Rahasia Gadis Desa

Rahasia Gadis Desa
Bab 33


__ADS_3

“Kalau begitu karena kau sepertinya senggang datanglah ke rumah, semua orang di rumah merindukanmu, apalagi Ibu yang terus-terusan ingin bertemu denganmu.” Ajak Shen Xie.


“Ah, baiklah baiklah aku akan ke sana bersamamu.” Xia Lie setuju ikut dengan Shen XIe.


“Great. Ayo naik ke mobilku.” Ujarnya antusias.


“Tentu.” Jawab Xia Lie singkat.


Di perjalanan menuju ke kediaman Shen, Shen Xie bercerita banyak hal sedangkan Xia Lie menjadi pendengar yang baik. Shen Xie ini lebih tua satu tahun dengan XiaLie namun tingkahnya masih kekanak-kanakan dan selalu mengandalkan Xia Lie setiap ia membuat masalah. Bahkan adik laki-lakinya lebih dewasa dibandingkan dia, padahal ia dan adiknya beda empat tahun tapi di usia yang masih remaja adiknya sudah mulai membantu Ayah mereka menjalankan perusahaan milik mereka. Sedangkan Shen Xie ini malah lebih suka bermain daripada mengurus perusahaan milik Ayahnya.


Padahal ia anak tertua dan seharusnya menjadi teladan bagi adiknya. Tapi dia malah masih membutuhkan bimbingan di usianya yang sudah 19 tahun ini. Xia Lie yang mengerti sifat dari Shen Xie ini tak mempermasalahkan hal tersebut. Karena ia malah berpikir seperti menjadi seorang kakak yang dapat diandalkan setiap Shen Xie mengalami masalah. Ia jadi tau bagaimana perasaan kakak-kakaknya itu saat ia dalam masalah. Ternyata melindungi seseorang cukup menyenangkan juga.


“Lie’er, Lie’er kita sudah sampai, ayo-ayo masuk cepat ibu sudah menunggu.” Antusias Shen Xie.


“Iya-iya tidak usah buru-buru.” Kata Xia Lie.


“Ibu, ibu lihatlah siapa yang ku bawa.” Teriak Shen Xie memasuki kediaman.


“Lie’er? Kau akhirnya mengunjungiku? Dasar anak nakal, sudah berapa lama kau tidak berkunjung ke sini? Kau tahu aku benar-benar merindukanmu hingga hampir gila.” Kata Fu Jiu.


“Iya Lie’er, Ibu benar-benar sudah menjadi gila karena merindukanmu.” Ungkap Shen Xie terang-terangan.


“Dasar bocah nakal satu ini, kau sendiri juga sudah membuatku gila dengan kelakuanmu. Bisa-bisanya mengutuk ibumu sendiri seperti itu.” Fu Jiu marah namun tak seperti kelihatan marah.


“Haha Bibi Jiu, Kak Xie memang selalu bisa membuat orang gila dengan kelakuannya, aku bahkan heran kenapa aku masih mau-maunya bergaul dengannya yang elalu membuat masalah ini.” Cibir dan sindir Xie Lie tanpa perasaan kepada Shen Xie.


“Huhuhu kalian berdua bersekongkol melawanku yang sendirian ini? Ayaahhh lihatlah dua wanita kesayanganmu ini....” teriak Shen Xie mengadu pada Shen Qiao.


“Ada apa ribut-ribut ini? Aku sampai tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku di ruang kerja.” Ucap pria yang baru turun dari lantai atas.


“Iya nih, Kak Xie ini selalu bikin ribut saja kalau berada di rumah, rumah ini tak akan bisa tenang jika ada Kak Xie di dalamnya.” Kesal anak remaja laki-laki yang juga turun dari lantai atas karena keributan yang dibuat oleh Shen Xie.


“Hehe tapi kalau tidak ada aku di rumah, kalian pasti merindukanku kan...” jawabnya percaya diri.

__ADS_1


“Dasar terlalu narsis.” Kata mereka semua.


Kedua pria tua dan muda yang belum memperhatikan situasi sepenuhnya masih belum menyadari kehadiran Xia Lie di sana. Jadi saat mereka tahu ada Xia Lie di lantai bawah, mereka pun bergegas turun yang awalnya malas saat berjalan mendengar aduan Shen Xie untuk ayahnya tadi.


“Lie’er kau di sini?” kejut Shen Qiau.


“Kak Lie?” Shen Qing juga terkejut.


“Hehe halo Paman Shen, dan adik Qing.” Xia Lie yang biasanya acuh kini seperti orang yang berbeda di hadapan mereka dengan cara ia berhadapan dengan bawahannya setiap harinya.


“Dasar anak nakal, kau bahkan sudah lama tidak menghubungi kami setelah datang ke Beijing, sekarang ada muka untuk melihat kami hah? Kau ini ya.” Kesal Shen Qiao.


“Maaf Paman, kau tahu sendiri aku datang kemari karena siapa dan karena apa?, jadi tentu saja aku telah berhati-hati agar keluarga Xia tidak tahu identitasku yang sebenarnya di Beijing. Jadi aku juga tak bisa menghubungi kalian semua, bahkan untuk menghubungi Ayah juga aku jarang, jadi... hehe mohon dimaklumi ya...” permintaan maaf Xie Lie yang terkesan agak tidak tulus ini hanya membuat Shen Qiao mendengus.


“Yah sudah-sudah sekarang Lie’er kan sudah ada di sini, jadi buat apa meributkan hal tersebut. Mari-mari aku akan buat makanan favoritmu, jadi tinggallah di sini agak lama ya...” bujuk Fu Jiu pada Xia Lie.


“Baik Bibi Jiu.” Xia Lie juga kebetulan senggang jadi tidak masalah untuk tinggal lebih lama di sini.


Akhirnya makanan pun siap, mereka pun dipanggil untuk makan siang di ruang makan. Dan akhirnya juga Fu Jiu bisa berbincang denan Xia Lie di saat acara makan dimulai. Di kediaman Shen tak ada larangan berbicara saat makan, jadi itu tak akan jadi masalah etiket yang mengharuskan diam dan tenang saat makan layaknya keluarga bangsawan.


“Lie’er apa kegiatanmu baru-baru ini? Kenapa lama tak mengabari kami padahal sudah berada di Beijing cukup lama?” tanya Bibi Jiu pada Xia Lie.


“Ouh aku sedang sibuk syuting drama Bi, yah itu juga karena kebetulan yang tidak disengaja aku bisa main drama, pasalnya aku sangat malas sih untuk itu, tapi ya mau gimana lagi sudah ditunjuk dan tak bisa menolak, namun cukup menyenangkan juga karena ada teman-temanku di sana.” Cerita Xia Lie pada Bibi Jiu.


“Ouh aku dengar kau sekarang tinggal dengan keluarga Xia kan? Apa mereka baik padamu?” Bibi Jiu khawatir jika Xia Lie ditindas di sana.


“Yah ada seseorang yang dekat denganku di sana jadi cukup menyenangkan walau anggota keluarga yang lain menyebalkan.” Kata Xia Lie.


“Siapa Kak? Apa mungkin itu Xia Quan?” tanya Shen Qing.


“Kau tahu dia?” tanya Xia Lie kaget.


“Tentu saja kami satu sekolah dan kami cukup akrab, ia adalah pemuda yang baik dan ramah, bahkan di juga sangat cakap.” Puji Shen Qing.

__ADS_1


“Ouh kau memang benar, maka dari itu aku mengajarinya bela diri, dan dia benar-benar cakap.” Ungkap Xia Lie.


“Sungguh? Kenapa kau tak mengajariku juga? Aku ini lebih dekat denganmu kan? Kenapa kau tidak pernah mau mengajariku bela diri?" tanya Shen Qing agak sedih dan kesal.


“Kenapa kau mau belajar bela diri?” tanya Xia Lie heran.


“Hehe, karena Xia Quan belajar bela diri darimu, sebagai temannya yang akrab juga harus belajar darimu.” Kata Shen Qing cengengesan.


“Alasan macam apa itu? Tak bermutu sama sekali, aku tidak mau.” Tolak Xia Lie.


“Ouh ayolah Kak... aku juga tidak mau kalah dengan Xia Quan, aku juga mau belajar bela diri darimu... kumohon ya, ya, ya.” Melas Shen Qing.


“Bibi, Paman, bagaimana? Apa kalian menyetujui Qing’er belajar bela diri? Aturanku sangat ketat, bahkan Quan’er saja, eemmm dia cukup kuat sih tapi latihan ini cukup keras dan aku takut Qing’e tak sanggup.” Xia Lie menanyakan pendapat Paman dan Bibinya tentang asalah ini.


“Jika dia bersikeras mau belajar, jangan tanggung-tanggung menyiksanya dengan latihan itu.” Jawab Shen Qiao sedikit bercanda.


“Yah jika memang Qing’er sudah bertekad dan tidak akan menyerah ditengah latihan, aku tak masalah.” Bibi Jiu cukup tahu bagaimana karakter Shen Qing ini.


“Aku pasti tak akan menyerah di tengah latihan, karena Quan Quan bisa aku pasti juga bisa.” Semangat Shen Qing menyala.


“Baiklah kau mau latihan dengan kami atau berlatih terpisah?” tanya Xia Lie.


“Tentunya aku ingin berlatih bersama kalian, yah untuk memotivasiku.” Kata Shen Qing yakin.


“Baiklah aku akan mengatur waktu dan tempatnya, kapan kalian berdua senggang?” tanya Xia Lie karena tahu mereka satu sekolah.


“Hari sabtu dan minggu kami senggang.” Jawabnya.


“Baiklah aku akan mengajakmu ke tempat latihan saatnya tiba.”


“Oke, kebetulan besok adalah hari sabtu, jadi apa Kak Lie senggang di hari itu?” tanya Shen Qing yang tahu kalau Xia Lie saat ini sibuk syuting drama.


“Tentu akan aku atur jadwalku saat syuting jadi tak akan menghambat pekerjaanku juga.” Balasnya.

__ADS_1


__ADS_2