Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 7


__ADS_3

Elizabeth terus mengikuti kemana pemuda itu membawanya.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai disebuah ruangan.


Eli mengernyitkan keningnya saat melihat papan nama ruangan itu.


"Untuk apa kau membawa ku kesini?"


Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan Eli, ia dengan cepat membuka pintu ruangan didepannya.


Pemuda itu bersuara.


"Hei, kalian semua kemari lah!"


Eli tidak tahu siapa yang pemuda itu panggil, yang ia tahu saat pemuda itu berteriak, ia bisa mendengar ada suara seseorang dari dalam sana.


"Ada apa, James?"


Muncul seorang pemuda lagi dari dalam ruangan itu, matanya langsung tertuju pada Eli yang menatapnya dengan dingin.


"Siapa gadis ini?"


"Akan aku bicarakan didalam, kau masuk lah."


Setelah kedua pemuda itu masuk, kini giliran Eli yang masuk ke dalam ruangan itu. Ia terkejut karna bukan hanya ia saja yang ada di dalam sana.


Ada dua orang gadis di ruangan itu, ditambah dengan kedua pemuda tadi menjadi empat orang.


Eli bertanya kepada pemuda yang bernama James tadi.


"Siapa kalian ini?"


"Kami adalah sebuah tim berburu."


Eli kembali bertanya.


"Jadi ada urusan apa kau membawa ku kesini?"


James menelan air ludahnya setelah diberi tatapan dingin oleh Elizabeth. Ketiga temannya juga menatap dirinya dengan raut wajah bingung.


Seorang gadis lainnya yang rambutnya dikepang bergumam didalam hati.


'Kenapa kau membawa gadis ini kesini?'


"Aku ingin kau membantu kami dalam menyelesaikan misi perburuan terakhir kami."


Ketiga temannya terkejut mendengar perkataan pemuda itu, dalam hati Eli sendiri terkejut mendengarnya.


"Tunggu, James kenapa kau tiba-tiba mengajaknya untuk membantu menyelesaikan misi kita?"


"Benar, bukankah kita berempat saja sudah cukup untuk menyelesaikan dungeon itu!"


Eli menangkap salah satu kata yang diucapkan oleh gadis berambut hitam legam dengan rok selutut miliknya itu.


'Apa yang ia bilang? Dungeon?'


"Aku tidak ada pilihan lain! Kita berempat tidak lebih dari pemburu peringkat D, kalau kita masuk ke dungeon itu tanpa berfikir panjang pastinya keselamatan kita akan terancam!"


Eli mulai tertarik dengan arah pembicaraan ini, ia berjalan mendekati pemuda itu.


"Permisi, kau bilang dungeon?"


"Ah iya, minggu ini kami menerima tugas dari masing-masing guru untuk melakukan misi perburuan, tentunya ini untuk nilai tugas akhir kami."


Raut wajah pemuda itu kini berubah menjadi sedikit lebih serius.


"Kami sudah melakukan perburuan ke empat dungeon yang berbeda, tapi dungeon yang telah kami jelajahi hanya memiliki peringkat E. Jadi, untuk mendapatkan nilai yang tinggi kami semua ingin menjelajahi sebuah dungeon dengan peringkat yang lebih tinggi dari dungeon-dungeon sebelumnya."

__ADS_1


Ia berhenti bicara dan dilanjutkan oleh teman nya.


"Hanya ada satu dungeon lagi yang harus kami selesaikan, dan dungeon itu setidaknya berada diperingkat A."


Eli mengangguk paham, baginya ini merupakan sebuah kesempatan untuk menambah kekuatan. Tapi, yang membuat ia bertanya-tanya adalah kenapa mereka berempat memilih dirinya dan bukan orang lain.


Seorang gadis berambut hitam legam tadi mulai mengambil alih pembicaraan.


"Oh iya aku lupa memperkenalkan diri, namaku Mary, ini Ellie, dan kedua pemuda itu adalah James dan Thomas. Aku juga merupakan teman dekat Ellise."


Eli hanya menatap dingin gadis itu, jika ia adalah teman dari Ellise pastinya ia sudah mengetahui sedikit tentang dirinya. Dan itu sama sekali tidak membuat dirinya takut.


"Kau dan Ellise mungkin bermusuhan, tapi aku jauh berbeda dengan dirinya."


"Tidak perlu banyak bicara, katakan saja kenapa kalian memilihku untuk bergabung dengan kalian?"


Tidak ada yang berani bertanya saat itu juga.


"Apa ini tentang kejadian yang menimpaku kemarin?"


Prediksi Eli memang benar, informasi tentang dirinya tersebar begitu cepat, mungkin hampir seluruh orang di akademi sudah mendengarnya. Ia hanya tidak peduli jika ada asumsi buruk yang ia dengar tentang dirinya.


Melihat keadaan semakin canggung, Mary dengan cepat membuka suara. Ia juga tahu bahwa Elizabeth dan Ellise sudah lama bermusuhan, jadi kemungkinan Eli juga menyimpan benci kepada teman-teman Ellise, termasuk dirinya.


"Sepertinya begitu, tapi aku minta maaf jika ada kata-kata yang menganggu mu."


Eli tidak peduli, ia hanya menunggu alasan mengapa ia dilibatkan dalam hal yang ia anggap menguntungkan ini.


"Baiklah baiklah, aku mengerti, katakan saja kapan perburuan nya dimulai."


"Kau akan ikut?"


"Iya."


Keempat orang itu mengucap syukur didalam hati mereka. Terutama James yang merupakan kapten dari tim berburu itu, ia sekarang tidak perlu risau tentang kekurangan orang dalam tim nya lagi.


"Kami akan melakukan perburuan di hari esok. Untuk surat izin kau tidak perlu khawatir, kami akan membuatkannya untuk mu."


Eli mengangguk, dan segera ingin meninggalkan ruangan itu.


Ia berbalik sebentar.


"Terima kasih karna telah melibatkan ku dalam perburuan ini, aku senang melakukannya."


Ia langsung keluar dari ruangan dan meninggalkan tim berburu itu dengan wajah terkejut mereka.


"Hei apa benar dia Elizabeth, tunangannya pangeran Alexander?"


"Sepertinya benar."


Mary menutup mulutnya, ia masih tidak percaya jika orang yang ada didepannya tadi adalah putri Elizabeth. Ia mengenal betul hadis itu dari temannya Ellise.


Ia mengenal Eli karna sifatnya yang cerita dan mudah bergaul, tapi entah mengapa hari ini gadis itu lebih dingin dan menyeramkan dari biasanya.


****


[Item: Key of Wonderland]


Eli memegang salah satu kunci yang ia dapatkan dari perburuannya kemarin.


Kunci itu tidak memiliki peringkat, bahkan Eli juga dibuat kebingungan karna sistem tidak menunjukan peringkat dari kunci itu.


[Item Class: ???]


Eli berulang kali mengecek tapi hasilnya tetap saja sama. Jika sistem sendiri tidak dapat mengukur peringkat dari kunci itu, Eli berfikir kemungkinan dungeon yang akan ia kunjungi berada diperingkat S.


Setiap dungeon berbeda-beda, tergantung dari besar kekuatan masing-masing dungeon.

__ADS_1


'Jika prediksi ku benar ini adalah kunci menuju dunia dengan tingkat kesulitan tinggi, maka aku tidak boleh lengah.'


Ketika sedang berjalan ia tidak sengaja berpapasan dengan kedua temannya baiknya, Florence dan Samuel.


Florence menyapa Eli dengan girangnya.


"Elizabeth, bagaimana keadaan mu?"


Tanya gadis itu dengan nada khawatir.


Eli tidak heran jika mereka berdua sangat khawatir tentang dirinya. Eli, Florence, dan Samuel adalah sama-sama teman masa kecil dan sudah banyak sekali pengalaman yang mereka rasakan bersama.


Eli berkata.


"Aku baik-baik saja."


"Kau tahu, kami berdua sangat khawatir tentang dirimu!"


Eli tersenyum dan sedikit tertawa disaat Samuel mulai mengomeli dirinya.


"Iya iya aku minta maaf."


"Setidaknya mintalah bantuan kami, jika kau terluka maka kami berdua akan sedih."


Eli tidak ada cara lain, hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka berdua.


Tidak lama lagi disaat ulang tahu Florence diselenggarakan akan ada beast yang lepas dan menyerang ke kediamannya. Ingatan itu masih teringat jelas di pikiran Eli, dan itu membuatnya merasa trauma.


'Kali ini pastinya akan berbeda.'


"Aku tahu, maaf telah membuat kalian semua khawatir."


"Sudahlah, ada hal lain yang ingin aku katakan padamu."


"Apa itu?"


Florence tersenyum sebelum membuka suara.


"Beberapa hari ke depan aku akan merencanakan perayaan hari ulang tahunku."


Ucapannya membuat Eli terkejut, baru saja ia memikirkan insiden itu dan Florence sudah membahasnya lagi.


Eli mengetahui bahwa beast yang masuk dan menyerang ke kediaman Florence adalah beast dengan peringkat lebih tinggi. Walaupun ia sudah mengalahkan beast peringkat S di perburuannya kemarin, ia tidak ingin kedua temannya ini mendapat sedikit goresan kecil dari beast itu.


"Kau akan datang kan, Elizabeth?"


"Pastinya, bagaimana mungkin aku tidak datang ke pesta ulang tahun teman ku sendiri."


Florence tertawa disaat gadis itu mengelus kepalanya.


Samuel yang berada di samping mereka merasa cemburu melihat Florence mendapat perlakuan lebih dari Elizabeth.


Eli yang melihat raut wajah pemuda itu seketika tertawa keras.


"Ada apa dengan wajah mu itu, Samuel?"


"T-tidak ada apa-apa kok."


"Apa kepala mu ingin ku elus juga?"


Eli tidak henti-hentinya menggoda teman pria nya itu, pipi Samuel kini bersemu merah.


'Ah dia benar-benar lucu'


Menghabiskan waktu luang bersama mereka berdua membuat hati Eli sangat senang. Ia mendapat satu alasan lagi untuk menjadi kuat, yaitu melindungi orang-orang yang ia cintai.


Eli tertawa bersama mereka setelah itu.

__ADS_1


...-TO BE CONTINUED-...


__ADS_2