
"Jujur, aku juga merasa nyaman dengan semua perhatian Pak Vino. Tapi kita tidak bisa terus bersama tanpa ada nya cinta di hati kita. Aku takut menjalani hubungan yang hanya sebatas formalitas saja. Jika permintaan Pak Vino atas dasar anak yang ku kandung in Bapak tidak perlu khawatir. Ada waktu 6 bulan yang Pak Vino berikan untuk ku merawatnya nanti setelah dia lahir, tapi setelah itu kembali kepada Pak Vino sendiri bagaimana anak ini akan mendapat kasih sayang dari sosok ibu meski itu bukan aku."
Tania berusaha melepaskan tubuh nya dari dekapan Vino karena hal-hal kecil seperti ini lah yang juga akan menjadi pemberat langkah nya untuk pergi. Tania sudah menekankan pada diri nya sendiri untuk tak menggunakan hati apa lagi perasaan dalam hubungan kontrak nya bersama Vino, karena jika itu sampai terjadi maka ia sendiri yang akan tersiksa nanti nya. Berharap pada rasa yang tak semestinya hanya akan membuat kubangan luka yang tak berdarah.
"Kau mau kemana, Tania. Aku belum selesai bicara."
Vino kembali menarik Tania dan kali ini memeluk nya dengan erat, tak akan membiarkan wanita itu pergi sebelum ia mengungkapkan apa yang selama ini mengganggu fikiran nya.
__ADS_1
Tania tersentak karena Vino yang kembali menarik nya dengan tiba-tiba, dan refleks kedua tangan nya melingkar di tubuh laki-laki itu seolah membalas pelukan Vino.
Tatapan mereka bertemu. Jika Vino menatap Tania dengan tatapan penuh permohonan, justru Tania memberikan tatapan tajam yang baru kali ini dilihat Vino. Tania tidak ingin terus terikat dengan kenyamanan yang hanya bersifat sementara, yang mana akan membuat nya terjurumus pada perasaan yang tak seharusnya ada. Karena Tania merasa diri nya sama sekali tidak pantas bersanding dengan seorang Vino Erlangga.
"Satu tahun, sudah satu tahun kita menjalani hubungan kontrak ini. Apa kah tidak ada sedikit saja rasa yang tumbuh di hati mu selama kebersamaan kita, Tania? Apakah kau tidak ingin membesarkan anak mu dengan tangan mu sendiri?" Vino kembali menangkup wajah Tania. "Lihat aku, tatap mata ku Tania. Aku tidak tahu perasaan macam apa yang aku rasakan pada mu, tapi aku yakin kau pasti tahu dengan melihat mata ku. Katakan Tania, apa kau melihat cinta di mata ku?" tanya nya dengan suara berat.
Tania menggeleng pelan, "Tidak ada, yang ku lihat hanya sebuah obsesi untuk memiliki bukan cinta." ucap Tania seraya menghembuskan nafas berat nya.
__ADS_1
Tania menurunkan pandangannya, namun Vino kembali menangkup wajah nya memaksa untuk menatap mata nya lagi.
"Kau bohong, Tania. Lihat mata ku sekali, katakan kalau kau melihat cinta di dalam nya."
"Jika Pak Vino sendiri tidak yakin dengan apa yang Bapak rasakan, lalu bagaimana aku juga bisa yakin jika itu adalah cinta. Katakan, Pak?" Tanya Tania, kini gilirannya yang balik bertanya, sedikit saja Vino memberikan jawaban yang mampu menyentuh relung hati nya, maka ia akan membuang segala ego atas perbedaan status sosial mereka.
Vino termangu, bukan nya tidak bisa menjawab, hanya saja ia tidak tahu harus memulai nya dari mana.
__ADS_1
"Pak Vino tidak bisa menjawab kan? Berarti sudah jelas itu bukan lah cinta."