
“Kakek Qin, Paman Shen, Paman Jin dan juga Paman Feng, lama tidak bertemu.” Sapa Xia Lie dengan sopan.
“Lie’er bagaimana kabarmu?” tanya Kakek Qin.
“Lie’er baik, bagaimana dengan Kakek sendiri, semoga tetap sehat selalu.” Jawabnya.
“Hahaha dengan doa yang selalu kau ucapkan tiap kali kita bertemu aku jadi sangat sehat” tawa Kakek Qin.
“Lie’er karena kau sudah berada di Beijing sempatkanlah datang ke kediaman kami sesekali jika ada waktu” Paman Shen berkata.
“Baik Paman akan aku usahakan” jawabnya.
“Lie’er karena Gurumu sedang sibuk dengan penelitiannya jadi ia tak bisa datang, dan ia menyampaikan jika kau ada waktu kunjungilah beliau” Paman Feng memberitahu.
“Lie’er bagaimana kalau nanti kau mampir ke kediamanku? Jin Ru benar-benar merindukanmu” Paman Jin berkata.
“Baiklah aku akan mampir nanti” jawabnya.
“Bagus bagus” ucapnya bangga.
Setelah obrolan mereka diakhiri karena acara telah dimulai. Kini mereka fokus pada pembawa acara di acara tersebut. Dan satu per satu para pemimpin perusahaan menuangkan ide-ide yang mereka miliki demi mengembangkan dunia bisnis di Beijing. Xia Lie hanya mendengarkan dan tak ingin ikut andil dalam perbincangan tentang hal itu. Ah dia memang terlalu malas untuk menuangkan idenya. Biar yang tua saja yang berpartisipasi untuk pengembangan bisnis di Beijing. Ia yang masih muda ini cukup menerima ide-ide tersebut dan tentunya memilahnya juga.
Lima jam telah berlalu dan akhirnya acara pun selesai. Karena Xia Lie telah berjanji pada Paman Jin untuk datang ke kediamannya untuk bertemu Jin Ru. Maka ia sekalian ikut naik mobil Paman Jin dan membiarkan Xi Jun, Ji Rui dan Li Bei pulang terlebih dahulu. Di dalam mobil ia pun melepas topengnya. Ini karena Paman Jin sendiri sudah mengetahui identitas aslinya. Jadi tak masalah untuknya memperlihatkan wajahnya yang masih terlihat sangat muda karena memang ia masih remaja.
Jin Ru sendiri adalah sahabatnya yang seumuran dengannya, jadi Paman Jin menjadikan Jin Ru sebagai alasan agar Xia Lie datang berkunjung ke kediamannya. Xia Lie memperhatikan jalanan saat berada di mobil Paman Jin. Walau sifat aslinya ramah dan ceria di depan kenalannya, tapi entah kenapa hari ini ia merasa sedikit kesepian. Jadi ia hanya melamun sambil memperhatikan jalanan yang ia lewati dengan mobil Paman Jin.
“Kau kenapa Lie’er? Tidak enak badan?” tanya Paman Jin yang memperhatikannya dari samping.
__ADS_1
“Tidak Paman, tidak apa-apa.” Jawabnya.
“Jika ada yang mengganjal kau bisa cerita pada Paman.” Usulnya.
“Tak apa Paman hanya aku merasa sedikit kesepian di lubuk hatiku, sudah hampir 10 tahun tak ada kabar dari orang tuaku yang telah membuangku, apa benar mereka sama sekali tidak menginginkan keberadaanku?” tanyanya sendu.
“Hah... sudahlah kau tak perlu memikirkan orang tua macam itu, sekarang ini kau punya kami yang ada untukmu, jadi berbahagialah.” Kata Paman Jin menghibur.
“Kau benar Paman.” Ia pun kembali ceria.
Akhirnya mereka pun sampai di kediaman keluarga Jin. Jin Rui yang kebetulan berada di halaman tak sengaja melihat Xia Lie datang bersama Ayahnya. Ia pun langsung menunjukkan ekspresi cerianya dan antusias menyambut Xia Lie.
“Aaaaaa Lie Lie kau datang? Lama tidak jumpa, aku kangen....” teriaknya menghambur ke pelukan Xia Lie.
“Haha Ruru kau ini tak berubah sama sekali, dewasalah sedikit” balas Xia Lie sambil membelai kepala Jin Ru.
“Iya iya Ruru kecil” balas Xia Lie.
“Padahal kita seumuran kenapa kau seperti kakak bagiku? Huh kan enggak seru” sungut Jin Ru tak terima.
“Makanya aku bilang dewasalah sedikit” Xia Lie menyentil dahi Jin Ru pelan.
“Huh tak mau aku masih kanak-kanak aku enggak mau jadi dewasa, aku masih ingin bermain.” Jawabnya sambil memegang dahinya yang disentil Xia Lie.
“Iya deh terserah kau saja, yang penting kau senang.” Jawabnya.
“Sudah sudah ayo kalian masuk Bibimu pasti sudah sangat kangen dan ingin bertemu denganmu Lie’er.” Ucap Paman Jin pada mereka.
__ADS_1
“Baiklah Paman” mereka pun masuk ke dalam rumah.
Bibi Yan Ran sedang memasak makan siang, ia tak tahu jika Xia Lie datang jadi ia masih sibuk berkutat di dapur. Karena memasak adalah hobinya maka setiap kali waktu makan ia sendiri yang memasaknya. Jadi koki di kediaman hanya bekerja saat Bibi Yan Ran ada kerjaan di luar sebagai designer. Saat ia mendengar suara tawa dari ruang tamu, ia pun penasaran dibuatnya dan segera melihat ada apa di ruang tamu
Saat ia melihat Xia Lie di sana ia agak terkejut namun senang. Ia pun mematikan kompor dan segera menuju ke ruang tamu untuk menyambut Xia Lie. Ia sedikit berlari karena saking rindunya pada gadis kecil satu ini. Dan saat Xia Lie melihat itu, ia hanya tersenyum.
“Lie’er kapan kau datang? Ya ampun Bibi sangat merindukanmu.” Tanyanya sambil memeluk Xia Lie.
“Baru kemarin Bibi, aku juga merindukan Bibi, Bibi sehat kan?” tanyanya.
“Tentu, tentu saja Bibi sehat, aih kau ini masih remaja tapi dandananmu terlihat seperti... ck ck hais.” Komentarnya.
“Ini hanya kamuflase Bibi.” Jawabnya.
“Iya Bibi tahu hanya saja hais, Bibi lebih suka dandananmu yang natural, itu terlihat fresh dan muda.” Keluhnya.
“Kalau begitu akan aku hapus make up ini.” Xia Lie pun menghapus make upnya dengan tisu basah, dan tampaklah wajah yang cantik alami bak dewi yang turun dari langit.
“Nah gini kan bagus.” Puji Bibi Yan Ran.
“Ah karena kau sudah datang maka akan segera aku siapkan makan siang, aku tadi masih belum menyelesaikan masakanku karena mendengar suara tawa Ru’er dan melihatmu datang, jadi akan segera aku siapkan makan siang kali ini, kau duduklah oke. Jangan kemana mana.” Perintahnya.
“Baik Bibi” angguk Xia Lie.
Bibi Yan Ran pun kembali ke dapur dan ia duduk di ruang tamu bersama Jin Ru. Sedangkan Paman Jin ia segera menuju ruang kerjanya karena ada hal yang perlu ia urus. Xia Lie dan Jin Ru mengobrol obrolan seputar anak remaja. Walau Xia Lie termasuk memiliki sifat yang dewasa, tapi ia tetaplah remaja yang baru tumbuh menuju usia dewasa. Jadi ia pun masih bisa mengimbangi arah pembicaraan Jin Ru ini.
Jin Ru adalah siswa di sekolah elite yang berada di Beijing. Ia bersekolah di Beijing Film Academy. Karena ia ingin menjadi aktris maka ia memilih sekolah jurusan perfilman. Dan karena itu pula Xia Lie membuka perusahaan hiburan salah satu alasannya karena Jin Ru. Jadi perusahaan hiburan ini memang diperuntukkan untuk mengembangkan potensi Jin Ru sebagai seorang aktris. Dan ia berjanji akan membuat Jin Ru menjadi Ratu Film.
__ADS_1
Jin Ru pun tidak keberatan dengan hal tersebut dan ia malah senang dan semakin bersemangat dalam belajar di akademi. Walau Xia Lie di usia yang sama dengan Jin Ru, tapi ia telah lulus kuliah. Jadi walau Jin Ru masih sekolah di sekolah perfilman, ia telah membintangi beberapa film yang terkenal berkat kemampuan aktingnya ini. Bahkan ia pun menjadi bintang iklan di Beijing ini. Dengan bantuan perusahaan hiburan milik Xia Lie, Jin Ru makin berkembang dan semakin mahir berakting.