
Tak terasa tiga hari berlalu dengan cepat dan seperti yang dikatakan Xia Lie bahwa pengobatan Tuan Bei akan berakhir di hari ini. Dan sesuai rencana, Tuan Bei benar-benar memberikan berlian legendri yang bernama Koh-I-Noor atau yang biasa disebut sebagai Mountain of Light dan Diamond of Babur. Xia Lie yang menerimanya seketika bisa merasakan energi qi yang tak terbatas di dalam berlian tersebut. Dia tersentak kaget karena bahkan di dunia ini energi qi yang ada hanya samar-samar terasa, dan itu sangat kurang jika digunakan untuk menyerap qi dan mengolahnya menjadi energi dalam.
Namun ia malah mendapatkan harta yang sangat berharga ini secara kebetulan yang tak bisa ia pikirkan sama sekali hanya karena mengobati Tuan Bei hingga sembuh total. Namun karena ini telh diberikan padanya maka ia akan memanfaatkan sumber daya ini dengan sebaik-baiknya. Karena dengan energi yang tak terbatas dari berlian ini ia pasti akan bisa meningkatkan levelnya baik dalam bela diri maupun dalam hal medis.
Setelah itu Xia Lie pulang ke kediaman Xia, namun karena kecurigaan Xia Yu dan aduannya ada ibu dan ayahnya, kini Xia Lie harus mendapat teguran berupa omelan yang tak berdasar padanya. Itu membuatnya yang lelah karena mengeluarkan banyak tenaga dalamnya dalam mengobati Tuan Bei, menjdi pusing dan kesal. Ia dituduh macam-macam di luar sana karena sudah dua minggu ini selalu diam-diam keluar di malam hari dan pulang larut malam. Hah ia tak ingin berdebat dengan mereka dan ingin langsung pergi ke kamarnya. Tapi Xia Yu telah memprovokasi ayah dan ibunya agar memperingati Xia Lie yang sebagai publik figur seharusnya bisa menjag imagenya di luar.
“Bagusnya, dari mana saja kamu?” tanya Ruan Qi garang.
“Anak perempuan kenapa diam-diam menyelinap di malam hari dan pulang larut malam begini?” ocehnya lagi.
“Tahu tuh Bu, jangan-jangan ia bergaul dengan hidung belang di luar dan menjual tubuhnya.” Kata lancang Xia Yu namun diabaikan orang yang dituduhnya. Ya itu karena ia malas berdebat, jadi ia mengabaikan mereka dan beranjak pergi ke kamarnya.
“Hei kami sedang berbicara denganmu, beraninya mengabaikan kami hah!!” bentak Ruan Qi marah karena diabaikan dan bahkan tidak ditanggapi sama sekali.
“Ada apa malam-malam sudah berisik?” tanya Xia Chen yang dari ruang kerjanya mendengar keributan di lantai bawah.
“Ada apa sih... aku baru saja bisa tidur dan sekarang terbangun karena suara berisik” Xia Quan kesal karena tidurnya diganggu.
“Ini nih anak gadis bukannya tidur di rumah malam hari malah keluyuran dan baru pulang sekarang!” ujar Ruan Qi mengadu pada suamina.
__ADS_1
“Apa benar itu Xia Lie?” tanya Xia Chen memastikan.
“Kenapa kau malah bertanya? Apa kau tidak melihat bahwa dia baru saja memasuki rumah?!” Ruan Qi membuktikan bahwa Xia Lie ini baru saja dari luar.
“Kak Lie, apa benar kau dari luar? Dan baru pulang sekarang?” tanya Xia Quan yang merasa itu mustahil.
“Ya, aku ada tugas dari kampus yang harus aku lakukan di warnet, secara bukankah aku tak memiliki laptop?” bohongnya dengan mengambil keuntungan dengan memprovokasi orang-orang di kediaman Xia yang memang tak memfasilitasi barang-barang seperti itu untuk ia gunakan di kampus maupununtuk ia bisa mengerjakan tugasnya di rumah.
“Benar juga, Ayah kenapa tak membelikan Kak Lie laptop? Hingga harus membuatnya selalu pergi malam hari setelah syuting dan harus pulang larut malam? Kak Lie kan juga keluarga dan anak Ayah? Kenapa sangat dibedakan denganku dan Kak Yu?” tanya Xia Quan tak mengerti dengan orang tuanya ini yang selalu pilih kasih terhadap ketiga anak mereka.
“A-ah maafkan Ayah yang terlalu sibuk dan tak memperhatikan hal tersebut hingga membuatmu harus bekerja keras dan harus mengerjakan tugasmu di luar, besok akan Ayah belikan Kamu Laptop, ah tidak-tidak aku akan memberimu kartu ATM keduaku dan kamu bisa membeli apapun kebutuhanmu di kampus.” Ujar Xia Chen kikuk dan merasa bersalah dengan anaknya ini.
“Ayah, kenapa kau memberikannya kartu ATM keduamu, bahkan aku saja tak kau beri itu, ini tidak adil.” Marah Xia Yu iri terhadap Xia Lie.
“Yu’er, kakakmu ini kan baru beberapa bulan di sini dan ia bahkan baru saja memulai karirnya sebagai aktris, pasti tak memiliki uang untuk sekedar belanja kebutuhannya, dan kamu kan sudah memiliki kartu ATM pribadimu, jadi tak perlu begitu, kakakmu memang membutuhkan itu.” Bujuk Xia Chen menenangkan anak kesayangannya itu.
Xia Yu masih tak terima dan akhirnya ia merajuk dan pergi dari sana sebelum rencana menjebak kakaknya itu berhasil ia lakukan karena sang kakak mengatakan alasan yang masuk akal dan di percaya oleh ayahnya ini. Ruan Qi yang melihat anaknya merajuk pun akhirnya tak tahu harus berkata apa lagi karena Xia Lie memiliki alasan yang dapat dipegang dan dipercaya, karena memang selama ini kalau ada tugas dari kampus ia selalu keluar dan bilang ingin pergi ke warnet untuk mengerjakannya di sana.
Jika saja mereka tahu bahwa itu hanya sebuah alasan dan ia bahkan tak pernah ke warnet sama sekali, karena ia pasti akan ke rumah kakak-kakaknya jika ada tugas dengan menggunakan alasan tersebut. Yah itu juga karena ia malas saja harus meminta laptop dari orang tuanya sebagai kamuflasenya yang sebagai seorang gadis desa yang tak memiliki apa-apa. Dan yah kebenarannya tidaklah seperti itu, ia cukup kaya untuk membeli laptop sendiri, sudah aku tegaskan ia hanya sedang berkamuflase dan menyembunyikan kebenaran dari identitasnya.
__ADS_1
“Kak karena aku besok libur, biarkan aku pergi bersamamu ya... aku tahu aptop dengan kualitas yang bagus, jadi kau tak akan tertipu jika ada pegawai yang macam-macam denganmu karena melihat e_ekhem maaf penampilan kakak yang memang terlihat sederhana.” Kata Xia Quan ang dianggukki Xia Lie sebagai tanda setuju.
“Oke kita akan berangkat jam 9 pagi ya kak, aku akan menyuruh sopir menyiapkan mobil besok, kakak tinggal siapkan diri kakak dengan penampilan yang bagus ya... hehe” antusias Xia Quan.
“Kenapa hrus berpenampilan yang bagus?” tanya Xia Li tak mengerti.
“Ya, karena aku ingin kakak tampil cantik dan aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa aku memiliki kakak yang super duper cantik hehe.” Ucap Xia Quan bangga.
“Kau ini.” Ucap Xia Lie mengusap kepala adiknya yang ia rasa lucu ini.
“Hehe>” tawanya.
“Kak bagaimana dengan proses syuting kakak? Apakah lancar? Tidak ada yang mengganggu kakak kan?, bilang saja padaku jika ada orang yang macam-macam sama kakak, aku akan beri dia pelajaran.” Tanya Xia Quan beruntun.
“Kau ini, memangnya bisa melawan? Lalu kenapa pas dikeroyok preman tidak melawan?” tanya Xia Lie bercanda.
“Eeeemmm hehe, karena aku takut kak mereka badannya besar dan kekar, ah kalau gitu kakak, bisakah kau ajari aku bela diri? Aku ingin kuat seperti kakak dan bisa melindungi diri sendiri dan tidak akan lagi merepotkan kakak dan yang lainnya. Bisakan?/” kata Xia Quan dengan nada dan mata memelas.
“Baiklah, karena besok kita perginya jam 9 pagi, kita akan latihan jam 7 pagi gimana?” ucap Xia Lie.
__ADS_1
“Sungguh? Baiklah aku pasti akan bangun pagi dan bersiap untuk latihan bela diri dengan kakak.” Xia Quan senang bukan main. Xia Lie yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya merasa lucu.