Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 51


__ADS_3

Hari kedua setelah pertemuan kemarin, pagi-pagi sekali Abi sudah menyambangi rumah Ajeng kembali. Pria itu datang dengan membawa buah tangan untuk Ruby. Abi harus mendekatkan dirinya agar putrinya tidak takut lagi dan perlahan mau menerimanya.


"Assalamu'alaikum ... maaf kalau aku datang terlalu pagi. Apakah semalam masih panas, rewel?" sapa Abi demi melihat ekspresi Ajeng yang mungkin kurang berkenan.


Sabar dan pantang menyerah adalah kunci utamanya. Dia sudah lama kehilangan momen gold bersama putrinya, jadi hari-hari ke depan ingin menebusnya.


"Waalaikumsalam ... Rubby masih tidur Mas, semalam sudah tidak panas, hanya saja masih sedikit batuk," jawab Ajeng sembari mempersilahkan tamunya masuk.


"Duduk Mas, maaf aku tinggal beberes ya, Mas bisa tunggu sampai Ruby terbangun, mau minum apa?" tawar perempuan itu mencoba bersikap senormal mungkin.


"Apa aja nggak pa-pa, boleh aku masuk lihat Ruby ke kamar?" pinta pria itu meminta izin.


Ajeng mengangguk, biarlah mereka dekat, Abi memang ayahnya. Perihal tentang perasaannya, Ajeng masih enggan menanggapi sudah terlalu nyaman untuk saat ini.


"Terima kasih, aku masuk ya?" ujar pria itu beranjak.


"Hanan nggak di rumah?" tanya pria itu tidak menemukan adik dari istrinya.


"Lagi kulakan bahan onderdil, Mas," jawab Ajeng lalu.


Abi masuk ke kamar menyapa putrinya yang masih lelap. Pria itu langsung mendekati ranjang dan menciumnya. Bergumam kecil, kapan bisa tidur bareng dan memeluknya. Rasanya ingin secepatnya hari itu tiba.


Abi juga sudah menghubungi ibunya, menceritakan semuanya perihal di Bandung. Pria itu meminta tolong khusus kepada Nyonya Warsa untuk datang sekaligus membawa perlengkapan yang dibutuhkan untuk dokumen pernikahan. Diam-diam pria itu akan mempersiapkannya. Dengan bantuan mamanya, pasti Ajeng akan makin percaya.


Sementara Ajeng sibuk di dapur. Rutinitas setiap pagi sebelum Ruby bangun, perempuan itu membereskan cucian, membuat sarapan dan sisanya sambil berjalan ngurus anak.


"Ruby kalau bangun lama ya?" tanya Abi menyusul Ajeng ke dapur. Memperhatikan perempuan itu yang tengah sibuk berkegiatan rumah tangga.


"Tergantung, mungkin karena udah merasa nyaman jadi lelap," jawab Ajeng tanpa menoleh. Terus sibuk sendiri mengambil cucian dari mesin cuci yang baru saja dikeringkan.


"Aku bantu ya?" pinta pria itu mendekat. Hendak mengangkat ember ke belakang.


"Nggak usah Mas, kamu minum aja itu kopinya di ruang tamu," tolak Ajeng sungkan. Rasanya masih aneh dan tentu saja canggung.

__ADS_1


"Iya, bentar bawain ini dulu ke belakang, nanti pasti aku minum kopi buatan kamu," ujar pria itu tersenyum manis padanya.


Ajeng yang bingung harus bersikap apa, membiarkan saja semua itu terjadi. Bahkan, pria itu mencoba membantu menjemur, kegiatan yang mungkin seumur hidupnya baru kali ini ia lakukan.


"Gini bener nggak sih, pakaian Ruby lucu-lucu ya, nanti kita ke mall ya, aku ingin ajak main juga sekalian belanja apa yang kalian mau," ujar pria itu tersenyum tanpa beban.


"Jangan berlebihan Mas, aku udah biasa membersamai dengan kesederhanaan. Takutnya nanti tuman," sahut Ajeng kurang setuju.


"Nggak kok, aku hanya ingin memberikan sesuatu yang harusnya menjadi hal kalian. Biarkan aku menebusnya untuk waktu setahun lebih ini," ujar Abi tak merasa apa-apa.


Usai menjemur yang disertai obrolan kecil seputar putri mereka. Ajeng langsung masuk, Abi masih setia mengekornya. Sebenarnya Ajeng kurang nyaman, tetapi bingung juga cara menyikapi ayah dari anaknya tersebut.


"Aku minum kopinya ya?" kata pria itu beranjak ke depan. Namun, semenit berlalu kembali menyambangi Ajeng dengan membawa serta cangkir kopinya.


"Mau masak?" tanya Abi demi melihat Ajeng mengeluarkan bahan dari kulkas.


"Iya, buat sarapan sekaligus buat makanan khusus buat Ruby," jawab perempuan itu fokus meneliti isi kulkas.


Buru-buru pria itu mengalihkan tatapannya saat tercyduk tengah mencuri pandangan. Membuat ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perasaannya semakin menjadi saja, pria itu harus benar-benar sabar memainkan peran.


Ajeng tak begitu menghiraukan, perempuan itu kembali fokus menyiangi sayuran. Belum juga mulai eksekusi, tiba-tiba Ruby sudah terbangun dan menyusulnya begitu saja sambil merengek manja.


"Eh, putri cantik mama sudah bangun?" sapa Ajeng mendapati putri kecilnya mendekat.


Mendengar itu, Abi yang sebelumnya tengah fokus menatapnya langsung berbalik. Bocah kecil itu berjalan lucu sambil mengucek matanya.


Ajeng langsung menyapa dan meninggalkan pekerjaannya di dapur.


"Ruby, udah bangun sayang?" Abi ikut mendekat. Gadis yang tengah glendotan di tubuh ibunya itu menatap asing.


"Sayang, ini Papa, papanya Ruby, Ruby bisa panggil Pa ... pa," jelas Ajeng mencoba memberitahukan pelan-pelan.


"Pa ... pa," kata bocah kecil itu datar saja. Namun, terdengar sangat merdu bagi Abi. Kata pertama untuknya setelah sekian purnama begitu harapkan untuk di dengar.

__ADS_1


Abi mendekat, namun bocah kecil itu masih enggan membalasnya. Sampai Ajeng memutuskan untuk memandikan lebih dulu biar fresh dan rileks. Ruby juga sudah tidak demam, jadi cukup aman untuk mandiin di jam yang menjelang siang.


Usai bersih, rapih, dan wangi. Ajeng menggendongnya menemui ayahnya. Suasana sedikit menghangat ketika bocah kecil itu mendapatkan mainan baru dari Abi. Ruby yang awalnya enggan turun dari pangkuan ibunya, perlahan mau turun dan mendekati Abi.


"Kita main ya, Ruby yang buka," ujar pria itu mencoba masuk ke dunia bocah yang belum genap dua tahun itu. Saat mulai asyik bermain, Ajeng meninggalkan berdua saja, memberikan ruang keduanya untuk kedua orang dengan ikatan darah itu saling dekat satu sama lain.


Sementara Ajeng, kembali ke dapur membuat sarapan untuk Ruby. Tak butuh waktu lama, perempuan itu sudah kembali di antara keduanya sambil menenteng mangkuk bersiap menyuapi Ruby.


"Biar aku saja," pinta Abi ingin mencobanya. Sambil menemani main, pria itu menyuapinya dengan telaten. Sungguh pemandangan yang menghangatkan. Tanpa sadar, Ajeng terlena menatap keduanya.


Abi tersenyum saat saat menengok dan ternyata Ajeng tengah memperhatikannya. Membuat perempuan itu merasa canggung dan kabur ke dalam. Cukup lama Ajeng tak muncul lagi, sepertinya kembali sibuk di dapur mumpung Ruby ada yang jagain.


Perlahan dari ruang tengah, mulai tercium aroma masakan yang cukup membuat perut Abi yang belum sarapan terasa lapar. Tak lama Hanan pun pulang. Pria itu terlihat lelah, usai mengisi barang-barang di tokonya langsung menyambangi rumahnya.


"Hmm ... masak apa nih Kak, enak banget, laper," seru Hanan mendekati ruang makan yang sudah tersaji menu-menu rumahan yang cukup menggugah selera.


"Sudah pulang, Nan?" tanya Ajeng yang baru usai mandi.


"Iya, baru aja, laper Kak," jawab pemuda itu memegangi perutnya.


"Sarapan, ajak sekalian ayahnya Ruby, dia datang pagi-pagi, mungkin belum sempat sarapan."


Mendengar hal itu, Abi diam-diam bersorak dalam hati. Momen ini yang pria itu tunggu-tunggu dari tadi.


.


Tbc


.


Sambil nunggu novel ini up mampir di karya temanku yuk!


__ADS_1


__ADS_2