
Selagi berjalan lebih lanjut, masuk ke dalam desa elf. Ada bagusnya untuk melihat pencapaiannya selama ini.
Eli memanggil sistemnya dan mengingat bahwa ia sudah mendapatkan 20 poin statistik dari membunuh Tarantula di goa tadi, dan ia belum memasukkannya ke dalam statistiknya.
Selagi kakinya berjalan, dengan Coco yang terdiam di pelukannya, Eli memasukkan seluruh poin statistik nya ke dalam sistem. Ia menambahkan 10 poin ke dalam kekuatan, 4 poin ke dalam kelincahan, dan 6 poin untuk indra. Akan lebih bagus jika Eli meningkatkan ketiga statistik itu dibandingkan dengan daya hidup yang belum jelas apa kegunaannya; ketiga statistik itu lebih jelas dan dapat ia pahami kegunaannya.
"Jika aku mengumpulkan setidaknya 2000 poin pengalaman, maka aku bisa naik level lagi. Tapi... ah tidak! Aku tidak boleh membuang waktu ku hanya untuk berburu, aku harus beristirahat sejenak.", ucap Eli menutup kembali layar statusnya. Disaat ia memeriksa keadaan Coco, ia hanya menempelkan tubuhnya ke dada Eli dan menatap gadis itu dengan tatapan lugu.
Eli terkejut disaat wajah mereka bertemu. Ia berfikir, apakah Coco tahu tentang sistem yang ia miliki? Nampaknya... tidak.
"...Coco... apa kau mengantuk?" Eli berbicara dengan nada lembut, melihat Coco yang mengedipkan matanya beberapa kali dan membuat raut wajah lelah; Eli mengelus pipinya dan sedikit menggoyangkan tubuhnya.
Terlihat Coco menguap beberapa kali dan Eli sadar bahwa Coco ingin sekali tidur.
"Hmpp..." (Iya)
"Kalau begitu tidur lah." Eli mengusap kepala Coco dengan lembut, hingga kedua mata bayi itu tertutup dan terdengar dengkuran kecil darinya.
"Hmm? Apa yang kau lakukan?"
"Tidak ada, hanya menidurkan Coco. Sepertinya ia lelah dan ingin tidur."
"Ya ampun, kalau begitu sini biar aku gendong dia."
"Ah! Jangan... nanti dia akan terbangun." Eli berusaha menolak disaat Ashera ingin menggendong Coco. Bukan karna ia tidak mau, tapi ia takut jika Coco akan terbangun dan menangis layaknya anak kecil pada umumnya.
"Kau sudah menggendong Coco sedari tadi, jadi berikan lah dia kepada ku. Lagi pula, kau adalah tamu disini, sudah seharunya kami bersikap sopan kepadamu."
"Apa kau yakin? Aku takut jika Coco akan langsung terbangun dan menangis."
Ashera menggelengkan kepalanya. "Kau tidak perlu khawatir, sebagai kakaknya aku sudah pandai dalam menggendong adikku sendiri. Sini biar aku gendong dia."
"Ah.... iya."
Eli pun menyerah dan membiarkan Ashera menggantikan dirinya untuk menggendong Coco.
Mereka berdua membuat gerakkan yang begitu pelan, agar Coco tidak terbangun. Disaat Coco sudah terlepas dari pelukan Elizabeth, Ashera langsung membawa Coco ke dalam dekapannya dan mengelus-elus pundaknya.
Coco mencoba membuka matanya, tapi ia langsung terlelap kembali disaat merasakan usapan lembut di punggungnya.
"Dia begitu imut."
Ashera mengangguk. "Ya... dia benar imut."
"Pasti ayah dan ibu mu sangat bahagia bisa memiliki anak secantik dirimu dan seimut Coco."
"B–benarkah??"
Entah mengapa Eli merasa janggal disaat mengatakan itu. Melihat Ashera yang diam dengan ekspresinya yang berubah sedih, membuat Elizabeth khawatir jika ia sudah salah mengatakan sesuatu.
Eli pun seketika berkata. "A–apakah aku me–mengatakan hal yang salah?"
Ia begitu takut jika perkataan menyakiti hati Ashera. Eli tidak tahu apakah hubungan dia dengan kedua orangtuanya berjalan dengan baik atau tidak.
Eli hanya memujinya; ia tidak bermaksud untuk ikut campur.
"Tidak kok... hanya saja... yang tersisa di keluargaku hanya Ibu dan adikku saja."
"Sudah kuduga."
Disaat Eli ingin meminta maaf, seorang elf pun mendekati mereka berdua.
Itu adalah Aimon, sejak awal dia berjalan di samping Ashera. Jadi, sepertinya ia sudah menguping sedikit pembicaraan antara Elizabeth dengan Ashera.
"...Bukan bermaksud ingin ikut campur, Ashera. Tapi, apakah aku bisa menceritakannya kepada dia?"
"Kau tidak perlu bertanya kepadaku kan, Amon?"
"Ya tentu, tapi rasanya tidak etis jika aku tidak bertanya terlebih dahulu."
__ADS_1
"Kau memang sopan sekali."
Eli yang mendengarnya pun bertanya.
"Apa ada hal yang dapat ku ketahui?"
Amon pun memberi isyarat kepada Ashera untuk berjalan di barisan paling depan, bersama yang lainnya.
Amon pun mendekati Eli dan berkata. "Ayahnya sudah meninggal dunia."
"Meninggal dunia? Apa yang terjadi padanya?", ucap Eli dengan nada terkejut. Karna ini adalah masalah pribadi yang Amon ceritakan padanya, jadi ia menurunkan volume suaranya agar tidak terdengar terlalu jelas.
"Setidaknya enam bulan yang lalu... kami diserang oleh pasukan iblis. Mereka menyerang kami dan berusaha untuk menghancurkan desa kami, tapi kami tidak mundur begitu saja. Kami sudah mempersiapkan prajurit yang akan melawan mereka, dan diantara pasukan elf yang maju untuk mempertahankan desa dari pasukan iblis, salah satu dari mereka adalah ayahnya Ashera. Dia dikenal di desa ini sebagai elf dengan kemampuan sihir air yang sangat kuat. Dia dapat membuat gelombang tinggi yang hampir menghancurkan setidaknya setengah dari prajurit iblis. Pertarungan elf dan pasukan iblis setidaknya berlangsung satu hari satu malam, hingga pada akhirnya... pertarungan itu sampai di titik darah penghabisan, dimana dia mati dengan beberapa tombak menancap di tubuhnya."
Mendengar penjelasan Aimon yang panjang dan lebar, membuat jantung Elizabeth berdetak sangat kencang. Bukan karna ia takut, melainkan mendengar bertapa kuatnya kekuatan kedua kubu; ayahnya Ashera dan prajurit iblis.
"Prajurit iblis? Siapapun mereka pastinya mereka adalah pasukan yang sangat kuat."
"Mereka juga adalah penyebab kami terpisah dari kerajaan kami."
"Kerajaan?"
"Nampaknya aku belum membicarakan hal ini padamu... lebih baik ketua desa saja yang menjelaskan lebih rinci tentang itu." Aimon kembali fokus ke jalan, begitu pun dengan Elizabeth. Ia hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Amon.
Melihat ke sekeliling, para elf berbisik-bisik disaat mereka melihat Elizabeth.
Tentu saja, ini adalah pertama kalinya Eli bertemu dengan para elf dan masuk ke dalam desa mereka, jadi tidak heran jika mereka berbisik-bisik disaat melihatnya.
"Wah, lihat! Siapa gadis itu??"
"Dilihat dari pakaian yang ia kenakan, nampaknya ia bukan berasal dari sini."
"Apakah dia seorang pendatang? Dan kenapa Aimon dan Ashera bersamanya?"
"Entah lah, tapi dia cantik sekali. Membuatku iri melihatnya."
"Yah... setidaknya mereka tidak menyerang ku seperti apa yang ku pelajari di akademi."
"Ngomong-ngomong sudah berapa jam aku disini?"
Sebelum Eli terbang lebih jauh ke dalam pikirannya. Aimon yang berhenti di sampingnya menarik ujung baju Eli dan membuatnya memutar kepalanya.
Eli melirik ke Aimon dan ia seketika menujuk jari telunjuknya ke depan.
Eli mengalihkan pandangannya, di depannya kini berdiri sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Terlihat di beberapa sudut rumah itu dihiasi dengan lampu gantung dan lambang yang Eli tidak ketahui apa maksudnya.
Aku tidak tahu apa maksud dari lambang-lambang itu, tapi dilihat dari segi mana pun... rumah ini berukuran lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya.
Ashera berbalik dan berkata. "Kalau begitu, kalian masuklah ke dalam. Aku akan pulang dulu untuk menidurkan Coco."
Mereka pun mengangguk, termasuk Elizabeth. Setelah Ashera pergi, Aimon pun mengajak masuk Eli ke dalam rumah itu.
"Ayo masuk, kepala desa pasti akan senang bertemu dengan mu."
"Apa dia adalah orang yang dingin?"
"Tidak sama sekali! Dia begitu lembut dan hangat dalam melakukan komunikasi, kau tidak perlu takut. Ayo." Aimon menarik lengan Elizabeth.
Lyod, elf yang sedari tadi bersama mereka pun berdiri di depan pintu.
Sebenarnya, rumah itu tidak memiliki pintu, hanya tirai tebal dengan sebuah simbol yang menjadi penghalang.
Lyod berucap. "Kakek! Apa aku dan yang lain boleh masuk?"
Beberapa saat kemudian, seseorang pun membalasnya. "Masuklah!" Suaranya seperti pria pada umumnya, kira-kira berumur antara 35 tahun.
Setelah Lyod membuka tirai, ia pun masuk ke dalam rumah. Aimon dan elf yang tersisa pun mengikutinya, termasuk Elizabeth.
WOAAHH! Lihat semua benda antik ini!
__ADS_1
Setelah masuk ke dalam, suasananya begitu hangat. Walaupun dari luar terlihat cukup primitif, tapi dari dalam terlihat cukup sederhana dan minimalis. Banyak sekali barang-barang antik yang berjejer rapih di atas perapian, begitu pula dengan beberapa bunga di dal vas yang belum pernah Eli lihat sebelumnya.
Bunga-bunga itu berwarna putih dan mengeluarkan sinar kelap-kelip di sekelilingnya.
Bunga itu... sepertinya langka sekali.
Kemudian, terdengar beberapa langkah kaki dari ruangan belakang. Disaat yang bersamaan, seorang pria keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang begitu sederhana, ia menggunakan selendang di lehernya.
Tidak lupa tangan kanannya memegang sebuah tongkat.
"Sepertinya aku lupa memberitahu kalian adab untuk menemui ku ya? Dasar anak-anak.", ucap pria itu sambil mengambil cangkir di atas meja, kemudian menenggak cairan di dalamnya.
Nampaknya itu bukan air putih—itu berwarna hijau muda, dan sepertinya itu adalah obat.
"Hehehe... maaf sebab kami datang dengan tiba-tiba."
"Ya, namanya juga anak-anak. Tidak heran, jika seusia mu dalam masa perkembangan menuju kedewasaan." Pria itu mengucapkan kata "mu" dengan kata lain hanya merujuk kepada Lyod.
Pria itu kemudian menaruh cangkir tersebut di atas meja lagi, dan menatap ke arah Lyod. Ia sadar jika bukan hanya anak laki-laki itu saja yang berada di depannya, Aimon pun berada di sana. Tapi, yang membuatnya sedikit terkejut adalah disaat kedua matanya menangkap tubuh seorang gadis asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ia pun berkata. "Hohohoho! Nampaknya aku kedatangan seorang tamu di sini. Jahatnya aku, kalau begitu silahkan duduk."
Eli pun berjalan dan duduk di kursi yang sudah ada di depan matanya.
Setelah itu, pria itu pun bertanya. "Jadi siapa gadis yang kalian bawa ini? Dilihat dari wajahnya.... sepertinya ia bukan dari sekitar sini? Apa dia anak yang sedang tersesat!?"
"Kakek, perkenalkan nama dia Elizabeth Islan." Aimon dengan lantangnya memperkenalkan Elizabeth kepada kakeknya. "Dia adalah manusia yang sudah membasmi seluruh monster di gua Barat, kakek."
"Oohhhh~ Benarkah? Kalau begitu-", sebelum ia berkata lebih lanjut, seperti ada hal yang janggal yang ia dengar dari mulut Aimon.
Ia pun membuat raut wajah serius, bertanya kepada Aimon. "Tunggu... t-tadi kau bilang apa? D-dia m-m-manusia???"
"Iya."
"Dan k-kau juga mengatakan bahwa di-dia telah mengalahkan seluruh monster yang ada di dalam g-gua Barat?? Be-benarkah itu??"
Aimon pun dengan tegas mengiyakan pertanyaan kakeknya. Pria itu duduk mematung dengan senyuman aneh di bibirnya, keheningan pun melanda.
Beberapa saat kemudian, tubuhnya pun jatuh ke atas lantai. Buagh! Aimon dan yang lainnya pun seketika panik dan langsung menghampiri pria itu.
"Kakek!"
"Ketua!"
"Paman!" Ucap Eli dengan panik, dan langsung menghampiri tubuh pria itu.
Aduh! Kenapa dia pingsan disaat bertemu dengan ku!? Atau jangan-jangan...
Sebelum mereka semua berusaha mengangkat tubuh pria itu, terdengar beberapa orang sedang berteriak dan suara mereka semakin lama semakin jelas.
"Ketua desa! Ketua desa! Ada hal yang perlu ke informasikan kepadamu!"
"Ada manusia yang berkunjung ke desa kita!"
Teriakannya dapat didengar oleh semua elf yang berada di luar. Beberapa di antara mereka pun mulai berteriak dengan penuh tanda tanya.
"M-MANUSIA??!!"
"MANA? MANA? MANA MANUSIA ITU??"
Keriuhan pun terjadi di luar.
Oh Dewa! Apa yang sudah terjadi disini??
"Ketua Desa! Ada hal yang ingin ku sampaikan—"
Elizabeth menatap orang yang tiba-tiba masuk itu, dia adalah Felix, penjaga gerbang yang tadi ia temui. Dia terdiam di daun pintu dengan wajah mereka berdua yang saling menatap satu sama lain.
"Kau!"
__ADS_1
...[TO BE CONTINUED] ...