
Ajeng menatap haru bayi mungil dalam buaianya. Betapa bersyukurnya perempuan itu bisa terus bersama Ruby yang tadinya hampir putus asa.
"Dia sangat lucu," puji Hanan ikut menilik keponakannya.
Ajeng tersenyum, lalu mengangguk. Benar kata Hanan, putrinya begitu lucu, mirip dengan dirinya kombinasi dengan sang suami.
"Kak Ajeng makan dulu, biar Ruby aku yang jaga," ujar Hanan memberikan ruang untuk kakaknya.
"Makasih Hanan, aku mau mandi dulu, tinggal saja di kamar nggak pa-pa," ujar Ajeng merasa aman.
Setelah menyusui putrinya. Ajeng berniat membersihkan diri. Sementara Hanan sibuk menjaga Ruby di ruang tengah sembari membaca buku. Suara ketukan pintu di luar cukup membuatnya kaget mengingat hari sudah hampir petang.
"Siapa ya?" gumam pemuda itu menaruh bukunya di dekat baby Ruby lalu beranjak.
Hanan mengintip terlebih dahulu kondisi luar. Siapakah gerangan yang bertamu. Sungguh di luar dugaan tak terkira, ternyata pria itu adalah Denis yang tadi siang sempat berchat ria bersamanya.
"Bang Denis? Masuk Bang, beneran ke sini?" tanya Hanan sekaligus mempersilahkan tamunya.
"Hallo Hanan, baru banget pulang kantor, jadi langsung sempetin ke sini. Bagaimana kondisi kakakmu?" tanya Denis yang sesungguhnya menahan rindu ingin bertemu.
"Baik Bang, bentar ya ... Kak Ajeng lagi mandi," jawab Hanan sembari mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Denis mengangguk dengan senyuman. Melihat sekeliling ruangan, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari arah dalam. Mungkin bayi itu sedikit protes lantaran kesepian. Hanan masih sibuk di dapur membuatkan minuman untuk tamunya.
"Sayang ... bentar, bunda ganti dulu. Cup cup cup!"
Mendengar tangisan itu Ajeng yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menuju ruang tengah mengambil Ruby. Tepat saat itu juga netra bening miliknya bertemu dengan Denis.
"Eh, astaghfirullah ...." Ajeng langsung berbalik dengan wajah kaget sambil memgendong baby Ruby, mengingat dirinya hanya berbalut kimono saja.
Denis yang paham langsung berbalik juga. Awalnya hendak mendekati bayi mungil yang menangis sendirian, namun malah dibuat sedikit melongo dengan penampilan bidadari cantik yang begitu seksi baru saja keluar dari kamar mandi.
"Astaghfirullah ... nggak sengaja!" gumam Denis kembali duduk dengan perasaan canggung.
"Minumnya Bang!" Hanan mejamu dengan teh hangat seadanya.
__ADS_1
"Eh, iya, makasih Nan, jadi ngrepotin," jawab Denis masih sedikit nervous.
"Ini, martabak Nan!" Denis menyodorkan dia bungkus martabak spesial dan martabak manis.
"Wah ... repot-tepot Bang, aku buka ya?" ujar pemuda itu tersenyum sumringah.
Ajeng sendiri merasa begitu malu atas insiden tadi. Di mana berpenampilan sedikit terbuka langsung keluar karena keburu menilik putrinya yang menangis. Ajeng mengira tidak ada orang.
Perempuan itu menemui seseorang yang masih begitu rapat tersimpan di hatinya dengan perasaan canggung. Sembari menggendong baby Ruby yang sudah terlelap.
"Assalamu'alaikum Ajeng ... maaf, yang tadi nggak usah diingat, aku sedikit lancang," sesal Denis sedikit khawatir dengan tanggapan Ajeng tentang dirinya.
"Waalaikumsalam ... Kak, iya, aku yang kurang sopan. Ngomong-ngomong kok tahu tempat tinggal kita sekarang. Hanan ya?" tebak perempuan itu sembari duduk tepat segaris agak berjarak dengan Denis.
Denis mengangguk dengan senyuman.
"Iya, bagaimana kondisi kamu, sudah baikan luka caesarnya?" tanya pria itu perhatian. Berusaha menahan diri dengan perasaannya yang terlampau senang bisa bersua kembali setelah beberapa purnana terpisah karena keadaan dan sama-sama menjaga diri.
"Alhamdulillah sudah berangsur pulih, jahitannya juga bagus, udah nggak begitu terasa," jawabnya dengan rasa syukur.
"Syukurlah ... semoga lekas sembuh ya. Seneng banget ketika dapat kabar dari Hanan sudah lahiran, dan baby Ruby bisa terus sama kamu," ujar Denis menatap binar bahagia.
Ah, sepertinya hati keduanya memang masih bertaut. Terbukti semakin deg degan saja saat saling duduk seperti ini. Mungkinkah perasaan Ajeng dan Denis masih sama?
"Aku sudah dengar dari Hanan, insya Allah akan ikut cari tahu juga tentang bukti masalah yang menimpa kalian. Jangan pernah merasa sendiri Ajeng, banyak yang peduli dan sayang sama kalian."
"Terima kasih Kak, doa baik kembali pada Kakak."
"Bayi kamu lucu sekali, cantik seperti ibunya, boleh aku gendong?" pinta pria itu yang membuat keduanya serasa lebih dekat.
"Hmm ... emang bisa?" tanya Ajeng ragu seraya tersenyum.
"Belum pernah sih, tapi latihan dulu biar nanti terbiasa. Hehehe."
"Aku yang nggak boleh!" Suara lantang bernada kesal itu terdengar cukup jelas di antara mereka.
__ADS_1
Ya, Abi datang sore itu, seperti dugaan Ajeng dan Hanan, begitu mudah pria itu menemukan dirinya. Jadi, baik Ajeng maupun Hanan pun tidak berniat kabur, hanya singgah sementara waktu dari orang-orang yang kemungkinan ingin memisahkan dengan bayinya.
Ajeng dan Denis sampai berdiri serempak mendapati Abi datang langsung masuk ke rumah tanpa permisi. Pintu luar memang sebelumnya terbuka, lagian di rumah juga ada Hanan, tidak melulu berdua saja.
Abi menyorot tajam perempuan yang masih sah sebagai istrinya itu terciduk tengah berdua dengan seorang pria. Hatinya mendadak begitu panas melihat kedekatan mereka, apalagi pria itu mencoba dekat dengan bayinya.
"Mas Abi?" ucap Ajeng cukup tenang.
"Sini Ruby, aku merindukannya," ujar Abi mendekat lalu mengambil begitu saja dari gendongan Ajeng.
Perempuan itu tiba-tiba merasa khawatir. Takut pria itu membawa pergi.
"Tapi Mas, jangan dibawa ke mana-mana, di sini saja," ujar Ajeng tentu saja tidak tenang. Apalagi hari hampir gelap.
Hanan yang mendengar sedikit keributan dari dalam kamarnya langsung keluar. Mendapati ayah dari keponakannya itu ada di sana sedikit membuatnya tak suka. Tetapi mencoba tenang, biar bagaimanapun Ruby adalah putrinya.
"Boleh aku membawanya masuk? Selesaikan urusanmu dulu dengan pria itu, sudah petang tidak saatnya untuk bertamu," sindir pria itu menatap datar pria yang masih betah duduk di ruang tamu.
Ajeng terdiam, sementara Abi menimang anaknya masuk ke dalam. Pria itu begitu merindukan bayi mungil itu, bahkan semalam tidak bisa tidur sama sekali karena terus memikirkannya.
"Maaf, di luar dugaan kami," ucap Ajeng dengan raut wajah yang berbeda.
Denis tersenyum, walaupun hatinya jelas bertalu cemburu. Mungkinkah pria itu akan menepati janjinya menceraikan pujaan hatinya, atau malah sebaliknya. Yang jelas, pria itu masih begitu mencintai Ajeng walaupun statusnya mungkin tak lagi sama.
"Besok aku akan kembali. Cepet sembuh ya ... eh ya, besok mau dibawain apa?" tawar pria itu tanpa ragu.
"Tak perlu repot, kehadiranmu sudah cukup membuat kami bahagia," jawab Ajeng tanpa pamrih.
Abi yang mendengar semakin panas. Bagaimana bisa perempuan yang terlihat begitu sederhana dan polos itu mampu mengusik hatinya hingga dada itu terasa sakit. Apakah Abi tidak rela kalau pada akhirnya Ajeng kembali dengan Denis?
.
TBC
.
__ADS_1
Gaes ... sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk ...!