
Meskipun Vino meminta nya untuk menjaga Tania, namun Bara memilih untuk menunggu di luar ruang rawat. Hingga ketika Vino sudah kembali Bara langsung beranjak menghampiri direktur nya itu.
"Bagaimana, Pak?" Bara langsung saja melontarkan pertanyaan yang sejak kepergian Vino cukup mengganggu konsentrasi nya.
"Elza memang sengaja melakukan nya karena dendam pada Mama. Tapi sudah lah, aku tidak ingin membahas dia lagi. Tugas kamu sekarang adalah segera daftarkan perceraian ku dengan Elza. Aku sudah tidak sudi lagi bahkan hanya dengan melihat wajah nya saja, dan kamu harus pastikan dia di tahan dengan waktu yang cukup lama."
Setelah memberi perintah pada Bara, Vino langsung saja masuk ke dalam ruang rawat Tania tanpa menunggu tanggapan dari asisten nya itu.
Tania langsung terbangun saat melihat Vino datang. Sejak kepergian Vino ia tidak bisa memejamkan mata meskipun sedikit terasa mengantuk. Ia terus memikirkan ucapan Vino yang menyuruh Bara untuk memindahkan barang-barang Elza dari kamar nya. Untuk apa Vino melakukan itu?
"Kenapa bangun? Tidur lah, kamu harus beristirahat dengan cukup agar saat waktu nya nanti kamu melahirkan, kamu mempunyai tenaga yang banyak."
__ADS_1
Vino menuntun Tania untuk kembali berbaring, namun Tania mencegah dengan menahan tangan Vino.
"Baiklah," Vino pun mengalah lalu ia duduk di kursi yang sebelum nya ia duduki sebelum pergi menemui Elza.
"Setelah dokter sudah mengizinkan kamu untuk pulang, kita akan langsung ke rumah utama. Nanti Bara dan Bibi yang akan membawakan barang-barang mu." ujar Vino.
Tania tercengang," Rumah utama? Tapi kan sejak awal kita udah setuju kalau aku akan tinggal di apartemen sampai batas waktu yang sudah di tentukan. Aku enggak mau tinggal di sana, Pak. Aku nggak enak sama Bu, Elza. Biar aku di apartemen saja." Tania menolak.
"Apalagi tadi aku dengar Pak Vino menyuruh Bara memindahkan barang-barang Bu Elza. Aku tidak mau karena aku tinggal di sana Bu Elza tambah membenci ku, Pak."
"Aku tahu Pak Vino tidak suka penolakan, tapi aku tidak mau pindah kesana, Pak." ucap Tania dengan lirih.
__ADS_1
"Kamu tidak hanya akan pindah, tapi juga akan tinggal di sana. Lagi pula Elza tidak akan tinggal bersama kita, Elza dan teman-temannya sudah berada di tempat yang seharusnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka." tukas Vino yang lagi-lagi membuat Tania tercengang.
"Kamu ingin pulang kan? Baiklah, aku akan memanggil dokter untuk memeriksa mu terlebih dahulu, setelah itu aku akan meminta dokter untuk mengizinkan mu pulang."
Vino pun beranjak dari tempat duduk nya lalu segera keluar dari ruang rawat itu, meninggalkan Tania yang tampak nya ingin mengatakan sesuatu.
Beberapa saat kemudian dokter pun datang dan langsung memeriksa Tania. Dokter mengatakan kondisi Tania sudah stabil dan kandungan nya pun tidak ada yang bermasalah.Tania juga tidak mengalami trauma dari penganiayaan itu.
"Jika semuanya sudah baik-baik saja, Istri saya sudah boleh pulang kan, Dok?" tanya Vino.
"Bisa, tapi tetap harus di jaga kondisi kandungan nya ya, Pak." ujar Dokter.
__ADS_1
Vino menganggukkan kepala nya, ia langsung meminta Bara untuk mengurus kepulangan Tania.
Tania yang awal nya ingin pulang ke apartemen karena tidak ingin di rawat. Justru saat ini Tania lebih baik ia berada di rumah sakit dalam waktu yang lama sekali pun, dari pada harus tinggal di rumah Vino. Bukan hanya karena merasa tidak enak pada Elza, namun ia juga merasa tidak pantas tinggal di sana.