Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 15


__ADS_3

"Ada suatu hal yang ingin ku tanyakan."


"Apa itu?"


"Kalau bisa apakah kau dapat menjawabnya dengan panjang lebar dan penuh kebenaran?" Akan lebih baik jika ia mengetahui segalanya dari sekarang. Elizabeth tidak waktunya terbuang percuma-cuma hanya untuk mendengar hal-hal yang ia anggap tidak penting.


Terkecuali tentang waktu, entah sudah berapa lama dia berada disini, yang pasti lebih dari satu jam.


Batinnya berkata. "Ku harap Alexander tidak bertindak gegabah. Jika ia masuk ke dalam kamar ku tanpa izin, maka siap-siaplah untuk mendapatkan sebuah pukulan dariku."


Dengan keadaan yang seperti ini, Elizabeth sebenarnya memaklumi tentang apa yang akan terjadi jika para pengajar mengetahui tentang ketidakhadirannya.


"Sepertinya kau memikirkan hal yang begitu rumit?"


"Hanya masalah pribadi." Ucap Eli.


"Nampaknya manusia dengan elf tidak jauh berbeda, ya? Keduanya dapat merasa khawatir akan suatu hal, entah apapun itu." Erendriel menghentikan langkah sebentar, menyapa salah seorang elf yang berdiri di depan sebuah rumah.


Ia melambaikan tangan, serta menundukkan kepalanya pertanda sebagai hormat kepada sang ketua.


"Selamat siang, ketua! Semoga harimu menyenangkan."


"Juga untukmu," sepatah kata itu ia barengi dengan lambaian tangan.


Setelahnya, pandangannya mengarah ke Eli dan melakukan hal yang sama padanya. Eli yang melihatnya kemudian menganggukkan kepala, membalas salam elf itu. "Hmmm.." Dan mereka pun kembali berjalan.


Eli berkata. "Sepertinya kalian hidup aman dan tentram disini (?) Ini hanya spekulasi ku saja."


"Jangan berfikir dengan melihat senyuman mereka, kami, para elf dapat hidup aman dan tentram di dunia ini. Bagiku... kata bahagia sangatlah jauh dari hidup kami."


"Kenapa kau berfikir seperti itu?" Menurut Eli, tidak ada yang perlu dikhawatirkan bagi mereka, bukan? Jika mereka memerlukan uang, setidaknya mereka dapat menambang mineral di gua itu dan menjualnya.


Erendriel berkata. "Di dunia ini, ada struktur sosial yang kami pegang teguh, dimana makhluk yang kuat adalah makhluk yang dapat bertahan hidup. Semakin kuat kita maka kita dapat berada di puncak rantai makanan." Tidak ada yang lebih mengerikan dibandingkan harus hidup berdampingan dengan alam liar, dimana setiap mata dapat mengintai mereka kapan saja.


Perlahan Eli membuka mata, perkataan Erendriel ada benarnya juga. Berbanding terbalik di dunianya, dimana struktur sosialnya begitu kompleks dan terkadang dapat membutakan mata.


Kekayaan, jabatan dan martabat, itulah ketiga hal yang paling penting di dunianya.


Tanpa kekayaan kau akan jatuh miskin.


Tanpa jabatan kau akan mudah diinjak-injak oleh orang yang lebih tinggi.


Tanpa martabat maka kau akan hancur.


Eli tidak ingin membandingkan rasa sakit yang ia derita semasa ia hidup di kehidupan lamanya. Semua rasa pedih itu adalah kesalahannya sendiri; tenggelam dalam kerakusan dan iri hati, membuat dirinya begitu dibenci oleh orang lain.


"Tidak heran jika banyak orang yang menginginkan diriku mati."


Erendriel yang melihat ekspresi Elizabeth menjadi lebih gelap pun berkata. "Hei!" Ia berteriak dan menepuk pundak Eli tidak terlalu keras, sampai ia bangun dari lamunannya.


"Jangan tenggelam begitu dalam ke dalam pikiran mu. Tidak baik, kau tahu?"


"Hahahaha... kau benar. Maaf."


"Tidak perlu tegang, sebentar lagi kita sampai."


Perjalanan mereka ke rumah Vasati Ralosandoral, yang Erendriel bilang sebagai peramal sakti itu hanya menghabiskan waktu sekitar empat menit.


Eli menatap rumah reyot yang berdiri di depannya, terlihat tidak bagus untuk ditinggali. Sudah banyak atap-atap yang berlubang. Pun begitu untuk dindingnya yang terbuat dari dari kayu sudah ada beberapa yang lapuk seperti di makan usia.


Melihat ke sekeliling, rumahnya berada di ujung desa dan berdekatan dengan pintu masuk.


Bagaimana seseorang betah tinggal di rumah seperti ini?


Eli tidak jijik, hanya saja ia penasaran bagaimana peramal sakti itu tinggal di rumah setua ini.


"Apakah kau yakin ada orang di dalamnya?"


"Tentu saja. Nenek tua itu jarang sekali keluar, biasanya menghabiskan waktu di dalam rumah hanya untuk membuat berbagai ramuan sihir."


"Ramuan sihir?!"


"Hmm..." Erendriel mengangkat kepalanya ke langit, dimana uap-uap dari rumah itu keluar melalui cerobong asap dan begitu banyak.


"Sepertinya ia sedang sibuk sekarang."


Pak tua itu berjalan beberapa langkah ke daun pintu. Ia mengetuk pintu itu beberapa kali.


Tok! Tok! Tok!


"Hei! Vasati! Apa kau berada di dalam?"


Hening... dan setelah itu terdengar suara barang jatuh yang berasal dari rumah reyot itu.


Gedubrak!!!


Erendriel mengambil langkah mundur, perasaannya tidak enak. Seperti ada masalah yang akan muncul disaat pintu itu terbuka.


Melihat wajah Erendriel yang begitu serius dan terlihat beberapa keringat mengucur di wajahnya, Eli menahan nafas. Ia pun bersiap-siap untuk bertemu dengan peramal itu. Suara langka kaki yang begitu cepat pun terdengar.


Dan tiba-tiba.... Brak!! Pintu pun terbuka.


"BERISIK!!! APA KAU TIDAK BISA MEMELANKAN SUARAMU YANG JELEK ITU!!? AKU SEDANG BEKERJA, KAU TAHU!"


"Te-tenang... Vasati. Aku tidak ingin berkelahi dengan mu. Aku hanya datang kemari untuk menemui mu."


"JUSTRU KAU YANG MEMULAINYA!"


Eli cukup terkejut. Ia memperhatikan nenek yang disebut sebagai peramal sakti itu. Tidak ada yang berbeda layaknya orang tua yang lain, dengan rambutnya yang berwarna putih dan kulit keriputnya.

__ADS_1


Hanya saja penampilannya yang berbeda.


.


.


[Nama: Vasati Ralosandoral]


[Spesies: Elf]


[***: Wanita]


[Umur: 230]


Seorang elf yang dianugerahi kekuatan untuk meramal masa depan. Fortune-teller, peramal sakti dari kerajaan Epaqokha di negeri Eqaba.


Eli melirik sejenak deskripsi dari sistem. Untuk seorang elf yang berumur 230 tahun, ia sungguh takjub. Berbanding terbalik dengan manusia yang memiliki daya hidup 80 sampai 90 tahun. Para elf tentunya dianugerahi dengan daya hidup yang cukup panjang.


Pakaiannya... begitu sederhana namun begitu indah.


"Ada seseorang yang ingin ku perkenalkan padamu," ucap Erendriel, menggeser tubuhnya sehingga nenek itu dapat melihat Elizabeth secara sepenuhnya.


Awalnya, dia terlihat begitu aneh. Namun perlahan tatapannya menjadi serius, ia pun berjalan ke depan dan memperhatikan Elizabeth dari atas hingga bawah.


"K-kau...?"


Entah apa yang telah terjadi. Suara nenek Visati terdengar begitu bergetar, kulit wajahnya pun sedikit melebar.


Ia kemudian mengarahkan pandangannya pada pak tua di sampingnya, Erendriel.


"D-dia...? T-tapi...bagaimana...?"


Pak tua itu hanya tersenyum sambil mengangguk kepalanya. Seakan-akan ia telah memberi jawaban akan ekspresi Visati yang terlihat begitu kebingungan.


"Namanya Elizabeth, dia adalah manusia, pahlawan kita yang telah membasmi seluruh monster laba-laba di gua yang telah lama kita tutup itu."


"Ya.... perkataan kau memang benar," Visati belum melepas pandangannya dari Elizabeth. "Aku dapat merasakannya! Ya, aku dapat merasakan nubuat itu berada di depan kita!"


Eli tidak paham dengan kata "nubuat" yang disebutkan oleh nenek tua itu. Namun, yang ia baca dari buku di perpustakaan, itu adalah pernyataan lebih dahulu peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan, biasa lewat perantara Orang Suci ataupun seorang Oracle.


Apa yang dimaksudkannya? Aku? Nubuat itu? Hah... ini semakin membingungkan.


"Kalau begitu ayo kita masuk! Ayo!"


Dengan raut wajah yang begitu cerah Visati membukakan pintu rumahnya dengan lebar untuk Elizabeth.


"Umm..."


"Apa ada yang salah, Elizabeth?"


"Ah! Tidak ada sama sekali, Tuan. Hanya saja-"


Setelah itu, pintu pun tertutup.


.


.


.


[Elizabeth POV]


Di dalam rumah nenek tua itu minim sekali penerangan, yang ada hanyalah lampu lentera yang jumlahnya hanya 5 tergantung di langit-langit atap rumahnya. Untung saja, Erendriel masih berada di samping ku.


Tunggu! Bagaimana dengan Coco?!


Aku mengecek keadaan bayi mungil itu. Pandanganku seketika melebar, menatap Coco penuh keterkejutan. Matanya bersinar begitu terang layaknya senter.


Seakan-akan di dalam tubuhnya terdapat benda bercahaya yang sinarnya mampu menembus organ matanya. Hanya satu kata yang kupikirkan saat itu juga. Mengerikan!


"Coco, bagaimana kau?"


"Tidak perlu terkejut seperti itu. Itu adalah salah satu dari kekuatannya."


"Apakah ini benar-benar aman baginya?" ucap ku dengan nada khawatir.


"Kemampuan Coco datang secara alami, jadi kau tidak perlu khawatir."


Meskipun begitu aku benar-benar penasaran. Apakah dia dapat merasakan sakit disaat menggunakan kemampuan ini? Tapi untunglah, dengan begini aku dapat melihat seisi rumah dengan jelas.


Aku mengangkat tubuhnya hingga aku wajah kami saling bertatap langsung.


Aku bertanya. "Maafkan aku sebab aku mengabaikan mu sedari tadi. Apa kau baik-baik saja?"


Coco hanya menunjukkan ekspresi polosnya, mengangguk dan kemudian tersenyum ke arah ku.


"Auuuuuu... Hihihi!"


"Kenapa kau tertawa? Hahahaha! Apanya yang lucu?"


"HIHIHIHIHIHI!"


Gigi susunya yang putih dapat ku lihat dengan jelas. Karna ia masih kecil, beberapa gigi masih belum tumbuh dan hanya ada gigi depannya saja.


Ia tumbuh dengan begitu baik.


Kemudian, Visati keluar dari sebuah ruangan, ia terbatuk-batuk dengan tangannya yang sibuk memegang sebuah buku.


"Ah ini dia!" Ucapnya dengan senang, mengangkat buku itu tinggi ke langit.

__ADS_1


Aku bertanya. "Buku apa itu?" Warna ungu dengan hiasan batu berwarna hitam di sampul depan buku itu membuat diriku tertarik.


Aku berjalan ke arah Visati sambil melihat buku itu.


"Ini adalah buku yang sudah turun-temurun diwariskan oleh leluhur kami. Berisi cerita kelam tentang negeri Eqaba di masa lampau."


"Eqaba? Nama itu...bukan kah negeri ini?"


"Benar sekali. Akan ku ringkas saja agar kau dapat memahaminya lebih baik, setidaknya dengan ini kau tidak perlu menghabiskan waktu yang lama untuk membaca buku ini, sebab tadinya aku ingin membiarkan kau membacanya."


"Kenapa tidak?" tanya ku kepada Vasati.


Judul sampul itu saja menggunakan bahasa kuno, aku sudah mempelajarinya di akademi. Walaupun belum begitu paham sebab masih banyak kata yang belum aku kuasai.


Sebelum nenek tua itu menjawab pertanyaan ku, Erendriel lah yang datang dan menjawabnya.


Ia menjawab dengan mata tertutup. "Dalam buku itu terdapat beberapa simbol dan kalimat yang pastinya tidak dapat kau pahami. Bahkan, kami sendiri masih mencoba untuk mencari tahu makna dari simbol-simbol dan kalimat-kalimat itu..."


"Yang dikatakannya benar....buku ini setidaknya sudah berusia kurang lebih 1000 tahun dan leluhur kami tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang penulis asli buku ini." Lanjut Visati.


Jika yang dikatakan mereka berdua adalah benar, maka aku tidak ada alasan untuk tidak membaca buku tersebut. Tapi... rasanya ada yang aneh.


"Ada berapa halaman dalam buku ini?"


"100 halaman dengan 10 halaman tambahan yang berisikan simbol-simbol."


Seratus halaman? Tidak buruk juga, aku sudah terlatih untuk membaca cepat.


Aku pun meminta kepada Visati untuk memberikan buku itu kepadaku, tapi ia bertanya.


"Untuk apa?"


"Tentu saja, ku baca! Memangnya apa yang nenek pikirkan?"


"Apa kau sudah lupa tentang apa yang kami katakan?"


Aku tidak peduli jika aku tidak dapat memahami seluruh isi buku, jika aku paham setengah dari isinya maka akan jauh lebih baik.


"Akan lebih baik jika aku membaca bukunya langsung, berikan lah."


Nampaknya Visati terlalu ragu-ragu untuk memberikan buku itu padaku. Ia beralih ke Erendriel, seakan-akan memberi pertanyaan. Pak tua itu hanya berdehem dan menganggukkan kepalanya.


"Berikan saja. Kita tidak punya alasan untuk membiarkannya membaca buku itu."


"Hah...ya sudahlah." Visati pun memberikan buku itu padaku. Namun ada satu masalah yang belum ku selesaikan.


"Tuan Erendriel, apakah kau dapat menggendong Coco sebentar?"


"Hohohoho! Tentu saja, serahkan dia padaku. Ayo Coco~"


Erendriel sudah begitu senang, ia pun meregangkan kedua tangannya dan mencoba melepas Coco dari pelukanku. Namun Coco memukul keras tangan pak tua itu dan menggelengkan kepalanya. Ia berusaha menolak untuk digendong oleh Erendriel.


"Coco, ada hal penting yang harus ku lakukan. Kau bersama kakek Erendriel dulu ya?"


Ia menatap wajahku dengan tatapan memohon. Layaknya seorang malaikat, tatapannya hampir membuat hatiku luluh. Namun pesonanya tidak mempan kepadaku.


"Coco hentikan!" Aku sedikit menaikkan tangga nada ku.


Coco bergetar, nampaknya ia menyerah. Wajahnya begitu murung, dan menatap Erendriel. Ia meregangkan kedua tangannya seakan-akan minta untuk digendong oleh pak tua itu.


Tentu saja, Erendriel tanpa segan dan dengan wajah bersinar langsung menggendong Coco.


"Akhirnya. Sini bukunya." Aku meraih buku itu.


"Apa kami perlu meninggalkan mu disini sendirian, nak?"


"Kalau bisa, ku mohon."


Visati pun menjentikkan jarinya, semua lentera pun menyala dengan sendirinya, menerangi seluruh isi rumah tua ini. Akhirnya aku dapat melihat dengan sangat jelas.


Mereka bertiga pun berjalan menuju daun pintu.


"Kalau kau sudah selesai membacanya dan membutuhkan kami, maka carilah kami di luar."


"Baiklah."


Setelah perkataan itu, mereka bertiga pun keluar dari rumah dan meninggalkan ku sendiri.


Aku sedikit senang sebab hanya aku sendiri di sini sebab, entah mengapa disaat aku bersama mereka berdua, energi ku habis begitu cepat. Sepertinya ini adalah proses dimana seorang extrovert berubah menjadi introvert dalam waktu yang begitu singkat.


Sebelum aku memutuskan untuk membaca buku itu di sebuah meja. Sistem pun berbunyi.


[Sistem mendeteksi keinginan pemain untuk membaca sebuah buku tua]


[Sistem menawarkan bantuan]


[Akankah pemain menerimanya?]


[Terima] atau [Tolak]


Aku tidak tahu bantuan seperti apa yang sistem tawarkan padaku. Aku hanya memencet tombol [Terima] dan tidak terjadi apa-apa.


"Apa-apaan?"


Sepertinya ada malfungsi dengan sistem. Ha...ya sudahlah. Aku tidak ingin membuang banyak waktu.


Aku pun bergegas berjalan dan duduk di atas kursi dan menaruh buku itu di atas meja tersebut.


"Aku penasaran apa isinya?"

__ADS_1


...(TO BE CONTINUED)...


__ADS_2