Queen Of Avalon: Solo Adventure

Queen Of Avalon: Solo Adventure
Chapter 21


__ADS_3

Goblin membawanya masuk ke dalam hutan. Eli terus mengikuti kemana makhluk kerdil itu akan membawanya, melihat ia berlari sangat kencang ia tahu bahwa goblin itu bukanlah goblin biasa.


Ia lincah seperti ular dan larinya kencang seperti seekor kuda. Namun apakah dia dapat mengalahkan kecepatan dari ku?


Eli hanya tersenyum sambil memfokuskan pandangannya ke depan.


[Skill: 'Sprint' diaktifkan]


–Dash.


Kecepatannya kini sudah melampaui goblin itu, Eli dapat melewatinya dan menghentikan pergerakannya.


"Kau pikir kau mau pergi kemana setelah mencoba untuk membunuh teman ku?"


Ia berdiri sambil menunjukkan pedang Leviathan nya.


Ia heran mengapa makhluk itu hanya berdiri di depannya seraya mengukir senyuman. Sebenarnya apa yang direncanakannya?


"Khikkk..."


Ia terkekeh dan benar saja ada sesuatu yang terjadi.


Perasaan ini...


Nampaknya goblin itu mendapatkan sedikit bantuan dari beberapa monster. Eli dapat merasakan kehadiran mereka di sekitarnya, dan mereka berjumlah lumayan banyak.


Suara langkah kaki mereka terdengar serentak keluar dari dalam gelapnya pepohonan.


"Mereka."


Lycan, monster yang hampir mirip seperti serigala namun kenyataannya mereka berbeda. Mereka memiliki insting berburu dan indra penciuman yang jauh lebih kuat dari serigala.


"Bagaimana bisa goblin ini mendapatkan bantuan dari mereka? Apakah ia sengaja membawa ku kesini dan menjadi makan malam mereka?"


Goblin dan Lycan tidak pernah akur. Mereka sering bertarung untuk memperebutkan wilayah satu sama lain. Pertarungan mereka seringkali terdengar di wilayah Heskard namun, untuk beberapa bulan terakhir tidak ada informasi tentang pertikaian antara goblin dan lycan.


Apakah mungkin mereka telah bersepakat untuk menggabungkan kekuatan?


"Grrrrrrr!!"


"Khiakkkk!"


Kini dirinya telah dikepung namun Eli nampaknya tidak begitu takut.


Ia mengambil kuda-kuda dan berkata, "Majulah!" seraya mengacungkan pedangnya.


Para monster pun tidak berdiam diri lagi, mereka sontak melompat dan berlari ke arah Eli.


Karna mereka adalah binatang buas jadinya mereka tidak mempunyai energi sihir, tidak seperti Fenrir yang ia lawan. Binatang buas itu dengan mudahnya dapat mengeluarkan sihir es yang kuat namun, pada akhirnya Eli dapat mengalahkannya.


–Slash! Slash! Slash!


Walaupun mereka menyerang Eli secara bersamaan namun pola serangan mereka begitu mudah ia tangkap.


[Kau telah membunuh 'Lycan']


[Kau telah membunuh 'Lycan']


Tubuh mereka berjatuhan setelah sistem berbunyi. Untuk malam ini nampaknya Eli tidak dapat tidur dengan cepat.


"Groahhhhh!!"


"KHUAKKKKK!!"


[Skill: 'Cannibal' diaktifkan]


Eli menaruh pedang Leviathan nya di inventori setelah mengaktifkan kemampuan 'Cannibal'. Kuku nya dan gigi nya meruncing, ia menatap tajam ke monster-monster yang melayang di udara siap menyerangnya.


Ia pun bergegas mengayunkan kuku-kuku tajamnya.


Crush. Slash.


Hutan itu diisi dengan suara dan lolongan kematian dari para lycan, menambah suasana horror di dalam sana. Dan satu-satunya orang yang berdiri di atas mayat para monster itu adalah seorang gadis, dengan badannya yang telah berlumuran darah ia menatap ke atas langit.


Goblin itu terdiam seraya menatap tubuh gadis yang telah membunuh para lycan. Diisi dengan rasa takut saat gadis itu menatapnya dengan matanya.


Ia berusaha kabur dari sana.


"Khikkk!"


–Slash!


Sebuah benda tajam melayang dan langsung mengenai punggungnya. Goblin itu tersungkur ke tanah.


[Kau telah mengalahkan 'Goblin']


[Skill 'Cannibal' naik level]


Pada waktu yang tepat Eli melempar pedang Leviathan nya.


Pedang itu meluncur dan langsung membuat lubang di punggung si goblin. Eli turun dari tumpukan mayat-mayat lycan yang telah ia bunuh. Setiap kali ia berjalan, jejak kakinya bercampur dengan darah dari mayat-mayat monster.

__ADS_1


"Untung saja aku mempelajari teknik melempar pisau, aku tidak sangka jika teknik itu akan ku gunakan di kondisi seperti ini." Ia mengambil pedangnya yang masih menancap di tubuh si goblin. "Namun..."


Sejak ia melawan para lycan dengan pedang Leviathan nya ada hal yang tidak bisa ia lupakan.


"Apakah karna ukuran pedang ini yang lumayan besar, jadinya aku sulit mengayunkannya? Entah mengapa aku terlalu kaku dalam menggunakannya."


Ada hal yang perlu Eli perhatikan dalam teknik bertarungnya dengan pedang itu dan ia tahu harus berbuat apa.


"Nampaknya aku harus berlatih kembali." katanya, menggenggam pedangnya erat-erat.


Inilah saat-saat yang telah Eli tunggu, melakukan penjarahan.


Ia mengambil beberapa bagian dari goblin yang dapat ia jual nantinya. Setelah selesai ia berbalik dan kembali memotong bagian tubuh dari lycan yang telah mati.


[Kau mendapatkan 'Taring Lycan']


[Kau mendapatkan 'Telinga Goblin']


[Kau mendapatkan 'Kulit Lycan']


"Selesai." ucapnya, menaruh kembali pedang Leviathan ke dalam inventori. "Nampaknya hanya itu saja."


Setelah melihat tidak ada yang tertinggal ia dengan cepat memasukkan semua barang jarahannya ke dalam inventori. Eli tidak punya waktu untuk menjual semua barang jarahannya sekarang, ia mengingat bahwa waktu belajarnya yang begitu banyak dan masih terdapat tugas yang belum ia selesaikan


Hujan diiringi dengan suara gemuruh petir membuyarkan suasana.


Air hujan membasahi tubuh Eli dari wajah hingga ke kaki. "Kenapa hujan turun begitu lebat?" ucapnya, seraya menatap ke atas langit.


Ia nampaknya tidak begitu peduli tentang baju sekolahnya yang basah dan telah ternodai oleh darah.


Inikah dunia fana yang telah ku singgahi? Namun mengapa hujan ini terasa begitu nyata dan dapat kurasakan setiap tetesannya?


Hujan menyamarkan emosinya, menutup mata sejenak dan membiarkan dirinya berdiri mematung di samping mayat para lycan. Eli tenggelam dalam pikirannya, mengingat seluruh perkataan Erendriel dan Visati.


"Mereka benar." ucapnya.


"Kalian semua benar. Aku telah tidur begitu lama dan nampaknya aku sudah terbuai dengan semua kenikmatan yang ku dapatkan selama ini." Eli menurunkan pandangannya, menutup dan membuka matanya lagi. "Semua ini...tidak nyata."


—Glarrrrr.


Petir menggelegar di atas awan yang hitam, sinar putih nya menerangi beberapa saat.


Eli terbangun setelah mendengar suara langkah kaki di dekatnya. Kemudian, ia mengambil langkah seribu untuk masuk ke dalam hutan.


Beberapa menit kemudian datang beberapa orang dari balik pepohonan. Mereka semua tercengang dengan apa yang mereka temui.


"Astaga!"


Pemandangan yang cukup aneh, beberapa mayat monster berjenis lycan tergeletak bertumpuk di depan mereka, ditambah mereka telah dikuliti dan diambil beberapa bagian tubuh mereka.


"Helena apa kau yakin gadis itu masuk ke dalam hutan?"


"Aku yakin! Dia mengejar goblin yang hampir membunuhku."


Helena beruntung bertemu dengan Tuan Alber, begitu pula dengan rekannya yang lain. Lou berada di sampingnya, menjadi penjaganya.


...*************...


Lou berlari dengan kencangnya melewati koridor sekolah, bahkan ia sampai menutup matanya.


Ia tidak boleh membuang banyak waktu selagi temannya sedang dalam marabahaya. Ia harus cepat.


Nafasnya semakin berat ia telah berlari selama lima menit tanpa mengambil nafas sekalipun. Ia begitu takut dan khawatir dengan Helena.


—Buagh.


"Ah!"


"Aduh!"


Ia berteriak disaat berbenturan dengan seseorang. Karna ia berlari begitu kencang, benturan itu membuat dirinya terjatuh ke atas lantai dengan sangat keras. Namun untungnya ia mendarat menggunakan pantatnya walaupun ia meringis kesakitan.


"Awwww!" ringis Lou, mencoba membuka matanya.


"Lou? Apa itu kau?"


"Tuan Albert?"


Mengetahui orang ia tabrak adalah gurunya sendiri, seketika Lou memaksa dirinya untuk berdiri dan membungkuk kepada Albert.


"M-maafkan aku tuan Albert! Aku tidak sengaja!"


"Hei! Hei! Sudah, ada apa dengan mu? Kenapa kau berlari seperti dikejar oleh seseorang?"


"Sebenarnya...Helena.."


"Iya? Mengapa dengan Helena?"


"Tolong kami tuan Albert! Helena sedang dalam bahaya! Ia sedang melawan sekelompok goblin di halaman belakang!"


Seketika Albert bergidik mendengar ucapan Lou. Bagaimana bisa ada goblin di malam hari seperti ini?

__ADS_1


"Apa yang kau katakan!? Jangan bercanda Lou!"


"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda tuan Albert!? Helena sedang dalam bahaya dan kau mengatakan bahwa aku bercanda kepadamu?"


Suasana semakin tegang, Lou tidak bisa menahan emosinya. Ia tidak bisa diam saja disaat Albert menganggapnya sedang bercanda. Namun pada waktu yang tepat, seorang wanita muncul entah dari mana.


"Albert? Nona Lou? Apa yang sedang kalian lakukan malam-malam begini?"


"Beruntunglah!" teriak Lou, berlari ke arah nyonya Celine dan menggenggam tangannya erat. "Helena sedang dalam bahaya nyonya!"


"Apa yang telah terjadi nak? Kau sampai berkeringat dan wajah mu sampai pucat begini. Tenang lah sejenak."


"Bagaimana aku bisa tenang jika Helena sedang dalam bahaya!"


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Para goblin menyerang kami di halaman belakang dan sekarang Helena sedang bertarung dengan mereka sendirian disana!"


"Apa!!?"


Celine tidak bisa mengecilkan nada suaranya, ia menatap Albert yang hanya berdiam diri di belakang Lou. Ia nampaknya begitu marah.


"Tuan Albert, kenapa kau diam saja? Anak-anak kita sedang dalam bahaya dan kau hanya diam saja mematung di depan ku!"


"M-maafkan aku nyonya Celine. Ku pikir Lou hanya bercanda tadi–"


"Dasar bodoh!"


Celine langsung menarik Lou dari sana, Albert yang melihat kemarahan Celine tidak bisa berbuat banyak selain mengikutinya. Mereka semua langsung berlari ke arah halaman belakang dan benar saja.


"Suara itu.."


"Sepertinya itu terdengar seperti sebuah ledakan."


"Itu pasti Helena!"


Mereka bertiga langsung menambah kecepatan, disaat yang sama dua orang murid sedang melintas di depan mereka.


"Kalian berdua!" teriak Celine. "Cepat ikut kami ke halaman belakang!"


Kedua murid itu adalah rekan-rekan Lou, para pengawas akademi yang nampaknya telah selesai dengan tugas mereka.


"Apa yang terjadi?"


"Aku tidak tahu, kita ikuti saja."


Beberapa saat kemudian, mereka mendengar suara langkah kaki dari arah berlawanan. Mereka berhenti sejenak, seseorang gadis keluar dari gelapnya lorong dan berpapasan langsung dengan Celine.


"Helena!"


"Nyonya Celine?" Helena langsung mendekati mereka.


Lou langsung menghampiri Helena yang sedang memegangi lengan kirinya. Ia nampaknya sedang terluka.


"Helena, apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"


"Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir."


Celine mendekati Helena dan langsung menggunakan sihir pengobatannya untuk menyembuhkan lengan kiri Helena. Selagi ia mengobati lengannya, Celine berkata, "Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"


"Para goblin...mereka tiba-tiba keluar dari dalam hutan dan menyerang Lou dan diriku. Kami berdua berhasil mengalahkan beberapa dari mereka namun, salah satu dari mereka memanggil bala bantuan dan akhirnya kami mencoba untuk melarikan diri."


"Dan kau berusaha melawan mereka sendirian?"


"Aku tidak punya pilihan lain! Disaat aku hampir terbunuh oleh salah satu goblin, seorang gadis tiba-tiba muncul dan mengejarnya masuk ke dalam hutan."


"Gadis?"


Celine dan Albert menatap satu sama lain sebelum kembali mendengarkan cerita Helena.


"Seorang gadis katamu?"


"Itu benar, dia menggunakan pedangnya yang entah dari mana ia keluarkan dan langsung menangkis serangan goblin itu. Lebih aneh lagi, disaat aku menatap gadis itu, entah mengapa aura membunuh darinya begitu kuat hingga membuat diriku bergetar ketakutan."


Perkataan Helena sangat sulit di percaya oleh mereka semua terutama Celine. Ia bertanya-tanya siapa gadis yang menolong Helena, bahkan sampai membuat dirinya bergetar ketakutan.


Albert kemudian mendekat dan bertanya, "Apa kau tahu wajah gadis itu?"


"Aku tidak tahu. Namun yang jelas ia mengejar goblin itu dan masuk ke dalam hutan!"


Celine seketika khawatir, ia langsung menatap Albert saat itu. "Albert kita tidak punya banyak waktu lagi, nyawa gadis itu mungkin sedang dalam bahaya sekarang."


"Aku setuju dengan mu."


"Kalian berempat, ikutlah dengan kami. Helena tunjukan jalannya."


"Baik!"


Mereka berempat pun kompak berlari menuju halaman belakang. Mereka tidak bisa membiarkan nyawa seorang murid tewas begitu saja, jika hal itu terjadi maka bisa dipastikan Celine, Albert dan yang lainnya akan mendapatkan masalah.


Siapapun kau tunggulah kami, nak.

__ADS_1


...[TO BE CONTINUED]...


__ADS_2