Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 19 - Danger


__ADS_3

Hujan turun semakin deras. Helena dan Lou mempercepat langkah mereka, berjalan melalui lorong yang gelap setelah selesai dengan urusan mereka di gudang perpustakaan.


Jika bertanya tentang gadis yang Lou bekukan, ia telah diurus oleh rekan mereka yang lain. Beruntung sekali mereka bertemu dengannya di tengah jalan.


"Kita kembali saja, yuk."


"Kau tidak perlu takut, ada aku di samping mu."


"Tapi tempat ini begitu gelap."


Lorong yang mereka lalui sebenarnya di hiasi oleh beberapa obor yang tergantung di langit-langit atap. Namun, dikarenakan hempasan angin dan derasnya hujan membuat mereka bergoyang-goyang, mengurangi pencahayaan di tempat itu.


Helena sadar bahwa Lou terlalu takut dengan gelap.


"Aku akan menggunakan sihir api ku untuk menerangi jalan."


Ia pun mengulurkan tangannya dan sebuah bola api pun muncul.


Cahaya nya cukup terang dan mampu menerangi are di sekitar mereka.


"Bagaimana?" tanya Helena kepada Lou.


"Jauh lebih baik, terima kasih."


Setelah itu, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.


Halaman belakang hanyalah area yang jarang sekali di kunjungi di siang hari, namun di malam hari yang cerah biasanya para murid akan datang ke tempat itu. Suasananya yang damai dan tenang membuat tempat itu bagus untuk menenangkan diri.


Terkadang, pada siang hari juga area itu digunakan sebagai tempat untuk berlatih sihir.


Setelah melewati beberapa tikungan dan lorong, akhirnya mereka sampai di sebuah tangga.


"Ayo kita turun." Helena mengulurkan tangannya kepada Lou, ia takut jika dia akan tersandung dan jatuh.


Tangga ini begitu curam dan disaat hujan akan basah karena rintikan hujan yang merembes masuk celah-celah di dinding.


Tap- Tap- Tap-


Setelah melewati tangga Lou melihat sebuah pintu. "Itu pintunya." Dia menunjuk ke arah pintu kayu yang berada di depan mereka.


Mereka berdua pun bergegas membuka pintu itu.


Suara derasnya hujan terdengar lagi.


Helena menatap ke sekeliling area di sana, mereka telah sampai di halaman belakang.


"Lou, pergilah ke arah sana." Helena menunjuk ke arah sebuah ruangan, di sana terlihat beberapa buah senjata.


"Itu adalah ruang senjata, kau periksalah dan hitung, apakah ada senjata yang hilang atau tidak? Kertas daftarnya tergantung di dinding."


"Bagaimana dengan mu?"


"Aku akan berkeliling di area belakang, yang langsung berhubung dengan hutan.


Seketika Lou pun merasa panik.


"Jangan!" Ia berteriak dan meraih tangan Helena. "Tempat itu berbahaya, apa kau tidak tahu jika monster pada bulan ini selalu keluar pada malam hari?"


Helena memperhatikan raut wajah Lou, ia terlihat begitu serius. Lou dan Helena sudah berteman baik saat mereka berdua baru masuk di akademi ini.


Jadi tidak heran jika gadis di depannya begitu khawatir tentangnya.


Namun bukan Helena namanya jika ia tidak kenal takut.


Huh, dasar bodoh. Apa kau pikir aku akan mati jika seorang monster langsung menyerang diriku?


"Tenang saja, apakah kau tidak kenal siapa aku?"


"Tapi...tetap saja itu berbahaya."


Lou mengenal betul siapa gadis di depannya. Helena adalah gadis yang kuat, dengan sihir apinya ia pasti dapat dengan mudah mengalahkan setiap lawannya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan lama. Jika kau sudah selesai maka jemput aku, ya?"


Lou nampak sedikit bimbang, namun pada akhirnya ia pun mengalah dan melepaskan genggaman tangannya.


Mereka berdua pun berpencar.


Lou dengan cepat pergi ke ruang senjata, di sana terdapat banyak sekali pedang, tombak, dan perisai.


"Besar sekali." Ia berucap tidak yakin.


Lou tidak tahu apakah waktunya cukup untuk menghitung senjata yang tersusun rapi di setiap rak.


"Ku harap aku dapat menyelesaikannya tepat pada waktunya."


Ia mengambil kertas daftar yang tergantung di dinding dan mulai menghitungnya dengan cepat.


Waktu pun berjalan begitu cepat.


(15 menit kemudian)


"Ah akhirnya selesai juga." Lou mengelap keringat di dahinya.


Untuk menghitung barang dengan jumlah yang banyak rupanya membutuhkan tenaga. Ia harus berjalan memutar melewati beberapa rak dan ia harus berhati-hati agar tidak bersentuhan dengan mereka.


Ia mengeluarkan arloji miliknya, rupanya sudah hampir tengah malam.


"Bagaimana keadaan Helena saat ini, ya?"


Sebagai kawan setianya, ia begitu khawatir dengan kondisinya saat ini.


Hujan turun tanpa henti dan petir menggelegar dimana-mana. Pada kondisi seperti ini jarak penglihatan sangatlah minim di halaman belakang sebab tertutupi oleh kabut.


Jika terdapat monster yang menyerang akan sulit baginya mengalahkan mereka.


"Aku harus menemuinya sekarang juga."


Lou menaruh kembali list yang ia pegang. Terdapat keganjalan di hatinya.


"Kyaaa!!"


Suara teriakan pun terdengar dan merambat di udara. Lou yang mendengarnya seketika merinding, suara itu begitu familiar di telinganya dan ia tidak salah dalam mengenali pemilik suara itu.


"Helena!"


Ia dengan cepat berlari menuju tempat Helena.


Kumohon bertahanlah!


"Helena aku datang!"


Lou bergegas membuka pintu yang terhubung langsung dengan area belakang.


"Helena kau dimana?" ucap Lou dengan nada bergetar.

__ADS_1


Pandangannya terlalu kabur sebab kabut yang menutupi jarak pandang nya. Ia berjalan ke depan sambil memfokuskan pandangannya.


"Ah!" teriak Lou saat terpeleset dan nyaris jatuh.


Lou berusaha bangkit dan kembali berjalan. Kemudian, sebuah cahaya di depannya mengejutkannya. Terdapat siluet juga di sana, ia pun bergegas mendekati cahaya itu.


"Helena!"


"Lou?"


Lou seketika mendekati Helena.


"Apa yang terjadi? Apakah ada monster yang menyerang mu?"


Helena yang memperhatikan reaksi Lou, menatapnya dengan pandangan khawatir dan ia juga bisa melihat keringat di wajahnya.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku terpeleset dan jatuh tadi." Helena terkekeh-kekeh seraya menggaruk rambutnya.


Lou menghela nafas. "Hah...syukurlah kalau begitu, ku kira kau diserang oleh monster."


"Mengapa kau berfikir seperti itu?"


"Habisnya aku mendengar suara teriakan mu!"


Helena akhirnya sadar. Apakah Lou datang kesini setelah mendengar teriakan ku tadi? Aduh, kasihan sekali. Ia pun merasa bersalah sebab telah membawanya.


"Maafkan aku jika aku mengkhawatirkan mu."


"Bukan Helena namanya kalau dia tidak mengkhawatirkan temannya. Hmph!" Lou membuang wajahnya kesal.


Semester itu Helena hanya terkekeh seraya meminta maaf kepadanya.


"Sudah lah, ayo kita pergi. Pekerjaan kita sudah selesai bukan?"


"Ya dan disini juga tidak ada siapa-siapa."


Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk pergi.


Tapi entah mengapa suasana di sana menjadi begitu dingin dan sunyi sepi. Kedua dengan jelas mendengar beberapa serangga malam sedang berbunyi, namun suara mereka lenyap seketika.


Lou membuka bibirnya, namun ia tutup kembali. Pada saat yang sama, Helena merasakan udara di sekitarnya terasa begitu dingin hingga bulu kuduknya berdiri.


"Kenapa suasana menjadi begitu seram."


Hal yang mereka takutkan pun datang juga.


Creak!


Dari dalam pepohonan keluar beberapa suara, awalanya mereka tidak yakin apa itu. Namun selanjutnya membuat kedua berdiri layaknya patung.


Wajah mereka mengeras, pandangan mereka terkunci pada satu titik merasakan bahwa bahaya sedang mengintai mereka.


Suara langkah kaki pun mulai terdengar.


Tap... Tap... Tap...


Cepat atau lambat mereka pun menemukan jawabannya.


"Helena... bukankah itu?"


Helena menelan air liurnya. Sesosok makhluk pendek bertubuh hijau, matanya yang berwarna kuning bersinar dalam kegelapan dan jangan lupa dengan telinganya yang panjang.


Siapa tidak mengenal makhluk mengerikan itu?


Goblin itu menyeringai, seakan-akan senang saat kedua mangsanya mengetahui kedatangannya.


"Kukukukuku!"


"Lou apa kau takut?"


"Sejujurnya, iya."


Helena akan mengatakan "Pergilah dan panggil yang lain" jika Lou berucap dengan nada bergetar. Namun, disaat ia melirik gadis itu dia tidak begitu takut dan menatap goblin di depan mereka dengan wajah waspada.


Pada saat yang sama goblin itu menjentikkan jarinya.


Tak!


Pada saat itu, suara langkah kaki terdengar dengan sangat jelas di telinga Lou dan Helena.


Namun yang membuat jantung mereka seakan berhenti berdetak ialah jumlahnya bukan satu maupun dua.


"Helena apa kau yakin jika kita dapat mengalahkan mereka?"


"Aku tidak tahu..."


Sinar kuning dari mata puluhan goblin keluar dari dalam pepohonan, menghantui mereka berdua.


Goblin pertama yang mereka temui menatap mereka dengan senyuman sinis nya.


"Lou apa kau tugas kita sebagai pengawas akademi?"


Lou menjawab. "Menjaga ketertiban dan keamanan akademi apapun bahaya yang kita hadapi."


"Jadi apakah kau dapat mengusir kekhawatiran mu sejenak dan melawan mereka?"


"Baiklah... namun aku tidak yakin."


Dengan dua melawan puluhan nampaknya tidak begitu adil bagi mereka.


Bermain curang, ye.


Goblin-goblin pun berteriak.


"KHIAKKKKKKK!!"


"Mereka datang!"


Satu per satu goblin lari dan melompat ke arah Helena.


Ia mengambil ancang-ancang, menutup matanya dan meletakkan tangan kanannya di depan dada. Ia mengambil beberapa helaan nafas.


"Bola api!"


Sebuah lingkaran sihir muncul disaat ia membuka telapak tangannya. Dari sana keluar bola-bola api dengan ukuran yang lumayan besar, meluncur dengan kecepatan tinggi.


Setelahnya terjadi ledakan dimana-mana.


Boom! Duaarrr!


Para goblin yang ingin menyerang Helena tidak bisa menghindari serangan bola api miliknya. Beberapa diantara mereka ada yang mati hangus terbakar.


Namun sayangnya sedikit dari mereka berhasil mengelak.


Helena mengernyitkan keningnya, nampaknya para goblin itu adalah goblin tingkat tinggi.

__ADS_1


"Akan sangat sulit untuk mengalahkan mereka."


Walaupun termasuk monster tingkat E, mereka sangat lah pandai dalam berburu. Goblin tingkat tinggi memiliki insting berburu yang lebih tajam dibandingkan goblin biasa.


Atmosfer di sekitar mereka perlahan berubah menjadi sangat dingin dari sebelumnya.


I-ini?


Helena melihat Lou sedang menutup kedua matanya.


Ia bisa merasakan mana mengalir ke seluruh badannya; ia sedang bersiap untuk menyerang.


"Frost Breath!"


Tubuh Lou disinari oleh cahaya biru yang terang, embun-embun es keluar dari telapak tangannya dan membuat sebuah lingkaran sihir.


Dari sana keluar asap putih dengan suhu yang teramat dingin. Itu adalah "Frost Breath" sihir es tingkat 3 yang dapat membekukan pergerakan lawan sejauh 10 meter.


"Khiakkkk!"


"KHUAKKKKK!"


Para goblin nampaknya tidak dapat menahan dingin yang menerpa tubuh mereka. Mereka menggigil disaat asap putih itu menyelimuti mereka.


Pergelangan kaki mereka perlahan membeku dan membuat mereka sulit bergerak.


"Helena serang mereka sekarang!"


"FIRE BALL!!"


Helena nampaknya tidak mau kalah dengan Lou.


Ia meluncurkan beberapa bola api namun memperbesar ukuran mereka. Alhasil, daya ledaknya akan menjadi sangat kuat.


Ledakan pun kembali terdengar.


BOOMM!! DUAARRR!!


Goblin-goblin itu hangus terbakar, mereka semua tidak bisa mengelak sebab kaki mereka membekuk.


Kemenangan berada di depan mata.


"Kalau begini jadinya kita akan menang!"


"Kau benar."


Helena dan Lou sudah begitu senang, mereka tersenyum satu sama lain sebelum senyuman mereka pudar setelah sebuah anak panah melesat di depan wajah mereka.


SLAT!!


Benda itu langsung menancap di dinding. Helena dan Lou seketika mengalihkan pandangan mereka.


A-apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah aku telah membakar mereka hidup-hidup?


Prediksi mereka salah.


Asap hitam menghilang dengan cepat setelah dibasahi oleh rintikan hujan. Pada saat yang sama kedua mata mereka terbelalak, mereka berdua harus membuang kemenangan mereka dalam-dalam.


"He-Helena...a-apa kau yakin k-kita bisa mengalahkan mereka?" Helena bisa mendengar jika Lou sudah mulai ketakutan.


Bagaimana bisa jumlah mereka bertambah? Tidak ada informasi penyerbuan baru-baru ini!


"Apakah ada dungeon di sekitar sini?"


"Aku tidak tahu...yang terpenting a-ayo kita lari!"


Helena tidak bisa melawan mereka sekarang, jumlah mereka terlalu banyak.


Beberapa diantara mereka menggunakan anak panah dan belati mengisyaratkan bahwa mereka adalah goblin tingkat tinggi. Mereka bukan lawan yang pas untuk kedua gadis itu.


"Lari!"


"Kyaaaa!! Helena!"


"KHIAKKKKKKK! KHUAKKKKK!!"


Papa goblin berteriak disaat mangsa mereka lari dan tidak ada sedikit pun rasa untuk membiarkan mereka hidup.


Semua goblin langsung mengejar kedua gadis itu, dengan panahnya mereka menembakkan anak panah mereka.


SLAT! CTAK! SLAT!


"DINDING API!"


Saat ia berlari, Helena berhenti dan langsung mengucapkan mantra apinya, membuat dinding api yang langsung membakar habis semua anak panah itu.


Mereka kembali berlari.


Sial! Sial! Sial! Bagaimana bisa aku mendapatkan bantuan di kondisi seperti ini!?


Helena seketika tersadar jika ia sedang memegang Lou. Ia menatap ke depan dan terdapat jalan di kiri mereka.


"Lou kau pergilah!"


Lou yang terkejut langsung tersungkur jatuh disaat Helena melemparnya.


"A-apa yang kau lakukan!?"


"Kita tidak bisa melawan mereka hanya dengan berdua, kau pergilah dan panggil Yang Mulia, sekarang!"


"T-tapi ba-bagaimana deng-"


"Jangan hiraukan aku!!"


Seketika percakapan mereka terputus disaat gadis itu membuat dinding api agar para goblin tidak bisa mengejar Lou.


Ia kembali berlari.


"Hey! Disini!" teriak Helena dan seketika mengalihkan perhatian para goblin.


Melihat jalan itu diblokir oleh dinding api, mereka tidak ada cara lain selain membunuh gadis di depan mereka.


Kembali dengan Lou, ia masih tersungkur di lantai. Dirinya tidak bisa lagi mendengar suara para goblin maupun Helena sekalipun.


Gawat Helena masih dikejar oleh mereka! Apa yang harus ku lakukan!?


Seketika ia mengingat kata-kata terakhir Helena saat dia mendorongnya.


"Itu benar. Aku harus meminta bantuan kepada Yang Mulia!"


Tanpa membuang banyak waktu ia bangkir dari lantai dan berlari untuk meminta bantuan.


Tunggu aku, Helena!


...[TO BE CONTINUED]...

__ADS_1


__ADS_2