Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 12


__ADS_3

Malam hari masih berlanjut dengan tenang di Akademi Sihir, Strapelts, dimana para siswa dan siswi sudah terlelap dalam tidur mereka di asrama masing–masing.


Beberapa diantara mereka masih terjaga termasuk Alexander.


Ia bersama siswa dan siswi lainnya berkumpul di ruangan Pengawas Akademi. Memiliki jabatan sebagai Kepala Pengawas sekaligus Putra Mahkota, membuat dirinya disegani oleh banyak orang bahkan masyarakat.


"Apakah sudah tidak ada yang tertinggal?" Beberapa dokumen ia ambil dari dalam laci meja kerja miliknya. Ia duduk di kursi dan menatap beberapa rekan timnya.


Jumlah mereka ada lima, termasuk Alexander. Walaupun umumnya jabatan sebagai Pengawas Akademi dikerjakan oleh kaum laki-laki, tetapi terdapat dua orang gadis di dalam tim itu.


"Sudah, Tuan Alexander.", ucap gadis itu seraya mengambil posisi siap di tempat. Ketiga rekan tim lainnya berdiri tepat di samping kiri dan kanannya, dengan kata lain ia berdiri di tengah.


"Baguslah, kalau begitu aku akan menjelaskan tugas kita hari ini."


Alexander bangkit dari kursi dan berjalan menuju mereka berempat. Ia juga membagikan dokumen yang ia ambil dari dalam laci meja. Dokumen itu setidaknya hanya berisi daftar nama dan poin.


Setelah itu ia berdiri di depan meja kerjanya.


"Hari ini, seperti biasa kita akan melakukan patroli di malam hari. Selain itu, dokumen yang ku berikan adalah daftar nama siswa dan siswi yang beraktivitas di malam hari. Jika mereka keluar di malam hari tanpa seizin guru ataupun pengawas, maka tulis nama mereka di atas kertas dan berikan poin yang sudah ditentukan. Apa kalian semua paham?"


"Siap, kami paham!"


Kegiatan ini wajib di lakukan oleh mereka, setidaknya untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.


Pada jam enam sore biasanya siswa diperbolehkan untuk lalu lalang di sekitar akademi. Tapi, setelah lewat jam setengah tujuh maka siswa sudah tidak diperbolehkan untuk keluar berlalu-lalang.


Jika mereka ingin pergi ke suatu tempat di akademi ini, biasanya mereka harus meminta izin kepada pengajar ataupun pengawas akademi.


"Baiklah, kalau begitu jalankan tugas kalian!"


Setelah memberikan arahan, keempat rekan timnya langsung keluar dari ruangan dan berpencar. Mereka langsung berjalan dan berpatroli menelusuri setiap tempat di akademi.


Alex menghela nafas sejenak dan termenung. Setelah kegiatan seharian ini, ia sering merasa begitu lelah.


"Hah.... lelah sekali. Kenapa tubuhku terasa lebih capek dari biasanya?"


Ia kembali duduk ke kursinya dan membanting punggungnya agar dapat bersandar.


Baginya, menjadi putra mahkota dan pengawas akademi dalam waktu yang bersamaan adalah hal yang sangat menyakitkan. Ia harus belajar dan melakukan tugasnya sesuai dengan jabatan yang ia miliki. Ini adalah pekerjaan sangat berat.


Dalam umurnya yang akan menginjak enam belas tahun, Alex sudah dituntut begitu banyak hal oleh kedua orang tuanya.


Ditambah hubungannya dengan Elizabeth kian memburuk; gadis itu seakan-akan terus menjauh darinya.


"Sebenarnya... apa yang kau inginkan Elizabeth?" Alex bergumam.


Ia tidak mengerti sama sekali apa yang sudah terjadi dengan Elizabeth. Disaat ia ingin menemuinya hanya tatapan dingin dan raut wajah jijik yang ia dapatkan dari gadis itu. Siapa yang tidak sakit jika diperlakukan seperti itu?


Alex terus menerka–nerka, apakah dia telah muak dengan pertunangan mereka berdua.


"Ya, masuk akal juga." Alex tidak membantah ide itu.

__ADS_1


Mereka melakukan pertunangan secara politik. Keluarga Elizabeth termasuk bangsawan dengan kekayaan yang begitu melimpah, tidak heran jika Raja ingin sekali menjalin hubungan dengan mereka. Pertunangan ini terjadi secara tiba-tiba. Jadi ada masuk akalnya juga jika Elizabeth tidak menginginkan untuk menikah sejak awal.


"Tapi... ini aneh. Sejak awal hubungan kami baik-baik saja, kenapa sekarang dia berubah begitu cepat?"


Susah untuk menebak sifat seorang wanita bagi seorang pria. Sebab, perilaku apapun yang dilakukan oleh mereka, akan menimbulkan tanda tanya bagi para pria.


"...Huh... apa yang harus aku lakukan?", ucap Alex sambil menggebrak meja. Jarum jam terus berputar, malam hari terus berjalan dan Alex pun harus segera menjalankan tugasnya.


Jadi ia bangkit dari keterpurukannya dan berjalan menuju daun pintu. Sebelum ia menarik gagang pintu itu, sebuah ketukan pun terdengar.


Tok.. tok.. tok..


Alex pun tidak ada cara lain, selain membuka pintu itu untuk melihat siapa yang berkunjung ke ruangannya.


Setelah terbuka, ia pun terkejut.


"Hai, Pangeran Alexander. Selama malam."


Wajah gadis yang tidak begitu ia kenal, tetapi ia kenal. Berambut merah begitu pula dengan warna matanya. Dia adalah gadis yang sering bertengkar dengan Elizabeth kapanpun mereka bertatap muka.


"Ada apa, Ellise? Bukankah kau sudah tahu jika sudah larut malam?"


"Fufufu... apakah aku tidak bisa mengunjungi tunangan dari teman baikku, Elizabeth? Lihatlah! aku sudah susah payah membawakan satu buah keranjang penuh berisikan kue dan manisan."


Mendengar gadis di depannya berbicara dengan nada imut, seakan membuat seluruh tubuh Alexander bergidik.


Sejujurnya, ia tidak tahu sama sekali bagaimana hubungan Elizabeth dengan Ellise terjalin. Dengan pertengkaran yang sering terjadi, ia berasumsi bahwa mereka adalah teman rival yang sedang mengejar sesuatu yang mereka benar-benar inginkan.


Alex menyadari bahwa ia harus melaksanakan tugasnya, yaitu melakukan patroli malam.


Tapi Ellise seketika menutupi jalan keluar dengan tubuhnya sehingga Alex masih berdiri di daun pintu.


"Bisakah kita berbicara sejenak?"


"Sudah ku bilang aku tidak punya waktu untuk melayani mu. Aku sedang sibuk."


"Ayolah, lagi pula sudah sejak pagi kau terus belajar dan menjalankan tugasmu sebagai pengawas akademi." Tanpa diberi arahan Ellise masuk ke dalam ruangan, membelakangi Alex yang masih berdiri di depan pintu. Ia menaruh keranjang yang ia bawa, juga mengeluarkan beberapa lusin manisan dari dalamnya.


Alex menepuk wajahnya. "Apa kau tidak punya sopan santun?"


Ellise tidak bergeming sedikitpun dari atas kursi, ia hanya duduk seraya tersenyum kepada Alexander. Tangannya dengan cepat mengambil teko kecil yang berisikan teh dan menuangkannya ke dalam cangkir yang telah ia sediakan.


"Duduklah dan nikmati hidangan manis yang sudah ku buat."


Melihat manisan dan kue yang berjejer di atas meja, perut dia pun berbunyi.


"Sial! Kenapa kau harus berbunyi di keadaan seperti ini?!"


Sejak siang, Alex belum menghabiskan makan siangnya. Ia terlalu sibuk, bahkan untuk mengisi perutnya saja ia tidak memiliki banyak waktu. Ia pikir tidak apa-apa jika ia beristirahat sejenak dan menikmati manisan bersama Ellise.


"Lagipula ada mereka berempat... setidaknya ini bisa meringankan tugasku."

__ADS_1


"...Hah.. tapi aku tidak bisa menghabiskan waktu bersama mu lebih lama, Ellise. Jika kau ingin berbicara maka berbicara lah dengan cepat."


"Fufufu... kau tidak perlu risau. Aku tidak akan berlama-lama."


Akhirnya, dengan wajah menyerah Alexander pun kembali duduk di kursinya. Dimana Ellise mengulurkan beberapa lusin kue di depannya. Beberapa diantaranya adalah kue kesukaannya, Alex berfikir, darimana Ellise tahu makanan kesukaannya adalah kue lapis madu yang diberi irisan buah segar di atasnya?


"Lucu sekali... apakah Elizabeth memberitahu mu jika makanan kesukaan ku adalah kue lapis madu?"


"Huh? Elizabeth memberitahu ku? Hahahaha... maafkan aku Pangeran. Elizabeth adalah tunangan mu, dan apa kau tahu? Dia begitu protektif jika seseorang menanyakan tentang dirimu. Kau tahu bukan jika aku dan dia sering bertengkar setiap kali bertemu?"


Ellise mengambil cangkir yang berisikan teh dan dengan anggunnya ia menyeruput teh itu.


Alex hanya berdiam diri, menopang dagunya dengan tangan kirinya; ia mengambil beberapa kue dan langsung memakannya.


Kue itu terasa begitu manis di dalam mulutnya, Alex terkesima. Ia tidak menyangka jika kue yang Ellise buah begitu lezat dan lembut.


"Manis... dan tekstur nya begitu lembut."


Alex mengambil kembali beberapa potong kue dan langsung ia makan.


Ellise melirik sejenak ke arah Alexander, melihat pria itu memakan kue buatannya dengan lahap ia pun tersenyum. Ia tidak menyangka jika rencananya untuk mendekati Alexander akan begitu mudah. Semua ini ia lakukan agar dapat menghancurkan hubungan Alexander dengan Elizabeth.


"Bagus... jika aku menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Alexander, pastinya hubungan kami berdua akan menjadi lebih dekat! Fufufu... ini berjalan sesuai rencana ku."


Ellise menaruh cangkir yang ia pegang dan memperhatikan Alexander yang sedang memakan kue dengan sekali suap.


Imutnya...


Gadis itu tersenyum dan tertawa dalam hatinya. Sudah lama sekali ia menantikan hari ini akan terjadi, jika saja ia bisa meyakinkan Alexander bahwa ia mencintainya, maka ia akan sangat bahagia.


Tapi, ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan, yaitu menyingkirkan Elizabeth.


Ellise sudah mempersiapkan rencana liciknya jika tiba-tiba ia bertemu dengan Elizabeth. Walaupun rencananya terlihat begitu sederhana, tapi ia memerlukan alibi yang begitu kuat agar meyakinkan Alexander jika Elizabeth melukainya.


"Dan setelah itu... aku tinggal menunggu waktu yang tepat sampai dia membatalkan pertunangannya dengan Elizabeth. Hahahaha! Ellise kau memang hebat!"


Ellise tidak sadar jika tingkah lakunya diperhatikan oleh Alexander sejak tadi.


Disaat mata mereka bertemu, Ellise pun berpura-pura batuk dan memperbaiki posisi duduknya lagi.


"Ekhmm... maafkan aku Pangeran. Ada hal lucu di benakku yang sampai saat ini masih ku pikirkan."


"Nampaknya hal itu begitu lucu? Bisakah aku mengetahuinya?"


Ellise tersenyum aneh.


"Sial! Aku harus membuat pembicaraan ini semenarik mungkin. Jika tidak, bisa kacau rencana ku!"


Yang Ellise lakukan hanyalah mengada-ada suatu hal dan ia ceritakan kepada Alexander dengan narasi yang begitu menarik. Membuat pria itu tertawa dan tenggelam dalam pembicaraan mereka berdua. Alex nampaknya tidak sadar dengan topeng yang Ellise kenakan selama pembicaraan.


Tanpa ia sadari, Alex sudar terkena tipu daya dari gadis di depannya.

__ADS_1


__ADS_2