Queennya Alvino

Queennya Alvino
Sisi rapuh Vani


__ADS_3

...Selamat membaca......


Pertengkaran Lea dan Rara sudah menyebar di seluruh penjuru RHS , maupun luar sekolah. Keduanya termasuk salah satu murid populer di RHS , berita tersebut menyebar dengan pesat melalui akun lambe turah dan murid murid yang melihat kejadian di kantin sebagian melakukan live streaming


Sangat disayangkan karena keduanya sedari kecil sudah sangat dekat seperti layaknya saudara namun pecah karena masalah laki laki. Ada yang membela Rara karena mereka yakin Rara ingin yang terbaik buat sahabat nya , ada juga yang menganggap Rara menyukai Steven seperti apa yang dikatakan Lea


Rara masuk kelasnya setelah mencuci muka , seisi kelas melihat kedatangan Rara , yang tadinya berisik sekarang sunyi karena sudah tau dengan kejadian tadi , Rara melihat Lea yang melengos melihat mukanya , ia sudah pindah tempat duduk disebelah Vani dan disebelah tempat duduk nya ada Allesya yang berdiri dan menatapnya


Rara tersenyum tipis dan menuju bangkunya , Allesya duduk dan mengeluarkan permen milkita kesukaan Rara dari sakunya


"Nih buat Lo" ucap Allesya


"Makasih" ucap Rara yang diangguki Allesya


...****...


"Sya" panggil Alvino , keduanya sekarang pulang


"Kita ke minimarket ya" ucap Alvino sedangkan Allesya seperti sedang berusaha merencanakan sesuatu


"Syaa" panggil Alvino sekali lagi


"Hah apa Al?" ucap Allesya tersentak


"Lo mikirin apa sih?"


"Ngga" jawaban dari Allesya ia yakini gadis itu sedang berbohong


"Kita ke minimarket sekarang ya beli cemilan" ucap Alvino


"Em ngga usah deh Al kapan kapan aja"


"Kenapa?"


"Nggapapa"


"Beneran?" tanya Alvino memastikan


"Iya Alvinoo" jawab Allesya , Alvino hanya menghembuskan nafasnya pelan


"Yauda iya"


...****...


Allesya turun dari motor Alvino dan tersenyum tipis


"Makasih" ucap Allesya


"Lagi mikirin apa tadi?"


"Eng-"


"Ngga nerima jawaban ngga dan gapapa" selat Alvino cepat membuat Allesya terkekeh


"Keliatan banget ya boongnya?" tanya Allesya


"Iya sayangg" ucap Alvino


"Sayang sayang pala Lo peyang!"


Alvino tertawa dengan jawaban dari Allesya


"Gue mikirin Lea sama Rara" ucap Allesya menatap kosong


"Udah gue duga"


"Duduk sana Al gue pegell , Lo mah enak duduk motor" ucap Allesya


"Iya iya" ucap Alvino menuruti


"Gue pengen nyelidikin semuanya , kalo ngga diselidikin Rara sama Lea bakal gini gini terus" ucap Allesya


"Besok gue bantu" ucap Alvino menatap Allesya membuat Allesya tersenyum


"Makasih"


"Lo ngga pulang?" tanya Allesya


"Ngusir?"


"Ya ngga nanya aja"


"Ngapain pulang , kan rumah gue sekarang udah ada disamping gue"


"Affah iyyahh?" ucap Allesya dengan tertawa , Alvino berdiri dan mengusap kepala Allesya dengan gemas


"Gue balik dulu udah mau ujan"


"He'em hati hati"


...****...

__ADS_1


"Haduh ck ini gimana sih pak Ahmad" gerutu Vani menunggu supir pribadinya , karena mobil yang ia pakai sekarang mogok dan sudah dibawa kang bengkel langganannya


Ia menunggu di halte yang dekat dengan area tempat mobilnya yang mogok tadi , ponsel Vani bergetar ia buru buru melihat ponselnya dan ada pesan dari pak Ahmad yang meminta maaf karena sedang terjebak macet


Vani menghela nafas kasar ia ingin menelfon sahabatnya namun tidak enak karena sangat merepotkan apalagi hujan begini


Vani pasrah ia menunggu pak Ahmad saja yang terbebas dari macet , ia memasukkan ponselnya di tas nya dan melihat jalanan , lama kelamaan rasa ngantuk mulai menyerang tanpa sadar ia tertidur dengan posisi duduk menyender


...****...


Satria yang baru saja keluar dari ruang musik meregangkan otot nya karena merasa pegal , ia ditugaskan guru musik untuk mengajari murid kelas 10 karena guru musik ada rapat dinas


Ia lalu menuju parkiran menuju motornya


"Ujan ternyata" batin Satria menyalakan mesin motornya dan meninggalkan RHS


Satria mengernyitkan dahinya , ia melihat gadis tertidur di halte , ia mengira mungkin gadis itu menunggu bus atau angkutan umum lainnya namun tak kunjung datang , ia menuju halte itu ingin memberikan tumpangan kepada gadis itu


Satria turun dari motornya dan kaget itu adalah Vani , ia duduk disebelah Vani yang nampak tertidur tenang , ia memperhatikan gadis itu dengan tersenyum


"Tidur aja cantik" batin Satria


Vani terusik saat ada tangan dingin seseorang menepuk pipi nya pelan berusaha membangunkan


"Van bangun Van"


Vani membuka matanya secara perlahan dan melihat Satria dalam kondisi basah menatap dirinya membuat Vani terkejut spontan ia duduk tegak


"Lo ngapain ada disini?!" tanya Vani tanpa melihat Satria


"Gue tadi baru pulang terus liat Lo ketiduran di sini jadi gue kesini , mau ngajak pulang bareng" jelas Satria ia melihat rambut Vani berantakan , Satria menyelipkan rambut Vani dibelakang telinga membuat Vani membeku sesaat


"Makasih" ucap Vani cuek


"Ayok bareng!" ajak Satria


"Ngga , gue disini aja nungguin supir gue" tolak Vani


Satria tau Vani tidak bisa dipaksa , ia menghela nafas dan menganggukkan kepalanya


"Yaudah gue tungguin sampe supir Lo dateng"


Vani menatap Satria sekilas dan kembali menatap jalanan yang basah karena air hujan


"Seragam Lo basah mending Lo pulang aja , gue tau Lo kedinginan" ucap Vani


"Ngga" tolak Satria , Vani hanya diam tak menjawab ucapan dari Satria membuat keheningan melanda


Vani menatap Satria sekilas dan kembali menatap sekitar tanpa menjawab pertanyaan dari Satria


"Cara biar gue bisa deketin Lo gimana? gue liat Lo beda sama cewek lain"


"Maksudnya?"


"Lo cuek kalo ada di deket cowok"


"Oh"


"Cara biar gue bisa deket sama Lo gimana?"


"Ngga tau , Lo tertarik sama gue?" tanya Vani balik menatap Satria


"Iya"


"Jangan jatuh cinta sama orang yang mati rasa karena Lo akan kecewa nantinya" ucap Vani


"Selagi gue bisa ngelakuin semuanya sendiri , gue ngga butuh cinta" lanjut Vani menatap Satria dengan senyuman manis nan lemahnya yang tak bisa dilihat oleh sembarang orang


"Lo dibikin kecewa seberat apa dulu sampe Lo jadi gini sekarang"


"Ntah , cinta menurut gue manis diawal doang lanjutannya pait , jadi gue ngga mau kenal apa itu cinta"


"Ngga semuanya kayak gitu Van"


"Bullsh*** menurut gue jatuh cinta adalah menyakiti hati secara halus"


"Ngga semuanya kayak gitu Van!"


"Stop! gue dari kecil apa apa sendiri , gue ngandelin diri gue sendiri , gue ngga butuh cinta yang cuma bikin luka aja"


"Lo jangan suka sama gue Sat"


"Cinta itu bisa datang kapan aja , ke siapapun , dan dimana pun , dan itu ngga bisa dilarang , jatuh cinta itu ngga salah , izinin gue untuk bisa buat Lo percaya cinta ngga seburuk itu" jelas Satria secara halus , karena menurutnya gadis keras dan ego yang tinggi seperti Vani akan melawan ketika dikerasin


"Gue bisa sendiri" ucap Vani


"Gue temenin"


"Terserah" final Vani karena sudah capek dengan perdebatan ngga berguna menurutnya


Keheningan kembali melanda keduanya , Satria melihat Vani yang pucat dan sedikit menggigil, ia berdiri dan membuka jok sepedanya mengambil jaket Vegas , dan memberikan ke Vani

__ADS_1


"Pake"


"Lo aja"


"Ck bandel Lo ah" ucap Satria menutupi tubuh Vani dengan jaketnya


"Makasih" ucap Vani membuat Satria menganggukkan kepalanya


Sudah 15 menitan mereka ada disana pak Ahmad tak kunjung datang , tangan Vani sedikit memutih dan mengkerut , Satria memegang tangan Vani membuat Vani menoleh


"Kalo Lo nurutin ego Lo terus , Lo akan sakit Van" ucap Satria pelan


"Ayo pulang gue anter , maaf kalo tangan gue juga dingin" ucap Satria


Vani menganggukkan kepalanya , Satria langsung berdiri diikuti Vani


"Ngga papa kan seragam Lo basah? gue ngga bawa jas hujan" ucap Satria


Vani menganggukkan kepala nya , Satria duduk di motor nya diikuti Vani


Satria menarik tangan Vani menyuruh untuk memeluknya , Vani ingin menarik tangannya


"Jangan dilepas Van gini dulu" ucap Satria membuat Vani pasrah


Vani memejamkan matanya dengan memeluk Satria , entah kenapa rasanya sangat nyaman. Satria tersenyum , ia sangat kedinginann saat ini namun ia juga senang karena bisa pulang bersama dengan Vani


...****...


"Makasih" ucap Vani turun dari motor Satria membuat Satria mengangguk


"Emm , ngga mau mampir dulu?"


"Kapan kapan aja , gue langsung balik ya" pamit Satria , Vani mengangguk


Satria meninggalkan rumah Vani , Vani memasuki rumahnya


"KAMU SELALU SAJA SIBUK MAS!"


"AKU SIBUK JUGA BUAT KELUARGA KITA! KAMU NGGA INGET DULU KITA PERNAH SENGSARA HAH?!"


"TAPI SEKALI KALI KAMU ADA WAKTU MAS BUAT KELUARGA KITAA!"


Vani mendengar perdebatan itu lagi dan lagi , Vani rasanya ingin menangis saat ini , Vani menutup pintu rumahnya dengan pelan


"Non" ucap Bi Surti menatap iba anak majikannya itu


"Ngga papa bi udah biasa" ucap Vani tersenyum padahal hatinya sudah menangis


Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga tanpa memperdulikan kedua orang tuanya yang ribut


"Dari mana saja kamu Vani?!" ucap papahnya membuat Vani berhenti sebentar dan melanjutkan langkahnya tanpa menjawab apapun


"LIAT! KAMU LIAT SEKARANG! ANAK KITA SEKARANG JADI GITU KARENA KAMU MAS!"


"KOK AKU YANG SALAH?!"


Teriakan demi teriakan membuat telinga Vani panas ia buru buru menuju kamar adiknya , ia membuka pintu kamar adik nya dan mendapati adik bungsunya sedang menangis


"Rafa , kita ngga boleh nangis , Rafa ingatkan kata ka Vani , mamah papah ngga papa jadi tenang aja" ucap Bian mengelus bahu Rafa


Vani yang melihat itu teriris hatinya, keluarga yang diliat orang orang harmonis ternyata didalam nya rusak


"Bian,Rafa" panggil Vani membuat keduanya menoleh dan berlari memeluk kakaknya


"Rafa kenapa nangis?" tanya Vani mengusap lembut kepala kedua adiknya


"Jangan lama lama peluknya ayo lepas , kakak lagi basah ini ntar kalian basah juga" ucap Vani yang dituruti adik adik nya


"Bentar ya kakak mandi dulu , Rafa ngga usah takut selama ada kakak kalian ngga kenapa napa okey" ucap Vani membuat Rafa berhenti menangis dan menganggukkan kepalanya


Selesai mandi , Vani kembali ke kamar adiknya , ia melihat kedua adiknya sedang bermain mobil mobilan


"Kak , Bian ngantuk" ucap Bian dengan menguap


"Bian ngantuk? ayok tidur , Rafa mau tidur juga?" tanya Vani membuat Rafa mengangguk


Ketiganya menuju ranjang , Rafa dan Bian telentang dikasur , Vani menyelimuti tubuh kedua adiknya , Ia mengelus kepala mereka secara bergantian sampai tertidur


Vani bangun dan ingin menuju kamarnya , ia melihat dari atas orang tuanya masih ribut , Vani buru buru menuju kamarnya dan mengunci pintunya


Ia terduduk lemas menyender pintu dengan menangis memeluk lututnya


"Gue ngga kuat" lirih Vani


Vani yang terlihat cuek didepan semuanya , sebenarnya ia adalah gadis rapuh dan penuh luka


Alasan Vani tidak memperbolehkan sahabat sahabatnya main kerumahnya karena rumahnya seperti neraka menurutnya


Vani terlalu hancur untuk merasakan yang namanya percintaan , ia merasa tidak pantas untuk dicintai , ia merasa terlalu banyak kurangnya , ia merasa gagal menjadi kakak dan juga anak


"Gue capek" lirih Vani

__ADS_1


__ADS_2