
Aku tahu bahwa aku cantik, kaya, dan memiliki keluarga dengan posisi kekuasaan yang sangat kuat.
Ayahku, Ramsey Dortmund Islan adalah seorang pengusaha kaya raya yang memiliki segudang usaha dalam bidang properti dan perhiasan.
Sama hal nya dengan ibuku, Lily Islan, seorang bangsawan yang telah bergelut dalam bidang perhiasan dan permata, lebih lama dibandingkan ayahku.
Lahir dalam keluarga yang memiliki kekayaan yang tak terhitung nilainya, kehidupan bak surga dunia yang sangat didambakan oleh banyak orang.
Aku dapat membeli segalanya yang aku inginkan.
Saat berumur 4 tahun aku berkata kepada ibuku.
"Ibu, aku mau seekor kuda poni!"
Tanpa basa-basi, ia pun membelikan kuda poni yang harganya mampu ditukar dengan beras yang dapat mengisi perut selama 5 tahun.
Saat itu, aku masih begitu polos. Aku belum tahu banyak tentang dunia luar dan terlebih lagi aku belum bisa mengendalikan mana dan mengeluarkan sihir ku.
Aku tidak bisa mengatakan jika ayahku begitu keras dalam mendidik diriku.
"Elizabeth, aku telah memanggil seorang guru dan penyihir untuk mengajar mu."
"Guru? Untuk apa ayah memanggilnya?" ucapku saat itu dengan wajah polos.
"Dengar nak, saat kau tumbuh dewasa kau akan berhadapan dengan banyak hal. Disaat umur mu sudah cukup, ayah akan mendaftarkan mu ke Akademi sihir."
Aku pun yang masih belum paham dengan apa itu Akademi pun bertanya kepada ayahku. Apa itu Akademi sihir?
Ayah menjelaskan jika itu adalah tempat dimana bangsawan-bangsawan terpilih dapat menempuh pendidikan mereka dan tempat dimana mereka mengejar cita-cita mereka.
Sungguh, perkataannya waktu itu langsung membuat jiwa ku berkobar-kobar layaknya bara api yang membara
"Kalau begitu aku akan belajar dengan giat!"
"Hahahahaha! Begitu lah anak ayah! Jika Lily mendengarnya pasti dia akan bangga padamu, nak!"
Ayah tidak pernah marah kepada ku, bahkan untuk memukuli ku rasanya belum pernah sama sekali. Berbanding terbalik dengan ibuku.
Selain tugasnya sebagai ibu, dia adalah seorang guru bagiku.
"Elizabeth!"
"Ma- Maafkan aku ibu!"
Makan malam saat itu terasa begitu hambar, ibu mengambil alat pemukul dan memukul kedua tanganku, alasannya begitu sederhana.
Sebab aku mengambil makanan dengan posisi membungkuk.
Tata krama meja adalah salah satu hal yang sangat penting bagi seorang bangsawan. Kata ibu, jika seorang anak bangsawan tidak tahu cara tata krama yang baik, maka dia adalah bangsawan yang rusak alias belum sempurna.
"Ingat nak, punggung mu tidak boleh membungkuk. Kau harus tegap walaupun berada di atas kursi. Jika setelah selesai menyantap hidangan dan kau rasa lezat di mulut mu, maka taruh garpu dan pisau di atas piring secara horizontal."
"Baik, ibu."
"Jangan lupa untuk mengelap mulut mu dengan serbet, kau paham?"
"Ya, ibu."
Dengan semua aturan ini aku mulai memahami bagaimana kerasnya untuk menjadi seorang bangsawan.
Saat aku berjalan di rumah juga aku tidak diperbolehkan untuk membungkuk ke siapapun, kecuali kepada orang yang memiliki gelar lebih tinggi dariku. Contohnya kedua orang tua ku, begitu pula dengan seorang Pangeran dan Raja.
Ngomong-ngomong, aku mengingat hari dimana ayah membawa ku ke istana untuk memperkenalkan ku dengan "dia".
"Elizabeth, ayo perkenalkan dirimu pada Pangeran Alexander."
Tubuh seorang anak laki-laki, berwajah tampan, bermata merah ruby dengan rambutnya yang berwarna hitam.
Dirinya pantas di sebut sebagai kandidat suami yang ideal bagi para wanita di masa depan.
"Hormat ku pada Pangeran Putra Mahkota, Alexander van Binger. Nama ku Elizabeth Islan, senang bertemu dengan mu."
"Suatu kehormatan bagiku untuk bertemu dengan gadis secantik dirimu, Elizabeth."
Sejak saat itu, aku jatuh cinta padanya. Beruntungnya aku adalah gadis paling bahagia di muka bumi saat itu.
Alexander melamar ku dan akhirnya aku pun menjadi tunangannya.
Tapi...
"Bohong..."
Hal yang begitu mustahil untuk di hidup di alam ilusi. Aku tahu aku nyata, begitu pula dengan mereka.
"Kau bilang bahwa aku bukan anak dari kedua orang tua ku? Kau bohong!"
"Sulit dipercaya bukan? Tapi inilah kenyataannya."
Nada suara ku sudah terasa begitu berat. Wajah ku mengeras dengan bibir ku yang tertutup sempurna, mencoba menahan emosi yang akan keluar.
Ini begitu menyakitkan. Ugh!
"Elizabeth kau-"
"DIAMMMM!!"
Aku berteriak kepada Visati. Air mata yang telah ku tahan sedari tadi pun mengucur dengan derasnya, membasahi pipi dan wajahku.
"Kau bilang bahwa aku bukan anak dari orang tua ku dan itu maksudnya adalah semua yang ku dapatkan ini adalah Ilusi!? BEGITU!!??"
"Ya! Dan kau perlu menyadarinya, Elizabeth!"
Terjadi pertengkaran hebat antara diriku dan Visati di sana.
Emosi ku sudah tidak terkendali.
"Tahu apa kau soal diriku, nenek! Tahu apa!? Aku datang ke dunia ini dengan membawa harapan jika aku dapat merubah takdir yang akan membawaku ke jurang kematian! Membantu kalian menyelesaikan masalah kalian...dan sekarang kalian mengatakan semua omong kosong ini kepada ku!?"
"Kau? Ingin mengubah takdir?"
Aku tidak tahu mengapa, namun di suasana yang sedang panas-panasnya raut wajah Visati menjadi aneh. Ia mencoba menahan tawanya namun gagal.
"Hahahahaha!"
__ADS_1
"Mengapa kau tertawa, huh!? Apakah yang ku bicarakan lucu di mata mu?"
"Kau? Ingin merubah takdir?"
Entah mengapa jika tekanan udara di sekeliling ku menjadi begitu besar.
Nenek itu berjalan mendekati ku, aku hanya berdiri menatapnya dengan tatapan dingin. Setelah ia berhenti di depan ku, dan menatap ku dengan senyuman anehnya. Ia berkata.
"Aku menyukai kata-kata mu."
"...."
"Mortal tidak seharusnya bersifat sombong karna mereka harus tahu bahwa di atas mereka ada yang lebih kuat, yaitu Dewa. Apa kau tidak menyadari betapa mudahnya kau mengatakan bahwa kau ingin "merubah takdir" milikmu, yang jelas-jelas bahwa setiap mortal tidak akan bisa merubah takdir, terkecuali jika ia adalah seorang Dewa."
Aku melihatnya dengan tatapan aneh. "Apa yang kau maksud, nenek?"
"Takdir tidak dapat dirubah, Elizabeth. Jika kau telah tahu bahwa takdir akan membawa mu ke jurang kematian, maka dia akan membawa mu ke tempat yang sama walaupun dengan cara yang berbeda."
"Jadi maksud mu aku akan tetap mati begitu?"
Aku terlalu fokus dengan Visati sampai aku melupakan Erendriel. Aku menoleh ke samping dan rupanya ia masih berada di sana dan menatap ku dengan senyuman khas nya.
Ia melambaikan tangannya ke arah ku, aku hanya menatapnya.
Mungkin karna ia bosan tidak diajak berbicara, Erendriel pun mendekat kepada kami.
"Ada suatu hal yang belum ke ceritakan pada mu, nak."
"Jika ini hanya omong kosong yang lainnya maka keluarkan aku dari sini. Aku tidak ingin mendengarnya!"
Aku berupaya pergi dari sana dan meninggalkan mereka berdua.
"Kau masih mencintai "dia" bukan?"
Deg-
"Apa?"
"Tidak sulit untuk masuk ke dalam pikiran mu dan mencari jawabannya." ucap Erendriel, kemudian ia mendekati ku dan mengusap pelan pipi ku. "...Malang sekali nasib mu, Elizabeth."
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan, kakek."
"Dalam sebuah pasukan pasti terdapat pemimpin dan para anggotanya. Disaat salah satu menginginkan kedamaian bagi umat manusia, yang satunya hanya memikirkan dirinya dan haus akan kekuasaan. Ada saatnya bagi salah satu pasukan itu dikhianati oleh seluruh rekan timnya, bahkan oleh kaptennya sendiri. Tenggelam dalam kegelapan dan menemukan seberkas cahaya untuk kembali ke dunia atas, namun perjalanan ditambah dengan hasrat untuk balas dendam. Itu adalah saat dimana seseorang pahlawan lahir ke dunia."
Aku sudah lama mendengar cerita seperti itu, lebih tepatnya sering.
Cerita tentang seorang pahlawan tidak lepas dari masa lalunya yang telah dikhianati oleh rekan-rekannya. Mati dan hidup kembali dengan kekuatan yang baru.
Apa bedanya dengan diriku? Seketika aku melihat ke dalam diriku.
"....Cintanya terhadap rekan-rekan timnya hancur dengan pengkhianatan. Itu tidak bedanya dengan yang kau alami, bukan?"
Apakah dia sudah tahu tentang masa lalu ku?
"Apakah itu-"
"Ya! Hidup mu hanya sebatas ilusi, Elizabeth! Kehidupan mu yang sebenarnya berada di luar sana, berdampingan dengan alam bebas."
Aku seketika melihat ke masa lampau, di kegelapan dimana aku bertemu dengan Uroboros.
Dia adalah makhluk yang memberikan kekuatan ini kepada ku dan mungkin saja dialah yang membawa ku sampai ke titik ini.
Apakah ini semua memiliki arti? Apakah itu berarti Uroboros menginginkan aku untuk melepas semua yang ku miliki dan berjalan di jalan ku sendiri.
Jika ini adalah kebenaran yang harus ku alami...ku rasakan...maka baiklah.
"Apakah...selama ini aku hanyalah orang asing dalam keluarga ku?" ucap ku seraya berurai air mata.
Aku bisa merasakan jika hati ku menjerit dan berdetak begitu kencang. Sakit sekali! Aku ingin sekali berteriak tetapi itu semua ku luapkan dengan air mata.
Aku menangis sejadi-jadinya.
Semua rasa sakit datang secara silih berganti, membuat tubuhku jatuh dengan rasa sakit di setiap organ tubuh ku. Ini begitu menyakitkan.
"Kakek, jawablah pertanyaan ku..."
"Ya, nak."
Sebuah tangan langsung membawa ku ke dalam dekapan. Erendriel memelukku, dan ini terasa begitu hangat.
"Lepaskan semuanya, Elizabeth. Tidak masalah jika kau menangis."
Layaknya sebuah belati yang menusuk ke hati ku secata berulangkali, aku menangis dalam pelukannya.
"Hiks...Huaaaaa!!"
Sekarang sudah jelas.
Aku harus pergi...dari pandangan mereka untuk selama lamanya.
...**********...
Beberapa menit telah berlalu, Eli sudah dapat mengendalikan dirinya kembali.
"Bagaimana sekarang?"
"Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja."
Dengan perlahan ia mengelap sisa air mata yang berada di pipi dan kelopak matanya. Sangat sulit untuk menenangkan raga yang jiwa sendiri telah hancur berkeping-keping.
Namun, Eli mencoba untuk tetap kuat.
Erendriel menepuk pundaknya lembut. "Kau adalah gadis yang kuat."
"Tapi aku tidak sekuat yang kau kira."
"Kau masih dalam tahap berkembang, nak. Dirimu yang asli jauh lebih besar dibandingkan dirimu yang sekarang."
Elizabeth hanya diam sambil meresapi setiap perkataan dari pak tua itu. Ia tahu bahwa Erendriel bukan hanya sebatas berbicara kepadanya; tersirat sebuah makna dalam perkataannya dan ia pun tahu itu.
Pada titik ini ia berfikir jika ia hanya sebatas manusia belaka.
"Apakah aku bisa sekuat itu?"
__ADS_1
Namun hatinya kecilnya menolak.
"Tidak! Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat!"
"Jadi bagaimana? Apakah kau bersedia untuk meminjamkan kekuatan mu pada kami?"
"Hadiah apa yang akan kau berikan?"
"Sesuatu...apapun yang kau inginkan."
Sistem pun berbunyi, layar pun muncul di hadapan Eli.
...[ELDER ELF'S QUEST]...
......Penantian para elf sudah berada di depan mereka. Sang juara yang hebat telah tiba untuk melepas genggaman para elf dari kekuatan gelap dan teror dari para iblis.......
...Kalahkan para iblis dan jatuhkan kekuasaan mereka. Bawa kedamaian abadi bagi negeri Eqaba....
...Hadiah: 1. New skill, 2. Kotak keberuntungan, 3. ?????...
...Apakah pemain ingin menerima permintaan ini?...
...[YA] atau [TIDAK]...
Nasibnya ditentukan dari sekarang. Ia tidak ingin mengulang maupun kembali ke masa lalu.
Eli harus keluar dari pengalaman terburuknya, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi.
Semua yang ia dapatkan di dunia hanyalah ilusi.
"Aku tidak punya pilihan lain. Jadi, akan ku bantu kalian untuk membasmi para iblis."
...[Quest diterima]...
Dengan penuh semangat, dengan membuang wajah sedihnya; Eli meraih jabatan tangan Erendriel.
Mau ia, Elizabeth dan Visati mereka bertiga tersenyum satu sama lain.
Ini adalah awal dari lahirnya pahlawan baru.
"Pilihan yang bijak."
Setelah menerima quest itu Elizabeth pun teringat akan sesuatu. Bahwa ia tidak dapat pergi sekarang juga, mengetahui bahwa ulang tahun Florence akan digelar sebentar lagi ditambah ia harus membantu temen sekolah nya untuk menyelesaikan tugas akhirnya.
"Kakek ada hal yang ingin ku katakan."
"Aku bisa membaca pikiran mu, Elizabeth. Quest ini tidak dibatasi waktu, jadi kau bebas untuk melakukannya kapan saja. Lebih baik melakukan persiapan dibandingkan secara terburu-buru, bukan?"
Ia bertanya-tanya. Bagaimana caranya Erendriel membaca pikiranku?
Eli menghela nafas sejenak, ia sebenarnya tidak perlu berfikir, semenjak Visati dan Erendriel adalah elf pastinya mereka berdua memiliki kemampuan special.
"Ya, kau benar."
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, jalannya sudah jelas.
"Elizabeth, mendekatkan kepadaku."
Mendengar Visati memanggilnya, ia pun mendekati nenek itu dengan cepat.
Saat itu, elf itu pun segera memeluknya dengan gerakan yang cepat. Eli tidak dapat memprediksinya.
"Ne-Nenek!?"
"Ada hadiah yang akan ku berikan kepada mu, jadi diam lah sejenak."
Eli membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan dia.
Kehangatan yang Eli rasakan membuatnya begitu nyaman seakan-akan menghilangkan beban yang ia miliki.
Secara tidak sadar ia membalas pelukan Visati.
Kehangatan apa ini?
Eli merasakan bahwa ada sesuatu yang masuk ke dalam dirinya. Saat itu juga sistem pun berbunyi–
[Kau mendapatkan "Blessing of Nature"]
["Blessing" yang diberikan oleh para pengikut Dewi Queresha. Dengan ini kau sampai di alam para mortal – mereka yang mendedikasikan hidup mereka untuk keselamatan dunia]
[Kau telah dapat berbicara dengan semua jenis binatang]
[Keberuntungan mu meningkatkan sebanyak 5%]
Matanya belum bisa berpaling dari apa yang dilihatnya.
A-apa ini!?
Jelas-jelas di depan matanya ia mendapat sebuah "Blessing".
"Ini adalah hadiah yang mungkin akan membantu mu di hari esok."
Setelah itu, nenek itu pun melepaskan pelukannya lembut, menatap Eli dengan tatapan penuh kehangatan.
"Semoga Dewa selalu bersama mu di setiap jalan mu, nak."
Pada titik ini emosinya kembali memuncak. Antara bahagia dan sedih, ia tidak mendeskripsikannya.
"Mengapa kalian bisa sebaik ini kepada ku? Bukan kah aku hanya sebatas orang asing bagi kalian?"
"Tidak lagi...kau, adalah penyelamat kami, Elizabeth."
Dia tidak perlu lagi berfikir dua kali, di depan matanya sudah terbentang permohonan yang begitu dalam kepadanya.
Apa yang ia dengar hari ini tidak akan pernah ia lupakan. Elizabeth menyadari bahwa segalanya hanyalah ilusi dan fana baginya, ia merasa begitu bodoh.
"Aku tidak akan mati ataupun kalah."
Itu adalah sumpah yang ia katakan pada kedua elf di depannya.
Pada hari ini, dunia haru mengetahui bahwa seorang Champion yang baru telah lahir ke dunia.
...[TO BE CONTINUED]...
__ADS_1