
"EHHHH?? Kau tidak memiliki sihir Divine??"
"Tidak. Aku tidak memilikinya."
"Tapi, itu tidak mungkin."
Elizabeth tahu perasaan mereka. Sihir Divine adalah sihir yang benar–benar diidamkan oleh setiap makhluk, termasuk manusia.
"Dibandingkan sihir Divine, yang aku miliki dinamakan, sihir Beast. Apa kalian mengetahui sesuatu?"
Ia hanya berkata tentang apa yang ia tahu. Eli sendiri ingin menanyakan tentang asal–usul tentang sihir Beast.
Sepanjang sejarah, pasalnya belum ada sama sekali orang yang memiliki sihir sejenis ini. Sihir di dunianya dibagi menjadi dua kelas yaitu: tingkat umum dan tingkat tinggi. Air, api, udara, tanah, petir, dan es itu termasuk ke dalam sihir tingkat umum. Kegelapan dan Divine masuk ke dalam sihir tingkat tinggi dan belum ada seorang pun yang mampu mengendalikan kedua sihir itu.
"Sihir Beast?"
"Ya."
"Hmmm."
Aimon membuat raut wajah berfikir. Tangan kanannya ia topang dengan tangan kirinya, dimana jari–jari kanannya ia gunakan untuk menopang dagunya.
"Aku sama sekali tidak tahu. Mungkin saja kau memiliki hubungan darah dengan kaum beastman."
"Beastman?"
Setelah elf, sekarang beastman.
Siapa mereka? Dan tidak mungkin Elizabeth memiliki hubungan dengan makhluk itu.
Sebelum Aimon menjawab lebih lanjut. Seorang gadis kecil keluar dari kerumunan dan berteriak.
"Ih! Sudah hentikan! Apa kalian tidak malu bertanya–tanya terus!?"
Elizabeth sejenak menatap gadis elf itu. Setidaknya ia berada empat tahu lebih muda darinya, berambut merah dengan suara yang begitu cempreng. Sejak awal dia selalu bersembunyi di bagian belakang, dikarenakan ukuran tubuhnya yang kecil, Elizabeth sama sekali tidak bisa melihat tubuhnya waktu itu.
"Hei kau!"
"Ya?"
"Kita belum memperkenalkan diri. Namaku Alissa Aesy."
"Elizabeth."
Gadis kecil itu mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan dengan Eli. Ia pun meraih dan menjabat tangannya.
"Maafkan aku jika aku lancang, tapi tidak baik jika melanjutkan pembicaraan di tengah hutan seperti ini."
Elf yang lain pun sadar, mereka semua menatap ke sekeliling, dimana hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi dan suara–suara dari serangga yang begitu nyaring di telinga mereka.
"Kau benar, maafkan kami Elizabeth."
Aimon membungkuk dan meminta maaf kepada Elizabeth, begitu pula dengan elf yang lainnya.
Eli hanya tersenyum dan menyuruh mereka semua untuk mengangkat kepala mereka lagi.
"Angkatlah kepala kalian! Tidak perlu meminta maaf sampai seperti itu. Lagi pula, aku sangat senang disaat aku mendapatkan teman yang dapat diajak berbicara."
"Te, teman??"
"Ya?"
Eli tersentak disaat Aimon dan para elf di depannya mendekatkan wajah mereka, dimana mata mereka dipenuhi dengan kelap–kelip cahaya dan rasa keingintahuan.
"Apakah kau benar–benar menganggap kami adalah temanmu?"
"T, tentu saja... Memangnya siapa lagi kalau bukan kalian?"
"Hah.... TEMAN!!"
Mereka semua langsung menyerbu Elizabeth dan memberikan pelukan secara tiba–tiba kepada gadis itu. Coco yang masih berada di pelukan Elizabeth pun tertawa riang, sambil menarik kerah baju Eli dan memberikan pelukan hangat kepadanya.
"Pweeuukk!" (Peluk)
Eli merasa begitu senang dan aneh di waktu yang sama.
Sepertinya mereka sangat senang sebab aku telah menganggap mereka menjadi temanku.
Ia pun tidak ada alasan untuk membalas pelukan mereka. Eli merenggangkan tangan kanannya, dimana yang kiri sibuk digunakan untuk menggendong Coco.
"Ih! Kalian tidak ada kapok–kapoknya ya!!"
Mendengar teriakan Alissa, mereka semua pun melepaskan pelukan dari Elizabeth.
Aimon dan yang lainnya juga membungkuk dan meminta maaf sekali lagi.
"Maaf kan kami."
"Tidak apa–apa."
Alissa mendengus kesal, melihat kelakukan teman–temannya.
"Sudahlah! Ayo kita pulang. Orang tua kita pasti sudah menunggu."
Alissa berjalan pertama dan menuntun mereka semua untuk berjalan pulang. Sebelumnya, ia berbalik dan menatap Elizabeth.
"Ikuti aku. Kita akan sampai sebentar lagi."
"Ah baiklah."
__ADS_1
Dengan Coco di pangkuannya, Elizabeth mengikuti kemana Alissa akan membawanya. Ia sama sekali tidak melirik Aimon dan yang lainnya setelah Alissa menyuruhnya untuk berjalan bersamanya.
"Hei! Kenapa dengan Alissa? Tidak biasanya dia bertingkah begitu keras kepada kita."
"Shhhttt! Mungkin perasaan dia sedang kacau. Lebih baik kita pulang sekarang, ada benarnya kita mendengarkan kata–katanya."
Ashera, gadis yang pertama kali menggendong Coco mulai berjalan dan diikuti dengan yang lainnya.
Keadaan hutan mulai semakin gelap, ada benarnya Alissa marah kepada mereka semua dan Ashera memakluminya.
"Hei tunggu aku!"
Para elf dibelakangnya mengikutinya dengan jalan cepat, walaupun begitu mereka semua sudah ketinggalan jauh dengan Alissa, Elizabeth dan Coco.
Ashera hanya bisa mengutuk dirinya, karna berjalan bersama sekelompok idiot di belakanganya.
Hah... dasar nasibku.
...******...
Setelah beberapa menit melewati rimbunnya pepohonan hutan yang begitu lebat, Eli dan para elf pun sampai di sebuah desa yang begitu besar.
Alissa berucap dan mengarahkan jari telunjuknya ke depan. "Itu desa kami." Sebuah desa yang teramat besar pun berada di pandangan mereka.
Eli mengambil kembali ucapannya, walaupun itu terlihat seperti desa biasa. Tapi rumah–rumah yang terbuat dari kayu besar itu berdiri dengan kokoh dan tersusun rapih.
"Jadi... ini desa kalian."
Ini berbeda dengan desa yang ia lihat di dunianya.
Dimana hanya terdapat rumah–rumah kecil yang dikelilingi oleh rerumputan liar.
Setidaknya, desa elf di depannya lebih nampak seperti kerajaan, dan terdapat rumah besar yang berdiri di tengahnya seperti sebuah kastil.
Hanya ada satu kata yang bisa Eli ucapkan melihat keindahan desa elf itu.
Luar biasa.
"Ayo! Yang lainnya pasti akan senang melihatmu."
"T–tunggu, bagaimana kau bisa tahu jika elf yang lainnya akan senang bertemu denganku?"
Walaupun ia bisa mempercayai semua kenyataan ini, dimana ia dapat berinteraksi langsung dengan elf seperti Alissa.
Ia sendiri tidak dapat memprediksi sikap seperti apa yang akan elf lainnya tunjukkan padanya.
"Apakah aku benar-benar harus pergi ke desa elf itu?"
"Percayalah pada kami!"
Sebuah suara pun terdengar dari arah belakang mereka.
"Kau tidak perlu takut, ikut saja dengan kami. Mereka semua akan sangat senang bertemu dengan mu kok."
"A–apakah itu benar?"
"Ah! Kau banyak bertanya! Ayo, ikutlah dengan kami!"
"E–eh, eh?? T–ttunggu...."
Salah seroang elf laki–laki menarik tangannya. Dia adalah Erlan, pemuda elf yang setidaknya 1 tahun lebih tua darinya.
Erlan menarik tangan Elizabeth beberapa saat untuk membuatnya berjalan, dan setelahnya ia melepaskannya kembali.
Sementara itu, Coco masih berpegang di badan Eli seraya tersenyum dan menyenderkan kepalanya di dada Eli.
Tentu saja gadis itu tidak memiliki alasan untuk menurunkan Coco dari pelukannya, disaat ia bergumam sendiri seraya memainkan kerah bajunya.
"Puwwytar! Puwwwtar! Weeee!" (Putar! Putar! Weeeeee!)
"Hahahahaha.... Coco kau sedang apa?"
"Awwu sedhanh bwemain dwengan bwenda ni." (Aku sedang bermain dengan benda ini)
"Dengan kerah bajuku? Kenapa kau begitu tertarik dengan kerah bajuku?"
"Mwereka cwantik!" (Mereka cantik!)
"Apanya yang cantik?"
"Kwau!" (Kau)
Mungkin saja kalau Coco sudah menjadi pria dewasa, ia pastinya akan menjadi raja gombal bagi kaum hawa.
Eli tidak bisa menahan tawanya disaat anak kecil ini mencoba merayu–nya.
Sungguh, Coco terlalu imut baginya. Bahkan mungkin saja, dia bisa menjadi sumber diabetes bagi Eli jika gadis itu tidak membuatnya diam seketika.
Alissa, Ashera, Erlan yang lainnya hanya menatap mereka berdua dengan perasaan iri.
Terutama Alissa, kedua pipinya membesar dengan bibirnya mungilnya yang menjulur ke depan.
"Hmp!"
Aimon yang berjalan beriringan bersamanya bertanya.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa–apa!", jawab Alissa acuh tak acuh masih dengan ekspresi cemberut. Aimon menyadari setelah melirik Elizabeth yang masih bermain dengan Coco.
__ADS_1
"Ahhhhh... kau iri ya sebab tidak mendapat perlakuan yang sama seperti Coco?"
"Ish! Diam lah!"
Aimon rupanya sadar jika Alissa cemburu dengan Coco yang mendapat perlakuan hangat dari Elizabeth.
Ia terus menerus menggoda gadis kecil itu, hingga membuat wajahnya bersemu merah.
"Aimon!"
"Hush! Aimon, Alissa kalian berdua, diamlah! Kita sudah hampir sampai."
Setelah mengakhiri pertengkaran mereka, mereka fokus menatap ke depan dan sadar jika mereka sudah sampai di desa.
"Ini adalah desa kami, Thorion."
Thorion, dari namanya saja sudah membuat Eli berdecak kagum. Dari luar nampak seperti desa biasa, tapi ia tahu, jika di dalamnya sama sekali berbeda dari luarnya.
Bak kata pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya.
"Besar sekali."
"Ayo kita masuk!"
Erlan berjalan pertama kali, dan diikuti dengan yang lainnya. Sebab ia adalah orang baru, maka ia berjalan di urutan paling belakang.
Setelah beberapa saat, nampak sebuah gerbang yang terbuat dari kayu terbuka lebar di hadapan mereka. Di bawahnya gerbang itu terdapat elf lainnya yang sepertinya betugas sebagai penjaga pintu masuk.
Eli memperhatikan wajah kedua elf itu. Mereka begitu dingin dengan tombak di tangan kanan mereka, tapi setelah mereka melihat keberadaan Erlan dan yang lainnya wajah mereka berdua pun berubah menjadi masam.
"Hei kalian semua!", salah satu dari mereka berteriak dan berjalan mendekati Erlan dan rombongannya. "Kalian darimana saja sih? Apa kalian tahu jika orang tua kalian sudah mencari kalian sedari tadi."
"M–maaf, nampaknya kami lupa waktu. Hehehehe."
Kemudian elf itu menghela nafas. Disaat itu lah matanya menangkap sosok yang begitu asing.
"Huh? Siapa dia!?"
Mendengar temanya yang menjerit, elf yang lainnya pun mendekatinya dan bertanya.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?"
"Lihat! Ada orang asing yang berjalan bersama mereka."
"Huh?"
Kedua elf itu memperhatikan tubuh Elizabeth dari atas hingga bawah. Dilihat dari rupa wajahnya, ia begitu cantik walaupun nampak begitu asing.
"Wow... cantik sekali gadis ini."
Akhirnya mereka berdua pun bertanya kepada Erlan dan yang lainnya.
"Siapa dia?"
"Ah, dia adalah tamu di desa kita."
"Darimana dia berasal?"
"Dia berasal dari dunia manusia paman! Dan apakah kau tahu? Dia adalah pahlawan yang telah membunuh monster–monster di gua sana, paman!"
"Oh begitu. Ya sudah, cepat bawa dia masuk ke dalam."
Setelah mendapatkan izin masuk, Erlan pun mengajak Eli untuk masuk ke dalam desa.
Sebelum pergi, Elizabeth tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada kedua penjaga itu.
"Terima kasih banyak. Salam kenal, namaku Elizabeth."
"E, e–eh i–iya salam kenal, namaku Perez.", penjaga itu menjadi salah tingkah. Wajahnya bersemu merah seraya menggaruk kepalanya yang nampaknya tidak gatal.
"Namaku Haru, selamat datang di desa kami."
Melihat senyuman di bibir Elizabeth, membuat hati kedua penjaga itu berdegup sangat kencang. Disaat ia sudah masuk ke dalam desa, Perez dan Haru masih tidak bisa memalingkan wajahnya dari tubuh gadis itu.
"Woah! Dia cantik sekali! Kau setuju dengan apa yang ku ucapkan bukan, Haru?"
"Iya kau benar. E–eh tunggu sebentar, kau dengar tidak jika dia berasal darimana?"
"Hmmm... kalau tidak salah... dari dunia manusia, kan?"
"Manusia huh....??"
Keheningan pun tidak dapat terelakkan, setelah Haru mengeja kata 'manusia' dari dalam mulutnya. Seluruh tubuhnya pun mulai bergetar, begitu pun dengan Perez.
"Tunggu! Manusia???"
"Manusia, dia berasal dari dunia manusia??"
"EEEEHHHHHHH!!!??? ADA MANUSIA DI DESA KITA!!!"
Haru dan Perez pun tidak henti–hentinya berteriak.
Mereka baru sadar, bahwa gadis tadi adalah makhluk mitos yang belum pernah mereka temui seumur hidup mereka.
"Cepat! Cepat! Kita harus menginformasikan kepada ketua desa!!!"
"Kau benar! Ayooo!!"
Mereka berdua pun dengan cepat berlari dan masuk ke dalam desa.
__ADS_1
Berharap jika mereka bisa menyusul gadis itu sebelum sampai di pusat desa.