
"Pa, bagaimana menurut Papa kalau kita pulang saja ke Indonesia?" tanya Mama Wina pada suami nya.
Beberapa hari ini, ia sudah mempertimbangkan ajakan suami nya untuk pulang ke Indonesia jika ingin mengetahui siapa sebenarnya wanita hamil yang ada dalam foto yang dikirimkan oleh putra nya. Karena orang suruhannya tidak dapat menemukan jejak apapun lagi tentang Tania selain pernah menjadi cleaning service di perusahaan milik putra nya itu, maka jalan satu-satunya adalah pulang dan bertanya langsung pada putra nya.
Papa Bagas yang sedang membaca koran, melirik Istri nya lalu tersenyum. "Kenapa Mama malah bertanya bagaimana menurut Papa, bukankah Papa yang sudah menyarankan pada Mama agar kita pulang ke Indonesia." Ucap Papa Bagas sambil terkekeh, ia merasa lucu dengan pertanyaan Istri nya itu.
Mama Wina mengulum senyum merasa sedikit malu, seperti nya ia sedikit oleng karena terus memikirkan wanita hamil yang ada dalam foto itu.
"Jadi bagaimana, kapan Mama memutuskan akan pulang?" Tanya Papa Bagas sambil melipat koran nya.
"Bagaimana kalau besok, Pa?"
__ADS_1
"Yah Mama, kenapa gak hari ini aja sih? Lebih cepat kan lebih bagus." Sahut Vani yang sedari tadi diam memainkan ponsel nya.
Vani sangat senang saat Papa Bagas menyarankan untuk pulang, semangat nya yang sempat layu kini berkobar kembali. Dulu, saat ia tiba di Negara ini, jiwa nya seperti tertinggal di tanah air karena berpisah dari asisten sang Kakak yang juga sudah seperti Kakak nya sendiri. Bahkan Vani lebih akrab dengan asisten Kakak nya, dari pada Kakak nya sendiri.
"Kamu itu, mau nya pulang cepet-cepet aja. Awas ya, nanti kalau kita sudah pulang jangan ganjen-ganjen sama asisten Kakak kamu lagi. Kamu itu sekarang sudah lebih dewasa, Vani jadi buanglah sifat kekanak-kanakan mu itu." Ucap Mama Wina mempringati putri bungsu nya itu.
Mama Wina masih ingat betul bagaimana dulu Vani yang sangat dekat dengan asisten Kakak nya, Vani juga dengan genit nya menggoda asisten Kakak nya itu memintanya untuk menjadi suami agar bisa selalu mengawalnya kemana pun ia pergi. Namun, dulu semua menganggap itu adalah candaan Vani, tapi untuk saat ini rasanya sudah berbeda karena Vani bukan remaja lagi seperti dulu.
"Iya, Ma." jawab Vani sambil mengedipkan sebelah mata nya.
"Siap Mama." ucap Vani sembari memberi hormat lalu dengan cepat ia berlari ke kamar nya.
__ADS_1
____________
Di rumah utama, entah sudah berapa belas menit Vino terus tertawa sambil memegang perutnya yang sudah mulai terasa keram. Ia merasa lucu dengan panggilan baru yang disematkan untuk oleh Tania. Karena dulu Elza memanggil nya dengan nama saja, dan sekarang ia merasa sedikit aneh plus lucu saat Tania memanggil nama nya dengan menambahkan kata 'Mas'.
"Ya ampun Tania, kau memanggil aku dengan sebutan seperti itu membuat aku merasa sudah seperti Emas berjalan saja." ujar Vino, tawa nya perlahan mereda.
Sementara Tania sejak tadi sudah memasang wajah cemberutnya karena Vino malah menertawai ia yang sudah mengganti panggilan nya terhadap Vino. Dari Pak Vino menjadi Mas Vino.
Vino pun berhenti tertawa, ia menarik Tania kedalam pelukannya.
"Sudah, jangan cemberut seperti itu nanti aku akan melahap bibir mu yang monyong itu." ujar Vino. "Sekarang lebih baik kamu bersiap aku akan mengajak kamu ke suatu tempat."
__ADS_1
"Kemana?" tanya Tania.
"Kamu bersiap saja dulu, nanti kamu juga akan tahu." jawab Vino.