
Oke anak-anak makanan sudah siap, mari makan bersama, Ru’er panggil ayahmu.” Kata Bibi Yan Ran.
"Baik Ma.” Jin Ru pun segera memanggil ayahnya yang masih berada di ruang kerjanya.
“Ayah makanan sudah siap mari makan dulu.” Ajak Jin Ru.
“Oh baiklah aku akan turun sebentar lagi.” Balasnya sambil merapikan dokumen-dokumen yang ada di meja.
Setelah Jin Ru selesai memanggil Ayahnya ia pun langsung turun tanpa menunggu Ayahnya ikut turun bersamanya. Xia Lie sudah duduk di kursi yang ada di ruang makan. Lalu jin Ru pun mulai duduk di sebelah Xia Lie. Satu menit kemudian Jin Le berjalan menuju ke arah mereka. Sedangkan Jin Xu ia tidak terlihat mungkin karena ada pekerjaan di luar.
Jin Xu ini juga adalah seorang aktor, karena perusahaan Jin juga berhubungan dengan dunia hiburan selain bisnis real estate. Dan juga perusahaan itu juga bekerja sama dengan perusahaan Xia Lie di industri hiburan. Jadi karena dua anaknya ini tertarik dengan industri hiburan barulah Jin Le membangun perusahaan yang bekerja sama dengan Xia Lie.
Setelah makan dan berbincang sebentar Xia Lie pamit. Karena ia mau menengok Gurunya yang mungkin saja sudah rindu setengah mati kepadanya. Karena ia tadi naik mobilnya Jin Le, maka sekarang ia harus memanggil taksi untuk pergi menemui Gurunya. Setelah memanggil taksi online, taksi itu pun berhenti tepat di samping Xia Lie berdiri.
Ia pun langsung masuk ke kursi penumpang dan mengatakan tujuannya pada sopir taksi online itu. Di dalam perjalanan di mobil taksi Xia Lie menghubungi Gurunya bahwa ia akan datang ke rumahnya, dan Gurunya juga sangat senang mendengar hal itu. Ia bahkan sampai menyiapkan beberapa makanan kesukaan muridnya tersebut.
Saat sampai di rumah sang Guru, Xia Lie membunyikan bel tanda dia sudah sampai di sana dan memberitahu sang Guru untuk membukakannya pintu. Tak selang berapa lama sang Guru pun membukakan pintunya dan segera menyambut kedatangan muridnya itu dengan senyum lebar.
“Oh muridku yang baik, sepertinya kau sangat menghargaiku sampai harus menemuiku di jam segini.” Ya saat Xia Le sampai di rumah Jia Chen hari sudah malam.
__ADS_1
“Itu memang sudah seharusnya murid ini lakukan.” Kata Xia Lie.
“Baiklah baiklah ayo masuk aku sudah menyiapkan hidangan favoritmu, ayo ayo.” Antusiasnya.
“Tapi Guru aku masih kenyang...” rengek xia Lie manja.
Ya begitulah Xia Lie bersikap kepada Guru satu-satunya ini, kadang ia manja, kadang ia nakal bahkan keras kepala, namun ia juga gadis yang patuh dengan semua perintah Gurunya Karena ita tahu perintah Gurunya itu adalah hal yang baik bagi dirinya sendiri, apa lagi itu adalah demi masa depannya yang cerah. Selama itu baik untuknya ia tak pernah tidak berbakti padanya. Karena Gurunya ini adalah satu-satunya orang yang memedulikannya yang bahkan orang tuanya membuangnya.
Jadi baginya sosok Gurunya ini adalah sudah seperti orang tuanya sendiri. Dan ia justru menganggap lebih dari itu karena ia merasa sang Guru ini adalah sosok idola sekaligus pahlawan baginya. Karena itu Gurunya adalah satu-satunya orang terpenting dalam hidupnya daripada orang tuanya sendiri. Berkat Gurunya ini ia mampu sukses di usia yang sangat sangat muda. Bahkan ia sudah menjadi sosok remaja terkaya di negaranya. Jadi bahkan jika suatu hari gurunya dalam bahaya dan ia diminta untuk mengorbankan hidupnya, ia tak akan dua kali memikirkan tentang hidupnya itu.
“Kau ini, makanlah yang banyak karena tubuhmu masih dalam proses pertumbuhan. Jika kau ingin tumbuh jadi wanita yang cantik dengan tubuh sexy maka kau perlu banak makan dan jangan pilih-pilih.” Nasehat Gurunya.
“Hahaha bagus bagus.” Tawanya senang mendengar muridnya yang patuh.
“Baiklah Xiao Lie mari jangan lama-lama di luar, dan kau juga baru selesai di acara pertemuan kan... menginaplah sekalian disini, lagi pula hari sudah malam dan Guru sudah sangat-sangat merindukanmu.” Pinta sang Guru.
“Baiklah Guru.” Patuhnya.
Mereka pun langsung menuju ke ruang makan setelah memasuki rumah. Setelah mereka duduk mereka pun segera menikmati makan malam mereka. Karena memang sudah biasa Xia Lie menginap di rumah Gurunya maka kamar yang memang sudah dikhususkan saat Xia Lie menginap. Di sana sudah tersedia bebverapa keperluan Xia Lie selama ia menginap di rumah Gurunya itu.
__ADS_1
“Guru, kamarku masih sama kan?” tanyanya memastikan.
“Tentu saja, guru juga menyuruh pelayan untuk selalu membersihkan kamarmu setiap hari, jadi kau bisa tenang untuk beristirahat di sana.” Ucap sang Guru.
“Baiklah aku akan istirahat kalau begitu.” Ucapnya.
“Eeehhh? Istirahat begitu saja? Kau tidak merindukan Gurumu ini? Aku masih ingin mengobrol denganmu.” Ucap Jia Chen murung.
“Baik baik aku akan ke kamar untuk ganti baju dan nanti akan turun mengobrol dengan Guru.” Hiburnya.
“Hahaha bagus aku menunggumu di bawah." tawa Jia Chen senang dengan kepatuhan muridnya ini.
Xia Lie pun segera masuk ke kamar dan berganti baju. Dia mengenakan baju santainya kaos lengan pendek dan celana selutut. Karena ia telah hidup dengan gurunya semenjak usia 7 tahun. Semenjak itu juga ia sudah menganggap sang Guru sebagai orang tuanya sendiri. Gurunya pun sudah menganggap Xia Lie sebagai anaknya sendiri. Saat ia menemukan Xia Lie ia baru berusia 39 tahun dan ia telah di tinggal istrinya karena suatu penyakit di usisanya yang baru 24 tahun.
Ia memang menikah muda, dan setelah meninggalnya istrinya ia jadi bertekat untuk menjadi ahli medis yang mampu menyelamatkan nyawa orang lain, karena ia tak mampu menyelamatkan istrinya sendiri karena ke tidak mampuannya. Dan juga karena pernikahan dini, ia belum lah menjadi pria yang mapan. Jadi saat istrinya sakit parah ia tak mampu membiayai biaya rumah sakit yang merawat istrinya. Dan karena itu juga selain menjadi ahli medis ia juga bertekat menjadi ahli bisnis.
Karena itulah ia mampu mengajari keahliannya ini termasuk keahliannya bela diri yang memang sudah ia latih dari kecil bersama orang tuanya kepada Xia Lie. Karena melihat Xia Lie yang menderita sendiri dan harus menanggung biaya hidup sendirian karena ia telah diabaikan orang tuanya. Maka Jia Chen seakan melihat dirinya yang saat itu menderita kemiskinan dan tak mampu membiayai biaya perawatan istrinya hingga istrinya harus merenggangkan nyawa.
Karena ia pun belum pernah memiliki anak dari istrinya yang meninggal muda. Ia pun mengangkat Xia Lie menjadi anaknya. Yah walaupun sampai sekarang Xia Lie sama sekali belum pernah memanggilnya Ayah dan hanya memanggilnya Guru tapi tak masalah baginya selama Xia Lie selalu berada disisinya. Karena mereka juga awalnya hidup dalam kesendirian, jadi ikatan hubungan mereka sangat sangat dekat layaknya Ayah dan anak kandung.
__ADS_1