RAHIM 500 JUTA

RAHIM 500 JUTA
S2~ BAB 54


__ADS_3

Seorang gadis yang mengenakan seragam putih abu-abu, melangkah dengan riang di belakang sang Kakak memasuki perusahan milik keluarganya, PT. ERLANGGA.


Gadis itu adalah Anindya Erlangga, yang lebih dikenal dengan sebutan Anin, putri bungsu dari Vino Erlangga dan Tania Lorenza, dan kakak nya yang bernama Keenan Erlangga kini menjabat sebagai direktur utama menggantikan papa nya yang telah pensiun dari dunia bisnis. Keenan mengelola perusahan keluarganya di bantu oleh Damar Pratama, putra dari Bara Pratama dan Vani Erlangga, sebagai asisten nya yang merupakan saudara sepupu nya sendiri.


Sudah menjadi rutinitas Keenan yang selalu mengantar jemput Anin di sekolah dan langsung membawa adik nya ke perusahan agar tidak ikut keluyuran bersama teman-teman nya. Dan tindakan Keenan ini menjadi kesenangan tersendiri bagi Anin. Terlebih Anin sering bertemu rekan kerja sekaligus sahabat Keenan yang bernama Arland Dirgantara, sosok laki-laki berperawakan tinggi, besar dan memiliki otot bak atletis namun terkenal dingin dan tidak memiliki keinginan untuk menikah membuat Anin merasa tertantang untuk mendekati laki-laki itu. Dan yang lebih membuat Anin suka mendekati Arland karena rahang laki-laki itu yang ditumbuhi bulu-bulu yang cukup tebal sehingga Anin memanggil Arland dengan sebutan om brewok.


Anin menyunggingkan senyum saat tatapan nya tertuju pada sosok Arland yang berdiri di dekat meja resepsionis tampak sedang menelpon seseorang.


Keenan menghentikan langkah dan berbalik menatap Anin di belakangnya. "Ingat, jangan membuat nya kesal hari ini karena kami akan membahas masalah yang penting." Ucap Keenan mempringati adik nya.


Bukan hanya Keenan tapi seluruh karyawan tahu jika Anin sering membuat Arland kesal karena terus mengikuti Arland saat bertemu, belum lagi Anin yang selalu memanggil Arland dengan sebutan om brewok membuat laki-laki itu seakan ingin menguliti nya hidup-hidup.


Anin hanya tersenyum menaggapi peringatan kakak nya, tatapan Anin terus tertuju pada Arland sambil berpikir apa lagi yang harus dia lakukan hari ini untuk membuat om brewok nya itu kesal.


Anin pun ikut melangkah di belakang Keenan menghampiri Arland.


Melihat kedatangan sahabat sekaligus rekan kerja nya itu, Arland langsung memutus sambungan telephone nya lalu menyimpan ponsel itu di dalam saku jas nya.


Seketika Arland memutar bola mata nya, jengah melihat keberadaan Anin di belakang Keenan. Jika sudah bertemu gadis itu, tidak akan lama lagi emosi nya akan kembali mencuat. Entah kenapa keturunan Erlanga satu ini selalu saja membuat nya kesal, tidak seperti Keenan dan kedua orangtua nya.


"Maaf sudah membuat kamu menunggu, tadi aku menjemput Anin dulu di sekolah nya." Ucap Keenan.

__ADS_1


Arland mengukir senyum yang nampak terpaksa, "Iya tidak masalah, santai saja aku juga baru beberapa menit sampai." Ujar Arland, namun dalam hati dia berkata,


'Kenapa Keenan suka sekali membawa gadis tengik itu ke kantor. Kenapa tidak langsung membawa nya pulang saja. Baru melihat dia saja sudah membuat mood ku jadi rusak.'


"Baiklah, kalau begitu kita langsung ke ruangan ku." Ajak Keenan.


Keenan melangkah lebih dulu, Arland mensejajarkan langkah nya dengan Anin yang membuat gadis itu mengernyit karena tumben om brewok nya ini mau berjalan berdekatan dengan nya.


Namun, tanpa Anin duga, Arland menundukkan kepala nya berbisik sesuatu yang terdengar mengerikan.


"Jika kau masih berani mengganggu ku hari ini, maka aku akan menculik mu lalu menguliti tubuh kecil mu itu. Kalau perlu aku potong-potong untuk di jadikan santapan buaya."


Dan yang tidak di sangka oleh Arland, Anin bukan nya takut dengan ancaman nya itu, namun justru berbalik berbisik yang membuat diri nya seketika emosi.


"Dasar gadis tengik, awas saja nanti kau!" Arland kembali mengancam dengan sorot mata yang tajam.


"Uhhh takut." Anin Langsung lari menuju ruangan Keenan setelah berhasil membut Arland kesal.


Di belakang Keenan, Arland menggeram tertahan dengan kedua tangan terkepal menatap punggung Anin yang sudah masuk ke dalam ruangan Keenan.


'Sepertinya aku harus melakukan sesuatu yang akan membuat dia jera untuk terus membuat ku kesal'

__ADS_1


Di dalam ruangan Keenan, ternyata sudah ada Damar yang menunggu. Anin langsung tersenyum senang melihat assisten sang kakak yang juga adalah kakak sepupu nya.


Jika Anin suka membuat Arland kesal, berbeda dengan Damar. Anin sangat menyukai senyuman Damar yang sangat manis menurut nya. Dengan tanpa canggung, Anin langsung menghampiri Damar dan merangkul pundak laki-laki itu yang membuat Damar terlihat sedikit tidak nyaman. Bukan karena tidak menyukai Anin seperti Arland, tapi karena Damar cukup sadar diri akan posisi nya yang hanya seorang asisten seperti papa nya dulu. Terlebih, Anin adalah adik sepupu nya sendiri yang harus ia jaga, tak akan membiarkan Anin sembarangan berdekatan dengan laki-laki termasuk diri nya sendiri.


"Bagaimana hari ini sekolah nya, lancar?" Tanya Damar sembari menurunkan tangan Anin yang bertengger di pundak nya.


"Biasa aja Bang Damar, gak ada yang membuat aku lebih senang selain berada di dekat Bang Damar. Abang mau gak jadi pacar Anin?" Jawab Anin,


Yang seketika melempar pertanyaan membuat Damar hanya bisa mengulum senyum. Ini bukan pertama kali nya Anin berkata meminta Damar untuk jadi pacar. Namun, seperti biasa Damar hanya menanggapi nya sebagai candaan. Mengingat bagaimana karakter Anin yang suka menjaili orang, terutama pada Arland Dirgantara sosok yang cukup di segani di kalangan bisnis.


"Ih, Bang Damar kok cuma senyum sih, jawab dong?" Desak Anin.


Dan Damar menoleh menatap adik sepupu nya itu dengan senyuman yang ia tidak tahu jika senyuman nya itu sangat di sukai oleh Anin.


"Anin, sekolah dulu yang benar ya dan gak usah mikirin buat pacaran. Jodoh itu akan datang dengan sendiri nya kalau sudah waktu nya. Anin hanya perlu belajar yang giat, kejar cita-cita Anin dan buat keluarga kita bangga sama Anin. Ingat, Anin satu-satu nya cucu perempuan di keluarga Erlangga, jadi Anin harus jaga nama baik keluarga, tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa mencoreng nama baik keluarga Erlangga. Paham!"


Anin mengangguk dengan malas, Damar selalu saja begitu. Anin pun membawa diri nya duduk di kursi kebesaran Keenan sambil memutar-mutar nya.


"Bang Damar serius amat sih nasihat Anin. Anin tuh cuma bercanda tahu ngajak Bang Damar pacaran, bisa di amukin sama Kak Kanaya nanti Aku." Kekeh Anin.


Meski Anin memang menyukai senyuman Damar, tapi ia masih memiliki akal sehat untuk berhubungan dengan Kakak sepupunya itu terlebih Damar juga telah memiliki kekasih.

__ADS_1


Damar menanggapinya dengan senyuman, ia tahu jika sejak awal Anin hanya bercanda, namun sebagai kakak ia tetap harus menasehati adiknya itu.


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, Damar langsung berdiri menyambut Keenan dan Arland. Sementara Anin masih duduk dengan santai nya di kursi kebesaran Keenan seolah dia lah pemilik kursi tersebut. Anin langsung menyunggingkan senyum saat tatapannya tertuju pada sosok laki-laki yang selalu ia panggil dengan sebutan om brewok.


__ADS_2