Rahim Sengketa

Rahim Sengketa
Bab 47


__ADS_3

Kehilangan orang yang paling setia dalam menemani karirnya adalah hal yang menyakitkan. Selama kurang lebih lima tahun Anto menjadi teman, sekaligus saksi gonjang-ganjing perusahaan. Bahkan atas kejadian ini, dirinya benar-benar merasa kehilangan satu sisinya.


"Yang sabar Nak, dia telah tenang di alam sana, sekarang pulihkan dirimu untuk bangkit semangat, sembuh," ucap Bu Warsa menyemangati.


"Ma, kasihan sekali Anto, aku bahkan banyak salah padanya."


Abi yang masih berbaring lemah terlihat sendu, mencoba tegar menyikapi apa yang menjadi ujiannya sekarang ini. Hanya mama satu-satunya akses yang bisa menghubungkan Ajeng setelah melalui sambungan telepon tak juga diangkat.


"Mama akan menjemputnya untukmu, tenangkanlah dirimu, biar cepat sehat," ucap Bu Warsa berjanji akan mendatangi perempuan yang diduga menantunya itu.


Dengan alamat yang Abi beri, perempuan yang paling berjasa dalam hidupnya itu mendatangi kediaman yang belakangan ini ditinggali Ajeng dan cucunya.


Ditemani seorang supir, Bu Warsa bertolak ke kediaman menantunya.


"Beneran ini tempatnya? Kok sepi Sep? Coba kamu ketuk sekali lagi," titah Nyonya Warsa turun dari mobilnya.


"Sepertinya orangnya sedang tidak ada di rumah Nyonya, tidak ada sahutan sama sekali."


Asep sang supir mencoba kembali mengetuk hingga beberapa kali, namun sayang sekali tidak ada sahutan.


"Ke mana ya? Kasihan Abi, dia sepertinya rindu sekali ingin bertemu."


Nyonya Warsa ikut resah memikirkan ini. Karena tidak ada kejelasan sama sekali, perempuan itu akhirnya memutuskan untuk kembali menemui putranya. Dengan wajah menyesal karena bahkan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di rumah yang Abi tunjukkan.

__ADS_1


"Ma, kenapa Mama sendirian? Di mana anak dan istriku, Ajeng pasti mau 'kan Ma, menemui aku?" cecar pria itu dalam kondisi yang belum sehat benar.


Tangan kirirnya masih berhiaskan selang infusan, sedang perban terdapat di bagian kening, tangan dan kaki.


"Maaf, Sayang, mama sudah mencoba datang, tapi rumahnya sepi, seperti tidak berpenghuni. Biar besok mama pastikan sekali lagi," kata Bu Warsa sendu.


Air muka Abi langsung berubah, asa yang sebelumnya tercipta seakan sirna berganti mendung yang tak berujung. Mungkinkah istrinya telah meninggalkan dirinya. Sungguh itu pukulan terberat sekali lagi yang Abi rasa.


"Maafkan mama, Nak, yang sebelumnya ragu dan terlampau kecewa dengan ulahmu, sungguh mama hanya ingin membuatmu paham, bahwa apa yang kamu lakukan selama ini menyakiti seorang perempuan."


"Mungkin ini karma untukku, yang pada akhirnya harus benar-benar terpisah dengan Ruby dan istriku," gumamnya sendu.


Karena tekanan sana sini, dan yang menjadi penguat diri bahkan entah ke mana. Abi sempat ngedrop yang pada akhirnya membuat pria itu kembali mendapatkan penanganan serius.


Mama benar, Abi harus mempunyai jiwa dan raga yang sehat agar cepat berkumpul dengan keluarga kecilnya kembali. Satu-satunya jalan yang pertama adalah, membuat tubuhnya kembali bugar dengan semangat sehat kembali.


Sugesti itu Abi tanamkan setiap hari. Hingga membuat tubuh yang lemah itu perlahan bangkit demi untuk bertemu dan berkumpul bersama anak dan istrinya lagi.


Sementara Ajeng di rumahnya yang baru dan cukup sederhana. Memulai hidup baru dengan meninggalkan semua luka yang pernah ada. Perempuan itu terlanjur merana, hingga pada akhirnya menjatuhkan keputusan yang tepat untuk menghapus Abi dari bayang-bayang hidupnya.


Setiap hari perempuan itu disibukkan dengan kegiatan baru. Selain menjaga Ruby, Ajeng disibukkan dengn usaha kecilnya yang berjalan sudah sebulan ini. Perempuan itu membuka tempat foto copyan, serta warung kecil aneka minuman kemasan di sekitar kampus yang sebenarnya ide Hanan. Bersebelahan dengan jasa bengkel dan tembel ban miliknya yang mulai berjalan.


Karena pemuda itu disibukkan dengan kuliah, Hanan akan mengerjakan setelahnya. Hari yang sibuk, membuat Ajeng benar-benar bisa move on dengan cepat atas apa yang terjadi pada dirinya. Terlebih, Ajeng memang tidak menaruh harapan besar sedari awal, jadi hatinya sedikit lebih lapang dan bisa lebih mensyukuri asal masih selalu bersama Ruby.

__ADS_1


"Ramai Kak, istirahat saja biar Hanan yang jaga," ujar pria itu setelah pulang kuliah. Pada saat jam pergantian pun, jarang sekali pria itu menghabiskan waktunya di kampus, ia menyempatkan pulang, baru kembali setelah makul akan dimulai.


Sadar dari kalangan yang butuh kerja keras untuk mendapatkan mimpi. Hanan benar-benar memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Malamnya benar-benar ia gunakan untuk belajar dan istirahat yang cukup. Siang kembali sibuk kuliah dan mencari uang. Walau kadang begitu lelah, namun melihat Kak Ajeng yang bahkan begitu semangat empat lima menitih harinya. Tentu membuat Hanan makin semangat pula.


"Nan, titip Ruby sebentar, jangan ditinggal ya, itu lagi usil latihan tengkurap, bisa bahaya!" pesan Ajeng hendak berkegiatan di dapur.


Ajeng hendak memasak untuk dirinya dan juga adiknya. Ruby sendiri masih ASI ekslusif jadi belum begitu repot.


"Siap Kak!" jawab Hanan mengiyakan.


Pemuda itu selalu bisa diandalkan. Sembari menunggu keponakannya, Hanan menyibukkan diri dengan membaca buku. Sungguh waktu begitu berharga untuk dirinya.


Hari demi hari silih berganti, mingu, bulan, bahkan tahun, Ajeng lalui tidak dengan mudah. Namun, semua tidak dengan Ajeng yang kini merubah pandangannya. Perempuan itu lumayan menutup diri bahkan hingga kini.


"Hanan, Ruby panas, hari ini aku akan membawanya ke dokter," ujar Ajeng mendapati putrinya tidak seaktif biasanya.


.


Tbc


.


Teman-teman sambil nunggu novel ini up, mampir di karya temenku yuk!

__ADS_1



__ADS_2