
Malam hari masih berlanjut.
Atmosfer bumi masih terasa begitu dingin, ditambah dengan suara rintikan hujan yang mulai jatuh, menguyur daratan dengan derasnya. Biasanya suasana malam seperti ini digunakan oleh para siswa dan siswi untuk menjernihkan pikiran mereka.
Namun, tetap saja mereka tidak diizinkan keluar. Ini dilakukan agar menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
"Dingin sekali." ucap seorang gadis, memakai rok pendek berlipat-lipat, baju sekolah, berambut coklat muda pendek dan warna matanya sama dengan rambutnya.
Gadis itu membawa lentera di tangan kanannya. Saat mengucapkan kalimat itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang satunya.
"Entah mengapa suhu di sini lebih dingin dibandingkan sebelumnya."
"Apakah iya?"
Gadis berambut coklat itu melontarkan pertanyaan kepada gadis berambut tua, di tangan gadis itu pun sibuk memegang sebuah lentera.
Mereka berdua berjalan menelusuri lorong yang gelap, mengerjakan tugas mereka sebagai pengawas akademi.
"Mungkin hanya diriku saja yang tidak tahan dingin."
"Apakah sebaiknya kita kembali saja? Aku khawatir jika kau terkena flu, Helena."
"Kau tidak perlu khawatir, Lou." Helena membuat senyuman di bibirnya, memperlihatkan kepada Lou bahwa ia adalah gadis yang kuat.
"Hahahah...baiklah, lagi pula Helena adalah gadis yang kuat, bukan?"
"Tentu saja."
Suara petir menyambar pun menghentikan percakapan mereka. Helena dan Lou menunduk sebab suara itu datang secara tiba-tiba. Helena pun berkata. "Akan lebih baik jika kita menyelesaikannya dengan cepat."
Lou mengangguk. "Aku setuju dengan mu."
Mereka mengubah cara berjalan mereka dari berjalan lambat menjadi berlari kecil. Tinggal beberapa sudut akademi yang belum mereka telusuri yaitu di perpustakaan dan di halaman belakang.
Jarak antara tempat mereka berada dan halaman belakang cukup jauh, jadi mereka berdua memutuskan untuk memeriksa perpustakaan terlebih dahulu. Tempat ini buka selama 24 jam, akan tetapi ini hanya berlaku bagi para pengajar.
"Permisi." Helena membuka pintu. Sunyi dan sepi tidak ada siapa-siapa disana.
Lou dan Helena masuk ke dalam. Dikarenakan ini adalah tempat umum, penerangan di sini jarang sekali dimatikan. Jadi, mereka berdua menaruh lentera yang mereka bawa sejenak di atas meja dan memulai tugas mereka.
"Lou, kau pergi ke sebelah sana dan aku pergi ke sebelah sini."
"Baiklah."
Mereka berdua pun berpencar.
Perpustakaan ini setidaknya sudah berusia ratusan tahun, jadi banyak sekali jaring laba-laba di setiap langit-langitnya. Ini membuat Helena merasa jijik, ia mempertanyakan kinerja pustakawan yang bekerja di sini.
"Ugh! Banyak sekali! Kenapa mereka tidak membersihkan tempat ini lebih baik lagi?"
Sebagai orang yang tidak suka tempat kotor, Helena pun melakukan sesuatu. Sihir yang ia kuasai adalah sihir api, jadi ia menggunakan sihirnya untuk membakar semua jaring-jaring itu hingga menjadi abu.
Ia adalah siswa dengan kemampuan sihir bintang 3.
"Dengan begini, selesai." ucapnya dengan bangga.
"Sepertinya aku perlu memberitahu Yang Mulia tentang kebersihan tempat ini. Setidaknya itu akan menimbulkan efek jera bagi pustakawan yang bekerja disini...salah mereka sendiri sebab tidak menjaga tempat ini dengan baik."
Helena berjalan kembali, menelusuri setiap rak-rak buku yang tersusun rapi di samping kiri dan kanannya.
Buku di sini setidaknya berjumlah ratusan, jadi rak-nya tersusun menjulang tinggi dan salah satu cara mengambil buku-buku di atas sana adalah dengan menggunakan tangga.
"Sepertinya tidak ada apa-apa. Semua buku, meja dan kursi sudah tersusun dengan sangat rapih...bahkan permukaannya sangatlah dingin. Aku juga tidak merasakan ada aliran mana di sekitar sini."
Setiap orang memiliki mana, dan ini adalah hal yang begitu mudah bagi Helena, siswi dengan sihir bintang 3 miliknya.
Merasakan aliran mana adalah hal yang begitu mudah dilakukan olehnya.
"Aku penasaran bagaimana keadaan Lou sekarang?"
Helena kemudian pergi ke lantai dua, dimana terdapat teras yang langsung menghadap keluar.
"Tidak ada siapa-siapa. Tempat ini bersih." Itu maknanya bahwa ia tidak perlu mengecek kembali tempat itu kembali.
__ADS_1
Helena akhirnya pergi ke lantai bawah untuk menjumpai Lou.
Ia bertanya-tanya kemana perginya Lou. Namun, disaat ia melewati tumpukan rak-rak buku, ia melihat sebuah pintu yang setengah terbuka, itu membuat rasa penasarannya naik.
"Kenapa pintu itu terbuka?"
Tidak ada orang lain selain dirinya dan Lou di perpustakaan ini. Jadi ia berasumsi bahwa yang membukanya adalah Lou.
"Sepertinya ia ada di dalam." Helena membuka pintu itu dan membiarkannya terbuka.
Saat ia baru berjalan beberapa langkah ke depan, dalam kegelapan ia dapat melihat bayangan seseorang. Helena mengernyitkan dahinya, ia perlahan mendekati bayangan itu.
Nahasnya ia lupa membawa lentera yang ia bawa dan pastinya hal itu pun dirasakan sama oleh Lou.
"Lou, apa itu kau?"
Bayangan itu berbalik, dan menampakan wujud Lou yang sedang berjalan lambat ke sebuah sudut ruangan itu.
Lou yang mendengar namanya dipanggil pun segera berbalik dan melihat bahwa Helena sudah berada di sana.
"Apa yang kau lakukan?"
"Shhhttt!" Lou meletakkan jari telunjuknya di mulutnya, memberi isyarat untuk Helena agar tetap diam.
Suasana pun menjadi mencengangkan. Helena pun menyadari bahwa ada yang tidak beres, ia pun mengangguk, memperhatikan ke sekeliling nya. Kemudian, Lou mengajak Helena untuk pergi ke sebuah sudut ruangan.
"Aku mendengar suara seseorang dari ruangan ini."
"Apa kau yakin?"
Lou mengangguk. "Pastinya dan bukan hanya satu orang..."
Kaki mereka terus membawa keduanya untuk masuk lebih dalam lagi. Helena sadar bahwa mereka berdua berada di gudang perpustakaan, tempat dimana buku-buku lama disimpan.
Untuk menjadi tempat persembunyian sepertinya adalah hal yang begitu masuk akal. Susunan buku yang menjulang tinggi dan tidak hanya satu melainkan puluhan menjadikan tempat ini begitu bagus untuk melakukan sesuatu tindakan yang tidak diinginkan.
"Engh..."
Mereka berhenti.
"Apa?"
"Suara itu?"
Helena mempertajam pendengarnya.
"Enghn... Mhmm..."
"Kau benar! Aku mendengarnya."
"Terus berjalan."
Suara-suara itu semakin nyaring di telinga mereka berdua. Helena dan Lou memantapkan diri mereka, sebab suara ini terdengar begitu aneh. Suara itu....terdengar seperti sebuah *******.
"Ahnn....apa kau dapat menyentuh ku lebih lama lagi?"
"Tentu...mnhm...saja kalau itu yang kau inginkan."
"Nghhn...."
Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah ruangan. Butuh waktu yang tepat untuk mendobrak pintu dan melihat siapa di balik ruangan itu.
Siapa pun itu, Helena dan Lou tidak memiliki alasan khusus untuk beranggapan bahwa siapapun yang berada di dalam sedang melakukan hal yang begitu vulgar.
"Kita dobrak sama-sama. Satu...dua..."
"Engh....Claude."
"Tiga!"
BRAKKKK!!
"SIAPA DISANA!?"
__ADS_1
"Ah!?"
Entah apa yang harus dilakukan Lou dan Helena dalam keadaan mendadak seperti ini. Apakah mereka perlu menutup wajah mereka sekarang? Disaat melihat dua orang sejoli yang sedang bercinta di depan mereka?
"Ka-kalian..."
Nampaknya tidak bagi Helena. Ia menunjuk ke arah gadis yang duduk di atas tubuh pria di depannya. Keduanya bertatapan dengan posisi yang begitu intim, layaknya sepasang kekasih yang sedang memadu kasih di atas kasur.
"Apa yang sedang kalian lakukan!?"
"T-tunggu...ini tidak seperti yang kalian lihat!" Gadis itu berdiri dengan cepat, ia pun nampak begitu kebingungan dan takut. Bagian pundak dan dada gadis itu tidak tertutupi oleh baju yang ia kenakan.
"Ah! Tidak perlu banyak bicara! Kami sudah tahu apa yang kalian perbuat!"
"Diam!"
Gadis itu pun ketakutan, melihat wajah Helena yang menatapnya dengan serius. Begitu pun dengan Lou.
Mereka berdua nampaknya tidak begitu ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Melihat banyak sekali tanda kecup dan gigitan di tubuh gadis itu, memperlihatkan betapa jauh mereka berdua bermain.
"Kejadian ini tidak boleh sampai terlewatkan. Kau telah melakukan pelanggaran dengan melanggar kode etik di akademi ini!"
Hawa di dalam ruangan itu pun terasa semakin dingin. Tubuh Lou disinari cahaya biru. Butuh beberapa detik bagi Helena untuk menyadari bahwa gadis itu akan menggunakan kekuatan sihirnya.
"Penjara es!"
Lingkaran sihir yang Lou buat seketika bersinar dan mengeluarkan sihar yang begitu terang.
Sinar itu langsung mengenai gadis di depannya.
"T-tunggu...tolong jangan beritahu kepada ke-kepala akademi! Tolon-"
Crek!
Sihir yang Lou gunakan adalah sihir es. Ia membuat tubuh gadis itu terjebak dalam bongkahan es yang sangat padat. Tubuhnya membeku di dalam dan tidak dapat keluar.
Lou dan Helena selesai dengan gadis itu, sekarang tinggal pria yang berdiri di belakangnya dengan bertelanjang dada, pakaiannya tergelak di lantai. Ia hanya berdiri dan memberikan senyuman aneh kepada mereka berdua
"Huh...aku tidak menyangka jika kau akan melakukan masalah lagi, Yang Mulia Claude."
"Hal yang begitu lumrah bukan?"
Helena mengigit bibirnya, asalkan saja pria di depannya bukanlah seorang pangeran maka dia sudah menyuruh Lou untuk membekukan tubuhnya sedari tadi.
Melihat wajahnya saja sudah membuatnya muak. Bagaimana bisa orang sepertinya mendapatkan gelar yang begitu tinggi? Sedangkan perilakunya begitu buruk.
"Karna kau adalah saudara laki-laki dari Alexander, sayang sekali kami tidak bisa menghukum mu."
"Aku tidak tahu bagaimana cara mu berfikir, disaat yang lain menginginkan posisi mu yang mereka anggap sebagai pencapaian tertinggi dan kau dengan seenaknya tidak menjaga perilaku mu; Kau tidak pantas disebut sebagai pangeran."
"Ibumu pasti akan sangat sedih jika melihat kelakukan putranya yang ia anggap sudah sangat baik di sini, namun bertolak belakang dengan apa yang dia pikirkan."
Ia hanya berdiri dengan wajahnya yang nampak kosong, mengambil kembali pakaiannya yang tergeletak di atas lain dan lalu memakainya lagi.
Lou dan Helena hanya menghela nafas mereka, tahu bahwa ucapan mereka tidak akan didengar dan menghampiri tubuh gadis yang telah membeku di dalam balok es.
Pada saat ini, pria itu berjalan ingin keluar dari ruangan ini. Wajahnya nampak begitu tenang walaupun tergambar senyuman kecil di bibirnya.
"Aku dan gadis itu tidak memiliki hubungan spesial sama sekali. Aku datang ke gudang ini hanya untuk mengecek apakah terdapat seseorang atau tidak. Gadis itu pun muncul dan langsung menyerang ku, menyuruhku untuk memenuhi hasrat bejatnya. Nampaknya dia begitu menyukai ku dan aku pun tidak tahu berapa banyak gadis yang akan menyerang ku kelak. Ku serahkan dia kepada kalian."
Tidak ada jawaban sama sekali dari Helena dan Lou. Keheningan yang datang secara tiba-tiba membuat tekanan di ruangan itu seakan-akan dapat membekukan siapapun yang masuk ke sana.
Keduanya hanya diam saat pria itu keluar dari gudang.
Lou menghela nafas berat, ia sebenarnya tahu jika kejadian ini akan terus terjadi. Ia telah lelah untuk menasehati orang itu setiap kali mereka berjumpa dan pada akhirnya ia pun tidak ingin lagi berteman dengannya. Begitu pun dengan Helena.
"Semakin gelap disini, ayo kita bawa dia ke ruang Pengawas Akademi."
"Ah...baiklah."
"Tidak perlu dipikirkan, Helena."
"Tetap saja. Dia begitu keras kepala."
__ADS_1
Percakapan keduanya pun selesai, diganti dengan bagaimana caranya mereka berdua untuk membawa gadis itu keluar.
......(TO BE CONTINUED)......