Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 17 - The Truth


__ADS_3

[Sistem sedang menerjemahkan bahasa dalam buku agar dapat dipahami]


[Loading...3...2...1]


[Bahasa sudah diterjemahkan]


"Hmmm, menarik sekali."


Eli tidak hanya membalikkan setiap halaman di dalam buku itu, tetapi ia juga membacanya dengan teliti; mengingat bahwa ini adalah kitab yang Visati tunjukan padanya.


Isi di dalamnya begitu menarik sekaligus membuatnya bergidik.


[Sistem sedang menerjemahkan bahasa dalam buku agar dapat dipahami]


Bayangkan saja jika sistem tidak bisa menerjemahkan bahasa di dalam buku itu, pastinya Elizabeth tidak akan mendapatkan informasi yang sangat berharga.


[Bahasa sudah diterjemahkan]


"Ini begitu menarik. Disini dijelaskan bahwa Eqaba adalah sebagian kecil daratan dari benua Algazea yang terbelah akibat pertempuran hebat melawan Dewa Iblis beratus-ratus tahun yang lalu. Algazea dijelaskan sebagai benua yang makmur, dimana semua ras hidup aman dan tentram tanpa adanya perbedaan."


Elf, Beastman, Duyung, dan Valkyrie itulah keempat ras yang hidup di benua Algazea. Namun, disaat Dewa Iblis turun ke dunia ini dan menimbulkan kekacauan. Keempat raja dari masing-masing wilayah mencoba melawan namun usaha mereka sia-sia. Eqaba, sebagai daratan tempat dimana kerajaan elf berdiri terbelah dari Algazea dan menjauh dari benua itu.


Dan hal itu pun membuat jumlah kekuatan perang menurun drastis.


Dijelaskan pula bahwa Eqaba belum terbebas dari serangan pasukan iblis saat itu. Para elf masih berusaha payah untuk menambah armada perang mereka namun hasilnya sia-sia. Mereka gagal dan pasukan iblis masih mendominasi daratan ini hingga saat ini.


"Hmmm..."


Sungguh begitu menyedihkan mengetahui bahwa para elf disini harus berjuang, bertahan hidup dari para iblis.


"Aku penasaran bagaimana nasib ras lainnya di Algazea?"


Eli pun membuka lembaran lain dan sistem pun menerjemahkannya.


Menurut si penulis buku, buku ini ditulis setidaknya satu hari setelah Eqaba terlepas dari Algazea. Jadi, cerita mengenai keadaan ras lainnya di benua itu pun begitu sedikit.


[Sukses menerjemahkan bahasa]


"Ini begitu membingungkan."


Berbeda dengan pelajaran sejarah yang ia pelajari di akademi, Elizabeth begitu bingung dalam mempelajari sejarah para elf. Ada beberapa simbol, seperti Erendriel bilang bahwa terdapat beberapa gambar yang begitu unik.


Apa ini? Eli seketika tertarik pada suatu halaman, itu dimana terdapat beberapa gambar batu dengan simbol yang begitu unik terukir di atas mereka. Batu-batu apa ini? Kenapa terdapat sebuah ukiran di masing-masing batu?


"Misterius sekali. Warna dari masing-masing batu pun berbeda."


Yang di halaman sebelumnya terdapat dua batu dengan aura yang tergambar berwarna biru dan ungu, merah dan hijau di halaman berikutnya.


Batu-batu itu memberi kesan misterius dan menambah rasa penasaran Eli.


"Sistem! Apakah kau dapat menerjemahkan dan memberikan informasi tentang batu ini?"


Eli mendiamkan sejenak buku yang ia pegang, ia tidak membuka lembaran baru.


Sistem pun berbunyi.


[Mencoba men-scan halaman yang tertera.]


[Pengambilan informasi membutuhkan waktu beberapa saat.]


[Loading...]


Tidak seperti sebelumnya, dimana sistem dapat langsung menerjemahkan buku ini dengan cepat.


Ku harap berhasil. pikir Eli sambil merentangkan tubuh dan bersandar di atas kursi.


[Loading...5..4..3..2..1]


[Sistem berhasil menyaring dan men-scan informasi dari buku]


[Sistem akan menampilkannya]


"Akhirnya, sudah ku duga sistem dapat melakukan segalanya."


Dengan penuh riang aku menunggu informasi yang akan sistem berikan.


...[Batu Rune]...


...[Tipe: ???]...


...[Kelangkaan: ???]...


...[Disaat monster akan mati, kekuatan mereka akan tersimpan dalam batu ini. Keahlian dan kemampuan mereka dapat dimiliki disaat memecahkan batu ini.]...


Saat melihat informasi yang terpampang di depannya, Eli seketika tersenyum.


"Batu rune? Apakah ini adalah sejenis batu seperti kristal yang ku dapatkan setelah membunuh serigala raksasa itu?"


"Sepertinya bukan."


Eli dapat melihat perbedaan yang signifikan antara batu itu dengan kristal yang ia miliki.


Walaupun ia mendapatkan informasinya, ia masih belum begitu paham. Eli tidak dapat menemukan data lebih lanjut tentang batu rune itu.


Dikarenakan batu itu tergambar dalam buku tua ini, Eli tidak dapat menolak pikirannya. Jika sudah menjadi sejarah, nampaknya benda ini sudah lama hilang.


"Hmmm"


Eli menghela nafas, membuka membuka lembaran baru dengan jarinya.


Waktu terus berjalan, ia tidak tahu sudah berapa lama ia membaca buku itu.


Terlihat ia sudah hampir di akhir halaman.


"Sisanya hanya kata-kata dari para elves terdahulu. Ini begitu menyenangkan walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membacanya."


Setelah selesai membaca buku itu, Eli melihat ke sekeliling ruangan.


Ruangan Visati memang tidak terlalu terang namun karna cukup penerangan, ia dapat melihat ke segala arah.


"Aku penasaran bagaimana keadaan di Akademi."


Mengetahui jika waktu terus berjalan dan ia tahu bahwa waktu di dunianya berbeda di sini. Eli pun keluar dari rumah Visati.


Sinar matahari bersinar begitu terang, karna ia terlalu lama di dalam rumah jadi Eli perlu menutup pandangannya beberapa saat dengan lengannya. Setelah pandangannya kembali membaik ia pun segera melihat ke sekeliling.


Ia tidak bisa melihat siapa-siapa disana.

__ADS_1


Namun, dari kejauhan ia bisa melihat Visati dan Erendriel sedang mengobrol satu sama lain.


"Ah! Kalian!"


Eli berteriak, melambaikan tangannya ke arah mereka.


Kedua elf itu segera berbalik dan melihat Eli sedang berjalan ke arah mereka.


Keduanya segera menyapa gadis itu.


"Apa kau sudah selesai membaca buku itu?" Ucap Erendriel, berjalan beriringan dengan Visati.


"Iya, aku sudah membacanya."


"Apakah ada kesulitan, nak?"


"Sejujurnya....apa yang kalian katakan benar. Ada banyak sekali kalimat dan simbol yanng tak dapat ku pahami."


Setelah mencoba untuk menerjemahkan ke bahasa yang mudah dipahami olehnya, Eli masih tidak dapat mengerti.


Terutama gambar-gambar dan simbol-simbol di buku itu.


"Nenek Visati, ada hal yang ingin ku tanyakan."


"Hal apa?"


Eli pun menunjukkan buku yang ia bawa dan membukanya. "Apa kau paham tentang simbol-simbol ini?" ucap Eli.


Visati memerhatikan dengan cermat apa yang Eli tunjukan padanya, begitu pun Erendriel. Ia dibuat penasaran dan ikut memperhatikan ke dalam isi buku.


"Ah! Itu adalah bahasa naga kuno."


"Bahasa naga kuno!?"


Sulit dipercayai jika ada bahasa seperti itu.


Eli benar-benar terkejut. Pantas saja alfabetnya begitu asing dan aneh di matanya.


Bentuk dari masing-masing huruf tidak layaknya ditulis menggunakan pulpen tinta, namun lebih seperti ditulis menggunakan cakar atau kuku, bergaris-garis.


"Ini adalah bahasa yang sudah lama punah, dan hanya dapat diucapkan oleh semua ras naga."


"Kenapa begitu, nek?"


"Konon katanya, bahasa yang mereka gunakan bukan hanya digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi namun juga dapat mereka gunakan sebagai alat tempur."


"Bagaimana caranya?" tanya Eli.


"Naga adalah spesies monster yang memiliki kekuatan sangat besar. Kau tidak perlu heran jika disaat kau mendapatkan kekuatan yang cukup, maka kau akan bisa berkomunikasi dengan mereka. Bahasa Dragonic telah lama mereka gunakan untuk membuat berbagai mantra sihir dengan tingkat kekuatan yang mahadahsyat." Erendriel berkata panjang lebar.


Memikirkan hanya dengan kata yang mereka ucapkan sudah mengandung kekuatan yang begitu besar, Eli benar-benar khawatir jika ia bertatapan langsung dengan naga.


Mereka adalah monster mengerikan yang telah menjadi momok bagi setiap peperangan di tempat tinggalnya beribu tahun yang lalu.


"Bahasa Dragonic? Bisakah aku mempelajarinya?"


Walaupun begitu, tidak ada yang dapat menahan rasa penasaran dari gadis berusia 15 tahun.


"Itulah alasan mengapa kau datang kesini, Elizabeth."


"Apa yang kamu maksud, Visati?"


"Kau ditakdirkan untuk membunuh mereka."


"Maksud mu...para naga?"


Erendriel menganggukkan kepalanya.


"Tidak! tidak! tidak! Aku harus membunuh para naga? Itu musta-"


Mustahil? Apakah baru saja aku mengatakan "mustahil" dengan mulut ku sendiri? pikir Eli. Visati pun datang dan menggenggam tangan kanan Eli, memberikan sedikit kehangatan di sana.


"Lihat lah! Kau sendiri bilang bahwa kau mustahil dan sekarang kau menolaknya. Aku dapat melihat kepribadianmu dengan sangat jelas, Elizabeth. Sosok mu di pandanganku, begitu besar dan sangat besar dibandingkan sebuah gunung."


Ia tidak mengerti apa yang nenek itu bilang kepadanya.


Namun, entah mengapa ia merasa kehabisan ide untuk mengucapkan sebuah kata. Pikiran dan tatapannya terasa begitu hampa.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak dapat berfikir dengan jernih?"


Kemudian, tanpa basa basi Erendriel dan Visati menarik tangan Eli.


Membawanya masuk ke dalam hutan. Eli tidak bisa menarik tangannya, kekuatan dari kedua elves itu begitu kuat.


"Kemana kalian akan membawaku!?"


"Kami akan memperlihatkan mu sesuatu, yang dapat merubah jalan pikir mu."


Kedua elf itu terus menarik tangan Elizabeth dan membawanya masuk ke dalam hutan. Suasana menjadi gelap dikarenakan sinar matahari yang tertutupi oleh lebatnya dedaunan dan pepohonan.


Jantungnya berdetak sangat kencang.


Hingga pada saatnya Visati dan Erendriel berhenti dan melepaskan genggaman tangan mereka dari gadis itu.


Mereka berdua sampai di reruntuhan yang napak seperti sebuah dinding raksasa.


Di reruntuhan itu terdapat sebuah lubang yang ditutupi oleh akar-akar dari tumbuh menjalar.


Elizabeth terengah-engah, ia memerhatikan pergelangan tangannya dimana terdapat bekas lebam akibat genggaman dari kedua elf itu.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian!?"


Eli tidak bisa menahan emosinya yang perlahan-lahan mulai menggebu-gebu di hatinya.


Ia benar-benar ingin mengeluarkan pedangnya dan membunuh kedua elf itu.


"Kenapa kalian menarikku!?"


Erendriel tidak menatap gadis itu langsung, hanya Visati, ia menatap Eli dengan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan.


Terdengar dari keduanya pun menghela nafas.


"Ikuti kami." ucap Visati, Erendriel mengikutinya.


Elizabeth merasa bimbang, ia khawatir jika terjadi apa-apa padanya. Jadi ia hanya berdiam diri dulu tanpa mengikuti kemana mereka berdua akan membawanya lagi.


"Kau tidak perlu takut, nak."

__ADS_1


Erendriel berhenti beberapa meter dari tempat Elizabeth berdiri. Jalanan yang ia injak menanjak dan terdapat akar yang menghalangi jalan mereka di depan.


Visati berkata. "Ini adalah yang sesuatu yang ingin kami perlihatkan padamu."


Tangannya masuk dan menyingkirkan akar akar itu.


Sinar matahari masuk begitu terang.


"Apa yang ada di depan sana?" tanya Eli.


"Aku tidak menjelaskan kepadamu disaat kau sendiri yang perlu melihatnya."


Keadaan menjadi semakin canggung, Eli masih menghela nafas.


Ia mengalihkan pandangannya kepada Erendriel. Pak tua itu membalasnya dengan senyuman disertai dengan tatapan hangat.


Elizabeth tahu bahwa dia adalah elf yang baik. Ia juga tidak dapat merasakan insting membunuh darinya.


Hal itu pun membuat dirinya merasa sedikit lebih tenang.


"Kau tak perlu takut, nak."


Erendriel mengulurkan tangannya kepada Elizabeth, tersenyum kepadanya.


"Mari."


Elizabeth pun membuang semua pikiran anehnya. Ia berjalan perlahan, naik dan berdiri di antara Erendriel dan Visati.


Pandangannya pun tertuju ke depan.


Eli menahan nafasnya, jantung seakan berhenti berdetak. Mulutnya terbuka menganga sambil berkata. "Apa itu!?" dengan nada bergetar.


...******...


Pemandangan yang berada di depan ku mampu membuat darah ku bergejolak begitu tinggi.


Disaat aku menatap ke bawah, hanya jurang tanpa dasar yang aku temukan.


Sedangkan di depan sana, di sebuah gunung yang tinggi berdiri sebuah bangunan. Aku tahu itu bukan bangunan biasa, karna bentuknya seperti tower maka aku menyebutnya sebuah menara.


"Apa itu?"


Atmosfer di atas sana berwarna merah darah: awan dan langitnya. Seakan-akan aku sedang berhadapan dengan wilayah yang ku namakan "Neraka".


Walaupun jaraknya lumayan jauh, aku dapat merasakan hawa gelap yang begitu kuat dari arah sana.


"Itu adalah Tower of Doom." ucap Visati di sampingku.


"Tower of Doom?"


"Tempat dimana para iblis tinggal, atau bisa kau sebagai rumah, tempat tinggal mereka."


"Apa yang ada di dalam sana? Dan...mengapa suasananya begitu menyeramkan?"


Walaupun aku sudah pernah membunuh seekor serigala raksasa, Ogre, dan Tarantula. Ketakutan di dalam diriku terus-menerus keluar, seakan-akan berlari di dalam pembuluh darah dan membuatnya bergetar.


"Takut? Mengapa aku harus takut?"


Elizabeth mengalihkan pandangannya ke arah Visati namun ia terkejut mendapati nenek itu berdiri dan memandanginya dengan berlinang air mata.


Visati menangis dan menggenggam erat tangan Elizabeth.


"Elizabeth, tolong kabulkan permintaan kami!"


"A-apa yang nenek bicarakan? Sebenarnya ada apa!?"


"Nak, dengarkan baik-baik. Kau adalah nubuat yang sudah kami tunggu-tunggu selama ratusan tahun. Manusia yang dimana akan membawa kedamaian bagi negeri Eqaba. Jadi tolonglah....pergi ke sana dan bunuh Raja Iblis."


Suara Erendriel dan Visati begitu bergetar, mereka berdua berlutut ke arah ku.


"Nenek! Kakek hentikan! Apa yang sudah kalian lakukan? Ayo bangun!"


"Tidak! Kami tidak akan bangun sebelum kau menerima permintaan kami."


Visati bersikeras tidak mau bangun dari posisinya. Air mata sudah mengucur begitu deras dari kedua air matanya.


Aku menatap Erendriel yang melakukan posisi yang sama.


"Kakek?"


Hati ku langsung hancur mendapati Erendriel yang sudah dalam posisi bersujud ke arah ku.


Aku dengan sigap berteriak.


"Kakek! Jangan seperti ini! Ayo bangun, kakek!"


Tidak ada jawaban dari Erendriel.


Aku bertanya-tanya, apakah ini tujuan utama aku pergi kemari? Menolong mereka agar terlepas dari genggaman Raja Iblis.


Kepercayaan diriku sejenak memudar.


Aku tahu bahwa aku kuat dibandingkan yang lainnya, namun... mengalahkan Raja Iblis? Bukankah itu terlalu berat?


"Elizabeth..."


Aku berbalik.


"Ada satu hal yang harus benar-benar kau ketahui."


Visati bangkit dari posisinya, mengelap air mata dan menatap diriku dengan tatapannya yang serius.


Tatapan nya seakan masuk ke dalam jiwa ku.


"Ada apa, nenek?"


"Mengenai dirimu...mungkin ini adalah kebenaran yang belum pernah kau dengar seumur hidup mu."


"Diriku?"


"... sebenarnya, kau bukanlah anak...dari Count dan Countess Islan."


Seketika hati ku berhenti berdetak.


Hanya satu kata yang terucap dari mulutku dengan tubuhku yang diam layaknya sebuah patung.


"Apa?"

__ADS_1


...[TO BE CONTINUED]...


__ADS_2