
Sesampai nya di rumah sakit, Tania langsung di bawa ke ruangan bersalin. Dokter menyarankan agar Vino menemani istri nya selama proses pembukaan sampai waktu nya akan benar-benar melahirkan. Meski merasa takut, Vino memberanikan diri menemani Tania.
Melihat Tania yang terus merintih, tanpa sadar Vino menitihkan air mata nya. Ia jadi teringat wanita yang sudah melahirkan nya, ternyata sebesar ini pengorbanan seorang ibu melahirkan anak nya bertaruh nyawa. Begitu pun dengan Tania, ia menggumamkan memanggil sang ibu di sela-sela rintihan nya menahan sakit.
"Mas, sakit banget. Aku rasa nya gak kuat." Tania mencengkeram tangan Vino dengan erat kala rasa sakit kembali terasa, dan melonggarkan cengkeraman nya saat sakit mulai mereda. Begitu seterus nya.
"Sabar ya, Dokter bilang sudah pembukaan lima dan itu arti nya sudah setengah jalan. Aku mohon kamu harus kuat untuk melahirkan anak kita, aku akan selalu di sini menemani kamu." Vino balas menggenggam tangan Tania, sambil terus mengecup kening Tania yang sudah di basahi keringat.
"Sakit banget, Mas. Aku gak kuat.'' wajah Tania sudah sembab dan memerah karena menahan sakit.
Mendengar Tania yang terus mengeluh sakit dan merasa tidak kuat, Vino sangat terguncang.
Tidak kuasa menemani Tania yang melahirkan dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1
Ya Tuhan, andai bisa memutar waktu, ia tidak akan memilih Tania untuk mengandung anak nya. Lihat lah betapa kesakitan nya Tania saat ini dalam berjuang untuk melahirkan anak nya. Tania yang baru berusia 22 tahun tapi sudah harus merasakan perjuangan menjadi seorang ibu.
" Tania, kita lakukan operasi caesar saja ya, aku gak tega lihat kamu kesakitan seperti ini." Ucap Vino pada akhir nya, ia benar-benar tak kuasa mendengar rintihan Tania.
Namun, dengan cepat Tania menggelengkan kepala nya. "Enggak, Mas. Aku gak mau di caesar." Ucap Tania dengan sedikit terengah.
"Tapi aku gak tega lihat kamu kesakitan seperti ini, kalau di caesar kamu gak akan merasakan sakit seperti ini." Ucap Vino.
Beberapa jam kemudian...
Pembukaan sudah lengkap, Tania sudah siap untuk melahirkan anak nya.
Sesuai dengan instruksi yang diberikan dokter, sekuat tenaga Tania mengeden untuk mengeluarkan bayi nya. Namun, di usaha pertama nya ini ia belum berhasil mengeluarkan bayi nya.
__ADS_1
Tania mengumpulkan seluruh tenaga nya, dengan menggenggam erat tangan Vino. Tania menarik nafas sebanyak mungkin dan menghembuskan nya perlahan, lalu sekuat tenaga mengeden mendorong panggul nya.
"Ahhh, Mas Vino... " Ucapan dengan teriakan yang seakan tertahan,
Di saat yang bersamaan tangisan bayi yang begitu kencang menggema di dalam ruangan bersalin. Tania menghembuskan nafas nya dengan lega, ia telah berhasil melahirkan anak nya.
"Kamu berhasil, terima kasih, Tania. Terima kasih karena kamu sudah berjuang untuk melahirkan anak kita, kamu hebat. Kita sudah menjadi Papa dan Mama." Ucap Vino sambil mengujani wajah Tania dengan kecupan, air mata nya bercampur dengan keringat di wajah Tania.
Sungguh luar biasa proses demi proses yang di jalani Tania. Dengan mata kepala nya sendiri, Vino menyaksikan bagaimana Tania berjuang mengerahkan segala daya upaya dan tenaga nya melahirkan buah hati mereka.
Nafas Tania terengah-engah usai perjuangan nya melahirkan sang buah hati. Ia serasa tak sanggup untuk berbicara dan hanya bisa tersenyum kecil.
"Selamat ya Pak, Bu, bayi kalian berjenis kelamin laki-laki." Ucap dokter yang membantu persalinan Tania.
__ADS_1