
[Elizabeth POV]
"Hehehehe... silahkan makanlah hidangan yang sudah kami buat, hehehehe... silahkan, Nona."
"Kau begitu baik Tuan Kepala Desa–"
"Maaf... tapi akan lebih baik jika kau menyebut nama asli ku saja. Hehehehe..."
"Oh ya! Kau benar, maafkan aku... Tuan Erendriel."
Setelah kembali siuman dari pingsannya, Tuan Erendriel, yaitu kepala desa disini langsung menyuruh beberapa warga untuk membuatkan jamuan bagi diriku. Ya Dewa! Kau seharusnya tidak perlu menghidangkan makanan sebanyak ini kepadaku, Tuan. Melihat betapa mengkilapnya minyak di atas daging-daging tersebut membuat selera makan ku menjadi naik.
Duduk dengan dikelilingi para elf, tatapan mereka yang begitu penasaran membuat diriku tidak nyaman.
Bukan karna aku tidak suka mereka, tapi sebab aku tidak suka diperhatikan oleh banyak orang!
Aku pun dapat mendengar suara-suara mereka dengan telingaku ini.
"Wah... apakah dia manusia itu? Cantik sekali."
"Lihatlah bagaimana caranya dia mengambil kue itu... anggun sekali."
"Apakah manusia memiliki tata krama yang begitu indah sepertinya?"
"Entahlah aku tidak tahu, yang jelas aku mau disini dulu menatap dirinya."
Aduhh! Sudah hentikan! Berhentilah menatap dan mengomentari ku secara sembunyi-sembunyi.
Suara mereka dapat ku dengar dengan jelas dan ini membuat diriku merasa tidak nyaman. Aku berusaha tidak memperdulikan tatapan mereka, sebab fokus ku sekarang ini hanya ada pada Tuan Erendriel.
"Sepertinya kami membuat dirimu tidak nyaman."
"A, ah tidak sama sekali. Aku hanya terkejut dengan semua jamuan yang kalian hidangkan padaku... apakah ini tidak terlalu berlebihan?"
Erendriel kemudian tertawa. "Hahahaha... ini adalah jamuan khusus yang kami berikan kepada pahlawan seperti mu." Ia kemudian mengambil segelas minuman yang berada di sampingnya dan menenggaknya sampai minuman itu habis.
Bukan hanya aku duduk di sana; Aimon bersama temannya pun ikut duduk dalam perjamuan itu. Tempat duduk mereka di samping tuan Erendriel, jadi aku susah untuk berbicara kepada mereka.
"Desa kalian tradisional sekali, begitu nyaman disini," ucapku, mengambil dua buah kue berbentuk bunga kemudian memakannya.
"Oh benarkah!? Terima kasih banyak atas pujiannya, sungguh kami begitu bersyukur memiliki tamu- ah tidak! Pahlawan seperti mu,"
Walaupun sudah mulai terbiasa dengan semua pujian ini, entah mengapa disaat tuan Erendriel tetap memanggil ku dengan sebutan "pahlawan" membuat ku malu.
Bagaimana dengan membunuh semua monster; dan membebaskan gua yang tadi ku lalui bisa membuat mereka sesenang ini?
Apakah gua tadi merupakan ladang untuk mencari nafkah bagi mereka?
"Sepertinya begitu."
Dilihat dari tempat gelap itu, terdapat banyak sekali batu kristal dan mineral yang tidak ku ambil selagi membunuh para monster. Yah... aku pun tidak dapat mengambilnya, disaat benda-benda itu bukanlah properti ku.
"Gua itu...," tuan Erendriel mulai membuka suara. "...adalah tempat mata pencaharian kami."
Sesuai dugaan ku.
"Disaat Aimon menceritakan semua kisah tentang dirimu, aku tidak sanggup menahan air mataku. Sungguh! Dengan kau membunuh semua monster di gua itu, akhirnya kami dapat menambang mineral dan permata di sana."
"Apakah setiap elf disini bekerja sebagai penambang?"
"Tidak semuanya... hanya para lelaki saja yang ku perbolehkan masuk ke dalam sana. Para wanita tidak diperbolehkan masuk ke dalam gua, tahu bahwa resiko bahaya yang menanti mereka di dalam sana."
Wanita umumnya lebih lemah dibandingkan pria, jadi perkataan Erendriel dapat dengan mudahnya Eli cerna.
Walaupun begitu, dilihat dari sudut mana pun. Para elf disini kebanyakan berjenis perempuan, sedangkan laki-laki disini cenderung begitu sedikit, itulah yang bisa ku tangkap.
Tapi kalau mereka adalah yang mencari mineral, lalu siapa yang yang membelinya?
"Bagaimana dengan pembeli? Maksudku siapa yang akan membeli semua mineral yang telah kalian tambang?"
"Ah... itu semua kami kirim melalui kereta menuju ibu kota."
Aku mengingat sesuatu tatkala masih berjalan bersama Amon. Dia mengatakan bahwa desa ini adalah sebagian kecil wilayah dari kerajaan mereka. Dengan kata lain, struktur pemerintahan disini tidak jauh beda seperti di dunia manusia.
__ADS_1
"....Hanya saja, butuh waktu yang cukup lama bagi kami untuk mengirim semua mineral-mineral itu," ucapnya Erendriel, dimana wajahnya menatap lurus ke arah ku sedangkan tangan sibuk mengambil sesuatu dari dalam bajunya.
"Ini adalah contoh mineral yang kami tambang di gua itu, Aurphite, adalah salah satunya." Erendriel melempar kertas yang ia keluarkan dari dalam bajunya ke depan, aku pun mengambilnya.
Eli mengulurkan tangannya, mengambil kertas yang Erendriel lemparkan itu, dan membukanya.
I-ini!?
[Elizabeth POV end]
Selain karna bangsawan memiliki derajat yang tinggi, dalam hal berpakaian tentu saja mereka berusaha untuk menampilkan yang terbaik: menggunakan permata sebagai perhiasan salah satunya.
Dengan begitu, banyak mata yang akan melihat betapa berkelas dan tinggi diri mereka di kehidupan bermasyarakat.
Tidak heran jika banyak dari mereka yang menghamburkan banyak sekali uang hanya untuk membeli perhiasan dibandingkan makanan. Salah satu permata termahal yang jarang sekali dijadikan sebagai perhiasan adalah Opal, disebut sebagai Batu Fajar, karna warnanya yang kontras dengan warna matahari saat baru terbit.
"Bagaimana mereka dapat menambang permata yang sama seperti di dunia ku?"
Mau bagaimana pun, ini terdengar cukup aneh. Awalnya Elizabeth berfikir bahwa ini adalah dungeon biasa; tempat dimana ia akan bertemu para elf yang kesulitan, dan membantu mereka menyelesaikan masalahnya. Tetapi tidak! Semua percakapan ini begitu sulit ia percaya. Apakah sistem menciptakan dunia ini dengan mengambil beberapa hal dari dunianya?
Walaupun begitu, ini hanyalah sebuah permata.
"Sepertinya kau tertarik dengan permata itu, Elizabeth," ucap Erendriel, wajahnya membuat senyuman dan kemudian ia tertawa. "Hohoho... tenang saja, permata itu memiliki nilai yang sangat rendah disini. Banyak permata yang lebih mahal tumbuh di gua itu."
A-apa!? Opal begitu murah di mata kalian??
Eli tidak mengerti apa yang para elf pikiran. Bagaimana bisa Erendriel mengatakan bahwa Opal memiliki nilai jual yang sangat rendah?
"Kenapa permata ini begitu murah? Apakah tidak ada keistimewaannya?"
"Permata itu tidak mengandung sihir di dalamnya dan yang kami cari hanyalah permata dengan kandungan sihir di dalamnya. Walaupun begitu, permata itu masih kami tambang dan kami jadikan sebagai perabotan rumah."
"...."
Elizabeth kehabisan kata-kata. Disaat keheningan melandanya, ia hanya duduk dengan mulutnya yang menganga dan terbuka lebar. Menggunakan mereka sebagai perabotan rumah? Kalimat ini masih tidak dapat ia percayai. Permata yang begitu langka di dunianya, rupanya tidak begitu berharga di mata para elf.
Dibandingkan menggunakan mereka sebagai perhiasan; menggunakannya sebagai perabotan rumah sepertinya merupakan hak yang biasa disini
"Apa ada yang salah dengan kata-kata ku," mendengar Erendriel berbicara kepadanya, Eli hanya bersikap biasa saja dengan senyum kecut di wajahnya.
"Hohohoho! Terima kasih atas pujiannya."
Tiba-tiba, disaat suasana mulai terasa begitu hangat terdengar keriuhan di luar rumah. Orang-orang saling berdesakkan, dan Eli bisa mendengar suara bayi yang sedang menangis.
Bukankah itu?
Iya yakin tak yakin kalau tangisan itu berasal dari Coco.
Tapi, disaat seorang gadis masuk secara paksa melewati kerumunan orang yang sedari tadi berkumpul di depan pintu masuk, ia pun seketika tercengang. Ashera masuk bersama Coco yang sedang menangis keras di tangannya. Terlihat dia begitu kesulitan untuk menangkan Coco yang bergerak ke kanan ke kiri; dia sedang marah dan pandangannya seakan mencari seseorang.
"Ketua maafkan aku! Coco sedari tadi tidak ingin diam dan terus saja menangis."
"Apa yang sudah terjadi dengannya?"
Erendriel yang sepertinya sudah khawatir bangun dari duduknya dan langsung menghampiri gadis itu, dan mencoba menenangkan Coco.
"Coco sayang~ ada apa? Kenapa kau menangis, nak?"
"Hiks...Engh..."
"Ayo tersenyum dong! Jangan menangis terus ya, nanti mata mu menjadi sembab loh."
Ia beberapa kali mencoba menghiburnya tapi percuma saja, Coco terus menerus memberontak dan tangisannya menjadi keras dibandingkan sebelumnya.
"HUEEEE!! HIKSS... EWWLI" (Eli)
"Kau mengatakan apa nak?"
"EWLIII? EWWWLIII!" (Eli! Eli!)
"Eli?"
Mendengar namanya dipanggil, Elizabeth pun berdiri.
__ADS_1
"Coco, apa kau memanggilku?"
Coco mengarahkan pandangannya ke arah suara itu, wajahnya seketika bersinar terang dan tangisannya berhenti sesaat. Tetapi kemudian, ia menangis lagi dengan nada yang begitu kencang.
Elizabeth yang paham bahwa Coco sedang mencarinya langsung mengulurkan tangannya untuk menggendong Coco. Kejadian itu dilihat oleh seluruh warga desa yang berkumpul di rumah kepala desa; Erendriel pun menyaksikannya.
"Shhhttt.... sudah, sudah jangan menangis lagi ya."
Tangisan Coco kini berubah menjadi isakan. Erendriel sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Hal itu merupakan pertanda bahwa ada hal yang perlu ia ketahui dan tanyakan pada gadis itu.
Bagaimana Coco bisa tertarik pada gadis itu? Sungguh aku tidak percaya!
Tergambar senyuman di wajahnya, tatkala Coco sudah tenang dalam buaian Elizabeth, ia kemudian berkata.
"Dengar kalian semua! Pergilah dan pulang ke rumah kalian masing-masing. Sudah cukup kalian berkumpul di sini!" Erendriel kemudian menyuruh kedua pengawalnya untuk membubarkan semua orang, terkecuali Aimon, Ashera dan elf-elf yang datang bersama Elizabeth.
Apapun yang terjadi sekarang adalah suatu pertanda bahwa Erendriel sudah menemukan orang yang ia cari selama ini.
Dan orang itu berdiri tepat di depannya.
"Elizabeth...," ucap Erendriel menatap Elizabeth dengan pandangan serius, matanya yang tajam seakan-akan memberikan pertanyaan bagi Eli, dan ia pun sudah tahu apa yang akan dia tanyakan.
"Ada hal penting yang ingin ku tanyakan padamu."
"Apakah ini tentang kemampuan Coco, kerajaan kalian, dan pasukan iblis?"
Kedua mata Erendriel terbelalak mendengar ucapan Elizabeth. Ia bertanya. Bagaimana bisa? Disaat mengarahkan pandangannya kepada Aimon dan Ashera, mata mereka bertemu dan terkunci satu sama lain, dia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Jadi begitu...
Ia sadar bahwa yang membawa Elizabeth kemari, ke desanya dan bertemu dengannya adalah mereka dan mungkin saja terjadi percakapan diantara mereka yang tidak diketahui olehnya.
Erendriel pun mengambil kesimpulan.
"Ashera, Aimon dan kalian tunggulah disini. Elizabeth... apakah kau berkenan untuk mengikuti sebentar?"
Elizabeth mengangguk, namun bagaimana dengan Coco?
Disaat ia beberapa kali menatap ke arah Coco dan kakek itu, Erendriel pun mengangguk. "Tidak apa-apa, lagi pula Coco masih kecil dan ia belum dapat memahami percakapan orang dewasa."
Akhirnya, Erendriel pun berjalan ke belakang rumahnya. Eli pun perlahan mengambil satu langkah dan kemudian berjalan mengikutinya. Sebelum meninggalkan ruangan, ia sejenak berhenti dan bertanya kepada Aimon.
"Sebenarnya kemana dia akan membawa ku?"
Namun Aimon menjawab. "Kau tidak perlu takut, kau akan bertemu dengan seseorang yang akan membuka pikiranmu tentang jalan hidup mu."
Mata dan telinga Eli dibuat begitu gatal mendengar perkataan Amon. Ia berkali-kali mencernanya namun ia tidak dapat menemukan jawabannya.
Tapi, ia juga tidak ingin membuang banyak waktu. Dengan Coco yang berada di pelukannya ia pun berjalan mengikuti Erendriel ke bagian belakang rumah, yang dimana dia sudah berdiri dan seakan-akan menunggu Eli.
"Kemana kita akan pergi?"
"Kita akan bertemu dengan Vasati Ralosandoral, seorang peramal sakti yang mampu melihat masa depan."
"Untuk apa kita menemuinya?"
"Kau akan tahu, sekarang, ayo kita pergi." Erendriel berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Eli dengan raut wajah kebingungan.
Coco yang berada di pelukannya beberapa kali memanggil namanya.
"Ewli! Ewli!" (Eli! Eli!)
"Kumohon jangan bergerak selagi kita masih berada di jalan, ok?"
"Hihihi..."
Dengan kecupan di keningnya Coco pun menenggelamkan wajahnya di dada Eli. Ia pun berjalan mengikuti Erendriel yang sudah berjalan lebih jauh dibandingkan dia.
Eli tidak tahu menahu tentang siapa peramal sakti itu. Vasati Ralosandoral, namanya begitu kuno dan misterius.
Kenapa perasaan ku tidak enak?
__ADS_1
Eli mencoba membuang perasaan yang tersangkut di dadanya, tidak mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi selepas ia bertemu dengan peramal itu. Namun... siapa tahu, jika peramal itu adalah orang yang akan membawa Eli untuk menuntunnya kembali pulang ke rumah dimana ia harus benar-benar berada.
......[TO BE CONTINUED]......