Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 10


__ADS_3

Eli berjalan beriringan dengan para elf. Aimon memegangi tangannya dan membawanya ke suatu tempat.


"Ngomong-ngomong, kita mau pergi kemana?"


"Bukannya sudah jelas? Kami ingin memperkenalkan mu dengan penduduk di desa kami."


"Rumah kalian berada di sebuah desa?"


Eli berucap dengan nada bertanya.


Ia pikir, makhluk mitos seperti mereka tinggal di rumah nan megah, dengan kekayaan yang begitu melimpah.


Eli tidak mengada-ada, setelah membaca buku sejarah yang ia baca di perpustakaan akademi.


"Desa kami tidak jauh, kok. Hanya setelah kita melewati hutan ini, maka kita semua akan sampai."


Eli memperhatikan gadis elf yang berbicara kepadanya.


Ia mengendong anak kecil yang merupakan seorang elf juga. Anak kecil itu merengek dan mengulurkan tangannya kepada Elizabeth.


Mereka semua yang mendengar anak kecil itu menangis pun menghentikan langkah mereka.


"Coco, kau kenapa?"


Gadis itu bertanya dengan nada khawatir kepada anak kecil itu.


"Hiksss..."


"Ada apa dengannya?"


"Aku tidak tahu. Tidak biasanya Coco bertingkah seperti ini."


Aimon pun mendekati Coco, anak kecil yang digendong oleh gadis itu.


"Coco... kau kenapa?"


Ia bertanya dengan nada lembut. Coco masih menangis dengan nada tersedu-sedu.


"Gwwendonh." (Gendong!)


"Gendong?"


Aimon pun menyadari sesuatu. Coco sepertinya ingin digendong oleh Elizabeth.


Nampaknya ada sesuatu dalam diri Eli yang membuat Coco sangat ingin digendong olehnya.


"Coco, kau tidak boleh begitu! Dia adalah tamu dan kita harus menjaga sopan santun."


Eli yang merasa kaku dengan keadaan ini pun bertanya.


"Ada apa dengan dia?"


"Nampaknya, Coco ingin sekali digendong oleh mu—."


Belum selesai berbicara, gadis elf itu dibuat kesulitan oleh Coco yang terus menggerakkan badannya ke depan. Seakan akan sangat menginginkan dirinya berada di pangkuan Elizabeth.


"Gwwendonh! Gwendonh!" (Gendong! Gendong!)


Eli yang merasa kasihan pun langsung mengulurkan tangannya.


"Kau tidak perlu! Lagipula kau adalah pahlawan kami, tamu yang sangat kami hormati. Jika kami bertingkah tidak sopan, maka kami akan menerima hukuman."


"Tidak apa-apa, lagipula—", Eli menahan suaranya disaat tangannya mengangkat Coco dari pangkuan gadis elf itu. Ia membawa Coco kedalam dekapannya dan menepuk pundaknya agar anak kecil itu menjadi tenang. "Aku juga keheranan, mengapa anak yang begitu manis sepertinya sangat ingin digendong oleh manusia seperti ku."


Disaat tangisannya mereda, Eli meregangkan pelukannya. Coco membuka matanya lebar-lebar dan menatap Elizabeth dengan kedua matanya yang begitu cerah dan besar.


Eli membuat raut wajah bingung disaat Coco terkekeh–kekeh.

__ADS_1


"Hihihi."


"Ada apa Coco? Apa kau benar–benar ingin digendong olehku, sampai kau merengek begitu keras?"


"Yewshh!" (Yes!)


"Aduh imut sekali! Sini biar aku cium!"


"Hahahaha! Gweellii!" (Geli!)


Para elf yang menonton momen paling langka di depan mereka pun seketika terdiam. Masing–masing tenggelam dalam lamunan mereka.


Aimon yang masih dalam kesadarannya menyadari bahwa ada yang tidak beres.


"Kenapa Coco begitu tertarik dengan manusia itu? Atau jangan–jangan—"


Ia bangun dan langsung membangunkan elf-elf yang lainnya dari lamunan mereka. Mereka pun tersadar dan langsung bertanya kepada Aimon yang sedang menggoyangkan tubuh elf yang lainnya.


"Amon, ada apa?"


"Ada hal yang perlu ku bicarakan dengan kalian."


Beberapa elf pun menatap satu sama lain. Setelah berunding, mereka pun menatap Eli yang tertawa riang bersama dengan Coco di pangkuannya.


Mereka tahu apa yang akan Aimon bicarakan. Mereka pun mengangguk paham kepadanya.


"Bukankah, sesuatu yang aneh sudah terjadi?"


"Jika kau membicarakan tingkah laku Coco kepada manusia itu, pasti iya."


Elf lainnya pun ikut berdiskusi. "Coco sama sekali tidak menginginkan untuk digendong oleh makhluk mana pun , kecuali kita. Tapi kenapa ia begitu tertarik kepada manusia itu?"


Aimon berfikir, jika hal ini diketahui oleh warga desa, pastinya akan menjadi berita besar.


Gadis yang tadi menggendong Coco pun mendekati Aimon dan berkata.


"Apanya?"


"Apa kau pikun!? Ingat kembali kata-kata kepala desa waktu itu!"


Aimon sedikit terkejut disaat gadis itu meninggikan suaranya. Ia pun seketika berfikir kembali, dan menutup kedua matanya.


Ia pun mengingat hal itu. Sejak kelahiran, Coco dianugerahi dengan kemampuan untuk mendeteksi kekuatan Divine yang ada didekatnya.


Sebagai satu-satunya elf di desa mereka yang mendapat anugerah itu. Coco menjadi jimat bagi para elf agar terhindar dari serangan para iblis yang berusaha menyerang mereka waktu itu.


"Ah iya kau benar. Aku mengingatnya."


Dan satu-satunya cara agar dapat mengetahui jika Coco mendeteksi kekuatan Divine di area sekitar adalah dengan melihat tingkah lakunya.


Disaat Coco berhasil mendeteksi kekuatan Divine, maka ia akan menjadi begitu senang dan sangat bahagia. Sebab kekuatan Divine adalah sihir yang sangat kuat dan mampu melawan sihir Kegelapan.


"Apa kalian yakin, kalau manusia yang bernama Elizabeth itu memiliki sihir Divine?"


"Terus, bagaimana kau menjelaskan tingkah laku Coco sedari tadi?"


Yang ditanyakan pemuda elf itu ada benarnya juga.


Melihat Coco yang begitu ceria, tertawa di atas pangkuan Elizabeth membuat mereka semua begitu yakin, bahwa Eli memiliki sihir Divine di dalam dirinya.


Eli yang sudah puas bermain dengan Coco, menatap kepada Aimon dan para elf lainnya. Ia tidak tahu apa–apa, namun nampaknya mereka semua sedang mendiskusikan sesuatu.


"Apa yang kalian semua bicarakan?"


Aimon dan para elf yang mendengar suara Elizabeth pun memutar tubuh mereka.


Dikarenakan jarak diantara mereka begitu jauh, Eli dan Aimon pun mendekat satu sama lain.

__ADS_1


Coco yang masih dalam pangkuan gadis itu pun hanya tersenyum sambil sesekali menghisap ibu jarinya.


"Elizabeth, ada hal yang ingin ku tanyakan."


"Apa itu?"


"Begini um–"


Aimon melempar wajahnya kepada elf yang lainnya, begitu pula mereka, saling melempar pandang satu sama lain. Eli berfikir, nampaknya ada hal yang begitu serius yang ingin mereka tanyakan kepadanya.


"Tanyakan saja! Apakah ini tentang hal pribadi?"


"Bukan begitu–", ucap elf lainnya yang memiliki postur tubuh setinggi dengan Eli. Ia adalah laki–laki dan memiliki kulit putih. "Ini tentang Coco."


"Apa ada yang salah?"


"Sejak kelahiran, Coco dianugerahi kemampuan untuk mendeteksi sihir Divine. Salah satu ciri jika ia dapat mendeteksi sihir itu adalah dilihat dari tingkah lakunya–"


Aimon pun melanjutkan percakapan. "Coco sama sekali tidak ingin digendong oleh makhluk manapun, kecuali kami. Maka dari itu..."


Ah jadi begitu!


"Maksudmu, ia ingin digendong oleh ku sebab–"


"Itu benar. Kami ingin bertanya apakah memiliki sihir Divine?"


Sihir Ilahi atau yang biasa disebut sihir Divine. Ini adalah sihir tingkat tinggi yang jarang sekali orang miliki. Saking langkanya, siapapun orang yang memiliki sihir ini dianggap sebagai Orang Suci.


Sihir ini adalah sihir yang langsung diberikan oleh Dewa dan sangatlah kuat. Pemakainya bisa melakukan apa saja, seperti: menyembuhkan orang yang sakit, mengusir roh–roh atau iblis, dan lawan dari sihir Kegelapan.


Mendengar pertanyaan itu membuat Eli tertawa dalam hatinya.


Aku? Memiliki sihir Divine? Hahahaha... jangan bercanda.


Orang yang memiliki sihir ini mendapat tanggung jawab yang begitu besar untuk melindungi umat manusia dari energi jahat. Sesuai perkataan tetua dalam kitab yang sering ia baca.


...「Sihir Divine adalah sihir yang mampu menetralisir sihir Kegelapan. Melindungi umat manusia, membebaskan dunia dari energi jahat, dan membunuh Raja Iblis itu menjadi tanggungjawab bagi setiap orang yang memilikinya.」...


Jangankan melindungi setiap umat manusia, melindungi nyawa–nya sendiri saja harus dibayar dengan nyawa.


Eli tersadar dari lamunannya dan melihat ke depan. Aimon dan para elf yang lainnya pun menatapnya dengan keheranan.


"Ah! Apakah aku melamun? M–maafkan aku ya."


"Tidak apa–apa. Seharusnya kami tidak bertanya seperti itu, kalau kau tidak ingin menjawabnya maka tidak perlu."


Aimon tersenyum dengan raut wajah khawatir, takut jika Eli tersinggung dengan pertanyaan. Eli pun yang melihat ekspresi wajah Aimon pun membalas nya dengan uluran tangan, ia membelai pipi Aimon dan mengacak–acak rambutnya.


Ia sadar bahwa elf berbeda dengan manusia. Mereka memiliki rasa empati dan bersalah yang begitu besar dibandingkan manusia.


Manusia berbeda, sifat mereka tidak bisa ditebak. Ada yang di depan begitu baik, tapi di belakang ia dengan lihai mampu bermain pisau dan membunuh korbannya. Ada yang begitu rakus dengan harta kekayaan dan hanya memikirkan orang–orang yang mereka cintai, termasuk para bangsawan.


Kupikir sifat mereka sama seperti di buku yang kubaca. Nampaknya aku salah.


Eli bahkan berandai–andai, ia sendiri takut untuk mempercayai orang lain. Melihat kembali ke kehidupan pertamanya, Eli begitu sombong dan selalu menginjak orang yang memiliki kedudukan lebih rendah darinya.


Ia telah diselimuti dan rasa rakus, iri, dan sombong.


Yah... itulah masa lalu. Aku bukan lagi Elizabeth yang dulu.


"Baiklah, jawabannya adalah.... Tidak."


"Huh???"


"Tidak. Aku tidak memiliki sihir Divine."


"EEEHHHHHHH??!!"

__ADS_1


Mereka pun sontak terkejut sambil mengeluarkan kata "Eh" dengan serentak.


__ADS_2