
Arland menahan tawa melihat Anin yang mulai ketakutan.
"Cepat keluar dari mobil ku atau aku benar-benar akan memperkosa mu di sini."
Sebelah tangan bergerak meraba untuk membuka pintu dan sebelah tangan nya lagi masih menutup wajah nya. Beberapa saat terus meraba pintu mobil, Anin langsung melepas tangan nya yang menutupi wajah nya menyadari jika pintu mobil Arland tidak bisa di buka. Dan sontak Anin langsung berteriak saat melihat Arland yang sudah bertelanjang dada.
"Aaaa a-a-a-a-a-a....
Arland mulai panik Anin berteriak, ia berbohong jika mobil nya kedap suara. Bagaimana jika ada yang datang mendengar teriakan Anin di dalam mobil nya, orang-orang akan berpikiran yang tidak-tidak apa lagi ia yang sudah tak mengenakan kemeja nya.
Mau tidak mau Arland langsung membekap mulut Anin yang membuat gadis itu meronta.
"Diam, jangan berteriak. Atau aku akan mencium mu."
Anin pun mulai tenang, namun nafas nya terengah-engah karena meronta dalam dekapan Arland.
Setelah Anin sudah tak bersuara lagi, Arland pun melepas bekapan nya dan menjauh dari tubuh Anin.
Anin langsung menggeser ke sudut sambil memeluk tubuh nya sendiri, menatap Arland dengan waspada.
"Kenapa melihat ku seperti itu? Ayo cepat keluar dari mobil ku!"
"Gimana aku bisa keluar, Om saja mengunci pintu mobil nya."
__ADS_1
Astaga, Arland menepuk kening nya sendiri karena ia lupa tadi ia memang mengunci pintu mobil nya.
Arland pun membuka pintu mobil, lalu memberi peringatan pada Anin.
"Awas jika kau berani mengganggu ku lagi, aku akan tidak akan segan-segan melakukan nya dengan mu. Dan satu lagi, berhenti memanggil ku Om Brewok. Aku tidak setua itu harus kau panggi Om, paham!"
Mata Anin refleks terpejam karena peringatan Arland dengan nada membentak di akhir.
Anin tak menjawab peringatan Arland melainkan langsung keluar dari mobil itu dan segera berlari masuk ke dalam perusahaan.
"Semoga dia tidak akan mengganggu ku lagi."
Setelah Anin sudah tak terlihat lagi dari pandangan nya. Arland pun memakai kembali kemeja nya lalu melajukan mobil nya meninggalkan pelataran perusahaan Erlangga.
...____________...
Gadis yang mengenakan seragam putih abu-abu itu langsung saja turun dari mobil dan mengayun langkah masuk ke rumah tanpa menghiraukan panggilan kakak nya.
Keenan pun bergegas turun dari mobil mengejar Anin, entah kenapa sepanjang perjalanan pulang adik nya itu terus diam dan tidak seperti biasa nya yang cerewet.
"Anin tunggu, " Keenan berhasil menarik pergelangan tangan adik nya, namun Anin menyentak tangannya dengan kasar hingga terlepas, membuat Keenan terkejut dengan sikap Anin yang tiba-tiba kasar seperti ini.
"Anin kamu kenapa? Apa Bang Keenan buat salah sama kamu?" Tanya Keenan, ia terlihat khawatir dengan perubahan sikap Anin, meski terbilang jahil dan suka membuat gaduh tapi Anin sosok gadis yang periang dan tidak pernah berlaku kasar.
__ADS_1
"Mulai besok Bang Keenan gak usah antar jemput aku lagi ke sekolah apa lagi bawa aku ke kantor, aku bisa pergi dan pulang sendiri!"
Keenan lagi-lagi terkejut dengan kalimat adik nya yang begitu menegaskan dengan sorot mata yang tajam menatap nya. Anin tidak pernah seperti ini yang membuat Keenan benar-benar khawatir dan juga bingung.
"Anin, kamu buat Bang Keenan bingung. Kamu bilang dong kalau memang Bang Keenan ada buat salah sama kamu?"
Anin tak menjawab, ia langsung saja berlari menaiki anak tangga menuju kamar nya.
Keenan hendak mengejar adik nya, namun langkah nya terhenti seiring panggilan mama nya. Keenan pun menoleh, ia melihat mama nya yang nampak nya dapur dengan membawa nampan yang berisi secangkir kopi lengkap dengan camilan nya.
"Mama tadi dengar kamu sama Anin ribut-ribut, ada apa?" Tanya Tania dengan kening mengkerut.
"Gak tahu tuh Anin, Ma, tiba-tiba aja jadi galak. Di jalan tadi juga diam terus padahal biasa nya Anin cerewet dan banyak bicara, sampai rumah Anin bilang gak mau di antar jemput lagi ke sekolah." Keenan mengadukan perubahan sikap adik nya yang tiba-tiba pada mama nya.
Tania tampak berpikir sejenak, mungkinkah putri bungsu nya itu mulai merasa terkekang dengan sikap Keenan yang terlalu posesif pada adik nya.
"Ya sudah, biar Mama yang bicara sama Anin. Kamu tolong bawakan kopi dan camilan Papa ke ruang tamu ya."
Setelah memberikan nampan yang berisi secangkir kopi dan camilan untuk sang suami pada putra nya, Tania pun pergi ke kamar putri nya. Sementara Keenan langsung menuju ruang tamu menemui papa nya.
Tania langsung masuk ke kamar Anin yang pintu nya tidak tertutup dengan rapat. Ia sedikit terkejut melihat Anin yang tengkurap di atas tempat tidur dengan masih mengenakan seragam sekolah nya. Tania pun mendekati putri nya itu dan duduk di pinggiran tempat tidur.
"Anin kenapa, Sayang? Kalau ada masalah cerita ya sama Mama, siapa tahu Mama bisa bantu." ucap Tania sembari mengusap pucuk kepala putri nya.
__ADS_1
"Mama bilangin aja tuh sama Bang Keenan, Anin gak mau di antar jemput lagi ke sekolah. Apa lagi sampai Bang Keenan bawa Anin ikut ke kantor." ucap Anin dengan masih posisi tengkurap.
Anin benar-benar kesal pada sosok laki-laki yang sering ia panggil dengan sebutan Om Brewok, yang merupakan rekan kerja kakak nya. Ia memang salah karena terus membuat laki-laki itu kesal, tapi laki-laki itu sudah keterlaluan membalasnya yang sama saja seperti melecehkan nya.