
Tania telah siap dengan gaun putih khusus ibu hamil yang melekat di tubuhnya, dan gaun itu di pesan dadakan oleh Vino karena semua gaun Tania tidak bisa terpakai lagi karena perutnya yang semakin membesar.
Meski dalam keadaan hamil, tak mengurangi kecantikan nya apa lagi Tania yang sudah bisa berdandan membuat penampilan nya semakin memukau.
"Cantik banget sih, nanti aku bisa lupa berkedip karena terus menatap mu." Vino memeluk Tania dari belakang, Tania yang saat ini masih membenahi penampilan nya di depan cermin, menggeleng pelan kepala nya melihat tampang mesum Vino dari pantulan cermin.
"Kalau Mas Vino terus memeluk ku seperti ini, bisa-bisa kita tidak jadi pergi." ucap Tania, ia mulai merasakan sesuatu yang mengganjal di bokong nya.
"Apa bisa kita melakukan nya sebelum pergi?" tanya Vino dengan suara berat, wangi tubuh Tania telah membangkitkan gairah nya.
__ADS_1
Tania menghela nafas nya, "Aku sudah susah payah berdandan dan Mas Vino ingin merusak nya lagi?" Tania ingat betul bagaimana buas nya Vino menjamah tubuhnya.
"Tapi dia sudah terlanjur bangun," ucap Vino sambil menuntun tangan Tania menyentuh bagian bawah tubuhnya yang sudah menegang. "Masa kamu tega membiarkan aku bermain solo." ucap nya memelas.
"Salah sendiri yang memancingnya bangun, sudah tahu kita mau pergi tapi malah cari masalah." ucap Tania terkekeh.
"Bisa tahan kan sampai kita pulang?"
"Ya sudah kalau begitu Mas Vino lepaskan saja gaun ku dan kita tidak usah pergi." ucap Tania.
__ADS_1
Vino seolah tak mendengar Tania, ia menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Tania menghirup dalam-dalam aroma yang membuat nya candu. Vino mengecup leher jenjang Tania dengan sedikit menggigit nya sehingga meninggalkan bekas kemerahan yang sangat ketara di leher putih itu.
"Kita akan tetap pergi, tapi kau harus membantuku menidurkan nya dulu. Aku janji akan bermain sebentar saja dan tidak akan membuat penampilan mu berantakan." bisik Vino tepat di telinga Tania yang membuat Tania seketika melenguh karena sudah mulai terpancing dengan permainan Vino.
Tanpa menunggu jawaban Tania, Vino langsung saja menurunkan resleting gaun putih itu dan menarik perlahan gaun itu kebawah sehingga kedua bahu mulus Tania terpampang dengan jelas yang semakin menantang kejantan Vino untuk menggagahi nya.
Vino dan Tania kembali terhanyut dalam kenikmatan surgawi, sementara itu Elza yang hingga kini masih berada di balik jeruji besi terus mengucapkan sumpah dalam hati nya untuk membalas keluarga Erlangga saat ia bebas nanti.
"Jika aku tidak bisa membalas kalian berdua, maka keturunan kalian yang akan merasakan nya." ucap Elza dengan datar namun sorot mata nya bak mata elang yang menemukan mangsa nya.
__ADS_1
Selama berada dalam tahanan, bukan nya berubah namun Elza malah berpikir untuk balas dendam pada Vino dan Tania. Beberapa bulan mendekam dalam tahanan membuat penampilan Elza berubah seratus delapan puluh derajat. Rambut nya hanya di kuncir asal-asalan, wajah nya terlihat pucat tanpa polesan make up dan juga bibir nya kering dan sedikit mengelupas, tak ada lagi pewarna yang melekat di bibir nya itu. Belum lagi baju tahanan yang berukuran besar yang melekat di tubuhnya membuat Elza sudah terlihat seperti gelandangan yang menumpang berteduh di dalam jeruji besi.