
"Dia ponakan aku yang hilang, kenapa ada sama kamu, jangan-jangan kamu orang yang sengaja membawa Ruby pergi!"
"Eh, sembarangan, gue nemu anak ini di jalan. Bakal gue serahin sama polisi, lo sok kenal banget, anak ini aja nggak mau sama lo. Tuh, lihat dia diem mulu, malah ndusel ke gue. Eh, jangan-jangan lo penculiknya!" tuduh Olive waspada. Tak membiarkan Hanan menyentuh balita itu, salah-salah pria itu ngaku-ngaku.
"Kamu bakalan aku laporin kalau nggak nyerahin Ruby, dia ponakanku." Hanan yakin sekali itu Ruby ponakannya yang tengah dicari.
"Gue nggak percaya, mana buktinya?" Perempuan itu tidak serta merta percaya begitu saja mengingat banyaknya modus kejahatan melanda mengaku saudara.
Hanan membuka galeri ponselnya, terlihat jelas gambar dirinya, Ajeng, dan juga anak kecil dalam gendongan.
"Nih, ini ibunya Ruby, ini aku, dan bocah kecil ini Ruby." Hanan menyodorkan ponselnya agar Olive melihat dengan jelas.
"Gue masih belum yakin, apalagi balita ini seperti nggak kenal lo."
"Ruby sayang, ini Om, ayo kita pulang ke mama, mama kamu pasti sangat khawatir," ucap Hanan lembut. Berjongkok di dekat gadis kecil itu.
Sayangnya Ruby kecil yang sudah beberapa purnama tak bertemu dengan Hanan tidak mau mengikutinya. Mungkinkah bocah kecil itu merasa asing lantaran sudah lama tak bertemu.
"Tuh kan dia nggak mau, jangan ngaku-ngaku, awas aja macem-macam!" ancam Olive menatap garang.
Hanan yang bingung menjelaskan langsung menelpon kakaknya. Sayang sekali beberapa panggilan tidak ada jawaban. Ke nomor Abi pun sama, ke mana mereka?
"Mau dibawa ke mana? Aku mau membawanya pulang, orang tuanya sedang mencari, kasihan Mbak Ajeng pasti sangat sedih."
Hanan paham sekali, Ruby adalah separuh nyawa kakaknya. Hilangnya Ruby akan menjadi pukulan terberat Ajeng dalam hidupnya. Benar saja, Ajeng yang teramat sedih sampai pingsan-pingsan gegara Ruby malah ilang. Ajeng yang ngedrop dua hari tidak tidur dan makan, sampai mendapat perawatan di rumah.
Jangan ditanya bagaimana kondisi Abi, sebagai seorang Ayah sama halnya begitu kehilangan. Namun, ia mencoba tetap kuat dan tegar menenangkan istrinya. Membujuk agar mau makan dan tetap optimis bahwa Ruby akan segera ditemukan.
__ADS_1
Sementara Olive yang kurang percaya sama pemuda di depannya. Memilih tidak memberikan bocah kecil itu begitu saja. Olive akan menyerahkan pada polisi agar semakin yakin.
"Kalau kamu memang keluarganya, biarkan orang tuanya yang menjemput di rumahku," ucap Olive beranjak.
Hanan mengikuti dua perempuan beda generasi itu sampai rumahnya. Tak kalah heboh orang tua Olive yang kebetulan sudah di rumah bertanya-tanya anak siapa yang dibawa pulang.
"Papi udah pulang?" tanya Olive santai.
"Olive, anak siapa itu?" tanya seorang pria menatap penuh selidik.
"Sore Om, maaf, itu adik saya, sebelumnya saya mau bawa pulang, tapi putri om nggak percaya."
"Eh, gue masih belum yakin ya, gue kan udah bilang anak ini nggak mau sama lo."
"Olive kenapa bisa ada balita sama kamu, jangan bilang itu hasil kamu kuliah di Bandung menyembunyikan ini semua dari papi!"
"Kamu pacarnya, Olive?" tanya pria itu pada Hanan.
"Baiklah kalau sudah terlanjur begini ada anak, papi akan merestui hubungan kalian. Jadi selama ini kamu pacarnya Olive."
"Papi! Ya Tuhan ... bukan!"
"Shut ... diam kamu, Olive. Wahai anak muda, suruh kedua orang tuamu menghadap kami, secepatnya kalian harus menikah."
"Om, maaf, Om, tapi—"
"Tidak pa-pa, tidak usah khawatir masalah yang akan dibawa, yang penting kamu datang saja dengan orang tuanya. Om tunggu!"
__ADS_1
Gadis yang tengah menggendong Ruby dan Hanan saling tatap beberapa detik. Nampaknya mereka dalam masalah karena bahkan orang tua gadis itu tak mau mendengarkan sedikit pun tentang hubungan keduanya yang bahkan tidak saling mengenal.
***
Pemuda itu mengabari kalau Ruby bersama seorang wanita muda. Ajeng yang mendapat kabar itu tentu tak sabar untuk bertemu. Perempuan itu langsung bertolak ke lokasi bersama suaminya.
"Mas, Ruby sama Hanan, ayo Mas cepet kita jemput sekarang."
Ajeng yang sebelumnya di kamar saja menangis sembari menanti informasi pencarian Ruby mendadak mempunyai jiwa hidup lagi. Perempuan itu tak berhenti bersyukur selama keberangkatan menuju lokasi.
"Alhamdulillah ya Allah ... Ruby beneran sama Hanan?" Abi langsung mengiyakan dan bergegas menjemput Ruby.
Sepanjang perjalanan rasanya waswas, takut tidak sesuai ekspektasi.
"Mas, cepetan dikit, aku udah nggak sabar ketemu Ruby, kasihan dia pasti nangis dan lapar." Ajeng bahkan dua hari ini tidak tidur lantaran kepikiran putri kecilnya. Matanya sembab hilang semangat hidupnya.
Abi menambah kecepatan mobilnya. Rasanya rindu itu sudah di ujung ingin segera bertemu.
.
TBC
.
Teman-teman sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!
__ADS_1