
(Keesokan harinya)
Tuan Albert yang merupakan kepala pengajar dari pendidikan ilmu seni pedang masih tidak dapat melupakan tentang kejadian yang baru saja ia dengar kemarin sore.
"Bukankah ini tidak masuk akal, Celine?"
"Jika yang kau maksud tentang Elizabeth, pastinya iya."
Nyonya Celine duduk di sofa sedangkan Albert masih berdiri dengan raut wajah kebingungannya.
Celine bilang. "Lebih baik lupakan saja, yang terpenting ia sudah kembali dengan selamat." Tangannya mengambil cangkir yang telah diisi oleh kopi hangat.
"Bukan seperti itu, Aku mendapat laporan dari anak buah ku bahwa tidak ada penyerangan dari para goblin ataupun monster lainnya tadi siang."
Albert menghela nafas panjang, walaupun ia terkenal di seluruh akademi oleh sifatnya yang garang, tapi dalam hatinya sebenarnya ia sangat menyayangi murid-muridnya.
Nyonya Celine menaruh cangkir kopi nya.
"Apa kau berfikir seperti apa yang aku pikirkan?"
"Maksud mu selama ini anak itu menyembunyikan kekuatan sebenarnya?"
"Tentu, setidaknya jika asumsi kita benar, kita hanya perlu mengetesnya bukan?"
Albert sedikit tersentak disaat melihat wajah wanita tua didepannya mengukir senyuman yang sudah pernah ia lihat sebelumnya. Ia memikirkan akan ada hal buruk yang terjadi.
"Celine, kau jangan bertindak gegabah."
"Dengar Albert, hanya ini satu-satunya cara untuk melihat kekuatan asli dari anak itu. Apa kau tidak mau kejadian yang 5 tahun lalu terulang kembali?"
Albert diam sambil mengingat kembali sebuah kejadian dimasa lampau. Ia kemudian duduk di kursi dimana tempatnya bekerja.
"Baiklah kalau begitu, bagaimana dengan kompetisi pedang suci yang akan diselenggarakan sebentar lagi?"
Celine menjawab. "Tinggal menunggu proses saja, kau tidak perlu risau." Wajahnya mengukir senyum lagi.
"Kalau sudah aku harus kembali ke kelas, anak-anak pasti sudah sangat bosan."
"Baiklah, kita akan membicarakan nya nanti lagi."
Suara pintu ditutup pun terdengar, kini tinggal Albert sendirian di ruang guru. Ia menyenderkan tubuhnya di kursi yang sedang duduki saat ini. Sebelum tertidur terdengar suara ******* panjang dari mulutnya.
"Hah....."
Ditempat lain kini Elizabeth bersekolah seperti biasa. Ia sedang duduk di meja belajarnya sambil mencoba fokus mendengarkan apa yang Tuan Shaman ajarkan padanya.
"Setelah melakukan latihan harian yang cukup, tubuh ku terasa lebih ringan dari biasanya."
...[YOU HAVE COMPLETED QUEST]...
Tangannya bergerak menutup layar yang muncul di depan wajahnya. Sesekali ada beberapa siswa atau siswi yang menatap aneh ke arahnya, tapi Elizabeth tidak terganggu sedikit pun.
"Ku dengar Elizabeth diserang oleh segerombolan goblin kemarin siang."
"Benarkah terus bagaimana?"
"Yang ku dengar ia melawan dan tidak pergi menyelamatkan diri, ia berhasil mengalahkan mereka dan kembali ke akademi dengan seragam sudah bersimbah darah."
"Wah mengerikan sekali."
Mr. Shaman yang mendengar bisikan dari para murid di bagian belakang pun geram.
__ADS_1
"Jika ada yang ingin mengobrol silahkan keluar."
Para murid diam setelah mendapat bogem mentah dari pria tua itu. Tangannya kembali mencorat-coret kapur di papan tulis.
Suara bel pun berbunyi, para murid langsung berlarian keluar menuju kantin untuk memenuhi isi perut mereka.
"Hah... Dasar anak-anak." Ucap Tuan Shaman, pandangannya kini tertuju pada Elizabeth yang masih duduk di kursinya sambil menatap keluar jendela.
"Elizabeth kau tidak keluar?"
Elizabeth menyapa balik. "Tidak guru, aku sedang tidak lapar."
Pria tua itu membereskan buku-buku sihir miliknya. "Kau sepertinya sudah berubah, Elizabeth." Ucap pria itu sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Apanya yang berubah, Tuan Shaman?"
"Kau jauh lebih tenang dari biasanya, apa ada masalah?"
Elizabeth menghela nafas panjang, tubuhnya bersandar di kursi yang sedang ia duduki. Sebenarnya ia tidak suka ada orang yang ikut campur dalam urusannya, tapi jika ia menolak pasti gurunya itu akan terus melontarkan pertanyaan padanya.
"Tidak ada, guru."
Tuan Shaman mengangguk dan berjalan keluar dari kelas setelah itu, ia berfikir tidak perlu menanyakan hal-hal bodoh kepada salah satu muridnya itu.
Elizabeth berdiri dari kursi dan berjalan keluar kelas, mencari hiburan untuk sementara. Kondisi sekolah yang begitu ramai membuat dirinya merasa pusing.
Setelah melewati beberapa belokan akhirnya ia sampai di taman depan sekolah, kondisinya tidak begitu buruk, banyak bunga bermekaran dan hanya sedikit orang yang berkunjung di sana.
"Melelahkan sekali..."
Salah satu pohon ia buat sebagai tempat untuk melepas penat, belajar seharian memang benar-benar menguras habis tenaganya, dibandingkan dengan berburu.
Tapi, ia juga sudah membuat rencana untuk malam ini, dimana ia akan mulai berburu lagi.
"Rupanya kau disini."
Eli yang mendengar suara itu berusaha tidak peduli, ia masih memejamkan matanya tanpa melihat siapa pemilik suara itu.
"Untuk apa kau disini?"
"Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu."
Suara pemuda itu berirama sedih, tetapi Eli masih mencoba untuk tidak peduli. Kemudian, pemuda itu mengambil beberapa helai rambut milik Eli yang tertata rapi di atas rumput dan mengecup nya.
"Jika kau ingin membicarakan hal yang tidak ingin ku bicarakan, maka lupakan saja."
Pemuda itu menatap sedih ke arah Eli yang sudah ia anggap sebagai tunangannya. Setelah melihat perubahan drastis Eli, entah mengapa jarak antara dirinya dengan gadis ini menjadi sangat jauh, layak nya jarak antara bulan dengan bumi.
"Aku ingin mempercepat pernikahan kita."
Eli mengernyitkan dahinya, kini matanya mulai terbuka dan menatap tajam pemuda yang sedang menatapnya juga dengan wajah datar.
"Omong kosong apa ini? Apa kau sudah gila!"
Eli membuang muka, ia sama sekali tidak ingin melihat wajah pemuda itu. Setiap kali ia melihatnya, kenangan buruk akan kehidupan lamanya terulang kembali di pikirannya.
Alexander sama sekali tidak mengerti, apa yang sudah terjadi dengan tunangannya beberapa hari ini. Setiap kali mata mereka bertemu, Eli selalu saja pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Jika aku membuat masalah tolong maafkan lah aku, Eli. Janganlah kau terus mengabaikan aku seperti ini."
Eli mendecih geram mendengar ucapan yang pemuda itu katakan padanya. Ia berfikir, kenapa rasanya Alex yang menjadi korban disini dan bukannya dia.
__ADS_1
"Aku sudah mengubur perasaan ku lama sekali, Pangeran. Perasaan ku padamu hanyalah fiktif belaka yang tidak akan pernah kau dapatkan. Kita bersatu bukan atas dasar cinta."
Jujur, Eli sendiri merasa mual dengan kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Tapi, ia tidak tahan lagi, untuk menghindari kematiannya lagi ia harus membuang jauh-jauh perasaannya pada lelaki ini.
"Baiklah kalau begitu, tapi aku punya satu syarat."
"Syarat apa?"
Eli tidak tahu bahwa saat ini Alex sedang menatapnya dengan tatapan memohon.
"Jika kau ingin memutuskan hubungan kita, aku mau kau mengucapkannya sendiri pada ibu ku."
Eli mengucap 'wow' dalam hatinya, ia tersenyum didalam. Tidak disangka akan semudah ini!
"Baiklah, akan aku lakukan."
Alex terkejut dengan keputusan yang Eli buat. Apa dia benar-benar akan memutus pertunangan mereka yang sudah berjalan hampir lima tahun? Apakah akan berakhir seperti ini?
Walaupun wajah Alex terlihat dingin, tapi didalam hatinya ia begitu sedih.
Begitu pun dengan Eli, entah kenapa ia merasa bersalah dengan memutuskan pertunangan nya dengan Alexander. Tapi begitulah kenyataannya, Eli sama sekali tidak ingin mengulang takdir pahit yang akan ia terima jika bersama dengan pemuda ini.
"Kalau begitu aku pergi dulu, semoga kau bahagia."
Eli pun berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Alex dengan wajahnya yang mulai berubah masam. Kata terakhir yang Eli ucapkan membuatnya lebih merasa tersiksa.
'Semoga kau bahagia. Apa dia benar-benar serius?"
Ia memukul dua kali pohon yang ada disampingnya, sebagai tempat untuk melampiaskan amarah. Alex juga mengutuk dirinya karna tidak bisa mempertahankan hubungan baiknya dengan Elizabeth.
"Jika saja aku selalu berada disampingnya, pasti tidak akan jadi seperti ini."
Alex terduduk dibawah pohon sambil mengusap perlahan air matanya.
****
Eli tidak tahu ingin pergi kemana, pikirannya terlalu kacau hingga ia tidak dapat berfikir jernih.
Disaat hatinya sedang kacau, datang seorang pemuda dengan mengenakan kaca mata besar.
"Um permisi apa benar kau Elizabeth Islan dari kelas sihir?"
Eli hanya menatap aneh pemuda itu. Dengan gaya dan cara berpakaiannya pasti ia bukan siswa dari kelas sihir.
"Ya, itu benar, kau siapa?"
"Aku James dari kelas pemburu."
Eli sedikit terkejut, matanya tidak lepas dari pemuda itu. Kelas pemburu merupakan tempat dimana pemburu-pemburu muda sedang dilatih dan dibentuk agar menjadi pemburu yang handal.
Eli bertanya dengan raut wajah bingung. "Untuk apa kau mencari ku?"
"Apa kita bisa bicara di tempat yang lebih sepi saja?"
"Kenapa tidak langsung bercerita disini?"
"Kumohon."
Pemuda itu benar-benar memohon kepada Eli. Ia pun mengangguk dengan alasan ada beberapa siswa yang mulai menatap curiga dirinya.
Eli kemudian mengikuti pemuda itu dari belakang.
__ADS_1
'Sebenarnya apa yang ingin ia ceritakan?'
...-TO BE CONTINUED-...