
Eli mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, ia berfikir apa dia sudah meninggal saat ini dan arwahnya dikirim oleh dewa langsung ke surga. Tapi, setelah ia menampar pipinya sendiri, ia masih sadar bahwa ia masih hidup.
Didepannya kini bukan lagi dungeon yang berisikan monster dan makhluk mengerikan, melainkan seperti surga dengan air terjun mengalir dimana-mana, dan ditengah-tengah nya terdekat sebuah pohon beringin raksasa yang besarnya bisa mencapai berkilo-kilo meter jauhnya.
'Jadi ini dunia elf? Jika manusia mengetahui tempat ini pastinya akan menjadi berita besar.'
Eli menggelengkan kepalanya, ia tahu bahwa manusia sangat serakah terutama para bangsawan yang hanya memikirkan harta kekayaan. Jika manusia mengetahui tempat ini pastinya semua kekayaan alamnya akan disapu abis oleh mereka semua.
"Benar-benar surga tersembunyi."
Eli turun melalui perbukitan didepannya, ia bisa mendengar suara tertawa anak-anak kecil dari kejauhan.
Selagi berjalan, sistem pun berbunyi.
[Kau sudah memasuki Dunia Elf]
[Daratan yang langsung dibuat oleh dewi hutan suci, Iskandel. Disini darah ataupun mana mu akan pulih secara alami]
"Maksud mu jika aku terluka, aku tidak perlu repot-repot membeli health dan mana potion."
Eli tersenyum, sambil menutup layar statusnya. Didepannya kini berderet pohon-pohon hijau yang sangat rindang, bahkan ukurannya jauh lebih besar dari pohon-pohon yang ada di bumi. Ia berteduh disalah satu pohon itu sambil mengeluarkan beberapa roti yang sudah ia beli dari kantin di akademi dari dalam penyimpanan sistem.
Ia sengaja membeli banyak roti untuk perburuannya kali ini sebab pastinya ia akan berburu dengan waktu yang lama.
Krauk Krauk...
Dengan lahap gadis itu pun memakan roti-roti itu.
"Andaikan saja ini adalah rumah ku, pasti aku akan hidup bahagia selamanya."
Tiba-tiba sebuah benda yang menyerupai bola datang dan mengenai ujung kakinya. Eli dengan cepat mengambil bola itu.
'Ini milik siapa?'
"Bola ku!"
Eli tersentak disaat mendengar suara teriakan di depannya, ia mendapati seorang anak kecil berwajah imut sedang berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang.
Anak kecil itu mendekatinya tanpa rasa takut. Dari penampilannya, Eli bisa menebak kalau dia adalah seorang elf.
"Ini bola milik ku."
Ucap anak elf itu sambil menunjuk ke arah bola yang sedang Eli pegang. Ia kemudian tersenyum dan mengulurkan bola yang ada ditangannya ke anak elf itu.
"Terima kasih! Kak-"
Dengan mata besarnya, anak elf itu terus menatapi Eli.
'Apa ada yang salah dengan wajah ku? Kenapa sedari tadi ia menatap ku?'
Kemudian layar status pun muncul.
[Nama: Aimon]
[Spesies: Elf]
[***: Female]
__ADS_1
Eli terkejut ternyata ia bisa mendeteksi makhluk yang ada didepannya. Ia berfikir apa ini adalah kemampuan lain yang sistem berikan padanya, tapi setelah mengecek layar status miliknya rupanya ia tidak mendapat apapun.
"Wahhh kakak cantik sekali!"
"Ah benarkah? terima kasih, kau juga sangat imut, Aimon."
"Huh? Bagaimana kau mengetahui namaku? Apa kau bisa membaca pikiran ku? Apa kau menggunakan sihir?"
Aimon terus melontarkan pertanyaan kepada Eli, membuat gadis itu kewalahan. Kemudian ia berjongkok untuk memudahkannya berbicara dengan elf didepannya ini.
"Tidak, aku tidak bisa membaca pikiran mu. Mungkin hanya sebuah kebetulan."
Yang membuat Eli bertanya-tanya adalah..
'Apakah aku secantik itu?'
Secara tiba-tiba, Aimon menarik tangan Eli dan membawanya ke suatu tempat. Eli malah tersentak, melihat kekuatan seorang anak kecil yang bisa menarik tubuh orang dewasa dengan sangat mudah.
Aimon terus membawa gadis itu sampai keluar dari pepohonan. Eli juga dapat mendengar suara elf yang lain dari kejauhan, memanggil nama anak kecil yang sedang menariknya itu.
"Aimon kita mau kemana?"
"Aku mau memperkenalkan teman-teman ku padamu."
"Tapi, apakah tidak apa-apa?"
"Tentu saja! Mereka semua pasti akan senang bertemu dengan mu."
Eli tersenyum, ia belum pernah melihat anak kecil selincah dan seaktif Aimon sebelumnya. Apakah elf yang lain memiliki stamina yang kuat layaknya dirinya?
Para elf yang lain pun mulai mendekati Aimon.
"Kenapa kau lama sekali? Dan siapa wanita itu?"
"Aku bertemunya di dalam hutan! Dia cantik kan?"
Eli mendapatkan enam sosok elf didepannya termasuk Aimon. Mereka semua menatap gadis itu dengan wajah menerka-nerka, ada pula yang melamun melihat kecantikan wajah wanita misterius di depan mereka.
"Wah dia cantik sekali."
"Aku belum pernah melihatnya, pasti dia bukan berasal dari sini."
"Wajahnya bagaikan dibuat oleh tangan Dewi."
"Iya iya."
Eli sekarang merasa aneh kepada dirinya sendiri. Apa ada efek samping yang sistem berikan padanya? Tidak mungkin para elf terkagum-kagum hanya dengan kecantikan wajahnya.
Merasa keadaan semakin canggung, Eli memutuskan untuk angkat bicara.
"Sepertinya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Elizabeth Islan, aku adalah seorang manusia."
Ia membungkukkan tubuhnya, memberi sedikit hormat kepada mereka. Para elf itu kemudian mengangguk sebelum wajah mereka menjadi sangat kaku layaknya patung.
"Manusia?!"
Para elf itu langsung mendekati gadis itu lebih dekat lagi, bahkan sampai mengerumuni nya.
__ADS_1
"Apakah kau benar-benar manusia?"
"Bagaimana bisa kau datang kemari?"
"Apakah semua manusia sama cantiknya seperti dirimu?"
Eli menghela nafas, ia tak sanggup menerima semua pertanyaan dari mereka. Tapi, salah satu dari mereka langsung melontarkan pertanyaan yang membuat gadis itu harus menjawabnya.
"Tunggu dulu, kau bisa datang ke dunia ini dari mana?"
"Oh aku datang dari goa disebelah sana."
.
.
.
Para elf itu pun seketika bergidik, disaat gadis itu menunjuk ke arah goa yang berada diatas bukit. Pasalnya goa itu sudah lama ditutup oleh mereka, lantaran monster-monster sudah menjadikan goa itu menjadi tempat tinggal mereka.
Eli yang melihat raut wajah mereka pun segera bertanya.
"Kenapa kalian semua diam? Apa aku salah bicara?"
"Jangan bilang kau masuk lewat goa yang ada diatas bukit itu?!"
"Memang iya."
"Tapi itu tidak mungkin! Goa itu sudah lama kami tutup, dan banyak sekali monster didalam sana! Bahkan sudah ada beberapa diantara kami yang masuk kedalam sana, dan tidak datang kembali! "
Eli menyipitkan matanya.
'Apa mereka membicarakan tentang laba-laba raksasa itu?'
Para elf tidak mungkin bisa percaya, pasalnya sudah ada beberapa elf yang masuk ke sana dan tidak dapat kembali lagi. Bahkan, orang-orang kuat dari mereka sendiri pun tidak mampu untuk membunuh para monster didalam sana.
"Kalau begitu buktikan pada kami!"
Salah satu elf menunjuk ke arah gadis itu. Eli hanya menghela nafas dan kemudian membuka penyimpanan sistem miliknya. Pastinya mereka tidak akan percaya hanya dengan cerita saja. Ia pun mengeluarkan seluruh kepala monster Tarantula dari dalam inventorinya.
Para elf yang kini tidak percaya, terdiam dengan mulut mereka yang menganga. Banyak sekali kepala dari monster tarantula tertumpuk didepan mereka, masih dengan bau darah segar.
"Ka-kau membunuh mereka semua?"
"Yup."
Eli tersenyum, disambut dengan suara bahagia dari para elf itu.
Satu persatu dari mereka mengangkat tubuh Eli tinggi-tinggi dan melemparnya, tidak lupa mereka sambil berteriak...
"Pahlawan kita sudah datang!!!"
Hunter itu berfikir. Apa seperti ini cara mereka menyambut tamu yang baru saja datang? Unik sekali.
Eli hanya diam, walaupun tubuhnya masih dilempar ke udara oleh para elf itu.
...-TO BE CONTINUED-...
__ADS_1