
"Kita mau kemana?" tanya Florence, menutup pintu perpustakaan.
Elizabeth menjawab, "Apakah kau ingin pergi kota bersama ku? Aku lupa membawa bekal makan siang ku." Karna banyak orang yang berlalu-lalang, ia mengajak Florence untuk berjalan bersamanya.
"Itu ide yang bagus!" sahut Florence, "Ku dengar ada bazar murah menyambut Festival Musim Panas, bagaimana kalau kita mampir sejenak ke sana?"
"Baiklah." Elizabeth mengangguk menanggapi pertanyaan Florence.
Strapelts terletak di ibu kota kerajaan Oregon, Weldemort. Kota ini menjadi pusat perdagangan terbesar di Oregon dan sebagai kota para bangsawan. Banyak dari mereka – para bangsawan maupun pedagang membangun bisnis baru di kota ini, dengan jumlah penduduk yang berjumlah 500,425 orang membuat pendapatan para pebisnis baru melonjak dengan begitu cepat.
Mata pencaharian utama di kota ini adalah pertambangan dan pertanian. Ada beberapa kota utama di Oregon, namun Weldemort menjadi yang pertama. Tidak ada salahnya bagi Elizabeth untuk sejenak menghilangkan rasa bosan dengan berjalan-jalan di sudut-sudut kota.
"Florence!" sahut seseorang di belakang Elizabeth dan Florence.
Mereka berdua berbalik, keduanya dapat mengenali suara itu dengan sangat baik. Tidak mungkin mereka tidak mengenali teman baik mereka, Samuel, yang sedang berjalan ke arah mereka. Lelaki berambut coklat karamel dengan kacamata itu mendekati mereka, seraya menggenggam sebuah buku di tangannya.
"Samuel? Apa ujian praktik sihir mu sudah selesai?"
"Ya, begitulah." ungkapnya dengan senyuman di bibir.
Eli dapat menebak jika terjadi sesuatu pada Samuel yang membuatnya senyum-senyum seperti itu.
Ia berkata. "Tidak biasanya senyuman mu jauh lebih lebar dibandingkan hari-hari biasanya, apakah ada sesuatu yang terjadi? Nampaknya hal itu membuat mu begitu bahagia."
"Sebenarnya...Aku mendapatkan nilai A dalam ujian praktik sihir ku."
Florence yang mendengarnya langsung mengangkat mulutnya lebar-lebar seraya mengeluarkan suara, "Hahhh!" Dan kedua tangannya ia tempel satu sama lain dan ia letakkan di dada.
"Kau hebat sekali, Samuel! Bagaimana kalau kita rayakan dengan berjalan-jalan di ibu kota?"
Florence menatap ke Elizabeth, kemudian ke Samuel. Lelaki itu seketika tersenyum, melihat Florence yang begitu riang membuatnya tidak tega jika ia menolak tawarannya.
Samuel menjawab. "Ide yang bagus."
Melihat mereka berdua yang begitu ceria membuat bunga-bunga di hati Elizabeth bermekaran. Di kehidupan sebelumnya disaat ia masih menjadi dirinya yang lama ia jarang sekali meluangkan waktu bersama dengan mereka, namun kenyataan bahwa sebentar lagi ia harus meninggalkan mereka membuat hatinya terasa sakit.
Entah apa yang akan terjadi kepada mereka berdua jika dirinya menghilang dalam sekejap. Akankah Florence jatuh sakit mendengar tema. baiknya pergi meninggalkannya? Apakah Samuel akan berhenti sekolah karna kepergiannya nya?
Semua hal itu terngiang-ngiang di kepala Elizabeth, membuat hati dan emosinya bergejolak. Siapa yang perlu ia salahkan? Ini semua telah direncanakan. Ia tidak bisa menyalahkan siapapun, termasuk Alexander.
"Elizabeth?"
Kalau ia bisa mengambil hati pria itu dan menghabiskan waktu bersamanya juga menyingkirkan Ellise dari Alexander, pastinya ia bisa menghindari kematiannya dan ia akan mendapatkan kehidupan yang ia inginkan selama ini.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebelum tabir terbuka di depan matanya.
"Elizabeth!"
"Iya!"
Mendengar suara yang kencang di telinganya membuat dirinya seketika terkejut. Eliza menatap ke arah Florence, ia menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Apa ada yang salah? Sedari tadi ku lihat kau melamun saja. Jika ada sesuatu yang kau sembunyikan maka katakan lah pada kami." ungkap Florence dengan jujurnya.
"Sudah beberapa hari ini ku lihat dirimu bersikap begitu aneh," tambah Samuel, "Para murid selalu membicarakan mu tahu, mereka menyebarkan rumor-rumor aneh tentang dirimu dan apakah kau tidak peduli dengan hal itu?"
Eliza yang mendengar perkataan Samuel seketika bungkam. Jika saja yang di depan mereka adalah Elizabeth yang dulu, maka para pembuat rumor itu akan dengan cepat ia basmi walaupun pada akhirnya ia harus berakhir di ruang penahanan.
Elizabeth menjawab. "Itu bukan urusan ku. Kau tahu, meladeni setiap para pembuat rumor itu hanya akan menambah masalah bagi diriku. Tidak peduli betapa banyak rumor tentang diriku yang menyebar di akademi, kalian tidak perlu khawatir, aku dapat mengatasinya sendiri."
"Tapi-"
"Sudah jangan banyak bicara! Lihat! Kita sebentar lagi sudah sampai di gerbang."
Setelah beberapa menit, mereka sampai di gerbang akademi. Gerbang itu selalu terbuka bagi siapapun dan kapanpun, jadi tidak bagi mereka untuk meminta persetujuan ke penjaga gerbang.
...***********...
Ibu kota Weldemort begitu luas dan indah, terutama di alun-alunnya. Banyak masyarakat – biasa dan bangsawan berjalan-jalan di sekitar sana, ada yang berbelanja keperluan sehari-hari bahkan ada yang sekedar berjalan kaki agar tidak merasa bosan.
'Sudah lama sekali aku tidak berjalan-jalan di kota ini, biasanya aku hanya menghabiskan waktu istirahat ku di akademi. Namun, entah mengapa saat aku berada di luar, diriku merasa begitu bebas.'
Eliza kembali melamun namun ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Elizabeth, bagaimana kalau kita beli manisan di toko itu?"
"Baiklah."
Selagi mereka berjalan ke toko itu, mereka melewati beberapa toko pakaian dan perhiasan. Sebagai putri dari Count Islan tentu saja mudah bagi Elizabeth untuk membeli perhiasan itu; cincin, gelang bahkan kalung berjejer rapi di etalase toko.
'Siapa pun yang melihatnya pasti tidak akan tahan untuk membelinya.'
"Kenapa kau berhenti, Elizabeth?" tanya Florence.
"Tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita."
__ADS_1
Melihat Eliza menyeret mereka secara paksa membuat keduanya bertanya-tanya. Florence melirik sejenak papan nama toko yang baru saja mereka lewati. Rupanya itu adalah sebuah toko perhiasan.
"Elizabeth, apa kau tadinya ingin membeli sebuah cincin?"
"Mengapa kau berfikir seperti itu?"
"Habisnya tadi kau berhenti tepat di toko perhiasan, mengapa kau tidak membeli sebuah cincin untuk dirimu?"
Samuel menambahkan. "Kau tidak bisa memaksa Elizabeth. Ada banyak hal yang lebih berharga dibandingkan dengan sebuah cincin."
"Apa itu?" tanya Florence dengan nada sumbang.
"Makanan!"
Eliza tidak menahan senyumannya, melihat Samuel yang begitu ceria disaat berhadapan dengan toko makanan.
"Bagaimana kalau kita mampir dulu ke toko ini?"
"Ide yang bagus, Elizabeth!"
"Tidak! Tidak! Tidak! Kita sudah janji untuk membeli manisan, Elizabeth! Jangan dengarkan si tukang makan yang berada di samping mu."
Sontak pria itu langsung menatap Florence dengan tajam, "Apa yang barusan kau bilang?" ucapnya, menaruh kedua tangannya di depan dada.
"Aku bilang...si tukang makan."
"Daripada kau si rambut per."
"Hah! Dasar si kaca mata besar!"
"Cengeng."
"Pengunyah."
"Kalian berdua cukup!" Elizabeth langsung melerai kedua makhluk tersebut, entah mengapa ia merasa jika Florence dan Samuel belum dapat bersikap dewasa. Walaupun mereka bertiga masih berumur 15 tahun, tapi setidaknya Elizabeth berandai jika keduanya telah tubuh sedikit rasa kedewasaan.
"Kalian seperti anak kecil saja. Apakah kalian tidak malu bertengkar seperti anak kecil?"
"Habisnya, gadis kecil ini yang memulai."
"Hei! Jangan panggil aku anak kecil!"
"Sudah! Sudah! Kalau kalian seperti ini, maka aku akan berjalan sendiri saja!"
Karna tidak tahan dengan perilaku mereka berdua, Eliza kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua. Florence sudah berupaya menghentikannya namun Eliza berjalan cukup cepat dan hilang di dalam keramaian.
"Ini semua salah mu!"
"Salah mu!"
"Salah mu!"
Pertengkaran mereka semakin menjadi-jadi.
Di lain sisi, Eliza yang sedang berjalan sendiri pergi ke sebuah toko roti. Melihat ramainya toko tersebut, ia dapat mengatakan bahwa roti yang dijual di sana sangatlah enak.
Ia pun membuka pintu toko itu. Seketika udara bercampur dengan aroma dari roti-roti yang sedang di panggang, hal itu membuat selera makan Eliza menjadi bangun.
"Permisi," ucapnya kepada seorang kasir, "Nampaknya roti-roti yang dijual di sini begitu enak, apa ku dapat memesan beberapa?"
"Oh, aku anggap itu sebagai pujian. Terima kasih telah meluangkan sedikit waktu mu untuk mampir di toko roti milik ku."
Eliza menatap sejenak wanita paruh baya tersebut. Kerutan di wajahnya tidak menutupi semangatnya sama sekali.
"Aku kira kau seorang kasir."
"Banyak orang yang menganggap ku seorang kasir saat mereka baru pertama kali datang ke sini. Aku tidak punya cukup uang untuk menggaji seseorang sebab toko ini baru ku buka."
"Jadi, toko roti ini baru?"
"Itu benar gadis muda."
"Apakah aku memesan beberapa roti mu? Aku sedang lapar."
"Kau ingin rasa apa?"
Dilihat dari luar nampaknya setiap roti di panggang dengan suhu yang benar, itu membuat setiap kulitnya terlihat begitu lezat saat masuk ke dalam lidah. Perihal rasa, nampaknya terdapat beberapa varian.
"Ada rasa madu dan anggur, apa kau mau?"
"Baiklah, aku pesan madu 5."
Wanita itu pun langsung mengambil pesanan Eliza. Selagi menunggu gadis itu menatap ke sekeliling toko, namun secara tiba-tiba ada seseorang yang menyenggol tubuhnya.
"Aduh!" teriak orang itu.
__ADS_1
Eliza berbalik, seraya menatap ke arah orang yang menyenggolnya. Rupanya dia adalah seorang anak kecil dan sedang merintih kesakitan di atas lantai.
"Uhhhh."
"Apa kau baik-baik saja?" ucap Eliza sambil mengulurkan tangannya. "Aku tidak melihat jika ada kau, maafkan aku."
"Tidak, ini bukan salah mu. Seharusnya aku yang meminta maaf, maaf telah menabrak mu."
"Sudah, ayo bangun."
Eliza pun membantu anak itu berdiri, sebelumnya ia tidak menyadari jika terdapat anak kecil di sampingnya.
"Uangku!" Anak itu membungkuk dan memungut koin silver yang berjatuhan di lantai.
"Apa kau ingin membeli roti?"
"Itu benar! Sudah beberapa hari aku tidak makan, jadi aku sangat kelaparan. Untung saja aku menemukan beberapa koin silver beberapa hari yang lalu, jadinya aku dapat membeli sebuah roti."
Tidak makan beberapa hari? Apakah dia jalanan? Dilihat dari pakaian yang ia kenakan sepertinya aku tidak perlu meragukan lagi. Baju yang dikenakan anak kecil itu sudah lusuh dan berlubang di beberapa bagian.
"Bibi, aku ingin membeli satu buah roti!"
"Ok, tunggu sebentar ya."
Tidak lama kemudian, wanita yang tadi melayani Eliza kembali ke tempatnya dan membawakan pesanan milik Eliza dan anak itu.
"Harga satu rotinya adalah 7 koin silver."
Anak itu menghitung jumlah koin yang berada di tangannya, dilihat dengan matanya sendiri Eliza hanya dapat melihat 5 koin silver di tangannya. Seketika raut wajah anak itu menjadi sedih, nampaknya ia tahu jika uangnya tidak cukup untuk membeli satu buah roti.
"Bibi, aku hanya punya 5 silver, apakah cukup."
Wanita itu menjawab, "Maafkan aku nak, aku juga baru membuka toko roti ini beberapa minggu yang lalu. Kalau uang mu tidak cukup, maaf kau tidak dapat mendapatkan roti mu."
Ucapan si bibi yang tidak terdengar kasar ataupun keras bahkan dapat membuat wajah dari malaikat kecil itu menjadi murung dan sedih.
"Jadi... aku tidak bisa membelinya?"
Bibi itu menggeleng. "Maafkan aku, nak."
Anak itu hanya bisa menundukkan kepalanya, menatap kosong koin-koin silver yang berada di tangannya. Untuk membeli makanan saja tidak bisa, bagaimana dirinya bisa bertahan hidup? Terutama apakah ia tidak memilik rumah untuk tinggal? Kadangkala, Eliza berfikir bahkan dunia yang ia anggap sudah damai, dapat berperilaku kejam untuk anak sekecil itu.
Hatinya bergerak, Eliza berkata ke si bibi. "Bibi, bagaimana dengan pesanan ku?"
"Ini, harganya jadi 35 koin silver."
Langsung, Eliza mengeluarkan satu koin berwarna emas dari dalam saku sekolahnya dan mengulurkan kepada si bibi.
"Kembalinya berikan saja pada anak kecil ini." ucap Eliza, mengambil kantung berisi roti di atas meja.
"T-tapi....Bukankah ini terlalu banyak?"
"Tidak apa-apa, lagi pula aku tidak tega melihatnya menangis."
1 koin emas hanyalah uang belanjanya sehari-hari bahkan Eliza punya banyak di kantungnya.
'Mengapa ku tidak memberikannya sedikit kepada yang paling membutuhkan? Setidaknya ini akan dicatat sebagai amal kebaikan ku.' pikir Eliza.
Sebelum pergi, ia merasakan tarikan di baju sekolahnya. "Kakak!" teriak seorang anak kecil. Eliza berbalik dan menatap anak kec itu.
"Kenapa kakak membantuku?"
"Tidak perlu dipikirkan, tidak biasanya aku memberikan uang kepada anak seperti dirimu. Anggap saja ini sebagai hari keberuntungan mu, ya?"
"Seharusnya kau tidak perlu memberikan uang sebanyak itu kepadaku."
Eliza tidak ingin mengatakan hal yang lebih panjang lagi, ia sudah lapar dan ingin sekali makan. Ia berkata, "Maaf aku tidak punya banyak waktu. Bibi, tolong.." Seraya keluar dari toko roti itu.
"Baiklah."
Dari si bibi maupun si anak kecil masih tidak mengerti apa yang terjadi, namun si wanita itu tetap melakukan apa yang gadis itu suruh padanya. Ia mengambil seluruh roti dan memasukkannya ke dalam keranjang, kemudian memberikannya kepada anak kecil itu.
"Hei, ambilah." ucap si bibi seraya mengulurkan sekeranjang roti.
Anak itu mengulurkan tangannya. "Terima kasih," ucapnya, "Bibi, roti ini begitu banyak sampai ku pikir cukup untuk dua minggu. Terima kasih sekali lagi."
"Dengar nak, jangan berterima kasih kepada ku. Aku hanya melakukan apa yang gadis tadi suruh kepada ku, berterima kasih lah kepadanya. Beruntunglah....Ada orang yang masih peduli dengan anak seperti mu."
Jika saja ia tidak bersenggolan dengan gadis tadi, entah apa yang terjadi. Apakah aku akan mendapatkan sekeranjang roti ini? Aku harus berterima kasih kepada gadis itu! Benar, aku harus menemukannya.
"Nenek! Dimana aku bisa menemukan kakak yang cantik itu?"
"Dilihat dari baju yang ia kenakan, nampaknya dia adalah siswi dari Akademi Sihir."
"Akademi Sihir? Kalau begitu-" ucap anak itu dengan terburu-buru, berlari ke arah pintu dan langsung keluar tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
Si wanita hanya menggelengkan kepalanya. "Hah, dasar anak jaman sekarang." ucapnya seraya tersenyum.
...[TO BE CONTINUED]...