RAHIM 500 JUTA

RAHIM 500 JUTA
S2~ BAB 55


__ADS_3

Damar menuntun Keenan dan Arland menuju sofa, untuk membahas tentang perusahan mereka yang sudah sejak setahun terakhir mendapat kan banyak keuntungan yang mereka peroleh semenjak perusahan Erlangga dan Dirgantara bergabung. Bahkan tak jarang Keenan dan Arland memenangkan banyak tender yang membuat beberapa pemilik perusahan lain nya menjadi iri pada mereka.


Hampir satu jam pembahasan itu pun selesai, Damar langsung saja menyampaikan undangan dari salah satu pemilik perusahan yang cukup terkenal agar Keenan dan Arland menghadiri acara anniversarry perusahan tersebut yang akan di adakan di Gandaria City Hotel, salah satu hotel berbintang lima di ibu kota.


"Sebenarnya aku malas sekali menghadiri acara seperti itu. Tapi untuk menghargai undangan mereka dan menjalin hubungan kerja sama yang baik, apa salah nya kita coba datang?" Ucap Keenan sambil menatap Arland.


"Yeah, kau benar. Aku juga sebenarnya tidak suka menghadiri acara seperti itu tapi seperti yang kau bilang, tidak salah kita mencoba untuk datang." Ujar Arland.


"Kapan acara nya?" Tanya Keenan pada Damar.


"Dua hari lagi, Pak, tepat nya malam minggu." Jawab Damar.


Anin yang mendengar kata malam minggu langsung tersenyum sumringah, ia berpikir untuk ikut ke acara anniversarry itu.


Sementara Keenan menghela nafas kasar mendengar jawaban Damar, bukan karena acara anniversarry itu, tapi karena kalimat Damar yang sangat formal pada nya. Padahal dia sudah sering kali memperingati pada adik sepupu nya itu agar memanggil nya dengan sebutan abang sama seperti Anin.


"Maaf Bang, aku lupa lagi." Ucap Damar setelah menyadari kesalahan nya.


"Lain kali jangan di ulangi lagi."


Damar menjawab nya dengan anggukan kepala.


"Mungkin Bang Keenan udah kelihatan tua kali jadi Bang Damar manggil nya dengan sebutan Bapak. Sama tuh kayak yang di samping Bang Keenan, perjaka tua dia." Sahut Anin sambil melirik ke arah Arland yang tampak tak terpengaruh dengan ucapan nya.


Namun, dalam hati Arland merutuki Anin.


'Dasar gadis tengil bau kencur, berani-berani nya dia mengatai aku perjaka tua. Awas saja nanti, benar-benar memang harus di kasih pelajaran biar dia gak kurang ajar lagi sama aku.'

__ADS_1


"Anin!" Seru Keenan menegur adik nya, namun Anin tak memperdulikan teguran kakak nya itu.


Anin beranjak dari kursi kebesaran yang sudah di pakai turun temurun, lalu melangkah menuju sofa dimana ketiga lelaki jomblo itu berada.


Anin langsung saja mendudukkan tubuhnya di antara Keenan dan Damar.


"Bang Damar ikut juga kan ke acara itu?" Tanya Anin.


Damar tampak ragu untuk menjawab nya. Sebenarnya ia juga ingin pergi ke acara itu karena di sana ia bisa bertemu dengan kekasihnya yang bekerja di hotel tersebut. Namun, semua keputusan ada pada Keenan yang mengizinkan atau tidak ia ikut.


"Ya ikut lah, kamu lupa kalau Damar juga keluarga kita dan dia sangat berjasa di perusahan ini." Ujar Keenan menjawab.


"Aku ikut ya buat jadi pasangan Bang Damar. Bang Keenan sama si Om Brewok cari pasangan juga gih, masa datang ke acara penting gitu gak bawa pasangan, malu-maluin aja." Ujar Anin yang membuat Keenan dan Arland merasa tersentil.


Karena apa yang di bilang Anin itu benar, usia mereka berdua sudah sangat matang tapi belum memiliki pasangan.


Keenan pun berdiri dari tempat duduk nya, "Hati-hati di jalan." Ujar nya, tersenyum hangat pada Arland.


Sebelum Arland mengayun langkah keluar dari ruangan Keenan, Anin dengan cepat beranjak dan berlari keluar dari ruangan kakak nya itu.


Arland tersenyum menyeringai melihat kepergian Anin, ia tahu gadis itu pasti ingin membuat ulah untuk membuat nya kesal lagi. Dan kali ini ia akan membuat gadis tengil itu berhenti mengganggu nya.


Setelah berjabat tangan dan berpamitan pada Keenan dan Damar, Arland pun segera keluar dari ruangan sahabat sekaligus rekan kerja nya itu.


Sepanjang langkah menuju parkiran, sesekali Arland melirik ke kanan dan ke kiri untuk antisipasi jika tiba-tiba Anin muncul di hadapan nya.


Setelah sampai di mobil nya Arland bernafas lega karena ternyata Anin tidak mengikuti nya.

__ADS_1


"Syukurlah, setidak nya hari ini emosi ku labil." Ucap nya seraya membuka pintu mobil. Arland sedikit terkejut karena ternyata ia lupa mengunci mobil nya tadi saat akan masuk ke perusahaan Erlangga.


"Halo Om Brewok, ceroboh banget sih mobil nya gak di kunci."


Arland tersentak kaget mendengar suara Anin di belakang nya, ia dengan cepat menoleh dan ternyata benar gadis tengil itu sudah duduk dengan santai nya di kursi penumpang.


"Anin...?"


"Om Brewok... " Ucap Anin sambil meniru keterkejutan Arland.


"Ngapain kamu di mobil ku? Keluar gak!"


Arland menatap Anin dengan tajam, namun gadis itu sama sekali tak gentar. Anin malah merubah posisi duduk nya seperti bos besar yang membuat Arland semakin kesal.


"Mau keluar atau aku akan melakukan sesuatu yang bisa membuat mu menyesal telah berurusan dengan ku!"


Sekali lagi, ancaman Arland tak membuat Anin bergeming sedikit pun yang akhirnya Arland pun melakukan sesuatu yang membuat Anin mulai panik, namun gadis itu tetap berusaha setenang mungkin.


Setelah mengunci semua pintu mobil dengan satu kali menekan tombol, Arland berbalik menatap Anin dengan tersenyum menyeringai lalu Arland mulai melepas dasi dan kancing kemeja nya satu persatu hingga dada bidang nya terekspose jelas yang refleks membuat Anin langsung menutup mata dengan kedua telapak tangan.


"Om mau apa? Jangan macam-macam, aku akan teriak!"


"Silahkan teriak, mau suara mu seperti toa juga tidak ada yang akan mendengar. Asal kau tahu mobil ku ini kedap suara dan juga tidak tembus pandang." Ujar Arland lalu tertawa.


Wajah Anin meringis di balik kedua telapak tangan nya, sejujurnya ia takut jika Arland benar-benar nekat berbuat yang macam-macam dengan nya, namun ia tidak mau memperlihatkan ketakutan nya itu.


Namun, Anin seketika gemetar saat merasakan pergerakan Arland mendekati nya. Jika ia tidak salah tebak wajah Arland sudah berada depan nya, dapat ia rasakan hangat hembusan nafas di kedua punggung tangan yang menutupi wajah nya.

__ADS_1


''Dasar gadis tengik, sok menantang tapi baru begini saja sudah takut."


__ADS_2