
Jika melihat kembali ke kehidupan pertamaku, ada suatu hari dimana kehidupan ku dirundung dengan rasa teror yang menghantui ku selama beberapa bulan.
Hari dimana sebagian penduduk kehilangan nyawa mereka karna sebuah wabah mengerikan. Awalnya penyakit ini datang dari desa bernama Owikya disebelah Utara ibu kota, dimana beberapa penduduk desa di sana diam-diam telah terjangkit dan menularkannya ke ibu kota melalui kereta dagang.
Penyakit ini menyerang sistem imun tubuh dan membuat tubuh penderitanya menjadi lemah hingga tidak dapat bergerak, jika telah serius maka kematian dapat menghampiri si penderita.
Bagaimana bisa aku melupakan kejadian itu? batinku. Ini akan menjadi mimpi buruk bagi Weldemort- tidak! Lebih buruk dari itu. Wabah ini akan menyebar ke seluruh penjuru wilayah kerajaan Oregon dan mengakibatkan kematian massal yang tidak akan pernah dapat dilupakan di masa depan.
Pastinya keluarga kerajaan tidak akan tinggal diam disaat mendengar berita ini. Aku berfikir kembali. Tidak, mereka tidak akan sampai berbuat sejauh itu.
Keluarga kerajaan tidak akan segan untuk membuang seluruh rakyat desa Owikya, jika wabah ini tidak dapat dikendalikan.
"Ini sulit sekali." gumamku.
Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku tidak boleh terlihat terlalu jelas, sebentar lagi aku akan ikut serta bersama Mary dan lainnya untuk menaklukkan dungeon tingkat A. Pada saat itu, aku perlu menyembunyikan kekuatan ku.
"Jika tidak..." gumam ku. Aku hanya akan menjadi alat bagi sebagian orang.
"Kakak!"
Tiba-tiba, sebuah suara membangunkan ku. Aku menatap kesamping dan mendapati bahwa Rudy menatap ku dengan cemas, ia memegang ujung baju sekolah ku. Aku pun menghela nafas. "Hah...."
"Kenapa kakak melamun saja? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"
"Tidak ada sama sekali, Rudy." ucap ku, berbohong kepadanya
"Kakak payah dalam berbohong! Kalau tidak ada, terus mengapa kau berfikir terlalu keras sampai-sampai kau tidak mendengar jika aku telah memanggil namamu beberapa kali."
"O-Oh benarkah? Ma-Maafkan kakak kalau begitu."
Pada titik ini aku mengalah. Aku tidak menganggap Rudy adalah anak kecil yang bodoh ataupun lugu, dia berbeda dari anak kecil seumurannya. Kehidupannya yang begitu keras pastinya telah merubah pola pikir dari anak kecil ini. Namun aku bersyukur jika ia tidak sampai menjadi kriminal di usia dini, banyak anak jalanan yang berakhir menjadi pencopet ataupun pencuri.
"Kakak tidak perlu khawatir!" ucapnya, tersenyum kepada ku. "Aku yakin bahwa ibu ku akan sembuh sebentar lagi."
Pastinya, ibu Rudy adalah wanita yang sangat beruntung. Ia beruntung telah mendapatkan anak seperti Rudy, dia begitu jujur dan baik hati.
"Semoga Dewa menjawab doa mu, Rudy."
Melihat Rudy yang tersenyum dengan remah-remah roti di bibirnya tidak membuat diriku lepas dari pikiran ku. Akankah dia akan tersenyum kembali jika kemalangan akan menimpa ibunya? Apa yang tejadi jika ibunya- tidak! Aku tidak boleh berfikir seperti itu. batin ku.
Kemudian aku sadar bahwa aku masih memiliki roti yang belum ku makan di tangan ku, aku langsung memakannya. Madu dan Anggur yang mengalir di lidah ku seakan membuat tubuhku menjadi berenergi kembali.
Ah... Ini begitu enak! Tidak mungkin bangsawan bisa merasakan makanan seenak ini. Mereka biasanya tidak memakan makanan yang dibuat oleh rakyat jelata, masakan mewah akan menjadi santapan sehari-hari dan sarapan bagi mereka.
Namun seketika sebuah ide melintas di otak ku. "Rudy." panggi aku kepada Rudy.
"Ya?"
"Bagaimana kondisi ibu mu baru-baru ini?" tanya ku padanya. Akan lebih baik jika menanyakan kondisi ibunya sekarang.
"Untuk sekarang dia hanya batuk-batuk saja, namun badannya mudah sekali lelah. Demamnya juga belum sepenuhnya turun."
Jika ibunya memiliki sedikit uang setidaknya ia bisa membeli sebuah ramuan penyembuhan. Namun ramuan di kerajaan Oregon masih terbilang belum cukup ampuh bahkan untuk mengobati Basilisk Fever sekalipun, tapi itu dapat menghambat sedikit gejala yang diidapnya.
Ramuan penyembuhan dengan tingkat penyembuhan tinggi pun harganya sangat tinggi dan sangat sulit menemukan orang yang menjualnya. batinku merana.
"Apakah ibumu sering keluar dari rumah?"
"Tidak, dia tidak sering keluar rumah. Bahkan aku belum pernah melihatnya berkunjung ke ibu kota."
"Belum pernah?" ucap ku dengan tanda tanya, Rudy mengangguk.
Rasa penasaran ku meningkatkan, memikirkan sifat dan rupa dari ibunya Rudy. Haruskan aku menemuinya dan melihat kondisi kesehatannya?
"Rudy."
Ia menatap ku. "Iya?" ucapnya, mengigit roti itu tatkala pandangannya masih terkunci ke arah ku.
Imutnya.
"Apakah rumah mu jauh dari sini?"
"Sebetulnya begitu, desa Owikya berjarak sekitar 2 setengah kilometer dari ibu kota Weldemort. Jadi setidaknya butuh 25 menit untuk sampa ke sana."
__ADS_1
Aku tidak habis pikir dengan anak ini. Apakah dia menghabiskan 25 menit hanya untuk berjalan kaki dari Owikya ke Weldemort untuk mengemis dan mencari uang? Jarak itu bukanlah hal yang sanggup di jangkau bagi anak seumurannya.
"Apa kau tidak capek?"
"Apanya? Berjalan kaki dari rumah ke sini? Tentu saja tidak!"
"Kau kan masih kecil." ucap ku, seakan-akan aku tidak percaya. "Bocah seperti mu mana mungkin bisa berjalan sejauh itu."
Aku melirik sejenak kepadanya, ia terlihat begitu cemberut disaat aku mengatakan hal itu kepadanya. Tidak ada salahnya merayu anak kecil berumur 8 tahun.
Ia berkata dengan nada mengejek. "Kau menantang ku?" Ia melompat dan berdiri dengan pose kedua tangannya ia letakkan di pinggang.
"Aku bisa mengalahkan mu dalam lomba berlari jika kau mau."
"Sungguh?"
"Kau pikir aku berbohong!?"
"Okay okay aku percaya padamu. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya apakah aku dapat berkunjung ke rumah mu?"
"Hah?" Ekspresinya kini berubah drastis, ia tidak lagi cemberut seperti tadi namun menatap bingung ke arah diriku. Ia melirik ke kaki ku sebelum pandangannya berjalan ke atas, pandangan kami bertemu.
"Apa ada yang salah?" tanyaku, selagi ia masih diam tak bersuara. Nampaknya mengunjungi rumahnya adalah ide yang buruk.
Namun sebelum aku berfikir lebih jauh, Rudy pun bersorak. "Tentu saja!"
"Kapan kau akan berkunjung ke rumah ku?"
Aku berfikir lagi. Aku tidak dapat menyibukkan diriku untuk hal di luar sekolah, jika aku meninggalkan kelas lagi maka akan menjadi masalah besar bagiku. Kepala sekolah pastinya tidak akan tinggal diam dan tidak segan-segan untuk memanggil kedua orang tua ku, walaupun mereka bukan orang tua asliku.
"Bagaimana dua hari dari sekarang? Aku tidak bisa meninggalkan kelas sama sekali, sebentar lagi akan ada ujian sekolah. Jadi aku harus banyak belajar." ucapku.
"Tidak apa-apa, terus dimana kita akan bertemu?"
"Di sini."
"Maksudmu di alun-alun kota?"
"Baiklah." ungkap Rudy tanpa menolak sedikit pun.
"Kalau begitu, apa kau dapat menemui ku di sore hari di depan gerbang pintu masuk akademi sihir?"
"Maksudmu bangunan besar dan tua yang berdiri di sebelah sana?" Rudy menunjuk ke belakang ku, dimana akademi sihir dapat terlihat jelas dari sini. Tidak ada salahnya pula baginya untuk menyebut bangunan itu "tua" sebab akademi ini telah berusia sekitar ratusan tahun.
"Benar."
"Untuk apa? Lagi pula para penjaga akan langsung mengusirku."
Ah, aku tidak memikirkan itu. Orang asing yang mencoba masuk akan langsung diusir dari sana, apalagi anak kecil. batinku. Bagaimana caranya agar aku dapat memberinya barang-barang itu? Seketika muncul sebuah ide di kepalaku.
"Baiklah, kau tunggu aku di seberang gerbang. Aku yang akan keluar dan langsung menemui mu, ada hadiah yang ingin ku berikan pada mu."
"Hadiah??"
"Itu benar, apa kau mau?"
"Tentu saja aku mau! Kalau begitu aku akan menemui sore nanti ya!"
Rudy seketika berbalik dan mengambil keranjang rotinya. Ia mengambil beberapa langkah kebelakang sebelum berlari menuju ke sebuah jalan.
"T-tunggu- Hah... dia sudah pergi."
Tubuhnya dengan cepat menghilang di balik bangunan dan keramaian. Untuk anak sekecil dia, stamina yang ia miliki sangatlah kuat. Aku beralih menatap kosong ke atas langit, hari ini cerah dan tidak ada awan hitam sama sekali di atas sana. Tidak mungkin aku mengaitkan hal biasa seperti ini dengan suatu hal yang akan terjadi masa depan.
Percuma jika aku mengharapkan sesuatu akan terjadi.
Namun takdir telah berada didepan mataku. Tidak lama lagi seekor burung akan lepas dari sangkarnya.
...***********...
"Ini salah mu tahu!"
"Kenapa kau terus menerus menyalahkan ku?"
__ADS_1
"Habisnya karna ulah mu kita sampai ditinggalkan oleh Elizabeth tahu!"
"Hah... Daripada kau terus menyalahkan ku, lebih baik kita cari Elizabeth sekarang. Lagi pula jam istirahat sudah hampir berakhir."
Florence dan Samuel belum selesai dengan pertengkaran mereka. Masing-masing dari mereka tidak mau mengalah dan masih menyalahkan satu sama lain. Percuma mereka mencari solusi, yang ada solusi itu akan menyulut pertengkaran mereka lebih buruk lagi.
"Hah... Bagaimana kita mencarinya?" ucap Samuel dengan nada lelah. Ia telah berjalan cukup lama dengan Florence disampingnya, mencari temannya yang telah pergi meninggalkan mereka berdua.
Mereka sudah mencari Elizabeth kemana-mana, namun hasilnya tetap saja nihil.
"Apa kau menemukannya?" tanya Florence, menatap ke sekeliling area.
"Tidak sama sekali. Terlalu banyak orang, aku tidak bisa melihat Elizabeth dimana pun."
"Kita telah mencarinya sedari tadi dan aku belum makan siang. Ini semua salah mu!" Seketika Florence menjerit dan menunjuk kasar kepada Samuel.
Tentu saja, pria itu terbelalak melihat kelakuan gadis yang berada di depannya. Samuel sampai berfikir keras. Bagaimana bisa dirinya berdampingan dengan seorang iblis menjengkelkan di sampingnya? Kalau saja Elizabeth berada disini, pasti ia bisa menjadi tameng bagi dirinya. Namun Samuel tetap teguh dan tidak ingin menyulut api diantara mereka berdua.
"Terus dan terus saja menyalahi ku. Kalau kau lapar lebih baik kita mencari makan, ayo!"
"Hmph!"
Florence hanya membuang muka, namun tidak lama. Ia membuka matanya dan sesuatu pun menarik perhatiannya. Namun disaat ia melihat apa yang ia lihat, mulut terbuka lebar dengan firasat buruk yang mungkin saja akan terjadi.
"Samuel! Samuel!"
"Apa lagi? Kau masih marah padaku?" tanya Samuel dengan malas.
"Bukan itu! Lihat itu!" Florence berusaha keras untuk membawa pandangan Samuel ke arah yang ia tunjuk.
Akhirnya ia pun membalikkan wajahnya dan melihat ke arah yang Florence tunjuk. Sungguh ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat, mulutnya pun itu terbuka lebar disaat pertama kali melihatnya.
"Bukankah itu Pangeran Alexander dengan Ellise?"
Kedua sosok yang saling bercengkrama itu pastinya tidak salah lagi adalah mereka. Mereka berdua tidak mungkin lupa dengan rupa gadis yang sering bertengkar dengan Elizabeth dulu. Ellise tanpa segan memeluk lengan Alexander, namun pria itu pun nampaknya tidak sungkan jika gadis itu memeluk lengannya. Apalagi setelahnya keduanya tertawa riang satu sama lain.
"Apa yang mereka lakukan disini?" tanya Florence, menyembunyikan dirinya agar tidak ketahuan.
Samuel memerhatikan gerak-gerik kedua orang itu, hingga ia berfikir. Mengapa Alexander menghabiskan waktu bersama musuh bebuyutan Elizabeth? Apakah terdapat hubungan khusus diantara mereka berdua? Tidak! Itu tidak mungkin.
Namun apa yang mereka lihat sekarang? Alexander yang notabene nya adalah tunangan dari teman mereka, Elizabeth, dan sekarang dengan mata kepala mereka sendiri ia sedang berjalan berduaan dengan musuh dari teman baik mereka.
Apa-apaan ini? batin Samuel. Apa yang dipikirkan oleh pangeran Alexander? Apakah ia tidak tahu jika ia telah bertunangan dengan Elizabeth. Mengapa ia bermesraan dengan wanita lain dan.... Mengapa harus Ellise?
"Tidak bisa dibiarkan." bisik Florence sambil berdecak geram, menatap kesal ke arah mereka berdua. "Bagaimana bisa ia berhubungan dengan wanita lain sedang ia telah bertunangan dengan Elizabeth!? Apakah ini alasan mengapa sikap Elizabeth sedikit berubah dari biasanya!? Tidak akan ku biarkan!"
Dengan amarah, Florence mencoba untuk melabrak kedua sejoli itu. Namun seketika Samuel menarik lengannya dan membawanya lagi ke posisi semula. "Ah!" Sontak ia berteriak disaat pria itu menarik lengannya secara paksa hingga ia hampir terjatuh.
"Apa yang kau lakukan!?"
Florence langsung menatap geram ke arah Samuel. Tentu saja ia merasakan sakit saat pria itu menariknya, namun apa yang ia dapatkan? Disaat mata mereka bertemu, pandangan Samuel tidak jauh bedanya dengan dirinya. Ia pun menatapnya dengan geram seakan-akan sedang menahan amarah. Namun beberapa detik kemudian semua kerutan di wajahnya mengendur, terlihat jauh lebih tenang dari yang tadi.
Samuel menggeleng. "Tidak.." ucapnya singkat dan dilanjut. "Kita tidak boleh ikut campur dalam urusan teman kita sendiri. Aku tahu jika kita berdua merasakan hal yang sama di dalam diri kita. Sedikit saja percikan api yang menyala, kita akan berada dalam masalah besar. Ketahuilah siapa Ellise, kita tidak ada kekuatan untuk melawannya."
"Tapi-"
Perkataan Florence ditahan oleh Samuel yang langsung menutup mulut gadis itu dengan tangannya.
"Lebih baik kita pergi dari sini dan lupakan apa yang kita lihat. Jika kau ingin Elizabeth tidak mendengar kejadian ini, maka... tutup saja mulut mu."
Florence bisa merasakan hal yang sama dalam diri Samuel. Berbeda dengan dirinya, dia begitu berani dan tidak segan untuk berdiri di depan orang yang lemah, tidak peduli terluka atau tidak. Ia dapat memahami maksud dari perkataannya, jika saja Samuel tidak menahannya pasti sebuah tamparan akan melayang di pipi Ellise begitu juga dengan Alexander, yang pada akhirnya akan memicu masalah yang lebih besar.
Akhirnya ia mengalah. "Kau benar." ucapnya setelah menyingkirkan tangan Samuel.
"Lebih baik kita pergi saja dari sini."
"Baiklah. Lupakan saja semua kejadian ini, okay?"
Okay."
Mereka berdua pun pergi dengan hati-hati agar tidak terlihat oleh kedua makhluk itu.
...[To be Continued]...
__ADS_1