
Ada rasa sakit, sedih, dan kecewa, begitu sebuah bukti nyata yang paling mencengangkan didapat dari Anto. Sebenarnya tak kuasa untuk menggiring ke meja hijau, karena tanpa sadar pihak mereka juga sudah bertanggung jawab penuh dengan Hanan. Semoga bisa dilalui dengan jalan damai. Begitulah angan Abi yang sejatinya masih tidak setega itu dengan perempuan yang sudah hampir lima tahun hidup dengannya.
Sayang sekali Vivi masih belum mengakuinya, hingga kejelasan itu Abi dapatkan dari orang lain. Ditambah sikap seolah tidak bersalah dan terus menutupi kebohongannya yang membuat Abi harus mengambil sikap.
Pria itu jelas mempertimbangkan semuanya, berharap bisa berdamai, hidup rukun walau dengan dua istri yang sekarang harusnya menjadi tanggung jawabnya. Nyatanya itu hanya mimpi, karena Vivi tidak mau berpoligami dan Ajeng tidak mau jadi yang kedua.
Dilema dalam diri yang saat ini ada dua wanita, Abi akui, kini dirinya telah jatuh cinta pada ibu dari anaknya. Sulit untuk Abi melepasnya, apalagi ada Ruby di antara mereka. Walaupun masih menunggu konfirmasi pengakuan Vivi dengan penyesalan yang paling dalam dan kata maaf. Namun, nyatanya laju arus semakin cepat membuka tabir semuanya. Hingga Bu Warsa mengetahui lebih cepat dari perkiraan Abi.
Kebohongan Vivi yang diselimuti dengan kebohongan lain, tentu membuat pria itu harus mengambil sikap tegas dan tepat. Hingga kata talak itu akhirnya terurai dengan begitu nyata.
"Kamu boleh menempati rumah ini, sebagai bentuk dari rasa baktimu sebaga istri selama ini. Maafkan aku, Vi, aku juga tidak merasa bahagia dengan situasi ini."
"Tidak usah bersandiwara, Mas, bahkan aku tidak peduli kamu mau bersedih, atau mau berjingkrak senang atas keputusan ini. Memang seharusnya kamu yang pergi dari rumah ini, sepantasnya kamu membagi atas apa yang menjadi harta bersama setelah kita menikah," ucap Vivi tenang.
"Ya, rumah dan mobil aku tinggalkan untukmu, dan satu lagi, aku sarankan engkau meminta maaf langsung pada Hanan, aku sudah mengantongi bukti, kamu benar-benar pelakunya."
Vivi tercengang, namun setelahnya kembali tenang. Ternyata jejak digital itu masih ada walaupun sudah selama ini. Tanpa disadari, hampir kasus di jalan yang terekam disalin ulang sebagai tanda alat bukti. Walaupun sebagian sudah terhapus otomatis, karena rekaman biasanya akan hilang secara otomatis membackup untuk mengambil gambar yang baru.
Dengan kekuatan uang, dan menyewa detektif yang ahli dalam bidangnya, tentu membuat semuanya makin mudah. Apalagi jelas mengenai tindak kejahatan, sudah pasti diberi akses jalan. Walau jelas ini tidak mudah, bahkan melalui waktu yang tidak sebentar dan cukup njlimet.
"Aku ikuti skenariomu, Mas, aku harap ini keputusan kamu yang tepat," ujar Vivi tak gentar.
Setidaknya Abi sedikit merasa lega, bila perlu, tidak harus membawa ke jalur hukum, dan pihak Hanan maupun Ajeng mau berdamai dengan kasus yang menimpanya.
Sementara Ajeng, tengah menikmati masa-masa menjadi ibu muda yang sesungguhnya. Ruby sudah berjalan sebulan lebih dan semakin terlihat tumbuh sehat dan pintar sesuai dengan bulannya.
__ADS_1
Siang itu mendapat kunjungan dari Abi dan pernyataan dirinya yang saat ini telah mengambil keputusan.
"Aku tengah mengurus perceraian dengan Vivi," ucap Abi siang itu.
"Aku menunggu giliran," jawab Ajeng yang membuat pria itu tercengang.
"Apa maksud kamu, aku sudah berjalan sejauh ini, masih belum yakin?" tanya Abi tak habis pikir.
"Sulit Mas, karena hati tak bisa dibohongi, apalagi belum ada cinta yang bersemayam di antara kita."
"Bukankah ada cinta di antara Ruby dan kita, apa itu kurang cukup untuk membuktikan bahwa kita harus bersama?"
Abi yakin, seiring berjalannya waktu rasa cinta yang tulus itu akan tumbuh dihati mereka. Bahkan, sekarang saja ia mulai merasa condong dan tak bisa terlepas dari bayang-bayang Ajeng dan juga anaknya.
"Bukan itu yang mau aku dengar, aku bahkan tidak peduli seandainya kamu mau bercerai atau tetap bersama Vivi. Kalian sama-sama memanfaatkan kami, tidak ada bedanya sama sekali."
"Mas, kamu masih kurang jelas, itu artinya Ajeng juga tidak mau suami arogan, dan pembohong seperti dirimu!" sahut Vivi yang tetiba muncul di kediaman Ajeng. Tentu saja membuat Abi tercengang.
"Kamu! Ngapain ke sini?" tanya Abi keheranan. Ada urusan apa mantan istrinya bertandang ke rumah Ajeng, apakah ingin menyakiti anak dan istrinya?
"Mengajakmu ke bui bareng-bareng, Ajeng itu tidak bodoh Mas, dan kamu juga harus menerima konsekuensi dari perbuatan kamu yang licik ini."
"Apa maksud kamu, Vivi? Aku tidak pernah melakukan seperti apa yang kamu tuduhkan!"
"Iya, dan itu menurutmu, iya memang benar, aku penabraknya dan kamu jelas ikut terlibat dalam permainan ini yang membuat Ajeng terjerat dengan kehamilannya. Apa itu pantas dijadikan suami dan seorang ayah?"
__ADS_1
"Dasar perempuan lucknut! Kamu memfitnahku!" sentak Abi jelas terlihat murka. Susah payah pria itu membujuk Ajeng atas prahara yang terjadi dan sekarang malah dibantai dengan pernyataan Vivi.
"Dengar ya kalian, boleh saja memasukan aku ke penjara, tetapi kalian harus tahu, Abi di balik semua kekonyolan ini, dan dia yang paling layak karena memanfaatkan keadaan ini. Sementara aku? Seharusnya kalian berterima kasih karena walau dengan kelicikan Abi yang sejatinya sendiri aku mau bertanggung jawab."
"Diam! Aku tidak pernah tahu sebelumnya tentang urusan tabrak lari itu!" berang Abi menatap tajam mantan istrinya.
"Ajeng, tolong percaya, aku diberitahukan dokter stela saat itu kalau kamu butuh biaya."
"Bohong, dia tahu aku penabraknya, namun dia melarang aku untuk bertanggung jawab secara cuma-cuma, karena kami ingin keuntungan sebuah anak, dan kamu bodoh Ajeng, terperangkap dan mau menikahinya." Vivi terus memutar balikkan fakta hingga sukses membuat Ajeng dan Hanan mengambil kesimpulan yang paling nyata.
"Kenapa Mas? Masih lupa ingatan? Owh ... kamu belum cukup tua untuk memutar semua otak lihaimu. Kamu pikir semua kebahagiaan bisa dibeli dengan uang? Selamat dibenci seumur hidup oleh anakmu!" sarkas Vivi setengah berbisik dengan nada penekanan.
Perempuan itu pergi dengan puas hati, tentu saja tidak membiarkan pria arogan dan sombong itu melenggang bahagia begitu saja. Dia harus membayar mahal juga atas rasa sakit yang sudah ditorehkan padanya.
"Ajeng, aku harap kamu percaya padaku, sumpah demi Allah, aku tidak pernah terlibat, kecelakaan itu murni ulah Vivi dan aku tidak berniat memanfaatkan, karena sebelumnya aku tidak tahu."
"Apa bedanya Mas, toh kamu tetap memanfaatkan keadaan di saat kami berduka. Terlepas itu benar atau tidak, kami sangat kecewa dan sakit hati."
Semua seperti berbalik, menganggap dirinya bagai tersangka ulung yang bermain di belakangnya. Bahkan, Ajeng dan Hanan terlihat begitu membenci dirinya.
.
Tbc
.
__ADS_1
Gaes aku punya rekomendasi novel nih buat pembaca semua. Sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk!