereka berdua.


"Tunggu! Aku tidak kuat untuk berjalan lagi.."


"Elizabeth! Kami menyesal!"

__ADS_1


"Kalau begitu bermaafan lah! Akan jauh lebih baik jika kalian tidak bertengkar lagi."


"Tapi—"


"Tidak ada tapi tapi!"


Samuel dan Florence membuang nafas secara bersamaan. "Huh..." keduanya langsung menatap satu sama lain, Florence yang pertama memulainya. Ia mengulurkan tangan memberikan jabatan kepada Samuel, dengan pandangan mengarah ke arah lain. Samuel dengan malu-malu meraih tangan Florence.


Ia berkata. "Maafkan aku, sebab telah membuat mu marah."


"Tidak perlu! Seharusnya aku yang meminta maaf, karna telah menyulut api terlebih dahulu."


Suasana di sekeliling mulai terasa canggung, keduanya belum melepas genggaman tangan mereka satu sama lain. Sebelum keheningan semakin menjadi aku langsung berdeham dan sontak langsung membangunkan mereka kepada kenyataan.


"Uhem!"


Keduanya lantas membuang wajah mereka dan menarik tangan mereka kembali tempat semula.


"Nah, begitu kan enak dilihatnya."


Samuel dan Florence bukan tipikal remaja yang akan mengulangi kesalahan mereka untuk yang kedua kalinya. Mungkin karna diriku, mereka bisa berdamai sekarang.


"Ngomong-ngomong, apakah kalian mencari ku sedari tadi?"


"Tentu saja! Kau pikir aku akan tinggal diam saja disaat kau pergi meninggalkan 'ku? Kau tidak tahu betapa tersiksanya diriku saat harus berdampingan dengan dia."


"Mulai! Mulai mencari lagi, ya!?"


"Hah... Kalau kalian tetap bersikap seperti ini, maka aku tidak segan akan memukul kepala kalian hingga muncul sebuah benjolan besar di sana, atau lebih buruk... Aku pecahkan sekalian."


Kali ini raut wajah mereka benar-benar pucat dan mulut mereka langsung bungkam seketika.


"Maaf, tapi aku masih memerlukan kepala ku untuk bertahan hidup."


"Aku juga..."


"Sudahlah! Ayo kita pergi."


"Kau mau pergi kemana? Waktu istirahat sudah hampir habis, kita harus segera kembali ke akademi."


"Apa kalian tidak mendengar berita semalam?"


"Maksud mu tentang murid bernama Helena yang diserang sekelompok goblin?"


Pastinya dari pihak akademi tidak akan tinggal diam. Penyerangan semalam bisa dibilang tidak dapat diprediksi, ini akan menjadi persoalan penting baik dari pihak kerajaan maupun dari akademi. Persoalan mereka pasti akan berhubungan dengan penaklukan monster di sekitar wilayah Heskard.


"Kemungkin kecil para guru dan pengajar akan mengadakan rapat dengan beberapa pihak dari kerajaan hari ini."


"Bagaimana kau tahu kalau hari ini mereka akan mengadakan rapat?"


"Entah. Aku hanya menebak."


"Elizabeth!"


Aku memutus percakapan dengan berjalan menjauhi mereka berdua, keduanya mengikuti ku di belakang. Aku tidak ingin membuang waktu dengan mengoceh hal-hal yang bukan urusanku.


"Kau mau pergi kemana, Elizabeth?"


"Aku ingin mencari ramuan penyembuhan."


"Ramuan katamu?"


Entah apa yang menjadikan benda itu sulit ditemukan, namun aku tidak ingin menyerah begitu saja.


...[To be Continued]...

__ADS_1


__ADS_2