
Vino dan Tania saling menatap setelah mendengar cerita mama Wina, mereka berdua benar-benar tak menyangka jika orangtua mereka ternyata saling mengenal. Papa Bagas dan Ayah Hanif ternyata dulu adalah teman semasa sekolah.
Vino dan Tania masih saling menatap hingga mama Wina mencubit lengan nya membuat Vino terkesiap.
"Sakit, Ma." keluh Vino sambil mengusap tangan nya yang di cubit mama Wina.
"Mana surat perjanjian yang kamu buat sama Tania?" tanya mama Wina sambil mengulurkan tangan nya. Tatapan nya garang menatap putra nya itu dan sesekali melirik Tania yang membuat wanita itu semakin khawatir.
Tania takut jika mama mertua nya itu mengingatkan nya akan surat perjanjian nya dengan Vino, dan meminta nya untuk pergi sekarang. Membayangkan hal itu, Tania memeluk putra nya dengan erat. Dulu ia memang dengan yakin nya mengatakan akan pergi setelah melahirkan anaknya dan akan memberikannya pada Vino. Namun, saat ini ia rasa nya tak rela berpisah dari putra nya.
"Vino kamu dengar Mama gak? Mana surat perjanjian nya?" tanya Mama Wina lagi karena Vino hanya sibuk mengusap tangannya yang ia cubit.
"Ada sama Bara, Ma." jawab Vino.
__ADS_1
Mama Wina pun berbalik menatap Bara yang berdiri di belakangnya. "Bara, mana surat perjanjian nya?" pinta Mama Wina.
"Surat perjanjian nya ada di kantor, Nyonya." jawab Bara.
"Huhh, kenapa gak bilang dari tadi." ucap Mama Wina sedikit ketus.
Vani yang berdiri di samping Vino merasa tak suka mama nya berbicara ketus seperti itu pada Bara. Vani langsung tersenyum manis saat tak sengaja tatapan nya bertemu dengan Bara. Sementara Bara hanya sedikit menundukkan kepala nya seperti memberi hormat dan raut wajahnya terlihat datar yang membuat Vani langsung cemberut karena Bara masih saja selalu seperti itu pada nya.
"Uhhh cucu Oma ganteng banget, siapa nama kamu sayang, hum?" Mama Wina mencium hidung baby Keenan sehingga membuat baby Keenan yang tidur langsung membuka mata seolah sudah bisa melihat.
"Nama nya Keenan Erlangga, Ma." jawab Vino sambil menedekat pada Mama nya itu.
Papa Bagas pun juga mengajak Ayah Hanif dan bu Hana untuk mendekat untuk melihat cucu mereka.
__ADS_1
"Gak nyangka ya, Nif. Kita jadi besan sekarang." ujar papa Bagas sambil menepuk pundak teman nya itu.
Ayah Hanif hanya tersenyum menanggapi nya, ia juga benar-benar tak menyangka jika perjanjian pinjam rahim yang dilakukan putri nya demi mendapat uang untuk biaya pasang ring jantung, membawa nya kedalam perjanjian perjodohan yang dulu pernah dilakukan bersama papa Bagas saat Tania baru di lahirkan. Papa Bagas pernah menawarkan pada Ayah Hanif untuk menjodohkan Tania kelak dengan putra nya. Namun, saat suatu hari papa Bagas kembali mendatangi nya dan mengatakan jika putra nya sudah memiliki calon istri, akhir nya Ayah Hanif mengubur dalam-dalam harapan nya untuk berbesan dengan teman nya itu.
"Dia tampan kan Ma? Seperti Papa nya." ujar Vino yang membuat Mama Wina langsung tersenyum.
"Iya, apalagi kalau Papa nya Keenan sama Mama nya Keenan pakai baju pengantin turun temurum keluarga Erlangga." ujar Mama Wina sambil mencium pelan kedua pipi baby Keenan bergantian.
"Maksud Mama?" tanya Vino.
"Ya ampun, Vino masa kamu gak ngerti sih maksud Mama. Mama mau setelah masa nifas Tania selesai, kalian harus meresmikan pernikahan kalian." ujar Mama Wina yang langsung membuat Vino sumringah, sementara Tania ia tidak menyangka dengan apa yang di dengar nya itu. Tania berpikir jika mama Wina tidak akan merestui nya dengan Vino.
"Dan kamu, Bara. Nanti kalau kamu balik ke kantor langsung bakar saja surat perjanjian itu." ujar Mama dengan melirik assisten putra nya itu.
__ADS_1