
Albert dan yang lainnya telah masuk ke dalam hutan, saat itu mereka mendengar suara orang orang sedang bertarung. Lolongan serigala dan monster pun mereka dapat terdengar namun, beberapa menit kemudian suara mereka lenyap seketika.
"Tubuh mereka masih hangat." ucap Albert, menyentuh tubuh lycan yang telah mati.
Ia sendiri yang menginspeksi tubuh para lycan itu. Mereka semua masih dalam keadaan hangat, dengan kata lain mereka baru saja dibunuh. Namun tanda tanya masih bermunculan di kepalanya.
Siapa yang telah membunuh para lycan ini?
"Apakah diantara kalian ada yang menemukan sesuatu?" Albert berbalik dan bertanya kepada yang lain.
Nyonya Celine, Helena dan Lou sedang memeriksa mayat goblin yang tak jauh dari sana dan kedua murid lainnya memeriksa ke sekeliling area.
"Kami tidak menemukan sesuatu."
"Aku juga." Setelah tidak menemukan apa-apa, mereka kembali.
Siapapun yang telah membunuh monster-monster ini pastinya ia bukan orang sembarangan. Albert yakin bahwa yang telah membunuh mereka bukanlah salah satu anak dari akademi ini, melihat dari umur mereka. Jika salah satu murid dapat membunuh mereka semua dalam waktu yang cukup cepat, maka dapat dipastikan jika dia adalah murid dengan teknik bertarung yang tidak biasa.
Mereka semua mati tanpa ada bekas luka sihir sedikit pun, hanya sayatan besar di tubuh-tubuh mereka.
"Celine, apa kau menemukan sesuatu?" tanya Albert kepada Celine.
"Aku tidak menemukan apa-apa, hanya mayat goblin ini saja yang tergeletak tak jauh dari tumpukan lycan itu."
"Aneh sekali." Albert menatap Celine dan kembali berbalik, menatap ke tubuh lycan. "Helena apa kau yakin jika yang menolong mu adalah seorang gadis?"
Helena dengan cepat menjawab, "Aku sangat yakin! Jika tidak mana mungkin aku membawa kalian kemari."
"Para monster ini mati tanpa ada luka sihir di tubuh mereka satu pun, seseorang menggunakan benda tajam untuk membunuh mereka."
"Apa kau yakin tentang hal itu, tuan Albert?"
"Aku yakin sekali.."
Ukuran luka di tubuh para lycan terlihat cukup dalam, senjata yang dipakainya pasti sangatlah tajam.
Muncul rasa penasaran dan ketertarikan dengan orang yang masih menjadi tanda tanya. Siapa pun dia akan ia cari sampai dapat.
Hujan tidak menyurutkan suasana tegang yang berada di sana. Celine kemudian mendekati Albert dan berbisik di telinganya, "Bagaimana kalau kita sudahi masalah ini disini? Jika sampai bocor dan diketahui yang lain maka akan menjadi masalah besar."
"Baiklah...namun sepertinya kita harus menambah jumlah pengawal di halaman belakang dan memagari tempat antara hutan dan akademi."
"Aku paham. Aku akan bersosialisasi dengan kepala sekolah terkait hal itu."
Malam hari itu semakin gelap dan dingin, Albert dan Celine berencana untuk menyudahi masalah itu. Ini akan berbahaya bagi Lou dan yang lain jika mereka terus berada di dalam hutan. Banyak monster yang memiliki penglihatan malam di sini.
Mereka berbalik dan mengatakan kepada Lou dan yang lainnya untuk kembali ke asrama mereka masing-masing.
"...Dan ingat satu hal! Masalah ini jangan sampai bocor dan didengar oleh siapapun. Apa kalian paham?"
"Baik!"
Akhirnya, mereka semua kembali ke akademi walaupun dengan pakaian mereka yang telah basah kuyup oleh air hujan. Helena hanya bertanya siapa yang telah membantunya dan membunuh para monster itu. Ia ingin sekali bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih di depan wajahnya.
Siapapun kau kuharap aku dapat bertemu dengan mu.
...*********...
Setelah berlari memutari akademi, Eli akhirnya dapat keluar dari dalam hutan dan sampai di halaman belakang asrama putri.
Ia mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara yang akan membangunkan murid yang sedang tidur, sebab dinding asrama tidak terlalu tebal dan dapat sedikit menyerap suara.
"Sebagian dari mereka nampaknya telah tidur, aku bisa melihat dari lampu kamar mereka yang telah mati."
Ia berhenti dan menatap ke salah satu kamar.
Itu dia!
Kamarnya dapat dengan mudah ia temui. Sebelum pergi ia lupa untuk mematikan lampu jadi lampu kamarnya terus menyala.
"Bagaimana caranya aku naik ke atas sana?" tanya Eli, menatap jendela kamarnya dengan kebingungan.
Ia menggaruk kepalanya sebelum sebuah ide muncul.
Dengan kemampuan 'Cannibal' miliknya ia dapat memanjat dinding itu. Ia tinggal menggunakan kukunya untuk memegang celah-celah yang berada di setiap dinding dan bergelantungan hingga ia sampai di kamarnya.
"Tidak ada salahnya untuk mencoba." Eli mengambil ancang-ancang.
[Skill: 'Cannibal' diaktifkan]
Ia langsung melompat ke arah dinding dan mencengkram celah yang berada di sana.
–Kreak.
__ADS_1
Suara retakan muncul setiap kali kukunya masuk ke dalam celah-celah dinding. Walaupun begitu, Eli nampaknya tidak peduli ia hanya peduli dengan dirinya sendiri.
Ia bergelantungan di dinding dan naik ke bagian atas. Kamarnya berada di lantai dua jadi agak sulit untuk meraihnya.
"Sedikit...lagi."
Dengan usahanya, ia berhasil mencengkram jendela kamarnya. Ia kemudian membuka dan masuk ke dalam kamarnya.
"Akhirnya...fuhhhh."
Eli melihat ke sekeliling dan tidak ada yang berubah. Sepertinya tidak ada yang menginjakkan kaki sedikitpun ke dalam kamarnya sejak ia pergi dari akademi. Hal ini pun sedikit aneh baginya, nampaknya 'mereka' belum memeriksa sampai ke sini.
Tentu saja yang ia masuk adalah para pengawas akademi.
Lebih baik aku matikan lampu saja dulu. Ia berjalan dengan baju sekolahnya yang basah dan memadamkan lentera yang bergelantung di samping pintu.
–Click.
Dengan ini tidak akan ada lagi yang mencurigainya.
"Sudah malam aku harus segera mengganti baju dan segera tidur."
Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menganti baju miliknya. Nampaknya ia perlu menggunakan baju sekolahnya yang lain, sebab jika ia mencuci bajunya sekarang maka besok hari pun bajunya tidak akan kering.
Eli menyiapkan bak mandinya, mengisinya dengan air hangat ditambah dengan beberapa bunga mawar.
Setelah itu, ia langsung menenggelamkan tubuhnya ke dalam bak.
"Ahhhhh....nyamannya~"
Petualangannya kali ini sungguh membuat tubuhnya menjadi mati rasa. Air bak yang hangat serasa menghancurkan dan mencarikan rasa penat dalam tubuhnya, bersatu ke dalam bak mandi itu. Eli menutup mata dan menyenderkan kepalanya ke tepian bak mandi.
Pikirannya menjadi jernih, tidak ada rasa apapun untuk memikirkan suatu hal. Semua hal tadi selesai untuk hari ini.
Waktu terus berjalan dan menit ke menit telah berlalu, Eli telah selesai dengan mandi air hangatnya.
"Nampaknya hujan tidak akan berhenti sampai esok. Baju tidur yang tebal nampaknya akan bagus untuk menghangatkan tubuhku." Ia mengambil baju tidurnya yang berwarna merah dan bermotif bunga-bunga.
–Buk!
Mata terpejam perlahan hingga matanya menutup sempurna. Wajahnya yang cantik bersinar walaupun di kamarnya yang gelap.
.......
.......
"Hei, apa kau dengar berita hari ini?"
"Tentang apa?"
"Apa kau tidak tahu tentang Helena? Ia adalah salah satu dari pengawas akademi," ungkap seorang siswa, "...Ku dengar dia diserang oleh segerombolan goblin tadi malam."
Beberapa siswa dan siswi lainnya membuka mulut mereka lebar-lebar, terkejut dengan hal itu.
"Terus bagaimana kejadian selanjutnya? Apakah dia dapat mengalahkan monster-monster itu atau dia yang terluka?" tanya seorang siswi dengan rasa penasaran.
"Ku dengar dia hampir terbunuh oleh mereka namun katanya, seorang gadis datang dan membunuh monster-monster itu. Dia tidak hanya membunuh para goblin tapi, membunuh para lycan yang berada di hutan."
"Waw! Sungguh diluar dugaan."
Suasana pada pagi hari itu terlihat cukup sibuk, banyak siswa siswi berlalu-lalang di koridor sekolah. Kebanyakan dari mereka berkumpul di sudut-sudut koridor seraya berbincang mengenai sesuatu.
Berita tentang Helena Bonham, seorang pengawas akademi yang hampir mati diserang oleh segerombolan goblin menyebar dengan begitu cepat. Entah apa yang membuat berita ini dapat terdengar dari satu mulut ke mulut lainnya, padahal dari pihak pengajar telah berusaha menutupinya.
"Aku sangat penasaran siapa gadis itu?"
"Jangan terlalu berharap untuk bertemu dengannya, bahkan para pengajar sekali pun masih belum tahu keberadaan gadis itu."
"Oh iya, kudengar mayat lycan yang ditemui oleh para pengawal di hutan belakang sudah dalam keadaan dikuliti."
"Ihhhhh! Menjijikan sekali."
Jam pelajaran pertama telah selesai, biasanya para murid akan berkeliling di akademi untuk meluangkan sedikit waktu mereka. Tidak banyak dari mereka pun menyantap bekal yang mereka bawa seraya mengobrol dengan teman-teman mereka.
Setelah kejadian semalam, Eli kembali ke kehidupan biasanya.
Hari ini ia berada di perpustakaan bersama dengan Florence.
Florence mengangguk kepalanya, menatap buku di depan meja dengan seksama. Florence adalah tipikal gadis yang tidak dapat berpergian sendiri, ia harus selalu ditemani. Hari ini Samuel sedang bersama teman-temannya di kelas praktik sihir dan ia tidak punya waktu untuk menemani Florence.
"Elizabeth, apakah kau dapat membantuku?"
"Apa?" Elizabeth mengangkat kepalanya dan menatap halaman yang Florence tunjuk kepadanya.
__ADS_1
"Apa yang selalu datang, tapi tidak pernah kembali?" ungkap Florence, membaca buku itu sambil menunjukkannya kepada Elizabeth.
Nampaknya itu adalah sebuah buku teka-teki.
Eli menjawab, "Besok." Dan kembali menatap buku yang ia sedang baca.
"Besok?"
"Hari esok akan selalu datang kapan pun dan dimana pun. Namun saat telah lewat, maka hari esok tidak akan pernah kembali lagi."
Esok hari tidak akan pernah kembali dan saat telah berlalu, maka akan disebut sebagai 'Kemarin'.
Florence mengangguk, "Oh jadi begitu..." Ia menatap kembali ke buku yang ia baca, membuka halaman baru.
"Apa kau tidak bosan membaca buku yang sama terus menerus?"
"Habisnya, buku ini begitu menarik. Aku sangat menyukai teka-teki."
"Hah....dasar kau ini."
Florence sangat menyukai buku teka-teki. Setidaknya terdapat rak yang penuh dengan buku seperti itu di perpustakaan ini. Tidak banyak murid yang membacanya sebab mereka pikir akan membuang banyak waktu untuk membacanya. Berapa murid pun ada yang protes kepada penjaga perpustakaan untuk mengganti rak itu dengan buku pelajaran sejarah dan sihir, namun tidak mendapat persetujuan dari pihak akademi.
"Elizabeth, apa kau sudah mendengar kabar tentang Helena Bonham?"
Elizabeth hanya menggerakkan bola matanya, ia sudah mengetahuinya duluan dibandingkan Florence ataupun murid lainnya. Namun ia bersikap seolah ia belum tahu tentang hal itu.
"Tidak, aku belum tahu sama sekali. Memangnya apa yang sudah terjadi?"
"Sungguh!? Kau belum tahu sama sekali!" teriak Florence tanpa sadar sambil menggebrak meja yang ia pakai bersama Eli.
Tentu saja penjaga perpustakaan marah dan berteriak, "Nona Florence! Jaga mulut mu!" Dan seketika gadis itu pun diam dan tersenyum malu.
Elizabeth tidak habis pikir dengan temannya yang satu ini.
"Apakah kau tidak dapat mengecilkan volume suara mu?"
"M-maafkan aku, habisnya aku kaget sebab kau sama sekali tidak tahu tentang berita hari ini."
Eli hanya memutar bola matanya, "Aku tidak tertarik." Dan kembali menatap buku yang ia baca.
Florence hanya diam dan menatap kembali ke dalam bukunya. Ia sesekali menatap Elizabeth yang dengan serius membaca buku di depannya. Sudah beberapa hari ini ia merasa jika ada yang berubah dalam diri Elizabeth, ia nampak begitu tenang dibandingkan dirinya dulu.
Ia bermain dengan kedua jari telunjuknya dan berkata. "Nampaknya kau sudah berubah, Elizabeth."
Elizabeth hanya diam, ia berpura-pura seperti tidak mendengarkannya.
"Entah mengapa hari ini wajah mu terlihat begitu bersinar dibandingkan hari-hari biasanya."
"Apakah begitu?"
"Lihat saja ke sekeliling mu...Banyak para murid yang sedari tadi melirik ke arah mu."
Diam-diam Elizabeth menutup buku yang ia baca, menggerakkan bola matanya dan menatap ke samping kanan. Di meja samping jendela terdapat beberapa gadis sedang bergunjing dan berbisik-bisik, pandangan mereka seketika bertemu dengan Elizabeth dan mereka langsung membuang muka.
Eli tidak mengerti mengapa mereka menatapnya dengan tatapan aneh, begitu pun sekumpulan anak murid lelaki yang tidak jauh di belakang mereka. Setelah menatap dirinya, mereka membuang muka dengan ekspresi malu-malu.
'Kenapa mereka menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajah ku?'
"Benarkan kataku." ungkap Florence.
Entah mengapa yang dilakukan mereka membuat Elizabeth merasa tidak nyaman. Ia tidak senang diperhatikan diam-diam.
"Nampaknya mereka tidak punya tata krama sama sekali." ucap Eli, menutup bukunya dan berlalu pergi.
"Kau mau kemana?"
"Kelas."
Florence segera menutup bukunya, tidak lupa ia mengembalikan buku itu ke rak dan langsung menyusul Elizabeth keluar dari perpustakaan.
Sementara itu, sekumpulan siswi dan siswa kembali bergunjing. Mereka nampaknya sedang membicarakan suatu hal yang begitu menarik.
"Hei, apa kau melihatnya?"
"Tentu saja, putri Elizabeth begitu cantik hari ini."
"Entah mengapa karisma darinya begitu menonjol, tidak mungkin ada sesuatu yang tidak terjadi dengan dirinya."
"Semakin kesini aku melihat bahwa putri Elizabeth semakin bersikap dewasa. Maksud ku dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya."
"Aku pun merasa begitu...Aku penasaran hal apa yang telah terjadi dengan gadis itu."
"Sudahlah, kita tidak perlu membahasnya lagi." ucap gadis lainnya, menutup pembicaraan.
__ADS_1
...[To be Continued]...