
Vino sampai mengucek kedua mata nya melihat ketiga orang yang sangat dirindukannya kini sudah berdiri tak jauh dari nya.
Ya Tuhan, Vino berharap ini bukan lah mimpi atau sekedar salah lihat. Hingga suara sang adik yang memanggil nama nya dengan lantang seraya berlari ke arah nya, refleks ia langsung membuka kedua tangan nya.
"Kak Vino, aku kangen banget." Vani memeluk tubuh kakak nya dengan erat, begitu pun Vino yang setelah menyadari ini adalah nyata membalas pelukan adik nya tak kalah erat. Tanpa terasa air mata nya kembali menetes.
"Vani, Kakak juga kangen banget sama kamu." ucap Vino seraya menghujani kecupan pucuk kepala adik nya.
Perlahan Vino mengurai pelukan nya, ia menangkup wajah adik nya dengan kedua mata berkaca-kaca. ''4 tahun kamu ninggalin Kakak, dan sekarang kamu sudah semakin dewasa dan semakin cantik." Wajah Vino dihiasi senyuman sambil menatap wajah adik nya, namun kedua mata nya menganak sungai.
Semua yang ada di ruangan itu ikut terharu melihat pertemua Vani dan Vino yang sudah empat tahun lama nya berpisah. Terlebih Tania ikut merasa bahagia melihat suaminya itu akhir nya bertemu dengan keluarga nya. Namun rasa tak takut mulai menghinggapi nya, ia takut jika keluarga Vino tidak bisa menerima nya, terlebih melihat dua Paruh baya yang berdiri di ambang pintu menatap ke arah nya dengan datar.
"Apa kamu tidak mau memeluk kami juga?"
__ADS_1
"Apa kamu tidak merindukan kami juga?"
Tanya Papa Bagas dam Mama Wina serentak sembari berjalan masuk ke dalam ruangan rawat Tania.
Vino langsung mengalihkan tatapannya pada dua paruh baya yang juga sangat di rindukan nya itu.
Vino langsung memeluk papa Bagas, dan beberapa saat ia berpindah memeluk Mama Wina.
"Maafin Vino, Ma. Vino gak sadar telah menjadi penyebab Mama pergi." ujar Vino di balik dekapan Mama nya.
"Sudah lah, Vino. Gak usah membicarakan soal itu lagi, yang terpenting sekarang Mama sudah pulang." ucap Mama Wina, tatapannya tetuju pada Tania yang membuat wanita itu langsung menunduk.
"Ma, aku sudah bercerai dari Elza." ujar Vino lirih, dan Mama Wina langsung mengurai pelukan nya.
__ADS_1
"Iya, Mama sudah tahu." ujar Mama Wina dengan tersenyum sambil mengusap wajah putra nya.
"Dan Mama sudah tahu semua nya, termasuk dia." ucap Mama Wina lagi sambil melirik ke arah Tania.
Mama Wina tersenyum sambil mengingat beberapa saat lalu ia dan Vani menemani Papa Bagas yang kata nya ingin pergi bertemu terman lama nya. Teman semasa sekolah Papa Bagas dulu di masa putih abu-abu.
Tak lama setelah sampai di rumah teman papa Bagas itu, mereka terkejut saat tiba-tiba Bara datang untuk menjemput Pak Hanif dan Bu Hana yang merupakan teman papa Bagas.
Tak terhingga Bara pun tak kalah terkejut nya melihat keberdaan tuan dan nyonya di rumah orang tua Tania.
Beberapa saat, Bara pun akhir nya menceritakan semua tentang Elza, Vino dan Tania.
Bagaimana Vino membawa Tania masuk ke dalam kehidupan nya di landasi atas dasar kerja sama pinjam rahim semata, dan Tania yang terpaksa menerima tawaran itu lantas sang ayah yang harus melakukan pemasangan ring jantung dengan jumlah biaya yang cukup besar.
__ADS_1
Kemudian bagaimana Elza yang selalu menuduh Vino yang tidak bisa memiliki keturunan, hal itu lah yang membuat Vino akhir nya mencari wanita untuk diguanakan rahim nya sebagai bahan percobaan. Lalu rangkaian kejadian-kejadian yang mengarah kepada Vino yang akhir nya mengetahui penyebab mama nya pergi, dan kecurangan Elza karena merasa dendam pada mama Wina, dengan menyerahkan kehormatannya pada orang lain sebelum menikah dengan Vino. Untuk membuat Vino merasa kecewa sebagai balasan pada Mama Wina yang sudah mempermalukan Elza kala itu.