
"Iya, kau benar Tania, aku tidak bisa menjawab. Karena aku memang tidak mengerti dan tidak yakin dengan perasaan ku sendiri."
Tania tersenyum masam mendengar jawaban Vino, ia pikir Vino akan mengatakan sesuatu yang mungkin bisa sedikit menyentuh hati nya. Namun, ternyata ia salah, Vino malah mengakui yang sebenarnya.
"Kau tau kenapa, Tania?" Sambung Vino, ia mendekatkan wajah nya pada wajah Tania.
__ADS_1
"Karena Elza, itu semua karena Elza yang membuat aku sulit membedakan mana cinta dan mana hanya sekedar rasa ingin memiliki agar tak kesepian. Dulu, aku menikahi Elza karena aku pikir aku mencintai dia, namun setelah kami menikah yang aku rasakan hanya lah kehampaan. Saat itu aku bingung dengan perasaan ku sendiri. Aku bertanya-tanya pada diri ku sendiri apakah aku benar-benar mencintai Elza. Dan kau tahu apa yang aku dapatkan? Seiring berjalannya waktu aku hanya merasakan kekosongan, Tania. Terlebih Elza yang tidak pernah memperhatikan aku sebagai suami, tidak pernah memasak, menyiapkan pakaian ku dan semua kebutuhan ku seperti yang kau lakukan selama ini. Saat itu juga aku sadar jika aku bukan hanya keliru dengan perasaan ku tentang cinta, tapi Elza juga tidak benar-benar mencintai aku."
Vino menghembuskan nafas nya dengan kasar setelah mengatakan semua keluhannya selama ini bersama Elza. Ia merasa lega setelah mengatakan semua nya pada Tania, tentang apa yang tidak ada satu pun orang yang tahu bagaimana kehidupan nya bersama Elza.
Sementara Tania terdiam menatap Vino dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka di balik kehidupan Vino yang terlihat sempurna, memiliki segala nya, istri yang cantik, ternyata di balik itu semua ia
__ADS_1
"Tapi setelah bersama mu, kekosongan yang aku rasakan perlahan terisi dengan perhatian-perhatian yang kau berikan. Bersama mu aku merasa diri ku adalah laki-laki yang paling beruntung karena memiliki wanita hebat seperti mu di samping ku. Yah, kau hebat, Tania, kau hebat karena sudah berhasil mengubah sikap dan kepribadian ku." Ucap Vino lagi.
Tania terhenyak, ia jadi teringat bagaimana dulu sikap Vino pada nya. Dulu Vino tidak pernah menganggap nya, cuek, dingin, dan mendatangi nya hanya untuk menuntaskan sesuatu yang merupakan bagian dari kerja sama pinjam rahim mereka, setelah mendapat hak nya Vino akan meninggalkan nya begitu saja bagai seorang wanita pemuas nafsu.
"Aku sudah mengatakan semua nya, Tania. Semua nya dan tak ada yang tersisa lagi, dan aku yakin jika kau menyimak nya dengan baik." Vino meraih kedua tangan Tania, dan menggenggam nya dengan erat, menatap lekat tepat pada kedua mata hitam Tania. "Pertanyaan ku sekarang, apakah kau mau menjalani hubungan bersama ku dengan kita sama-sama belajar untuk saling mencintai? Aku serius mengatakan nya Tania, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapan ku, dan kau tahu sendiri akan hal itu."
__ADS_1
Kini giliran Tania yang terdiam seolah tidak bisa menjawab pertanyaan Vino. Tidak, ia bukan nya tidak bisa menjawab, tetapi sangat terharus dengan semua yang di ucap kan Vino tentang nya.
Dan yang lebih membuat nya benar-benar tidak menyangka, adalah karena bukan hanya diri nya saja yang merasakan kenyamanan bersama Vino selama ini. Tetapi Vino pun merasakan hal yang sama. Ternyata mereka sama-sama merasakan kenyamanan selama kebersamaan mereka.