
"Bagaimana aku percaya dengan omonganmu tanpa pembuktian. Perlu digaris bawahi, sampai detik ini aku masih ragu kalau kamu tidak terlibat, dan perasaan aku masih sama. Aku mencintai pria yang begitu tulus mencintaiku tanpa pamrih," jawab Ajeng cukup gamblang.
Walaupun Ajeng tidak berharap terlalu banyak dengan Denis, mengingat statusnya yang kini ada Ruby juga. Keluarga Denis pasti tidak akan menerimanya dengan mudah, apalagi strata sosial mereka yang begitu jauh.
"Apa maksud kamu? Kamu mencurigai aku dibalik kecelakaan Hanan?" tanya Abi jelas tidak terima.
"Aku hanya berhati-hati, menjaga agar tidak jatuh terlalu dalam," katanya tenang.
Dari awal, kemungkinan untuk jatuh cinta dengan intensitas pertemuan dan perhatian yang kadang membuatnya baper itu ada. Namun, Ajeng setidaknya sudah membentengi diri untuk tidak jatuh cinta pada apa yang bukan haknya. Karena ikatan mereka berdasarkan kesepakatan yang jelas-jelas pria itu beristri.
"Pada kenyataannya, status kita yang akan membuat kamu jatuh lebih dalam. Aku tidak mau pisah dengan Ruby, dan kamu pun begitu, seharusnya cukup jelas."
"Status bisa saja membuat kita tanpa ikatan, dan Ruby, akan tetap menjadi anakku, dan juga anakmu," kata Ajeng memperjelas.
Seandainya hubungan dengan status berpisah pun, tidak ada yang berubah dengan Ruby, bayi itu tetap milik mereka berdua.
"Bagaimana kalau aku tidak sependapat denganmu?"
"Itu tentang masalah hatimu, dan jawaban aku masih sama. Maaf Mas, aku seorang perempuan, ibumu juga perempuan, bagaimana bisa kamu mengambil keputusan begitu mudah tanpa memikirkan perasaan mereka jika di posisi itu."
"Iya, mungkin aku tidak paham karena aku tidak pernah di posisi mereka. Tapi, setidaknya aku tetap bertanggung jawab dengan apa yang telah berjalan."
Hening untuk beberapa saat, hingga keduanya sama-sama terdiam. Ajeng sama sekali tidak mengantuk, begitu pun dengan Abi. Keduanya malah terlibat kecanggungan yang tak berarti.
"Kamu tidak tidur? Mumpung Ruby masih lelap, tidurlah ... aku tidak akan mengganggumu," titah pria itu lembut.
Ajeng tentu tidak enak, ranjangnya dipenuhi Ruby dan suaminya. Dirinya mengalah duduk di kursi yang jauh dari kata nyaman. Sedikit lebih baik, dari pada harus dipeluk lagi yang membuatnya sangat-sangat keberatan.
"Jangan mempersulit dirimu sendiri, mana mungkin aku biarkan kamu terlelap di situ. Mau pindah sendiri, atau aku gendong," ancam pria itu terdengar serius.
Abi turun dari ranjang lalu mendekati Ajeng, bersiap mengangkat tubuh perempuan itu.
__ADS_1
Ajeng memasang wajah waspada, kenapa pria ini menjadi begitu menyebalkan. Sungguh malam yang terasa begitu panjang untuk seorang Ajeng lewati.
"Apaan sih, bisa pindah sendiri!" tolak perempuan itu mrengut dan dongkol.
"Jangan gitu, kalau lagi menyusui itu hatinya nggak boleh dikit-dikit kesal, nanti asinya nggak lancar." Abi memberi wejangan dan ceramah singkat yang bahkan tak didengarkan. Sibuk membenahi selimut, dan membuat jarak yang sejatinya begitu dekat.
Karena lelah dan merasa mengantuk, perempuan itu akhirnya merebah, lalu mendekap bayi mungil yang masih terlelap damai di sampingnya. Memisah selimut sendiri, sengaja tidak ingin berbagi kain menghangatkan tersebut. Cukup berbagi ranjang saja sudah membuatnya mati gaya.
Ajeng begitu bersyukur saat membuka mata di pagi hari. Ruby masih anteng setelah diberi ASI yang kedua dini hari, sementara pria itu entah ke mana, tidak ada di ranjangnya saat Ajeng membuka mata. Beruntung semalam tidak terjadi perdebatan sengit yang panjang, karena sesungguhnya perempuan itu malas meladeni.
Sayup-sayup terdengar dari arah halaman belakang rumah. Pria itu tengah bertelepon yang terdengar cukup serius. Ajeng yang tengah beraktivitas di dapur tak sengaja mendengarnya.
"Nanti kita bicarakan di kantor, aku butuh jawaban yang memuaskan dan akurat, bukan begini!" sentak Abi dengan lawan bicaranya.
Terdengar marah dan kesal, membuat Ajeng sedikit bertanya-tanya dalam hati. Namun, tak sampai ingin tahu juga masalah pria itu yang membuatnya tetap acuh seolah tak tahu.
"Maaf, aku harus pulang dulu, akan aku buktikan padamu tentang semua ucapanku. Jangan coba-coba untuk kabur karena aku pasti akan menemukan kalian!" ancam Abi beranjak pamit.
Pria itu kembali ke ranjang, sedikit membungkuk untuk meraih pipi Ruby. Ya, Abi berpamitan dengan putrinya.
Perempuan itu tidak menanggapinya, walau jujur kesal, tetapi terkadang sedikit baper dengan sikap manisnya.
"Kakak mencintainya?" celetuk Hanan yang tak sengaja melihat karena pintu terbuka lebar.
"Dia suami orang Nan, rasanya tidak mungkin," jawab Ajeng tak minat membahasnya lagi.
Hanan pun mengangguk ngerti, sangat paham dengan maksud dan posisi kakaknya saat ini.
Sementara Abi, pagi ini pulang ke rumahnya. Hanya untuk mandi dan berganti pakaian.
"Mas, aku tahu kamu marah sama aku, mau sampai kapan? Aku menunggumu semalaman tidak pulang," protes Vivi dengan nada lembut.
__ADS_1
"Sampai kamu jujur padaku tentang semua yang kamu lakukan di belakang aku," jawab Abi dingin.
Rasanya sudah terlalu lama membiarkan istrinya itu bersikap sesuka hati. Cukup sabar pula mengamati tabiatnya yang makin tak terkontrol saja."
"Jujur dalam hal apa, Mas? Sudah aku bilang, aku tidak tahu menahu tentang kecelakaan itu. Owh atau ini jangan-jangan alibimu saja karena tidak mau menceraikan perempuan murahan itu."
"Berhenti menyalahkan orang lain, walaupun aku belum terlalu lama mengenalnya, cukup selama sembilan bulan ini setidaknya dia tidak pernah berlaku buruk seperti yang kamu tuduhkan. Dia tidak murahan seperti yang kamu tuduhkan!"
"Owh ya, sepertinya memang benar, kamu sudah jatuh cinta dengan perempuan itu hingga tanpa sadar memuji-mujinya di depan aku, lalu sengaja mencari-cari kesalahan aku, benar begitu, 'kan?"
"Kamu terlalu pandai menilai orang lain, tanpa kamu sendiri sadari kebohonganmu begitu banyak yang membuat aku bersikap demikian."
"Kamu sungguh tidak punya perasaan Mas, di mana ikrar cinta yang selalu kamu dengung-dengungkan. Hanya karena kamu punya anak dari rahim dia, kamu berbuat semaunya terhadapku, ini namanya tidak adil."
"Seharusnya kamu tahu diri, sejak awal kesepakatan ini dibuat atas persetujuan kamu dan atas saran kamu, tidak salah bukan kalau aku meneruskan?"
"Sayangnya kamu tamak dan serakah, seharusnya kamu tidak menikahinya, dengan begitu kamu telah menodai pernikahan kita!" Vivi jelas tidak terima.
"Lantas, apa yang kamu inginkan? Semuanya juga sudah terjadi, dan aku ingin memperbaiki."
"Woho ... memperbaiki? Lantas, bagaimana dengan pernikahan kita, kamu anggap apa selama ini kesetiaan aku padamu!"
"Kamu maunya bagaimana?"
"Aku ingin kamu menceraikan Ajeng dan mengambil sikap sepenuhnya. Di mana Abi yang aku kenal begitu dominan dan otoriter. Ambil anakmu, dia seharusnya di sini, atau pernikahan kita akan menjadi taruhannya."
"Apa maksud perkataan kalian?"
.
TBC
__ADS_1
Teman-teman sambil nunggu novel ini up mampir di karya temenku yuk ...!